^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Tentang Ketidakmurnian - Khotbah VII St. Leonardus
KHOTBAH VII.
Untuk Hari Rabu pada Pekan Pertama
TENTANG KETIDAKMURNIAN
(DE L’IMPURETÉ)
Quum immundus spiritus exierit ab homine.
Ketika roh najis keluar dari manusia.
Matius 12:43
I. Bahwa kesopanan hendaknya membungkam mulut orang, ketika keadaannya berbahaya atau tak ada gunanya berbicara, itu saya hargai. Namun kalau berdiam diri justru memberdayakan orang lain untuk berbuat lancang, itu yang tidak bisa saya biarkan. Di kalangan umat Allah, hiduplah, atau justru merajalah, roh yang hanya patut disebut dengan epitet buruk: roh najis. Quum immundus spiritus exierit ab homine.
Kekacau-balauan yang terus-menerus disebarkan oleh roh jahat yang akrab di dunia ini sedemikian rupa, sehingga hampir meluluhlantakkan segala macam hukum. Akibat roh jahat itu, rasa saling percaya dalam rumah tangga menjadi retak, hubungan darah pun dilanggar, keabsahan anak-anak menjadi ternoda, kekudusan gereja-gereja dinistakan oleh skandal, kemurnian agama Kristiani dicemari dengan doktrin-doktrin sesat. Singkat kata, roh jahat yang tak bisa diam itu sampai berbangga diri karena tak sanggup beristirahat kalau belum menjangkiti orang dengan bisanya, kalau belum dijeratnya bukan hanya keluarga-keluarga saja, namun masyarakat seluruhnya. Quaerens requiem, et non invenit[1].
Terlebih, niat jahat roh itu sedemikian besar, sehingga dia bercita-cita mampu membejatkan cukup banyak jiwa dengan usahanya sendiri. Karena itulah, dia memanggil roh-roh lain yang lebih jahat daripada dirinya untuk menolong, meskipun mereka itu adalah roh terjahat: Vadit, et assumit septem alios spiritus nequiores se[2].
Anda sudah paham, bahwa dia ini adalah roh jahat yang seutuhnya kedagingan, meski orang-orang jangak di zaman ini berani-beraninya menyebut dia dengan nama yang cantik: spirit. Sebab, di zaman kita ini, hal-hal paling memalukan dianggap sebagai kelakar cerdas yang sangat spiritual. Nahas! Kerusakan-kerusakan yang telah dibuat oleh ular najis itu pada umat manusia, dan yang terus dibuatnya setiap hari, sedemikian adanya, sehingga padanya tak ada lagi orang waras, dan mustahil membuat satu langkah tanpa bertemu dengan lumpur yang busuk.
Di mana-mana, kita melihat roh jahat najis itu berjalan-jalan dengan bangga dan penuh keyakinan. Dia itulah yang mencemari, meracuni, mengacak-acak, menghancurkan dan membinasakan segala sesuatu. Lalu, kita harus diam saja? Lalu, kita harus menolerir dalam keheningan? Tidak, saya tidak akan tinggal diam, karena Allah telah menaruh sangkakala di tangan saya, sangkakala pewartaan injil, “celakalah aku sekiranya aku diam!” Et voe mihi quia tacui[3]. Tidak, saya takkan tinggal diam dan karena itu menolerir kemaksiatan yang ngeri nian, penyebab hancurnya dunia; “sekiranya itu aku biarkan, Neraka akan menjadi tempat tinggalku”: Et si sustinuero, infernus domus mea est[4].
Sebaliknya, kalau saya pernah harus berbicara keras dan dengan suara lantang, inilah saatnya. Sekarang: ketika saya harus meratapi perbudakan kebanyakan orang yang buta akibat hasrat cemar itu, dan dengan demikian menyembah berhala najis ketidakmurnian. Kebanyakan orang memperlakukan kebobrokan terkeji dengan enteng, dengan ringan, dengan penuh kesesatan, layaknya orang muda sesat jalan.
Ya Roh Kudus, Engkau yang dengan kekudusan-Mu yang tak terhingga, pada hakikatnya berlawanan dengan roh najis itu, celikkanlah mata mereka semua yang sedang mendengar aku dan buatlah mereka paham:
Perkara rumit ini mengharuskan saya supaya sangat berhati-hati, agar lidah sang pembicara jangan sampai menodai telinga para pendengarnya. Saya tahu benar bahwa sabda Allah harus lebih murni daripada perak yang diuji dengan api. Dengan demikian, janganlah takut: saya akan berbicara tentang kemaksiatan terkutuk ini dengan sangat sopan, agar khotbah saya boleh didengar tanpa waswas dalam biara para perawan sekalipun.
Namun, ya Allah yang Mahabesar! Kalau dunia di zaman kita ini sudah menjadi kubangan najis, kalau seluruh daging telah menyesatkan jalannya, omnis caro corruperat viam suam[5], mengapa gerangan tidak ada orang yang membicarakannya? Saya tentu saja akan berbicara dengan sopan, tetapi saya akan berbicara dan akan saya beri tahukan kepada anda, betapa berat, berbahaya dan tak tersembuhkan, kejahatan yang timbul akibat ketidakmurnian. Mari memulai.
POIN PERTAMA
II. Saya di pagi ini akan memerlukan air mata, alih-alih perkataan, untuk meratapi kebutaan orang-orang duniawi yang memandang dosa ini sebagai kelembutan pada perkara moral, atau sebagai kebutuhan alamiah. Padahal, dosa ini sudah diperangi oleh semua orang Kudus, Bapa, Teolog dan Doktor Gereja. Mereka bertarung melawannya ibarat melawan naga hidra dari Neraka, naga terngeri sekaligus terkeji yang mampu menjangkiti umat manusia.
Mereka semua menghujani kemaksiatan menyeramkan ini dengan bertubi-tubi memberikannya nama ternajis yang tersembul di pikiran. Dan demi memperlihatkan betapa parah kemaksiatan ini, mereka mempertunjukkan bahwa dari antara segala bencana yang menimpa dunia, yang paling patut dibenci adalah ketidakmurnian. Benar saja, yang paling patut dibenci. Oleh sebab itulah Santo Basilius menyebutnya sebagai kemabukan menjijikkan, penyakit menular. Kasiodorus menyebutnya dengan nama udara berhama, rawa yang dalam. Santo Agustinus menyebutnya infeksi, kebusukan. Santo Hieronimus menyebutnya kotoran, aib. Kitab Suci menyebutnya memalukan, kebobrokan. Yang satu, seperti Santo Gregorius, menyebutnya bau busuk mengerikan; yang lain, seperti Santo Ambrosius menyebutnya kenakalan pembawa aib. Yang lain, seperti Santo Siprianus, kelumpuhan buruk rupa; pada akhirnya, yang lain seperti Salomo, menyebutnya himpunan segala kejahatan: Pene fui in omni malo[6].
Dan tentu saja, tak ada sebutan lebih baik yang bisa diujarkannya, sebab ketidakmurnian sungguh-sungguh merupakan rangkuman segala kejahatan. Ini dikarenakan semua dosa lain, betapapun berat, betapapun menghina Allah, betapapun mematikan bagi jiwa, ibarat kata merupakan dosa remeh-temeh, sebab dosa-dosa lain ini datang sendirian tanpa disertai dosa lain. Sedangkan, dosa ketidakmurnian dapat dipandang sebagai panglima bagi dosa-dosa lain, sebab dia ini menyeret semua dosa lain ibarat dayang pengaraknya, dan semua dosa lain ini pun ikut serta hendak merayunya.
Selidikilah Kitab Suci, mulai dengan Salomo, yang menyatakan bahwa dirinya telah terbenam dalam hampir segala macam kemalangan: pene fui in omni malo. Jika dimurkakannya Allah dalam bait suci-Nya, jika dia membakar dupa bagi berhala-berhala, jika dia menghina ketuhanan dengan begitu banyak cara, bukankah dia telah jatuh dalam segala kekacau-balauan ini akibat hasrat dagingnya, akibat cintanya yang tak terkekang terhadap perempuan? Sebelum Salomo, kalau ada para saksi palsu yang bangkit untuk menindas perempuan tersuci yang tak bersalah, apakah sebab dilakukannya perbuatan tercela yang melanggar keadilan itu? Bukankah hasrat daging dua laki-laki tua terhadap Susana yang bajik itu? Kalau Uria, orang malang itu, tewas, dan kalau kematian adalah ganjaran atas pelayanan-pelayanan hamba yang pemberani dan setia itu, siapa gerangan tega nian sampai menginjak-injak keadilan? Bukankah Daud dengan hasrat kedagingannya terhadap Batsyeba?
