^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Penahiran Santa Perawan Maria - 2 Februari
PENAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA - 2 FEBRUARI
§ 1. HISTORISITAS MISTERI INI.
I.
Peristiwa Penahiran Maria[1], Ibu Yesus, terjadi sesuai ketentuan yang diwajibkan oleh Hukum Musa bagi perempuan yang baru saja melahirkan. Memang benar, Putranya dibawa ke Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Tuhan, sesuai dengan hukum lain yang telah diberlakukan Allah bagi umat Yahudi melalui pembuat hukum yang sama itu juga (Musa).
Yang pertama dari kedua buah hukum itu[2] menetapkan agar seorang perempuan yang melahirkan seorang anak, tinggal beberapa waktu lamanya secara terpisah dari kawan-kawannya; sebab perempuan yang melahirkan itu dianggap najis dan tidak boleh menyentuh apa pun juga yang terkonsekrasi kepada Allah, masuk ke bait suci pun tidak boleh. Ini berlaku kepada perempuan tersebut sampai selesainya hari-hari penahiran. Ketentuan pemisahan ini berlangsung tiga puluh tiga hari sesudah sunat, yakni empat puluh hari sejak kelahiran anak laki-laki, dan delapan puluh hari kalau yang lahir anak perempuan.
Sesudah berakhirnya masa ini, sang ibu lalu harus pergi ke pintu Kemah Pertemuan (yang ada di depan bait suci) membawa seekor anak domba usia satu tahun untuk dipersembahkan sebagai kurban bakaran & seekor anak burung dara atau seekor tekukur sebagai kurban penghapus dosa. Binatang-binatang ini haruslah diberikan oleh ibu itu kepada imam, yang kemudian mendoakan perempuan tersebut. Apabila ibu tidak cukup berpunya untuk mempersembahkan anak domba, lantas sebagai gantinya, dia harus mempersembahkan seekor merpati atau seekor tekukur lainnya sebagai kurban bakaran.
Dengan demikian, hukum ini menetapkan dua jenis kurban: yang satu kurban syukur kepada Allah atas kelahiran berbahagia, lambangnya adalah kurban bakaran. Maksud kurban bakaran ini adalah selesainya kurban yang terbakar habis untuk menghaturkan syukur serta rasa hormat kepada penyelenggaraan berdaulat milik Allah atas hidup dan mati ciptaan-ciptaan-Nya. Yang lain adalah kurban penghapus dosa, seturut istilah Kitab Suci, yang menggunakan istilah seperti itu bagi segala macam najis lahiriah & najis hukum. Keadaan najis ini hilang dengan pelaksanaan adat lahiriah agama. Najis secara hukum ini tiada berbeda dengan keadaan seseorang yang dilarang oleh hukum untuk tampil di muka umum, untuk menyentuh hal-hal suci, dan untuk pergi ke bait suci, sebelum menjalankan ketetapan hukum tersebut: upacara yang disebut penahiran.
Dengan hukum kedua, yang disebut oleh Santo Lukas Penginjil tentang Santa Perawan Maria,[3] Allah menghendaki agar semua anak sulung, baik manusia maupun hewan, dikonsekrasikan dan dipersembahkan kepada-Nya. Konsekrasi ini telah ditetapkan-Nya demi mewajibkan orang Yahudi supaya ingat, bahwa demi merekalah Allah telah mematikan semua anak sulung Mesir & juga bahwa segala makhluk adalah milik-Nya. Dan konsekuensi dari perintah ini, adalah bahwa persembahkan yang dihaturkan kepada-Nya haruslah dikurbankan dengan dibakar. Namun diri-Nya puas kalau yang dibakar adalah hewan-hewan saja; adapun anak-anak manusia, Dia ingin agar mereka ditebus dengan sebuah harga. Bukan berarti anak-anak sulung ini tidak bisa dibaktikan kepada-Nya dengan cara lain supaya bisa, misalnya, mengabdi dalam pelayanan bait suci. Namun dinyatakan-Nya bahwa pelayanan ini dilaksanakan oleh seluruh suku Lewi,[4] sebagai ganti anak-anak sulung seluruh suku Israel lainnya, sebab dengan pilihan yang Dia buat itu, anak-anak suku Lewi didapati layak untuk menjadi imam pelaksana kurban, sebagaimana mereka dahulu layak untuk menjadi kurban penebusan.
