^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Surat Bulla Cantate Domino - Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1441 - Persatuan dengan Orang-Orang Koptik
Surat Bulla Persatuan dengan Orang-Orang Koptik
CANTATE DOMINO
EUGENIUS, USKUP, HAMBA PARA HAMBA ALLAH, UNTUK KENANGAN SEPANJANG MASA.
Sudah sepantasnya pada hari ini juga Gereja Allah menyanyikan puji-pujan dan bersorak-sorai dalam Tuhan atas agung kebesaran-Nya dan kemuliaan nama-Nya, yang dibawakan oleh Allah yang Mahabaik. Bahwasanya sungguh layak bagi kita untuk memuji dan memberkati Juru Selamat kita dengan setulus hati, Dia yang setiap harinya memperbesar Gereja kudus-Nya dengan anggota-anggota baru. Manfaat yang didatangkan-Nya bagi umat Kristiani di sepanjang masa itu besar dan banyak adanya, dan dengan demikian membuat cinta kasih-Nya yang Mahabesar itu tampak semakin terang-benderang bagi kita. Namun demikian, jika kita menyelidiki dengan akurat apa saja dan betapa banyak kebaikan yang telah sudi dikerjakan oleh Kerahiman Allah di hari-hari terakhir ini, kita tentunya akan mampu menilai bahwa di masa kita ini, karunia-karunia kasih-Nya lebih banyak dan lebih besar lagi daripada di masa yang sudah-sudah.
Sebab lihatlah, belum berlalu tiga tahun, Tuhan kita Yesus Kristus dengan belas kasih-Nya yang tak kenal lelah dan dalam kemurahan hati-Nya yang berlimpah-limpah, sudah membuahkan persatuan tiga bangsa di sinode suci dan ekumenis ini. Persatuan teramat bermaslahat ini dengan demikian mendatangkan sukacita bersama sepanjang masa bagi seluruh dunia Kristiani. Maka dari itu, usai lama berselisih dengan Gereja Roma yang Kudus, terjadilah bahwa hampir seluruh wilayah Timur, yang menyembah nama agung Kristus, serta bagian yang tidak kecil adanya dari wilayah Utara, sekarang telah datang bersama-sama dalam ikatan iman dan kasih yang sama. Sebab pertama-tama, kaum Yunani dan mereka yang tunduk kepada keempat takhta patriarkal (yang mencakup banyak suku, bangsa dan bahasa); kemudian kaum Armenia, bangsa berjumlah besar; dan pada hari ini, kaum Yakobit, bangsa besar penghuni Mesir, telah dipersatukan dengan Takhta Suci Apostolik.
Tiada yang lebih berkenan kepada Juru Selamat kita, Tuhan Yesus Kristus, daripada umat manusia yang saling mengasihi; dan tiada sesuatu yang mungkin menghadirkan kemuliaan lebih besar kepada nama-Nya serta faedah lebih besar bagi Gereja, daripada umat Kristiani yang telah membuang segala perselisihan, datang berkumpul bersama dalam kemurnian iman yang sama. Dengan demikian, patutlah kita bernyanyi dalam sukacita dan memekikkan kegembiraan kita dalam Tuhan, Dia yang dengan Kerahiman Ilahi-Nya, pada hari-hari ini telah memantaskan kita untuk melihat keagungan besar iman Kristiani. Itulah sebabnya, dengan antusiasme terbesar, Kami permaklumkan hal-hal agung ini kepada seluruh dunia Kristiani, agar sama seperti kita semua yang penuh sukacita tak terperi atas kemuliaan Allah dan keluhuran Gereja, kita pun dapat membuat orang lain turut serta dalam kebahagiaan besar ini. Dengan demikian, semua orang boleh senada meluhurkan dan memuliakan Allah serta kemegahan-Nya, sebagaimana pantas adanya, dan boleh setiap hari memanjatkan ucapan syukur nan agung atas begitu banyak dan besarnya manfaat ajaib yang Dia karuniakan kepada Gereja kudus-Nya di zaman ini.