Lihatlah Magdalena; meski dari kalangan berada, namun dia menghamba kepada pezalim kejam itu, dan hanya karena itu saja, dia tanpa terkecuali disebut sebagai perempuan berdosa: Mulier quae erat in civitate peccatrix[7]. Lalu mengapa demikian? Karena ketidakmurnian adalah dosa monster yang makan dari dosa-dosa lainnya. Karena itulah, dikatakan bahwa daripada Magdalena, Tuhan kita mengusir bukan hanya hawa nafsu saja, namun semua dosa, yang seturut pendapat Santo Gregorius, dilambangkan oleh tujuh roh jahat. Tuhan membebaskan Magdalena dari ketujuh roh jahat itu: de qua ejecerat septem daemonia[8].
Maukah anda lebih banyak bukti tentang besarnya kejahatan ini dalam segala aspeknya, sehingga bisa melihat bahwa ketidakmurnian bertentangan dengan segala kebajikan dan meninggikan segala kemaksiatan?
Baiklah, dengarkanlah Agustinus yang mulia itu, dia yang berbicara seturut pendapat universal para Bapa: Nulla virtus, nulla bonitas, nulla sapientia cum luxuria stare potest, sed in ea omnis perversitas regnat; “Tak ada kebajikan, tak ada kebaikan, tak ada kebijaksanaan yang selaras dengan hawa nafsu; namun bersama hawa nafsu, merajalah segala macam kebejatan.” Di manakah engkau, hai orang-orang kedagingan, engkau yang melempar pernis atas percabulanmu, atau karena engkau ingin tampak lebih tidak jorok, maukah engkau menjadikan ketidakmurnian tampak sebagai dosa yang paling bisa ditolerir dari segala dosa? Dosa apakah yang kaudapati sama bertolak belakangnya dengan segala kebajikan? Nulla virtus. Kejahatan macam apa yang sama besar daya rusaknya terhadap segala kebaikan? Nulla bonitas. Ketidaktahuan macam apa yang sebegitu kuasanya menghapus segala kebijaksanaan? Nulla sapientia. Dosa lain yang mana, yang singkat kata menghancurkan jiwa sampai-sampai mengubahnya menjadi monster dan menjadikannya sebagai sarang segala kebejatan?
Maka marilah kita berbicara dengan jelas, dan marilah berkata tanpa rasa takut, bahwa orang cabul adalah seorang pendosa yang terbenam dalam lumpur segala kemaksiatan. Orang itu cabul? Lantas, dia itu angkuh, dengki, pencuri, jahat; dia itu iblis. Seperti itulah yang ditulis oleh Santo Ambrosius kepada seorang perawan yang sayangnya jatuh ke dalam dosa memalukan; kepada perempuan itu dia berkata bahwa jiwanya dahulu adalah bait Roh Kudus yang hidup, namun akibat dosa ketidakmurnian, telah menjadi hunian roh-roh jahat: De habitaculo Spiritus Sancti tugurium facta est diaboli.
III. Namun apa yang saya maksud dengan jiwa? Ketidakmurnian tidak hanya memperhinakan jiwa, namun juga menodai raga. Oleh sebab itu, anda akan semakin melihat bahwa ketidakmurnian adalah kejahatan amat berat dalam segala aspeknya. Dan karena itu, orang juga bisa berkata dengan benar bahwa manusia cabul melukai dirinya dua kali, sebab dia berdosa terhadap jiwa sekaligus raga, dan karena dia menodai kepala sampai kaki. Pencemaran itu dia lakukan dalam beribu-ribu cara. Memang seperti itulah maksud perkataan sang Rasul: Qui fornicatur peccat in corpus suum[9]; “orang cabul berdosa terhadap badannya sendiri.” Tidak dia katakan dengan dirinya sendiri, per corpus, namun terhadap dirinya sendiri, in corpus; maksudnya, seperti penjelasan Santo Isidorus, orang tersebut menodai badannya, melecehkan badannya, menjadikan badannya sendiri sebagai kaki tangan kejahatannya: In ipsum delinquit, reum criminis ipsum efficit.
Kenakanlah wewangian sebanyak yang kausuka, hai orang sundal, minyakilah kulit kepalamu, kenakanlah kain seputih salju, tenunan halus, sulaman berharga: apa yang kauperbuat, kalau bukan mengemenyani orang mati, mencuci kulit orang negro, dan menabur bunga pada orang yang kejang otot? Tanta est spurcities et foeditas violatae castitatis, kesucian yang terlanggar, menyebarkan bau sebegitu busuk, ujar Santo Klemens, Paus, demikianlah busuknya percabulanmu, sehingga seperti sari-sarian yang paling menyengat, percabulanmu itu tidak hanya meliputi jiwamu dengan ketercelaan di mata Allah, namun juga badanmu di mata manusia.
Siapakah yang sanggup membayangkan keadaan orang cabul yang sudah menjadi tua dalam kemaksiatan, dan sejak bertahun-tahun lamanya berguling-guling dalam kubangan ini? Ah! Jijik betul! Lihatlah dia, kotor dalam pikiran-pikirannya, tak tahu malu dalam tatapannya, tak terkekang dalam perkataan-perkataannya, jangak dalam kesusilaannya, kebinatangan dalam perbuatan-perbuatannya. Harus benar diakui bersama Santo Petrus Krisologus, bahwa orang cabul dalam suatu makna tertentu berpindah keluar dari dirinya sendiri, dan dari manusia, berubah menjadi binatang buas nan hina: A se migrat, et ab homine totus transit in bestiam.
Demikianlah yang terbukti dari peristiwa yang diceritakan oleh Santo Petrus Damianus: seorang musafir pada suatu hari berjumpa suatu sosok mengerikan atau justru monster menyeramkan, dengan telinga dan ekor seperti kuda, berbadan seperti beruang. Penampilannya mengancam, tatapannya seperti binatang buas, rambut badannya tajam-tajam, kakinya seperti beludru dan cakarnya melengkung.
Terkejut dengan pemandangan ini dan terperanjat karena rasa takut, musafir itu hendak kabur dan menggertak kudanya. Namun si monster berpaling kepada musafir itu dan berkata dengan suara manusia:
Musafir itu menanyakan jati diri si monster. Jawab sosok itu:
Lihatlah, orang cabul, gambar yang sebenar-benarnya dari kebobrokanmu, atau lebih tepat dikatakan kebinatanganmu. Berkacalah dan kenalilah wajahmu; bercerminlah dan kenalilah siapa dirimu ini sekarang dan akan menjadi apa engkau tidak lama lagi, dan akuilah bahwa Santo Petrus Krisologus tidak melebih-lebihkan ketika berbicara, bahwa jika jiwa orang cabul adalah roh jahat, lantas badannya serupa dengan binatang buas: A se migrat, et ab homine totus transit in bestiam.
Dan siapa tak melihat bahwa kehidupan orang cabul adalah kehidupan yang tak pantas, menjijikkan dan seutuh-utuhnya kebinatangan? Ketika Santo Filipus de Neri dan Santa Katarina dari Siena dihampiri satu orang cabul saja, mereka mencium bau yang sedemikian busuk, sehingga mereka nyaris pingsan. Oh! Pendosa cabul pastinya merupakan pemandangan sebegitu ngeri bagi mata Allah! “Tak ada yang sebegitu dibenci Allah, selain jiwa yang tak murni”, jerit Laktansius: Nihil tam invisum Deo, quam animus impurus.
Lantas, hai para malaikat kudus, mau berbuat apa kalian? Bagaimana gerangan kalian membiarkan monster-monster itu berbondong-bondong masuk ke sini? Mengapa gerangan kalian tidak berseru: Foris canes, foris canes? Keluarlah dari sini, hai orang cabul, keluarlah dari bait suci Allah; pergilah berkawan dengan binatang-binatang najis, dan berguling-guling bersama mereka dalam kotoran: Foris canes, foris canes!