II.
Yesus berasal dari suku Yehuda. Ibu-Nya sudah mempersembahkan-Nya kepada Allah sebagai anak sulungnya. Meski Ibu-Nya itu kemudian istilahnya menebus-Nya (karena Dia bukan dari suku Lewi), Dia tidak terus dipersembahkan kepada Bapa-Nya karena suatu pilihan khusus yang mungkin tidak dikenal oleh manusia, namun pilihan yang menakdirkan-Nya sebagai imam pelaksana kurban sekaligus kurban bagi Perjanjian Baru dan ibadat baru. Allah Sang Juru Selamat itu merupakan penguasa atas Hukum yang dibuat-Nya, namun demikian tidak mengecualikan diri dari hukum yang berkenaan dengan kurban dan penebusan anak sulung, sehingga Ibu-Nya yang suci itu sama sekali tidak tampak seperti tidak menjalankan keharusan penahiran bagi perempuan yang baru melahirkan.
Maria memang bisa saja tidak menjalankan keharusan penahiran itu, sebab dia tidak termasuk dalam cakupan hukum wajib bagi perempuan yang kawin, yakni, yang mengandung dan melahirkan dengan cara biasa. Namun meski Maria secara amat sukarela tunduk kepada hukum itu, hukum itu tetap terlihat perlu supaya jangan sampai Maria mendahului Allah dalam menyatakan misteri-misteri pengandungan dan kelahiran Putra-Nya, yang waktunya belum tiba. Dengan mempersembahkan Putranya kepada Tuhan di bait suci, Maria memberi persembahan wajib, baik kurban bakaran maupun penghapus dosa, yakni dua ekor merpati atau tekukur. Itulah kewajiban hukum bagi orang miskin; Maria dan suaminya, Santo Yosef, tergolong kalangan itu karena kondisi mereka, meskipun masing-masing merupakan keturunan Raja.
III.
Dahulu, di Yerusalam, ada orang benar yang takut akan Allah, bernama Simeon. Dia ini hidup menanti-nanti datangnya penghiburan Israel, yakni sang Mesias. Dia juga penuh dengan Roh Kudus. Roh Kudus yang ada dalam dirinya itu juga telah mewahyukan kepada Simeon bahwa dia tidak akan mati sebelum melihat Kristus utusan Tuhan & ilham-ilham rahasia-Nya ini telah memberitakan kepada Simeon bahwa yang telah dinanti-nantikannya itu akan segera tampak. Lantas terdorong oleh Roh Allah, datanglah Simeon ke bait suci di saat Yesus sedang dibawa ke sana oleh orang tua-Nya. Simeon mengambil Yesus pada dekapannya dan memberkati Allah dengan nyanyian, seraya bersaksi bahwa dia terus hidup hanya demi melihat sang Mesias.
Dikatakannya pula bahwa karena Mesias itu sudah dia lihat, lantas yang tersisa baginya hanyalah untuk mati dalam damai. Bapak dan Ibu Yesus takjub mendengar itu dari Simeon. Simeon pun memenuhi mereka dengan berkat. Dikatakannya kepada Maria Ibu-Nya, bahwa anak itu ditakdirkan demi hancur dan bangkitnya banyak orang & bahwa Dia akan menjadi sasaran pertentangan umat manusia. Pada waktu itu juga, Simeon berprediksi bahwa jiwa Maria akan ditembus ibarat dengan sebilah pedang, yang tiada lain adalah susah payah serta duka derita yang akan harus dialaminya melihat penderitaan Putranya.
IV.