Dan barang siapa dengan gigih memperjuangkan karya Allah, tidak hanya menantikan jasa dan pahala di Surga saja, namun juga pantas beroleh kemuliaan berlimpah-limpah serta puji-pujian di kalangan manusia. Dengan demikian, Kami menilai Saudara Terhormat Kami, Yohanes, Patriark kaum Yakobit, yang amat sangat mendambakan persatuan suci ini, pantas dipuji dan ditinggikan oleh kita dan seluruh Gereja, dan bersama segenap bangsanya patut beroleh dukungan dari semua orang Kristiani. Sebab, terdorong oleh diri Kami melalui utusan serta surat-surat Kami agar mengirim seorang duta besar kepada Kami dan sinode suci ini, dan agar mempersatukan dirinya serta umatnya dalam iman yang sama dengan iman Gereja Roma, Patriark Kaum Yakobit itu mengutus Andreas asal Mesir untuk datang menghadap Kami dan sinode ini. Andreas berpendidikan tinggi dalam iman dan moral, dan merupakan kepala biara Santo Antonius di Mesir. Konon kabarnya, Santo Antonius sendiri hidup dan wafat di biara tersebut. Saudara Kami, Patriark Yohanes, terbakar semangat membara, memerintahkan dan menugaskan Andreas dengan penuh hormat agar Andreas, mengatasnamakan Patriark serta bangsa Yakobitnya itu, menerima doktrin iman yang dipercayai dan dikhotbahkan oleh Gereja Roma yang Kudus, dan agar sesudahnya Andreas membawa doktrin ini kepada Patriark dan bangsa Yakobit agar mereka boleh mengakui, meratifikasi serta mengkhotbahkan doktrin tersebut di wilayah-wilayah mereka.
Maka dari itu, Kami, yang oleh suara Tuhan telah diserahkan tanggung jawab untuk memberi makan domba-domba Kristus[2], telah memerintahkan agar Kepala Biara Andreas secara pribadi diselidiki dengan saksama oleh beberapa pria terkemuka dari konsili suci ini mengenai pasal-pasal iman serta sakramen-sakramen Gereja dan hal-hal yang berkenaan dengan keselamatan. Dan pada akhirnya, sejauh tampak diperlukan, usai menjabarkan iman Katolik Gereja Roma yang Kudus kepada Kepala Biara yang sama itu dan sesudah dirinya menerima iman tersebut dengan penuh kerendahan hati, Kami pun menyampaikan doktrin sejati yang diperlukan berikut pada sesi khidmat ini, dengan persetujuan suci Konsili Ekumenis Florence, dalam nama Tuhan.
TENTANG TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Maka, pertama-tama, Gereja Roma Adikudus, yang didirikan oleh suara Tuhan dan Juru Selamat kita, dengan teguh percaya, mengakui dan mengkhotbahkan satu Allah benar, Mahakuasa, tidak dapat berubah dan abadi: Bapa dan Putra dan Roh Kudus; satu dalam esensi, tiga dalam pribadi, Bapa tak dilahirkan, Putra dilahirkan dari Bapa, Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra; Bapa bukanlah Putra ataupun Roh Kudus, Putra bukanlah Bapa ataupun Roh Kudus, Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putra, namun hanya Bapa sendirilah Bapa, hanya Putra sendirilah Putra, hanya Roh Kudus sendirilah Roh Kudus. Hanya Bapa sendirilah yang dari substansi-Nya melahirkan Putra. Hanya Putra sendirilah yang dilahirkan oleh Bapa sendiri. Hanya Roh Kudus sendirilah yang berasal dari Bapa dan Putra sekaligus. Ketiga pribadi ini adalah satu Allah, bukan tiga ilah, karena ketiga-tiga-Nya memiliki satu substansi, satu esensi, satu kodrat,[3] satu ketuhanan, satu kemahabesaran, satu keabadian, dan semuanya satu adanya, dengan syarat hal ini tidak dimustahilkan oleh oposisi relasi. Karena kesatuan ini, Bapa utuh adanya di dalam Putra dan utuh adanya di dalam Roh Kudus, Putra utuh adanya di dalam Bapa dan utuh adanya di dalam Roh Kudus, Roh Kudus utuh adanya di dalam Bapa dan utuh