POIN KEDUA
IV. Kalau saja Surga memperkenankan hasrat daging untuk hanya mengubah manusia menjadi binatang buas, dan tidak kemudian mendatangkan bencana mengerikan bagi banyak anak-anak Adam! Oh, berapa banyakkah kepala yang sudah berjatuhan akibat kejangakan! Dan perempuan sendirilah yang menjadi penyebabnya, lihatlah bagaimana kaum hawa memamerkan piala keji ini dengan penuh kebanggaan! Lihatlah Dina menggenggam kepala Sikhem, Yael menggenggam kepala Sisera, Delilah menggenggam kepala Samson, Yudit menggenggam kepala Holofernes, Batsyeba menggenggam kepala Uria, Tamar menggenggam kepala Amnon, Herodias menggenggam kepala Yohanes Pembaptis, dan pada akhirnya, Hawa menggenggam kepala begitu banyak korban yang dipenggal, diracuni, dicekik, dibunuh dengan kematian kejam, tercela dan keras, demi menghamba kepentingan-kepentingan hasrat terkutuk ini.
Ketidakmurnianlah yang mengubah istana kaisar Oto III menjadi semacam tempat pembantaian ketika dia berpulang dari Roma ke Ravenna. Waktu tengah singgah di sebuah kota kecil, penguasa itu terpaksa harus menghukum istrinya sendiri dibakar hidup-hidup. Istrinya itu terpikat dengan comes, tuan rumahnya, seorang bangsawan rupawan dengan keelokan langka serta kebajikan yang sama besarnya. Karena dari Yusuf yang baru itu, permaisuri tak mampu memperoleh pemuasan hasrat-hasratnya yang keji, lantas cintanya beralih menjadi kebencian. Permaisuri pun menuduh bangsawan itu di hadapan kaisar, dengan berkata bahwa bangsawan rupawan itu hendak menganiaya dirinya. Oto yang terlalu mudah percaya lalu menjatuhi orang tak bersalah itu dengan hukuman mati.
Istri comes malang tersebut mengambil kepala suaminya, menghadap kaisar Oto dan membuang kepala suaminya di kaki sang penguasa. Demi membuktikan ketidakbersalahan suaminya, sang istri menawarkan dirinya diuji dengan memegang besi panas. Kaisar pun menerima usulan itu, dan ketika dilihatnya perempuan itu memegang besi merah tersebut bagaikan segenggam bunga, lantas dihukumlah permaisurinya yang cabul dengan hukuman api, sebab wanita itu bersalah atas fitnah yang sedemikian kelamnya. Namun kaisar Oto sendiri tidak lama setelahnya terpikat dengan seorang bangsawan perempuan asal Roma. Wanita ini, demi melepas hasratnya yang menggebu-gebu, membunuh kaisar, dengan menghadiahkannya sepasang sarung tangan beracun.
Sejarawan menyimpulkan bahwa cinta tak murni hampir selalu berbuntut tragis: Sic in tragicos successus plerumque desinit impurus amor. Dari mana gerangan datangnya begitu banyak pertengkaran, kebencian, perlawanan, pengkhianatan, iri dengki, perselisihan, dan pembunuhan, kalau bukan dari kebiasaan berbuat dosa ketidakmurnian? “Hawa nafsulah”, ujar Santo Yohanes Krisostomus, “sebab terjadinya pembunuhan.” Luxuria homicidas facit. Itulah alasan Kasiodorus dengan energik menyebut hawa nafsu sebagai pembinasa umat manusia: Humani generis depopulatrix, maksudnya, hama hidup yang menyerang raga dan menodainya, yang menyerang hidup dan mempersingkatnya, yang menyerang jiwa dan membinasakannya, yang menyerang orang-orang terpandai dan menjadikan mereka tumpul dan dungu.
Hawa nafsu menggunakan isyarat, tatapan dan kesenangan jasmaniah sebagai anak panahnya. Didapatinya Samson yang perkasa dan kuat, lalu dijadikannya lemah dan lepas kendali. Didapatinya Daud lemah lembut dan berhati baik, dan dijadikannya haus darah. Didapatinya Salomo penuh kebijaksanaan, dijadikannya bodoh. Nahas! Hawa nafsu, dengan bisanya, menjangkiti semua kalangan, laki-laki, perempuan, tua, muda, kaya, miskin; kadang-kadang, ia pun tak menghormati klausura, biara, pertapaan, santuarium, atau kaul-kaul sekalipun. Di mana-mana dibuatnya kebakaran, apa-apa dilahapnya. Dan sesudah dunia dijadikannya neraka penuh kejahatan, masih harus dibenamkannya lagi dalam neraka penuh siksa.
Ah! Biarkan saya berteriak bersama Santo Agustinus: “Neraka cabul! Engkaulah sebab terjadinya hampir semua kejahatan ini!” O tartaream libidinem, per te omnia fere mala facta sunt. Dan seperti itulah dosa yang begitu dihormati orang umat manusia, dosa yang orang anggap berasal dari kerapuhan semata, dan yang dicari-cari pembenarannya oleh kebanyakan orang akibat kelemahan daging yang mematri diri kita.
Apa! Daging yang lemah! Sambung Tertulianus; tiadakah yang lebih kuasa daripada daging yang membunuh kekuatan jiwa? Quin nulla tam fortis caro quae spiritum collidit. Dan bisakah, kejahatan yang membakar seluruh dunia Kristiani dan menjadikannya bersimbah darah, kita sebut kejahatan enteng? Nahas! Di hadapan bencana mendunia yang mengancam keluarga, orang bertalenta, orang cerdas, jiwa dan raga, tak ada kata yang mampu mengungkapkan besar kejahatan yang timbul dari kemaksiatan begitu menyeramkan nan keji itu.
V. Namun, karena tak ada bahasa manusia yang cukup untuk mengungkapkannya, lantas berbicaralah, hai suara Allah yang perkasa dan mengerikan. Berbicaralah, hai guntur, petir dan kilat; berbicaralah, hai banjir bandang dan lautan api. Katakanlah kepada kami, kalau benar Allah berbela rasa kepada kemaksiatan terkutuk itu. Apa?! Allah berbela rasa kepada ketidakmurnian? Baru mendengar apa saya ini? Lihatlah Troya lenyap akibat Helena yang cabul. Lihatlah Babel menjadi abu karena kebejatan Semiramis. Lihatlah Roma tenggelam dalam kegelisahan akibat Lukresia. Dongeng ataukah sejarah itu, tidak begitu penting.
Bukalah Kitab Suci, dan lihatlah Pentapolis yang keji dihancurkan dengan banjir api, dan lima kota seutuh-utuhnya bersama desa-desa mereka, yang dahulunya ibarat membentuk lima kerajaan kecil, berubah menjadi abu. Apakah sebab pemusnahan ini, kalau bukan ketidakmurnian? Lebih jauh lagi, renungkanlah seisi alam semesta ditelan oleh air bah, dan tanyalah kepada para malaikat yang dahulu menjadi pelayan murka Allah: mengapa mereka membuka pintu air Surga, dan menenggelamkan bumi kita? Bukankah itu dikarenakan kemaksiatan terkutuk ini, yang begitu disepelekan manusia?
Saudara-saudaraku, sudah pasti bahwa pada waktu datangnya air bah, tiada kekurangan di dunia ini, segala macam kejahatan. Ada perampokan, amarah, sumpah palsu, penghujatan, singkat kata segala kemaksiatan, terkecuali penyembahan berhala, seperti diutarakan oleh Santo Tomas. Dan meski demikian, dosa manakah yang terutama menarik datangnya air bah? Dosa ketidakmurnian. Ini ditegaskan oleh Kitab Suci, dan semua orang Kudus pun dengan bulat suara membuktikannya: Quia omnis caro corruperat viam suam[10]: “Seluruh daging telah menyesatkan jalannya.” Kalau air bah dulu tidak hanya menenggelamkan manusia, pepohonan, binatang-binatang, namun juga pegunungan, tujuannya adalah menghanyutkan sampah itu, kebusukan itu, hama itu: Venit diluvium et tulit omnes.
Marilah kita di sini menarik kesimpulan dengan membentuk argumen berikut: Allah menyatakan dalam Kitab Ulangan, bahwa hukuman yang diberikan setimpal dengan dosa: Pro mensura peccati erit et plagarum modus[11]; maksudnya, seturut komentar Dionisius Kartusian, bahwa hukuman harus selalu proporsional dengan kesalahannya: Ut culpae proportionata sit poena; sehingga kalau kesalahannya ringan, hukumannya juga harus ringan, berat kalau kesalahannya berat, dan sangat berat kalau kesalahannya sangat berat.