Waktu itu ada juga seorang nabiah bernama Hana, putri Fanuel dari suku Asyer. Hana ini sudah lanjut usianya & menjanda sejak lama. Dia hanya hidup tujuh tahun bersama suaminya. Kala itu, Hana berusia sekitar delapan puluh empat tahun dan terus-menerus tinggal di bait suci, mengabdi Allah siang dan malam dengan berpuasa dan berdoa. Lantas tiba saat itu, Hana pun juga memuji Tuhan & berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang sedang menanti-nantikan datangnya penebusan. Setelah Maria & Yosef melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh hukum Tuhan, mereka pun kembali dari sana ke Galilea di Nazaret, yaitu tempat tinggal mereka, seperti yang dikatakan oleh sang Penginjil suci.[5] Ini bertepatan dengan kepulangan mereka dari Mesir, bukan dari Yerusalem. Sebab bisa dinilai dari keadaan pembantaian anak-anak Betlehem, tempat Yosef pada waktu itu masih berada ketika dia menerima perintah untuk membawa Istri dan Anaknya untuk pergi melarikan diri ke Mesir.
§ 2. SEJARAH PESTA PENAHIRAN MARIA.
V.
Kenangan akan misteri-misteri yang berlangsung untuk merayakan Yesus Kristus dipersembahkan di bait suci & penahiran Santa Perawan Maria secara hukum, dirayakan di Gereja dengan pesta khidmat yang ditetapkan pada hari kedua bulan Februari, yakni hari keempat puluh sesudah kelahiran Yesus Kristus.
Meski pesta ini tampak sangat kuno, namun harus diakui bahwa para Bapa kudus telah menjelaskan semua misterinya kepada umat sebelum pesta ini ditetapkan. Mereka juga telah menarik banyak pelajaran moral yang membangun dari pesta ini, serta mewanti-wanti dan mempersiapkan para umat beriman untuk merayakan waktu Gereja menetapkan pesta tersebut. Sama sekali tidak didapati khotbah atau homili dari para Bapa yang diberikan tentang hari pesta ini, sebelum waktu Kaisar Yustinianus di abad keenam. Semua khotbah yang dibuat atas nama para Bapa ini, entah bukan milik mereka sendiri, atau telah dikarang di kemudian hari berdasarkan komentar-komentar atau penjelasan-penjelasan para Bapa tentang kisah Injil yang dibacakan pada hari pesta ini.
Ada beberapa orang yang berkata bahwa pesta ini dulu dirayakan setidak-tidaknya di Yerusalem dan di Palestina sejak pertengahan abad kelima, seturut yang dicatat dalam riwayat hidup Santo Teodorus Senobit, yang sudah kami bahas pada hari kesebelas bulan Januari, mengenai pesta besar dan sangat khidmat untuk merayakan Santa Perawan Maria. Kala itu, Santo Teodorus mengadakan mukjizat memberi makan banyak orang yang datang di hari raya tersebut. Namun mudah untuk dinilai bahwa itu merupakan hari perayaan Santa Perawan Maria secara umum, bukan suatu pesta khusus untuk penahiran yang waktu itu masih belum terpisah dari pesta kelahiran Yesus Kristus di Gereja-Gereja Timur.
Ada alasan untuk percaya bahwa pesta ini dirayakan kira-kira pada waktu itu di Barat, namun mungkin bukan pada hari kedua bulan Februari, melainkan antara hari Penyunatan Tuhan Yesus dan Epifani. Ini berlaku kalau kita menganggap semua misteri yang disebutkan oleh Paus Santo Leo berikut ini (dalam suratnya kepada para uskup Sisilia mengenai pembedaan yang harus dibuat antara pesta-pesta ini), sebagai pesta yang dirayakan di Roma: Anunsiasi Santa Perawan Maria, Kelahiran Yesus Kristus, Penyunatan-Nya, Dipersembahkannya Yesus di Bait Suci atau Penahiran Santa Perawan Maria, dan Epifani.