adanya di dalam Putra. Tiada satu pun yang mendahului yang lain dalam keabadian, atau melampaui yang lain dalam kebesaran, ataupun melebihi yang lain dalam kuasa. Sebab, keberadaan Putra adalah dari Bapa sepanjang keabadian dan tanpa permulaan, dan berasalnya Roh Kudus dari Bapa dan Putra adalah sepanjang keabadian dan tanpa permulaan. Segala keberadaan Bapa dan segala sesuatu milik Bapa itu tidak dimiliki-Nya dari pihak lain, namun hanya dari diri Bapa sendiri, dan Bapa adalah pangkal tanpa pangkal. Segala keberadaan Putra dan segala sesuatu milik Putra itu dimiliki-Nya dari Bapa, dan Putra adalah pangkal dari pangkal. Segala keberadaan dan segala sesuatu milik Roh Kudus itu dimiliki-Nya dari Bapa bersama Putra. Namun Bapa dan Putra bukanlah dua pangkal Roh Kudus, melainkan satu pangkal Roh Kudus, sama halnya Bapa, Putra dan Roh Kudus bukanlah tiga pangkal penciptaan, melainkan satu pangkal penciptaan. Maka, Gereja mengutuk, menolak, menganatema semua orang yang percaya akan pandangan-pandangan yang bertentangan atau berlawanan, dan mencela mereka sebagai orang-orang yang terasing dari tubuh Kristus yang adalah Gereja. Gereja mengutuk Sabelius, yang mencampuradukkan pribadi-pribadi dan sama sekali meniadakan perbedaan riil antara mereka; Gereja mengutuk para pengikut Arius, Eunomius dan Makedonius, yang berkata bahwa hanya Bapa sendirilah Allah benar, namun menempatkan Putra dan Roh Kudus pada tingkatan ciptaan. Gereja juga mengutuk semua orang lain yang menciptakan derajat-derajat atau ketidaksetaraan dalam Tritunggal.
TENTANG PENCIPTAAN
Gereja Roma Adikudus dengan amat teguh percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa hanya ada satu Allah benar, Bapa, Putra dan Roh Kudus, pencipta segala sesuatu yang kelihatan dan tidak kelihatan. Ketika Allah benar yang tunggal itu menghendaki, Dia menjadikan segala ciptaan dengan kebaikan-Nya, baik ciptaan rohaniah maupun jasmaniah dalam keadaan yang sungguh baik, sebab mereka diciptakan dari kebaikan terluhur, namun mereka mampu berubah karena dijadikan dari ketiadaan, dan Gereja Roma Adikudus menyatakan bahwa tiada kodrat yang jahat, sebab setiap kodrat, sejauh merupakan kodrat, baik adanya.
TENTANG ALKITAB
Gereja Roma Adikudus mengakui Allah yang satu dan sama sebagai pengarang Perjanjian Lama dan Baru, yakni kitab-kitab Taurat serta para Nabi dan Injil, sebab para kudus dari kedua Perjanjian itu berbicara dengan ilham Roh Kudus yang sama. Gereja menerima dan menghormati kitab-kitab Perjanjian tersebut, yang termuat dalam judul-judul berikut.[4]
Lima kitab Musa, yakni: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan; Yosua, Hakim-Hakim, Rut, empat kitab Raja-Raja, dua kitab Tawarikh, Ezra, Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, Ayub, Mazmur-Mazmur Daud, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan Salomo, Kebijaksanaan Sirakh, Yesaya, Yeremia, Barukh, Yehezkiel, Daniel, dua belas nabi kecil, yakni: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi; kedua kitab Makabe; keempat injil: Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohanes; keempat belas surat Paulus: kepada jemaat di Roma, dua surat kepada jemaat di Korintus, kepada jemaat di Galatia, kepada jemaat di Efesus, kepada jemaat di Filipi, dua surat kepada jemaat di Tesalonika, kepada jemaat di Kolose, dua surat kepada Timotius, kepada Titus, kepada Filemon, kepada jemaat Ibrani; dua dari Petrus; tiga dari Yohanes; satu dari Yakobus; satu dari Yudas; Kisah Para Rasul; dan Wahyu kepada Yohanes.