Namun, carikanlah saya dosa yang telah dihukum Allah dengan hukuman paling ngeri, paling berat, paling mendunia, selain yang digelegarkan-Nya atas ketidakmurnian; karena keadaan sedemikian adanya sampai-sampai Tuhan Allah menyesal telah menciptakan manusia, sehingga Dia mengorbankan begitu banyak anak-anak kecil tak bersalah, sehingga melenyapkan seisi dunia dengan air-Nya. Lantas harus dikatakan bahwa ketidakmurnian adalah dosa terberat.
Berhentilah; penolakan ini telah dibuat pada suatu hari kepada sesosok roh jahat. Ketika ditanya dosa apa yang terbesar dari semua dosa, roh jahat itu menjawab tanpa ragu-ragu: dosa ketidakmurnian. Dia kemudian dituduh berbuat salah, yakni bahwa penyembahan berhala, keputusasaan, kebencian terhadap Allah merupakan dosa-dosa yang berlawanan dengan kebajikan-kebajikan terluhur (dan karena itu merupakan dosa-dosa terberat). Namun karena roh jahat adalah teolog pandai, sebab dia cerdik dalam hal-hal duniawi, dia pun membantah penolakan itu dengan menyatakan suatu pembedaan: Quantum ad theologiam majora sunt ista, quantum ad effectus majora sunt illa. Dia memang benar: dosa-dosa yang berlawanan dengan kebajikan-kebajikan teologal itu lebih besar, karena berlawanan dengan kebajikan-kebajikan terluhur, itu benar. Namun, dosa ketidakmurnian adalah yang paling berat karena konsekuensi-konsekuensi fatal yang dibawakannya, serta buah-buah busuk yang dihasilkannya. Dosa inilah yang membuat Neraka berjejalan dengan orang-orang terkutuk, dan seperti yang diwahyukan kepada sebuah jiwa suci, sama halnya keangkuhan menjadikan Neraka sarat roh-roh jahat, demikian juga ketidakmurnian memenuhi Neraka dengan laki-laki dan perempuan yang sarat kemesuman.
VI. Kenikmatan daging memang pada dasarnya hanya setetes saja dalam piala roh-roh jahat, atau pancaran sesaat dari api Neraka, seperti yang disebutkan oleh Kepala Biara Guerikus dan Santo Agustinus; namun sekiranya itu seratus kali lebih besar, apakah pantas kenikmatan daging dituruti kalau dibayar dengan harga kecacatan jiwa dan raga sedemikian rupa, serta dengan harga kerusakan yang begitu banyak?
Ya, saya berkata dengan benar, kerusakan yang begitu banyak: sebab ketidakmurnian bukan hanya kejahatan amat berat dalam segala aspeknya, namun juga kejahatan amat berbahaya, sebab dia merampas segala kebaikan dari korbannya. Dari korbannya itu, diambilnya harta, kesehatan, kehormatan, singkat kata segala kebaikan macam apa pun, yang fana maupun yang abadi.
Demi mengungkapkan kebenaran ini sejitu mungkin, lihatlah seorang pemuda yang ditinggalkan warisan besar oleh bapaknya, dalam bentuk perumahan serta barang-barang lainnya. Setelah beberapa tahun lamanya, terdengar bahwa harta miliknya yang tercantik itu telah dijual atau disita, dan benda-benda paling berharga yang tadinya dia punya, telah diagunkan. Terdengar juga kabar bahwa rumahnya luluh lantak. Orang pun melihatnya tinggal di jalanan secara tak bermartabat, dengan penampilan miskin, kotor dan malang. Di manakah pakaiannya yang mengagumkan itu? Apa gerangan nasib kemewahan yang menyertainya ketika dahulu tampil di dunia? Ada di manakah kemegahan yang membuatnya dahulu cemerlang di antara orang lain?
Demikianlah yang ditegaskan oleh Roh Kudus: Qui nutrit scorta, perdit substantiam, qui pascit meretrices, disperdit divitias[12].
Lihatlah perempuan miskin itu berderai air mata: mengapa dia menangis? Akan saya jawab: Dahulu dia punya kotak perhiasan mewah yang penuh berbagai batu mulia; namun yang tersisa sekarang hanyalah daftar barangnya. Ke manakah perhiasannya itu pergi? Tanyakanlah kepada suaminya yang jangak. Usai mengorbankan harta bendanya demi hasrat jahanam, laki-laki itu memaksa istrinya yang malang untuk berbuat silih atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Selagi berpesta pora di luar, dihukumnya istrinya itu agar berpuasa keras di rumah, dan sesudah berpuasa sepekan penuh, laki-laki itu menghabiskan harta dan berfoya-foya dalam satu hari, berpesta demi kenikmatan hina.
Mengejutkankah kalau orang-orang yang seutuh-utuhnya kedagingan itu terus-menerus berkubang di lumpur, dan karena itu terjangkiti penyakit-penyakit tak tersembuhkan? Orang melihat mereka terus-menerus pucat pasi, kelelahan, kusut, penuh kemalangan. Tenaga yang mereka miliki hampir tak cukup untuk mengeluarkan pengakuan menyakitkan ini: tak ada lagi bagian badanku yang sehat, tak ada lagi damai sejahtera dalam tulangku.
Menurut anda saya ini melebih-lebihkan? Tetapi, coba saya tanya: pemandian medis, konsultasi-konsultasi kesehatan, rumah sakit yang harus mereka kunjungi? Para ahli bedah, dokter yang menjemukan dan memuakkan mereka? Bukankah mereka itu korban kenikmatan daging? Mengapa gerangan mereka menulis begitu banyak resep kalau bukan demi mengobati penyakit-penyakit mereka itu? Mengapa menggunakan begitu banyak perban, kalau bukan untuk menutup luka mereka? Mengapa menggunakan begitu banyak salep kalau bukan untuk melegakan penderitaan-penderitaan mereka? Dan sesudah itu, orang mau berani berkata: ada kemalangan apa dalam kelemahan daging?
Oh! Daging yang menyedihkan nan hina! Hai, orang-orang jangak! Yang kita lihat di muka umum adalah tulang yang berlubang, sumsum yang membusuk, kepala yang botak, mata yang terpejam, organ yang sudah rapuh, daya vital manusia digerogoti berserta serombongan penyakit yang bermacam-macam. Lalu, dengan napas berbau busuk yang menyebar kepada segala sesuatu yang dijamahnya, kalian berani-beraninya mengulangi: ada kemalangan apa dalam kelemahan daging? Kemalangan begitu berbahaya, begitu mewabah, sehingga menjadikan kalian semua lebih menjijikkan daripada Lazarus dalam kubur, lebih diliputi bilur-bilur daripada Ayub dalam kotorannya, dan menjadikan badan kalian seperti onggokan sampah, atau istilahnya purgatorium penuh siksa.
Lihatlah, saudara-saudaraku, mengapa orang bejat sering dianggap oleh para cendekiawan dan orang-orang berakal sehat sebagai orang tak berguna dalam politik, tidak setia dengan janji-janji mereka, tidak berhati nurani dalam perniagaan, ditolak dalam ranah budaya dan seni sebagai orang tak pantas, tumpul dalam ilmu pengetahuan, tidak mampu berbuat baik macam apa pun juga, tak berharkat, tak berjasa, sasaran penghinaan dalam segala sesuatu. Demikianlah lukisan yang dibuat tentang orang semacam itu oleh Santo Hieronimus, dengan menyebut mereka: Querulos, iracundos, imperiosos, serviliter blandos, omnibus inutiles; “Suka mengeluh, pemarah, angkuh, terlalu penurut, tidak berguna bagi siapa pun.”
Adapun saya, saya berpandangan bahwa orang yang tidak murni adalah pendosa buruk nama, ya, buruk nama. Dan sekiranya kita menuruti wejangan Santo Paulus, orang yang secara publik hidup dalam percabulan hendaknya diperlakukan sebagai terekskomunikasi, dan seandainya dia kawan dekat anda atau saudara anda, anda tidak diperbolehkan duduk pada meja yang sama dengan dia, apalagi makan dari piring yang sama: Si is qui frater nominatur, est fornicator, cum hujusmodi nec cibum sumere[13]. Dia bahkan hendaknya diusir dari gereja seperti orang kerasukan, hendaknya semua orang mengacungkan jari kepadanya, atau setidak-tidaknya mengusirnya dengan hina dari serambi, ke tempat yang dulu dikhususkan oleh Konsili Ankara bagi kaum Energumen. Dan sekiranya dia ingin menjadi lebih angkuh dan mulai kembali membunuh jiwa-jiwa dengan tatapannya, perkataannya, gerak-gerik asusilanya, dengan membuat isyarat dari satu pojok ke pojokan lain, oh! lantas semua imam hendaknya bangkit dan berteriak dengan suara kencang: Enyahlah dari sini, hai orang najis! Ayo, ke pintu, hai orang jangak, ke pintu! Enyahlah dari sini, hai kamu yang lebih keduniawian daripada kekristenan, kamu yang jiwanya seutuhnya kedagingan, lebih bendawi daripada rohani, dan yang badannya lebih busuk daripada mayat: Procul esto, profani!