Memang benar, kita melihat sebuah martirologi kuno atas nama Santo Hieronimus, yang diberikan oleh Tuan Florentinus dari Luka (Lucques). Martirologi ini tampaknya dibuat tidak terlalu lama pada akhir abad hidupnya Santo Leo, dengan beberapa tambahan yang dibuat di kemudian hari. Martirologi ini menandai hari kelima bulan Januari, hari menjelang Epifani, sebagai kenangan akan Simeon tua, ketika Maria dan Yosef mempersembahkan Yesus Kristus kepadanya. Sedangkan, yang dikatakan martirologi yang sama itu tentang Penahiran Santa Perawan Maria pada hari kedua bulan Februari, tampaknya merupakan tambahan yang dibuat di kemudian hari. Ini mendukung opini mereka yang menanggali Adorasi Orang Majus sesudah Penahiran Santa Perawan Maria.
VI.
Orang-orang pada umumnya sependapat bahwa pesta ini ditetapkan secara umum (sehingga diterima dan dirayakan sejak itu oleh segenap Gereja) oleh karena Kaisar Yustinianus. Tercatat bahwa penetapannya terkait dengan kematian luar biasa yang menghabisi kota Konstantinopel pada bulan Oktober tahun 542, yakni pada tahun kelima belas dari masa kekaisarannya. Meski demikian, Teofanus berkata tentang landasan penetapan ini, bahwa dibuatnya penetapan pesta ini adalah di tahun yang sama musibah publik itu terjadi, tanpa membuat hubungan lain ataupun catatan lain antara kedua peristiwa tersebut. Yang sudah pasti, adalah sang penguasa menentukan pesta itu dirayakan pada hari kedua bulan Februari, dan memerintahkan agar sejak itu, pesta tersebut dirayakan oleh seluruh kekaisaran pada hari yang sama.
Sejak itulah pesta itu dinamakan Hipante atau Hipapante, nama yang berarti pergi menghadap atau bertemu seseorang. Ini dikarenakan bertemunya orang-orang di bait suci pada waktu penahiran Santa Perawan Maria, atau dipersembahkannya Putranya, Yesus Kristus, yang dihadapan-Nya Simeon dan Hana tampaknya telah datang.
Gereja Barat sangat bersedia memeluk ketetapan ini, sehingga hari kedua bulan Februari diberi nama penahiran Santa Perawan Maria secara hukum, bagi mereka yang merayakan hari raya Natal atau kelahiran Yesus pada hari kedua puluh lima bulan Desember. Segala sesuatu dalam penetapan pesta ini berkenan kepada Gereja Barat, bahkan sampai nama Hipapante atau pertemuan itu sendiri, sebab penggunaan nama ini kita lihat telah digunakan dalam beberapa martirologi Latin kuno, seperti yang digunakan oleh Beda, Ado dan Usuardus.
Gereja Barat juga telah menggunakan nama Yesus Kristus Dipersembahkan di Bait Suci, namun pada akhirnya memutuskan untuk secara universal tetap menggunakan nama Penahiran Santa Perawan Maria. Namun, meski pesta ini ditetapkan pada hari kedua bulan Februari di beberapa gereja (yang menurut kami dikarenakan Gereja Yunani), ada beberapa alasan bagi Roma untuk mengklaim bahwa dirinyalah yang memengaruhi Konstantinopel dalam perayaannya.
PEMBERANTASAN LUPERKALIA
Sebenar-benarnya, Paus Gelasius, yang dahulu memerintah Gereja tiga puluh tahun lebih sebelum Yustinianus menjadi kaisar, tampaknya telah memasang atau menetapkan pesta ini di bulan Februari, ketika Sri Paus sedang memberantas sisa-sisa yang memalukan dari pesta Luperkalia.