Itulah sebabnya Gereja menganatema kegilaan kaum Manikhea, yang mendalilkan dua pangkal perdana, yang satu pangkal hal-hal kelihatan, dan yang lain pangkal hal-hal tidak kelihatan; dan mereka telah berkata bahwa yang satu adalah Allah Perjanjian Baru, dan yang lain Allah Perjanjian Lama.
TENTANG PENJELMAAN ALLAH PUTRA
Gereja Roma Adikudus percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa satu pribadi Tritunggal, Allah benar, Putra Allah yang dilahirkan dari Bapa, sehakikat dan setara dalam keabadian dengan Bapa, dalam genapnya waktu yang telah diatur oleh rancangan terluhur Allah yang tak terselami demi keselamatan umat manusia, telah mengambil kodrat manusia sejati dan utuh dari rahim tak bernoda Perawan Maria, dan mempersatukan kodrat manusia itu dengan diri-Nya sendiri dalam kesatuan pribadi sehingga dengan kesatuan seperti itu, segala sesuatu yang ilahi dalam persatuan itu tidak terpisahkan dari manusia, dan segala sesuatu yang manusiawi dalam persatuan itu tidak terpisahkan dari Ketuhanan; dan Dia itulah Allah dan manusia yang satu dan sama serta tak terbagi-bagi, masing-masing kodrat-Nya tetap berada dalam kekhasannya sendiri-sendiri, Putra Allah dan Putra manusia, setara Bapa seturut keilahian, lebih rendah dari Bapa seturut kemanusiaan, amerta dan abadi karena kodrat keilahian, pasibel dan fana karena kondisi kemanusiaan yang diambil-Nya.
Gereja Roma Adikudus percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa Putra Allah dalam kemanusiaan yang diambil-Nya, sesungguh-sungguhnya telah lahir dari seorang perawan, sesungguh-sungguhnya telah menderita, sesungguh-sungguhnya telah wafat dan sesungguh-sungguhnya telah dikuburkan, sesungguh-sungguhnya telah bangkit dari antara orang mati, naik ke Surga dan duduk di sisi kanan Bapa, dan akan datang kembali pada akhir zaman untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati.
ANATEMA-ANATEMA
Gereja Roma Adikudus di samping itu juga menganatema, memperkejikan dan mengutuk setiap bidah yang berlawanan.
Dan pertama-tama, Gereja mengutuk Ebion, Serintus, Marsion, Paulus dari Samosata, Fotinus serta semua penghujat yang serupa, yakni mereka yang tak mampu memahami persatuan pribadi kemanusiaan dengan sang Sabda, sehingga menyangkal Yesus Kristus Tuhan kita sebagai Allah benar dan mengakui bahwa Dia hanyalah manusia semata, yang mengambil bagian lebih besar dalam rahmat Allah daripada yang patut didapatkannya dari kehidupan yang lebih kudus, sehingga dapat disebut manusia ilahi.
Gereja Roma Adikudus juga menganatema Manikheus serta para pengikutnya, yang membayangkan bahwa Putra Allah tidak mengambil badan sebenarnya, namun tubuh hantu, sehingga mereka sama sekali meniadakan kebenaran tentang kemanusiaan dalam Kristus.
Gereja Roma Adikudus juga menganatema Valentinus yang menyatakan bahwa Putra Allah tidak mengambil apa-apa dari Perawan Maria, namun mengambil sebuah tubuh surgawi yang tersalur melalui rahim Perawan Maria sama seperti air mengalir melalui kanal.