VII. Orang bejat durhaka, buruk rupa, tak terpalumkan, belum puaskah engkau? Lihatlah, para korbanmu kehilangan banyak harta, kesehatan, dan kehormatan: apa lagi yang masih ingin kaurampas daripadanya? Masih tersisa suatu hal yang lebih berharga lagi pada dirinya.
Ketika berbicara tentang anak yang sesat jalan, Santo Lukas berkata bahwa anak itu kehilangan substansinya (substantiam) ketika hidup dalam hawa nafsu: Dissipavit substantiam suam vivendo luxuriose[14]. Maksud substansi (substantiam) di sini bukanlah kekayaan; kekayaan hanyalah suatu aksiden yang fana: substansi seseorang yang menjadikannya manusia, yang membedakannya dari binatang, yakni, akal, roh, kecerdasan. Itulah yang dihilangkan anak sesat ketika menyerahkan dirinya kepada hawa nafsu, seperti yang ditegaskan oleh Titus dari Basra: Dissipavit substantiam suam, id est, intellectum. Dan itulah bahwasanya yang dihilangkan semua orang bejat; mereka menjadi buta seutuh-utuhnya, lebih kebinatangan daripada berakal, karena mereka tidak lagi memikirkan jiwa mereka, seolah-olah mereka tidak berjiwa.
Ini bisa kita lihat dalam contoh istri Potifar yang malang: baru-baru menyerahkan diri kepada ketidakmurnian, perempuan itu sudah dalam suatu cara tertentu kehilangan terang akal. Tak lagi hidup dalam martabat kelahirannya yang terkait dengan takhta, dia menginjak-injak kesetiaan pernikahan. Tak lagi dipertimbangkannya ketidaksetaraan peringkat, serta hakikatnya sebagai penguasa. Hawa nafsu sudah mencungkil matanya untuk dibuang kepada Yosef, yang didewakannya: Injecit oculos in Joseph[15], demikianlah firman Kitab Suci.
Lihatlah penekanan pada ungkapan ini: Ia telah membuang matanya (dalam bahasa Indonesia, maksudnya memandang). Perempuan itu telah membuang matanya, dia sudah kehilangan matanya itu; lalu bagaimana perempuan malang itu bisa melihat? Bisakah dia meratapi kebutaannya tanpa mata? Alih-alih menangisi dosanya, dia justru berbuat dosa lain yang lebih besar lagi daripada yang pertama, dengan mencari-cari cara membunuh orang tak bersalah itu. Dan bukannya bertobat dari hasrat jahanamnya, perempuan tersebut justru berduka karena tidak bisa membunuhnya. Bagaimana dia bisa sampai berbuat sebegitu ekstrem? Jangan takjub: perempuan malang itu telah kehilangan pikirannya.
Coba sekarang, carikan saya kejahatan yang lebih berbahaya, daripada yang mampu menguasai akal orang-orang yang paling termulia. Nahas! Saya gemetar ketakutan ketika melihat cara nabi Hosea menjelaskan tentang orang bejat; waktu itu, dia menegaskan bahwa orang bejat tidak hanya akan tidak bertekad bertobat, namun juga tidak akan terpikir pada benaknya untuk bertobat: Non dabunt cogitationes suas, ut revertantur ad Deum suum, quia spiritus fornicationum in medio eorum.[16]
Cobalah anda menimbang-nimbang perkataan terakhir ini, perkataan yang besar bobotnya: “Roh percabulan ada di tengah-tengah mereka.” Itulah sebabnya orang bejat tak terpuaskan dalam hasrat daging mereka, dan tidak lagi memikirkan Allah, para kudus, maupun akhirat: mereka senantiasa bergelimang dalam kubangan mereka; entah ketika makan, atau minum, atau berjalan-jalan, atau mengurusi perkara-perkara mereka, atau ketika sedang berekreasi, yang mereka pikirkan hanyalah pikiran-pikiran mesum. Tatapan mereka, ujaran-ujaran mereka, bahkan mimpi mereka hanya tertuju kepada satu objek saja; sebab dalam diri mereka, terang akal sudah padam dan telah digantikan dengan roh percabulan: Spiritus fornicationum in medio eorum.
Tampak seperti persundalan merupakan jiwa mereka, dan menjadi tujuan seluruh pikiran mereka, pusat semua gerakan mereka, dan pangkal segala kesukaan mereka: in medio eorum. Seperti laba-laba yang berdiam di tengah-tengah jaringnya, menggenggam erat mangsanya di semua sisi supaya tidak lolos, seperti itu juga persundalan di tengah-tengah hati mereka: in medio eorum.
VIII. Perkenankan saya di sini berseru bersama sang Rasul: Quis vos fascinavit[17]? “Siapakah yang telah mempesona kamu?”, hai orang sundal? Bagaimanakah kamu bisa memandang enteng dosa yang sebegitu beratnya, kemaksiatan yang sedemikian fatalnya? Bagaimana mungkin kamu tidak mampu memahami begitu banyaknya kejahatan serta kerusakan besar yang telah kausebabkan? Kalau kamu belum mengalami lenyapnya kekayaan, kesehatan, kehormatan, ataupun kehancuran yang timbul dalam pancaindra dan dalam kekuatan jiwamu, setidak-tidaknya janganlah kau menjadi tidak peka terhadap luka-luka yang telah ditimbulkan dosamu di hati: yaitu, kebiasaan mendarah daging untuk berbuat jahat, sesal nurani, perlawanan terhadap Allah, putus asa akan keselamatan, konsekuensi-konsekuensi tak terbatalkan dari kematian tak terduga. Ini adalah luka-luka perih yang menguras hati, tanpa menumpahkan darah.
Apakah karakter moral anda lebih kuat dari Henrikus VIII, Raja Inggris? Namun seturut catatan Sanderus, begitu sang penguasa itu terjerat dalam pukat percabulan, tak pernah lagi dirinya mengalami ketenteraman lebih dari satu jam. Dia menjadi gemar menuduh dirinya sendiri dan orang lain pula, gelisah karena penyesalan serta rasa takut berkelanjutan, dan menderita baik dalam jiwa maupun raganya: Mirabile dictu est in quantas animi vitaeque perturbationes inciderit.
Akuilah kebenaran, hai orang sundal: berapa kalikah, dalam pikiranmu, dalam renunganmu dan dalam kesendirianmu, engkau mengutuki dirimu sendiri karena dicengkeram oleh hasratmu yang dahsyat itu? Berapa kalikah engkau membasahi belenggumu dengan air mata sia-sia, tanpa bisa berbuat apa-apa lagi; meski sudah membuat desahan-desahanmu yang getir, engkau hanya bisa meliputi sekujur tubuhmu dengan selimut rasa malu dan kebingungan? Induantur... pudore, et operiantur sicut diploide confusione sua[18]. Lantas bagaimanakah engkau bisa bangun pada pagi hari ini? Bagaimanakah engkau bisa membuka mata? Mengapa gerangan engkau tidak takut akan kejahatan sedemikian mematikan, sedemikian berbahaya baik bagi jiwa maupun raga, bagi hidup maupun kematian, dan di waktu sementara maupun untuk selama-lamanya?
Wahai orang Kudus di Surga, yang telah meminta kepada Allah supaya dirasuki roh jahat daripada ditaklukkan oleh hawa nafsu; wahai para Martir suci, yang demi menolak seorang wanita jangak, lidahmu dicabut bersama gigimu dan engkau meludahi wanita itu pada wajahnya; wahai para Perawan suci, yang demi lolos dari api persundalan, engkau telah dicampakkan dan dipanggang hidup-hidup dengan besi menyala, kupanggil namamu pada hari ini, kumohon kepadamu dengan setulus hati agar kaucerahkan mereka yang sedang mendengarkan diriku, supaya mereka paham dan merenungkan kebenaran besar ini.