Dulu, orang pagan merayakan pesta ini di Roma dan pemerintahan para kaisar Kristiani yang pertama belum mampu melenyapkannya sepenuhnya. Pesta ini (sekiranya kita bisa menghormati aib dan kekejian dengan nama pesta), pada praktiknya dilaksanakan pada bulan Februari dengan kurban yang menyandang nama bulan tersebut (Februa sacra) serta dewa (Pan) yang dihormati dengan persembahan. Kurban-kurban pesta ini ditetapkan oleh takhayul agar diselenggarakan demi penghapusan dosa atau penahiran umat manusia, dan dinamakan lustrasi. Kurban-kurban ini pertama kali dilakukan dengan tumbal manusia. Pada kurban-kurban ini, manusia beribadat kepada Iblis yang menyamar sebagai Allah. Di situ jugalah Iblis memperlihatkan kejam kezalimannya: alih-alih memalsukan kebaikan Allah yang dahulu menerima anak domba sebagai kurban, Iblis justru menerima anak manusia yang dibakar untuk dirinya. Namun, sesudah kengerian bersimbah darah manusia ini berlangsung selama berabad-abad, para penyembah berhala itu pada akhirnya bisa dibimbing untuk melakukan yang disebut-sebut penahiran itu dengan lilin menyala.
VII.
Keadaan-keadaan inilah yang membuat para Bapa kuno dan berbagai kalangan terpelajar percaya bahwa pesta Penahiran Santa Perawan Maria, bersama dengan upacara lilin yang disebut Kandelaria di kalangan umat, ditetapkan di Roma dengan tujuan agar kekudusan misteri-misteri pesta kita ini menghapus penistaan & kekacauan yang ditimbulkan oleh orang pagan di masa tersebut. Namun, alih-alih tanggal 15 Februari yang dulu ditetapkan bagi para pelaku Luperkalia di kalangan penyembah berhala, para Bapa kuno serta beberapa kalangan terpelajar percaya, bahwa yang dipilih adalah hari kedua bulan Februari, yakni hari keempat puluh sesudah kelahiran Yesus Kristus & karena itu, hari Yesus dipersembahkan di bait suci serta hari Ibu Suci-nya ditahirkan.
Beberapa penulis berkata bahwa lilin digunakan untuk pesta ini sebelum ditetapkan secara resmi oleh Paus Gelasius. Namun, contoh yang mereka berikan adalah seorang nyonya dari Palestina bernama Iselia, yang dulu sekitar pertengahan abad kelima di Yerusalem, berusaha membuat pesta ini dirayakan dengan lilin. Tetapi upayanya ini tidak menghasilkan pengaruh yang berkelanjutan dan tidak bertahan secara konstan. Bagaimanapun juga perkaranya soal awal mula adat ini, kita membaca melalui karya tulis Santo Sofronius, patriark Yerusalem; serta karya tulis milik Santo Eligius, uskup Noviomum (Noyon) dan Santo Hildefonsus, uskup Toledo, bahwa adat ini sudah tetap secara universal pada abad ketujuh, dan hidup di Timur serta di Barat.
Namun ada orang yang menyalahgunakan otoritas & nama Santo Sirilus dari Yerusalem dengan salah menyematkan sebuah ceramah tentang Hipapante kepada orang kudus itu, demi menanggali adat menggunakan lilin dalam pesta Penahiran Maria pada abad keempat, masa Santo Sirilus itu hidup. Meski demikian, prosesi ini merupakan salah satu prosesi terkuno yang secara khidmat ditetapkan dalam Gereja. Walau ada beberapa orang yang melaporkan penetapan prosesi ini dilakukan oleh Paus Sergius I (wafat di tahun pertama abad kedelapan), bisa dilihat dari Santo Hildefonsus dari Toledo yang meninggal tiga puluh tiga tahun sebelumnya, bahwa para umat beriman di masanya sudah bergabung bersama untuk pergi mengelilingi gereja-gereja & tempat-tempat suci sambil memegang lilin di tangan dan menyanyikan himne-himne serta mazmur-mazmur pada hari Penahiran Santa Perawan Maria. Menurut kesaksian Santo Hildefonsus, upacara ini telah digunakan oleh Gereja untuk sedemikian rupa mengubah, atau justru melawan upacara yang dahulu dilakukan orang pagan dengan mengitari kuil-kuil mereka atau lingkungan-lingkungan tertentu di kota pada hari penahiran mereka di bulan Februari.
