Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Yohanes 3:30 – “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Paus Leo XIII, Exeunte iam anno (#9), 25 Des. 1888: “Sebab Yesus Kristus telah menebus umat manusia satu kali dengan menumpahkan darah-Nya, namun kuasa dari karya serta karunia yang sedemikian agungnya itu bekerja bagi semua usia; ‘tidak pun ada keselamatan di dalam nama yang lain’ (Kisah Para Rasul 4:12).”
Paus St. Gregorius VII, 11 Des. 1080: “Namun para musuh salib Kristus – bukan, sebaliknya, para musuh jiwa mereka sendiri, bangkit melawan kita dan, terkena butanya kegilaan, melawan keselamatan diri mereka sendiri dengan berusaha menginjak-injak Gereja yang kudus … Bahwasanya, seperti yang anda ketahui, kami telah mendapat kebencian orang-orang ini oleh karena alasan ini – yakni, kami berupaya membebaskan mereka dari jerat-jerat Iblis dan membimbing mereka pulang ke pangkuan Bunda Gereja.”
Paus Leo XIII: “ … Misteri Tritunggal yang Terberkati. Para doktor Gereja menyebut dogma ini sebagai ‘hakikat Perjanjian Baru, maksudnya, yang teragung dari segala misteri, sebab inilah landasan dan asal semua misteri itu.” (Divinum illud munus #3, 9 Mei 1897)
Romo De Smet: “Suku Indian sama sekali tak mengenal perkataan menghujat, dan sering hidup bertahun-tahun tanpa amarah dalam tutur kata mereka. Namun ketika mabuk -- dan sekarang mereka mendapat minum-minuman dalam jumlah besar -- segala sifat baik orang Indian menghilang, dan dirinya tidak lagi menyerupai manusia; orang perlu melarikan diri dari dia. Jeritan-jeritan dan lolongan-lolongan mereka mengerikan; mereka menjatuhkan diri, satu di atas yang lain, saling menggigit hidung dan telinga, saling memutilasi satu sama lain dengan amat ngeri. Sejak kedatangan kami, empat orang dari suku Otoe dan tiga dari suku Potawotami telah terbunuh dalam pesta mabuk-mabukan ini.” (The Life of Fr. De Smet [Riwayat Hidup Romo De Smet], hal. 83-84)
Paus Leo XIII: “Celaka orang yang hidup dalam keadaan barbar dan dengan perilaku tak beradab; namun lebih celaka lagi orang yang tak berpengetahuan tentang yang terluhur, dan hidup dalam ketidaktahuan akan Allah yang satu dan sejati.” (Quarto abeunte saeculo #4, 16 Juli 1892)
St. Anselmus: “Jika engkau ingin yakin bahwa engkau terhitung sebagai orang yang terpilih, berjuanglah untuk menjadi bagian dari jumlah yang sedikit itu, dan bukan yang banyak. Dan jika engkau ingin menjadi sangat yakin akan keselamatanmu, berjuanglah untuk menjadi bagian dari yang tersedikit dari yang sedikit … Janganlah mengikuti kebanyakan umat manusia, tetapi ikutilah mereka yang masuk melalui jalan yang sempit, yang menolak dunia, yang menyerahkan diri mereka sendiri kepada doa … sehingga mereka dapat mencapai keabadian yang terberkati.”
St. Fulgensius, Kaidah Iman, (526): “Percayalah dengan amat teguh dan janganlah pernah ragu sedikit pun bahwa tidak hanya semua orang pagan tetapi juga semua orang Yahudi dan semua orang bidah serta skismatis yang mengakhiri hidup ini di luar Gereja Katolik akan masuk ke dalam api yang kekal yang telah disiapkan untuk iblis dan para malaikatnya.”
St. Petrus Kanisius, 1555: “ … mereka yang menyambut Ekaristi secara tidak layak tidak menerima kehidupan, melainkan penghakiman atas diri mereka sendiri, dan mereka bersalah terhadap Tubuh dan Darah Tuhan, seturut kesaksian-kesaksian sang Rasul: dan mereka akan dihukum dengan amat berat bersama Yudas dan orang-orang Yahudi, para musuh yang bersimbah darah bagi Kristus Juru Selamat kita.” (Summa Doctrinae Christianae)
Paus St. Leo Agung, Khotbah 58, abad ke-5: “Sebab segala sesuatu yang telah ditetapkan secara ilahi melalui Musa tentang kurban anak domba telah menubuatkan tentang Kristus dan sungguh mewartakan pembantaian Kristus.”