Namun buat apa memanggil para Kudus, kalau kita saja bisa menemukan orang pagan yang berani menyiksa diri dengan batu bara menyala demi mengekang konkupisensi diri sendiri? Buat apa memanggil para martir, kalau kita bahkan bisa mendapati binatang-binatang yang bermandi darah supaya tahir dari noda perzinaan? Buat apa memanggil para perawan lembut itu, kalau kita telah melihat bebatuan secara spontan meledak akibat aib dari perbuatan najis itu? Bahkan, roh-roh jahat sendiri kadang kala tidak mampu tahan bau busuk yang keluar dari kemaksiatan mewabah itu!
Ya Allah Sang Amerta, binatang-binatang saja paham betapa terkutuknya ketidakmurnian, bebatuan saja hancur di bawah berat dosa itu, roh-roh jahat saja gemetar ketakutan melihat betapa buruk rupa kemaksiatan itu; tetapi manusia lebih keras dari batu, lebih bodoh dari hewan dan lebih jahat daripada roh jahat, sehingga tidak paham besar situasinya, dan tidak mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi mematikannya, dan melakukannya tanpa waswas. Mereka pun lalu pergi dari sana, mengulanginya seolah itu kejahatan enteng, seolah bukan apa-apa: Quis vos fascinavit? “Siapakah yang telah mempesona kamu?”, hai orang sundal? Saya tanya sekali lagi, mungkinkah ketegartengkukkan dan kebutaan itu berlangsung sebegitu lama?
Ah! Orang muda bodoh! Ketidakmurnian tidak menghilangkan kehendak bebas? Baiklah! Namun ketidakmurnian sedemkian membelenggu dan menawan kehendak bebas, sehingga menjadikan kejahatan anda tidak semata-mata sedemikian berat dalam setiap aspeknya, sangat berbahaya karena menghancurkan segala macam kebaikan, namun juga tak tersembuhkan, dan hampir tiada penawarnya.
Ya, ya, tak tersembuhkan. Anda tidak percaya? Kita rehat sejenak, lalu anda akan melihat apabila saya tidak menunjukkan kebenaran mengerikan itu sebenar-benarnya.
POIN KETIGA
IX. Buanglah ke tungku perapian, karya tulis menghujat buatan Luther dan Kalvin yang berani mendalilkan bahwa semua dosa menghilangkan kebebasan dari manusia; namun rangkullah pula dekret-dekret konsili suci Trente yang mendefinisikan bahwa semua pendosa, siapapun juga dia itu, tetap mempertahankan kebebasan untuk memilih dan bertindak sesuai dengan kehendak yang berkuasa paripurna atas tindakan-tindakannya. Dengarkanlah di saat itu juga, perkataan Santo Agustinus, yakni bahwa sekalipun kenikmatan daging tidak memaksa kehendak untuk berbuat jahat, namun menawan kehendak sedemikian rupa sejak terjerat dalam pukatnya, sehingga sangat sulit bagi kehendak untuk membebaskan diri.
Memang benar bahwa orang mesum pertama-tama berdosa secara bebas; lalu dia melanjutkannya karena kebiasaan, tetapi pada akhirnya, dia bertekun dalam dosa akibat ketidakberdayaan asing, ketidakberdayaan untuk membebaskan diri, akibat semacam keperluan moral. Sebab, seperti yang dengan amat benar dikatakan oleh Doktor agung itu, kebiasaan yang diidap akibat penyalahgunaan kebebasan dan yang merupakan hukumannya, menciptakan keperluan tersebut: Poenalis vitiositas subsequuta ex libertate facit necessitatem.
Ini kita lihat pada contoh para tamu undangan pernikahan dalam Injil. Tak ada yang menerima undangannya: Et coeperunt simul omnes se excusare[19]. Yang pertama telah membeli sebidang ladang dan menjadikannya alasan dia harus pergi melihatnya: Villam emi, et necesse habeo exire, et videre illam.
Yang kedua beralasan bahwa dia telah membeli lembu-lembu. Juga boum emi quinque, eo probare illa.
Yang ketiga tertahan oleh semacam perkara lain: Uxorem duxi; “saya baru kawin”, dan tanpa mencari-cari alasan, dia segera berkata: “Non possum venire; saya tidak bisa datang.”
Lihatlah, ujar Gaetanus, perbedaan tamu undangan yang satu ini dengan kedua tamu undangan pertama: mereka berdua menolak pergi karena kelalaian; sedangkan yang satu ini menolak karena ketidakberdayaan: dia ditahan oleh seorang perempuan: Vacare delectabilibus non parit negligentiam, sed reddit impotentem ad veniendum. Misteri ini berkenaan dengan anda, hai orang mesum. Setiap kali Allah memanggil anda entah dengan ilham batin, entah dengan sesal nurani, entah dengan mulut para pelayan-Nya, apa jawaban anda?
Mau berkata apa, kau, hai orang mesum? Maukah engkau sekarang mengakui bahwa kejahatanmu tak tersembuhkan, bahwa itu adalah kejahatan yang hampir tiada penawarnya?
X. Tetapi, supaya kita bisa menggali sampai ke lubuk kebenaran ini, anda tahukah alasan ketidakmurnian adalah kejahatan tak tersembuhkan? Karena ketidakmurnian mencampakkan si pendosa ke dalam keadaan yang terburuk: dalam keputusasaan. Demikianlah ajaran sang Rasul: “Sesudah kehilangan segala harapan akan keselamatan, mereka menyerahkan diri kepada percabulan dan tenggelam dalam segala macam kenajisan”; Qui desperantes, semetipsos tradiderunt impudicitiae, in operationem immunditiae omnis[20]. Demikianlah dampak lazim dari kemaksiatan ini: meluluhlantakkan bangunan rahmat seutuh-utuhnya, dan mencampakkan si pendosa kepada lengan keputusasaan.
Namun mereka putus asa akan apa?, lanjut Santo Yohanes Krisostomus. Mereka putus asa akan pertobatan, mereka putus asa akan ketekunan, mereka putus asa akan pengampunan dosa, mereka putus asa akan kehendak mereka sendiri, mereka putus asa akan Allah, mereka putus asa akan diri mereka sendiri.
Mereka seolah mendengar hawa nafsu berkata kepada diri mereka: Nahas, bagaimana caranya aku mematahkan rantai ini? Bagaimanakah aku bisa keluar dari labirin ini, tempat hasratku membara sebegitu ganas? Bagaimana aku bisa lepas dari pukat ini? Bagaimana ...? Bagaimana ...? Dan seandainya aku bertobat, bagaimana caranya aku bisa bertekun? Bukankah aku sudah mengeluh seratus kali, seribu kali bahwa aku ingin berhenti berbuat itu? Dan ribuan kali, aku sudah kehabisan kata-kata, dan hari ini aku mendapati diriku terbenam lebih dalam di lumpur daripada yang sudah-sudah. Tidak, mustahil Allah mengampuni kejahatan sebegitu banyak; Allah, kemurnian itu sendiri, tidak akan pernah mau menyambut hati yang sebegitu penuh dengan sampah; tidak, tak ada harapan lagi bagiku.
Dan sekalinya roh najis memadamkan harapan dalam hati orang jangak itu, dia pun berserah diri tanpa terkendali kepada hasrat-hasratnya: Desperantes, semetipsos tradiderunt impudicitae. Karena itulah kematian orang putus asa menyeramkan bagi siapa saja yang masih memiliki rasa iman dan kesalehan dalam hatinya. Sekarang, tidak akan sulit lagi bagi anda untuk mengakui fakta menyedihkan tentang seorang pendosa besar. Ketika di ambang kematian, dia dibujuk, didesak agar mengusir seorang perempuan celaka dari rumahnya, perempuan yang pada saat teramat genting itu masih ada di sisinya. Orang itu pun menjawab dengan semacam amarah: Aku tidak bisa.
Seraya menuturkan kata-kata keputusasaan itu, dia menyerahkan jiwanya ke tangan roh jahat. Janganlah terkejut karena itu, sebab ketidakmurnian adalah kejahatan tak tersembuhkan yang diakibatkan dua alasan: si pendosa sama sekali putus asa akan keselamatan kekalnya, dan Allah memunggunginya.