VIII.
Selebihnya, pesta Santa Perawan Maria ini merupakan yang pertama bersematkan hukum menghentikan kerja hamba (cessation des œuvres serviles) dari antara semua pesta yang ditetapkan untuk menghormati Maria dalam Gereja. Sudah demikian adanya sejak masa Raja Pipinus pada abad kedelapan di beberapa daerah di Barat. Di Baratlah pesta ini mengakar dengan jauh lebih kuat pada masa pemerintahan Karolus Agung (Charlemagne) serta para penerusnya, sehingga tidak lama setelahnya, bisa dilihat bahwa orang Yunani dan Latin pada umumnya tidak bekerja pada hari yang sama.
Orang Yunani selalu merayakan pesta ini dengan meriah sejak Yustinianus. Tak puas hanya menyebut hari kedua bulan Februari sebagai Hipapante, mereka juga menetapkan sebuah hari raya wajib lain secara ketat untuk tanggal 21 November, dengan nama Masuknya Santa Perawan Maria ke Bait Suci. Pesta ini sejak itu diubah baik di Timur maupun di Barat, menjadi pesta Santa Perawan Maria Dipersembahkan di Bait Suci (yakni, ketika Maria masih bayi), sehingga dengan perubahan ini, terhapuslah kenangan akan Yesus Kristus dipersembahkan di bait suci ...
Perayaan pesta Penahiran Santa Perawan Maria sama sekali tidak mengalami perubahan di Barat sejak ditetapkannya pesta itu, setidak-tidaknya tidak di masyarakat yang tak terpisah akibat skisma dari Gereja Roma. Pengecualiannya adalah gereja Anglikan di masa kini, di mana orang Protestan episkopal memelihara pesta ini seperti halnya Natal dan Epifani. Maka pesta ini dirayakan di Inggris seperti dahulu kala, dengan larangan melakukan kerja hamba & urusan-urusan istana. Ini lebih dari yang dilakukan oleh Gereja Roma pada hari ini, sebab di Inggris, mereka merayakan vigilianya dengan berpuasa menyambut pestanya. Vigilianya juga dulu dirayakan oleh orang Yunani: demikian pula adanya di beberapa daerah di Prancis serta Spanyol, yang menambahkan puasa seperti di Inggris. Puasa vigilia ini dilakukan dengan penuh bakti di berbagai dioses, namun tanpa perintah terang-terangan dari Gereja, di Belanda, Jerman dan Polandia.
Selama beberapa abad di Gereja Barat, pesta ini memiliki oktaf. Di masa ini, oktaf ini hanya dirayakan di gereja-gereja tarekat religius yang berlindung secara khusus kepada Santa Perawan Maria. Oktaf ini dirayakan secara khusus di gereja Santones (Saintes), untuk mengenang mukjizat yang terjadi di hari itu sehubungan penghormatan kepada Santa Bunda Allah, seturut tradisi negeri Prancis.
Catatan kaki:
Romo Adrien Baillet, Les vies des saints [Riwayat Hidup Para Kudus], Vol. I, bulan Januari, Februari, Maret, April, Ed. II, Paris, Chez Louis Roulland, rue S. Jacques, S. Louis & aux Armes de la Reine, 1704, hal 30-35.
[1] Lukas 2:22.
[2] Imamat bab 12.
[3] Keluaran 13:2.
[4] Bilangan 3.
[5] Lukas 2:39.
Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 3 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 7 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 9 bulanBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 9 bulanBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 10 bulanBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 10 bulanBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 10 bulanBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 11 bulanBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Halo – devosi kepada Santa Perawan Maria itu krusial untuk keselamatan dan pengudusan jiwa. Namun, dan juga yang terpenting, orang harus 1) punya iman Katolik sejati (yakni, iman Katolik tradisional),...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...