St. Alfonsus: “’Hidup manusia singkat: ia muncul bagaikan kembang, dan lalu binasa’ (Ayub xiv. 1, 2). Tuhan memerintahkan Yesaya supaya mewartakan kebenaran yang satu ini: ‘Berserulah’, ujar-Nya kepada Yesaya, ‘semua manusia adalah rumput … bahwasanya manusia adalah rumput. Rumput menjadi kering, dan bunga menjadi layu’ (Yesaya xl. 6, 7). Hidup manusia ibarat sehelai rumput. Kematian datang, rumput mengering, dan lihatlah kehidupannya berakhir, dan bunga segala keagungan dan barang-barang duniawi pun menjadi layu.”
Paus Pius X: “ … sungguh diketahui dengan baik bahwa Gereja sama sekali tidak berhak mengadakan inovasi macam apa pun berkenaan substansi sakramen ....” (Ex quo, 26 Des. 1910)
St. Alfonsus: “Daud menyebut kebahagiaan hidup ini sebagai mimpi ketika orang terbangun: ‘Bagaikan mimpi pada waktu terbangun’ (Mazmur lxxii. 20) … Barang-barang dunia ini tampak baik adanya, namun kenyataannya bukanlah apa-apa; bagaikan tidur, barang-barang itu hanya ada sebentar saja, dan lalu semuanya menghilang.” (Persiapan Kematian, Pertimbangan II, Poin III: Kematian Mengakhiri Segalanya)
Paus Gregorius XVI: “Kami bersyukur atas keberhasilan misi-misi apostolik di Amerika, di Hindia, dan berbagai tanah kafir lainnya … Tanpa rasa takut mereka bertarung dalam pertempuran-pertempuran Tuhan melawan bidah dan ketidakpercayaan melalui pidato pribadi serta publik dan karya tulis … Mereka mencari orang-orang yang duduk di dalam kegelapan dan bayangan maut demi memanggil mereka kepada terang dan kehidupan agama Katolik.” (Probe Nostis #6, 18 Sep. 1840)
St. Louis de Montfort, Rahasia Rosario, (1710): “Salam Maria adalah embun yang terberkati yang jatuh dari Surga di atas jiwa-jiwa yang dipredestinasikan. Embun itu memberikan kepada mereka kesuburan rohani yang mengagumkan sehingga mereka dapat tumbuh dalam segala kebajikan. Semakin taman jiwa diairi dengan doa ini, pikiran kita semakin dicerahkan, hati kita semakin bersemangat, dan tameng kita semakin kuat melawan semua musuh rohani kita.”
St. Thomas Aquinas (1261): penolakan- “Seseorang mungkin dibesarkan di dalam hutan, atau di antara serigala, orang semacam itu sama sekali tidak bisa tahu apa-apa secara eksplisit tentang iman.. Jawaban- Ciri khas Penyelenggaraan Ilahi adalah menyediakan yang diperlukan untuk keselamatan kepada setiap orang … dengan syarat dari pihak orang itu, tidak ada halangan. Dalam kasus seseorang mencari yang baik dan menghindari yang jahat, dengan bimbingan akal kodrati, Allah, melalui ilham batiniah, akan mewahyukan kepada orang itu apa yang harus dipercayainya, atau akan mengutus seorang pengkhotbah iman kepadanya ….” (De Veritate, 14, A. 11, ad 1)
St. Patrisius (450): “Di dalam Kerajaan Allah, tiada sesuatu yang diinginkan yang tak dapat ditemukan: namun di dalam Neraka, tidak didapati sesuatu pun yang diinginkan. Di dalam Kerajaan Allah, tiada sesuatu yang tak menyenangkan dan memuaskan; sedangkan dalam lautan yang dalam dan penuh derita tak berkesudahan itu, tak ada yang terlihat, tak ada yang terasa, yang tidak menimbulkan kekecewaan, yang tidak menyiksa.”
St. Alfonsus (1759): “ … sekelompok bidah, yang dikenal sebagai Ubiquitis, mendalilkan bahwa Neraka tidak terbatas pada suatu tempat tertentu, namun dapat ditemukan di mana-mana, sebab Allah belum menakdirkan sebuah tempat khusus bagi orang-orang terkutuk. Namun pendapat ini jelas salah, dan berlawanan dengan kepercayaan umum Gereja Katolik, yang mengajarkan bahwa Allah sudah menetapkan tempat tertentu bagi iblis dan orang-orang terkutuk ....” (Akan Seperti Apa Neraka Itu?)
^