Orang cabul tampak seperti orang penuh luka yang sudah tertidur dalam kubur mereka: Sicut vulnerati dormientes in sepulcris[21]: demikianlah gambaran yang diberikan kepada kita oleh sang Nabi; mereka itu memang merupakan orang yang hidup dalam daging busuk seperti di dalam liang kubur, sudah mati bagi rahmat dan sekarang dianggap jijik oleh Allah. Ujung-ujungnya apa? Ujung-ujungnya, Allah tidak sudi lagi memikirkan mereka: Quorum non es memor amplius[22]; dengan benar diputus-Nya pertolongan-pertolongan mujarab-Nya dari mereka, dan Dia pun meninggalkan mereka untuk dilupakan, sehingga tercemplung ke dalam kebinasaan: Quorum non es memor amplius. Atau, seturut tafsir lazim, Allah tidak lagi membangunkan mereka dalam makam mereka: Unde Deus non excitat eos.
Dan memang benar, cobalah berbicara tentang akhirat kepada orang duniawi: Deus non excitat; dia akan mengolok-olok perkara itu. Tunjukkanlah Neraka menganga di bawah kakinya: Deus non excitat; akan dia anggap dongeng. Bawalah dia pergi ke imam pengakuan yang mendesak dia supaya berpaling kepada kebajikan: Deus non excitat; segera dia ganti percakapannya. Singkat kata, tidak lagi dirasakannya penyesalan nurani, tak lagi terbersit padanya pikiran berfaedah yang berkesan baginya; telah tiba dirinya pada keadaan sedemikian malang, yang telah digambarkan oleh para Bapa sambil berlinang air mata, keadaan tegar, tak peka, binasa: Unde Deus non excitat.
Dan pada kenyataannya, mereka sampai kehilangan iman.
Ya, kehilangan iman, sampai hidup sebagai ateis, ditandai dengan meterai binatang, tanda pengutukan. Contohnya kita lihat dari Simon dari Turnakum yang terkenal. Dia dulu menjadikan Universitas Paris ternama oleh karena kecerdasannya.
Karena jatuh hati dalam cinta terlarang terhadap seorang perempuan bernama Alsidia, hasrat telah menggelapkan kecerdasannya yang sedemikian brilian, sehingga Simon menjadi ateis. Sesudah mengarang sebuah risalah melawan tiga orang pembuat hukum: Musa, Kristus dan Mahomet, dia pun berdiri di atas kursi universitas. Di saat itu juga, dengan nada bicara yang menggelegarkan amarah yang menggerakkannya, dia meluncurkan penghujatan mengerikan ini: De tribus impostoribus, Moyse, Christo et Maumete. Seketika, dia langsung terkena pendaharan otak dan jatuh ke lantai, tiada pernah bangun lagi: matanya berputar-putar, dia mengeluarkan keluh kesah, dan membisu untuk selama-lamanya.
Dia hanya bersuara untuk menuturkan nama Alsidia. Orang menyuruhnya memanggil nama Yesus, tetapi dia memanggil Alsidia. Orang memperlihatkan manuskrip Boetius yang disayanginya, dan dia menjawab Alsidia. Orang mendesaknya supaya setidak-tidaknya menuturkan sepatah peccavi, tetapi tak bisa, tak mau, tiada yang dapat dituturkannya selain Alsidia. Mulutnya berbuih, bergetar, dan dengan nama jahanam di bibirnya beserta objek yang lebih jahanam lagi dalam hatinya itu, dia mati terkutuk sesudah hidup sebagai ateis. Seperti itulah kematian orang bejat: mereka pada kenyataannya menyandang meterai orang terkutuk di dahi, sebab kejahatan mereka tak tersembuhkan dan hampir tiada penawarnya.
Haruskah seluruh kebenaran saya ungkapkan bagi anda? Dengarkanlah, dan saya akan akhiri: saya hanya punya dua patah kalimat bagi anda, tetapi dua kalimat ini memiliki wibawa sebegitu luhurnya dan bermakna sebegitu jelasnya, sehingga tak terbantahkan.
Yang pertama berasal dari Tuhan kita Yesus Kristus:
maksudnya, seturut penjelasan Santo Gregorius, banyak orang terpanggil untuk mengikut iman sejati, tetapi sedikit yang terpilih untuk beroleh kemuliaan.
Yang lain adalah perkataan Santo Paulus Rasul:
Dua kebenaran ini tampak independen yang satu dari yang lain, namun kedua-duanya memiliki hubungan yang mengagumkan.
Ketika saya melihat di satu sisi, sedikitnya jumlah orang Kristen yang selamat, dan di sisi lain, sebagian besar umat manusia berserah kepada nafsu daging (yang bahwasanya merupakan wabah bagi dunia), saya berkata kepada diri sendiri:
Dan pemikiran saya ini diteguhkan oleh perkataan terkenal dari Santo Remigius, bahwa selain dari anak-anak, sedikit orang dewasa yang selamat, dan ini dikarenakan dosa daging: Exceptis parvulis, ex adultis propter carnis vitium pauci salvantur.
XII. Datanglah anda semua sujud di kaki Yesus Kristus, dan biarkanlah saya berteriak kepada anda dengan salib di tangan: kejahatan besar, perlu penawar besar: extremis malis, extrema remedia. Penawar apakah yang digunakan Tuhan kita untuk dosa sebegitu besar?
Dalam jasad Lazarus yang terkubur selama empat hari, dibayangkan-Nya sesosok orang cabul yang dimangsa kebusukan dosa, dan melihat itu, Ia mengeluh, menumpahkan air mata dan berseru: Lazare, veni foras[25]; “Lazarus, keluarlah dari kubur.” Tak hanya menangis saja, Ia juga dari kayu salib menumpahkan sungai darah, Dia menghendaki daging-Nya dikoyakkan dari kepala sampai kaki, seperti seorang penjahat. Namun mengapa gerangan menumpahkan begitu banyak darah, dan menderita begitu banyak luka?
Mengapa? Demi membasuh noda ketidakmurnian yang begitu banyak.
Lantas lihatlah, saudara-saudaraku, penawar sejati untuk kejahatan sedemikian mematikannya: air mata dan darah. Ini memang adalah penawar yang sukar, saya tahu, saya setuju: namun kejahatan besar, perlu penawar besar. Supaya lebih mudah, kalau di sini ada orang cabul yang sudah menua dalam kebiasaan dosa itu, hendaknya dia merenung dan melayangkan pandangan pada kesalahan-kesalahan tak terhitung yang telah diperbuatnya tanpa henti dari sejak masa kanak-kanaknya.
Ya Allah yang Mahabesar! Akan seperti apa kebingungannya di hari kematian, hari orang itu akan harus hadir penuh noda di hadirat Surga dan bumi! Akan seperti apa kebingungannya ketika mendengar hardikan Yesus Kristus segera setelah berakhir hidupnya yang jahat itu, beserta rincian tempat, waktu, genus, jumlah dan segala keadaan terngeri dari dosa-dosa sebegitu hina! Kalau di saat itu juga, hai pendosa malang, Allah mengangkat selubung dan menghadirkan anda di depan perhimpunan itu apa adanya, dan mengungkapkan semua perbuatan jahat yang hanya anda seorang perbuat, atau bersama orang lain, atau yang anda sebabkan, dengan menggoda orang ini atau itu, dengan mengajarkan kejahatan kepada orang tak bersalah yang ini atau yang itu, oh! Ya Allahku, akan seperti apa gemetar yang anda rasa sepanjang sisa hidup anda! Betapa dahsyat kejang-kejang yang akan anda alami! Ah! Anda akan mati karena rasa malu!
Tak bolehkah datang hari itu, hari semua kejahatan ini disingkapkan? Lantas mengapa gerangan anda tidak langsung saja menyambut penawar ini, biarpun begitu pahit, biarpun begitu sukar? Haruslah air mata berlinangan, wahai saudaraku, air mata, air mata berlinang, saudariku; dan itu adalah air mata dari hati yang bertobat. Campurkanlah air mata anda dengan air mata Yesus yang Mahabaik, mintalah ampun pada-Nya dari lubuk hati anda dengan memukul dada, tirulah Magdalena yang ketika melihat dosa-dosanya, tumpah air matanya; dan sambil memeluk salib, ulangilah berkali-kali: Mohon ampun, ya Allahku, mohon ampun!
Janganlah menunda membereskan perkara nurani anda dengan pengakuan dosa umum, diawali dengan pemeriksaan batin yang saksama, seolah-olah sesudah pengakuan, anda harus langsung hadir di pengadilan Allah.
Seperti apa pengakuan dosa yang sudah anda buat sampai sekarang? Nahas! Ini saya tujukan kepada anda, yang dalam mengaku dosa sendiri, telah memperbanyak dosa anda dengan kenaiman baru dalam kejahatan; kepada anda, yang ketika memeriksa batin, telah menambahkan jumlahnya dengan kambuh berbuat dosa; kepada anda, yang ketika menuduh diri berbuat dosa, telah menyembunyikan keadaan-keadaan dosa akibat rasa malu, sehingga mengubah genusnya; kepada anda yang karena lekat dengan kesempatan terdekat berbuat dosa, telah menjadikan perbuatan sebegitu sucinya menjadi hampa belaka; kepada anda yang ketika sedang bangkit untuk bertobat, telah mengalami bujukan-bujukan baru untuk berbuat dosa: tak anda lihatkah bahwa penyesalan anda itu tidak memadai, cacat, mandul, dan alih-alih menyambut sakramen, anda hanya memperbanyak dosa sakrilegi anda?
Oh! Ya Allahku, betapa kacaunya! Ah! Segeralah anda berlari ke kaki imam pengakuan, untuk menangisi hidup yang sedemikian jahat, tangisilah keadaan menyedihkan hati nurani anda; dan kalau air mata tidak cukup, tumpahkanlah darah, berilah diri anda disiplin bersimbah darah; hukumlah dengan puasa, kilikium dan disiplin ketat, daging anda yang sudah mengkhianati anda sampai sekarang.
Kalau sampai sekarang ini anda tidak memiliki keberanian, akan saya lakukan itu untuk anda: tetapi, sewaktu saya sedang mempersembahkan darah saya kepada Allah demi membasuh noda-noda sebegitu banyak, setidak-tidaknya anda harus menghela napas, pukullah dada anda, dan mintalah segala ampun dengan suara lantang; berteriaklah, saudara-saudaraku yang amat terkasih: Mohon ampun, ya Allahku, mohon ampun!
Saudara-saudaraku terkasih, kejahatan besar, perlu penawar besar. Dosa ketidakmurnian terlalu berat dan terlalu berbahaya, dan supaya jangan sampai tak tersembuhkan, haruslah menumpahkan air mata, air mata pahit, haruslah menumpahkan darah dari penitensi keras: maka, sayalah yang akan menumpahkan darah dan andalah yang akan menumpahkan air mata, air mata pahit, demi beroleh ampun atas begitu banyaknya kebusukan. (Disiplin).
Namun apa gunanya air mataku, wahai Juru Selamatku yang manis, apa gunanya darahku, kalau demi menghidupkan kembali Lazarus yang membusuk dalam makamnya, orang bejat yang sudah menua dalam penyakitnya, Engkau tak menggunakan suara-Mu yang Mahaperkasa? Engkau sendiri juga perlu memanggilnya; suaraku yang terlalu lirih ini takkan sampai pada dia: gaungkanlah kuat-kuat suara-Mu di hatinya, supaya dari lubuk hatinya itu, dia kenal makam busuk tempat jiwanya terbaring: Veni foras, keluarlah dari rumah tak layak huni itu, keluarlah dari percintaan najis itu, keluarlah dari hubungan jahat itu, dari pesta sore itu, dari gubuk itu: kalau itu tidak cukup, keluarlah dari dunia, ya, keluarlah dari dunia: kejahatan besar, perlu penawar besar.
Hai pemuda, mengapakah engkau tidak mau mengasingkan diri dalam biara terketat, demi menjaga utuh kemurnianmu? Dan engkau, pemudi, mengapa gerangan engkau tidak pergi bersembunyi di dalam biara, supaya menjaga dirimu murni tanpa noda? Kalau kamu tidak berani, setidak-tidaknya rendahkanlah tatapanmu ketika berjumpa benda-benda berbahaya; cabutlah lukisan-lukisan tak senonoh dari tembok rumahmu, bakarlah buku-buku jahatmu, surat-surat mesummu, larikanlah dirimu dari percakapan-percakapan jangak, kunjungilah sakramen-sakramen, enyahkanlah kesempatan-kesempatan berdosa: ini pasal penting, saya tekankan: enyahkanlah kesempatan-kesempatan berdosa, kalau tidak, anda akan jatuh.
Sebagai penutup, aku hendak berbicara kepada-Mu, ya Yesusku yang amat terkasih! Dengan air mata berlinang, aku berterima kasih kepada-Mu karena telah memanggilku untuk masuk keadaan suci ini, dan karena telah menganugerahkanku rahmat untuk membuat kaul kesucian kekal. Mengapa gerangan, ya Yesusku yang manis, waktu pertama ibuku membungkusku dengan kain lampin, Engkau tidak mencerahkanku tentang harta yang sebegitu indahnya! Oh! Betapa besar sukacitanya, betapa indah Firdaus yang telah disiapkan bagi jiwa yang hidup suci murni!
Berusahalah, suadara-saudaraku yang terkasih, berusahalah, terutama kamu semua, orang muda belia, para pemudi tak bersalah, yang sampai sekarang telah menjaga murni bunga bakung kemurnian yang cantik gemilang. Ah! Berjaga-jagalah, supaya kemurnianmu tidak ternoda, karena yang pertama kali bagimu akan menjadi jurang curam. Baru saja kalian dengar betapa besarnya dosa ketidakmurnian itu, kejahatan amat besar, kejahatan amat berbahaya, kejahatan tak tersembuhkan: maka buatlah tekad suci, saya tak mau berkata sumpah, namun tekad teguh nan murah hati untuk beribu-ribu kali kehilangan nyawa daripada melakukan dosa itu satu kali pun. Lebih baik lagi, marilah kita semua membuat tekad sedemikian cantik ini; sebab, saya tidak mau percaya ada dari antara anda seorang pun juga yang ternoda kemaksiatan itu; mereka yang sudah berbuat demikian, tidak terbiasa menghadiri khotbah-khotbah ini.
Kalau saya begitu kesal, itu dikarenakan saya telah berlaku seperti orang berduka yang tak bisa berbicara kepada penyebab dukacitanya, sehingga melampiaskannya sebisanya kepada semua orang yang dia jumpai. Maka marilah kita semua dari lubuk hati, bersama-sama membuat tekad teguh: lebih baik kehilangan harta, reputasi, kesehatan dan nyawa, singkat kata segala harta di dunia ini, daripada berbuat satu dosa najis apa pun juga, entah dalam pikiran, perkataan atau perbuatan, dan marilah kita taruh tekad suci ini pada tangan Santa Perawan maria.
Ya Maria, Perawan Agung, Ratu yang kuasa dan Bunda kemurnian, sudilah menerima persembahan kehendak baik kami ini: sambil berlutut, dengan tangan terlipat dan mata terarah kepadamu, kami memohon kepadamu, ya Perawan Termulia, Santa Perawan Kusuma, buat kami tanpa noda, patuh, suci, penuh takwa: Virgo singularis, Inter omnes mitis, Nos culpis solutos, Mites fac et castos. Amin.
Catatan kaki:
Œuvres du bienheureux Léonard de Port-Maurice [Karya-Karya Beato Leonardus dari Porto Mauritio], terjemahan F.-I.-J. Labis, T. III, Paris, H. Casterman, Éditeur, 1859, hal. 173-203.
[1] Matth. 12, 43.
[2] Matth. 12, 45.
[3] Is. 6, 5.
[4] Job. 17, 13.
[5] Gen. 6, 12.
[6] Prov. 5, 14.
[7] Luc. 7, 37.
[8] Marci 16, 9.
[9] 1 Cor. 6, 13.
[10] Gen. 6, 12.
[11] Deuter. 25, 2.
[12] Prov. 29, 3.
[13] I Cor. 5, 11.
[14] Luc. 15, 13.
[15] Genes. 39, 7.
[16] Ose. 5, 4.
[17] Gal. 3:1.
[18] Psal. 108, 29.
[19] Luc. 14, 18.
[20] Eph. 4, 19.
[21] Psal. 87, 6.
[22] Ibid.
[23] Matth. 23, 16.
[24] I Cor. 6, 9-10.
[25] Joan. 11, 43.
Artikel-Artikel Terkait
Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 4 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 8 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 9 bulanBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 10 bulanBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 10 bulanBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 10 bulanBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 10 bulanBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 12 bulanBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Halo – devosi kepada Santa Perawan Maria itu krusial untuk keselamatan dan pengudusan jiwa. Namun, dan juga yang terpenting, orang harus 1) punya iman Katolik sejati (yakni, iman Katolik tradisional),...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...