Gereja Roma Adikudus juga menganatema Arius, yang menyatakan bahwa tubuh yang diambil dari Perawan Maria tidak memiliki jiwa, dan namun memiliki Ketuhanan alih-alih jiwa.
Gereja Roma Adikudus juga menganatema Apolinarius, yang berpemahaman bahwa tidak ada kemanusiaan sejati sekiranya dalam Kristus, jiwa tidak dianggap memberikan rupa kepada raga, dan karena itu mendalilkan hanya adanya jiwa sensitif (animam sensitivam) saja dan berpandangan bahwa Ketuhanan sang Sabda menggantikan jiwa rasional.
Gereja Roma Adikudus juga menganatema Teodorus dari Mopsuestia dan Nestorius, yang menyatakan bahwa kemanusiaan Putra Allah bersatu dengan diri-Nya karena rahmat, dan dengan demikian, ada dua pribadi dalam diri Kristus, sama seperti mereka mengakui bahwa ada dua kodrat, sebab mereka tidak mampu mengerti bahwa ada persatuan hipostatik antara kemanusiaan dengan sang Sabda, dan dengan demikian menyangkal bahwa sang Sabda berkedaulatan. Sebab seturut penghujatan ini, sang Sabda tidak menjadi daging, namun Sabda itu tinggal dalam daging karena rahmat, yang berarti, Putra Allah tidak menjadi manusia, alih-alih, Putra Allah tinggal dalam manusia.
Gereja Roma Adikudus juga menganatema, memperkejikan dan mengutuk Eutikes Arkimandrit. Sebab, dia berpemahaman bahwa seturut penghujatan Nestorius, kebenaran tentang Penjelmaan itu tiada, dan karena itu sudah sepantasnya kemanusiaan bersatu sebegitu eratnya dengan Sabda Allah sehingga pribadi Ketuhanan dan kemanusiaan itu satu dan sama. Dan dia juga tidak mampu memahami keesaan pribadi selama ada kemajemukan kodrat, sebab dirinya menetapkan bahwa ada satu pribadi Ketuhanan dan kemanusiaan dalam Kristus, sehingga dinyatakannya bahwa ada satu kodrat, maksudnya bahwa sebelum persatuan, ada dualitas kodrat, namun dengan pengambilan kodrat manusia, kedua kodrat itu berubah menjadi satu kodrat; dengan demikian, dinyatakannya penghujatan dan ketidaksalehan terbesar yang mengakui entah bahwa kemanusiaan berubah menjadi Ketuhanan, atau Ketuhanan menjadi kemanusiaan.
Gereja Roma Adikudus juga menganatema, memperkejikan dan mengutuk Makarius dari Antiokhia serta semua orang yang menganut pandangan serupa; meski dia memiliki pemahaman yang benar tentang dualitas kodrat dan kesatuan pribadi, namun demikian, dia salah besar tentang aktivitas-aktivitas Kristus ketika dikatakannya bahwa dalam Kristus, kedua kodrat-Nya hanya memiliki satu aktivitas dan satu kehendak. Mereka semua beserta bidah-bidah mereka dianatema oleh Gereja Roma Adikudus, yang menegaskan bahwa dalam Kristus, ada dua kehendak dan dua aktivitas.
TENTANG PERISTIWA PENEBUSAN
Gereja Roma Adikudus dengan teguh percaya, mengakui dan mengajarkan bahwa tidak seorang pun yang dikandung dari pria dan wanita pernah terbebas dari kekuasaan Iblis, selain melalui iman akan sang perantara antara Allah dan manusia, Yesus Kristus Tuhan kita[5], Dia yang tanpa dosa dikandung, dilahirkan dan wafat. Dengan wafat-Nya seorang diri, Dia telah menekuklututkan musuh umat manusia dengan menghapus dosa-dosa kita, dan membuka pintu masuk Kerajaan Surga, yang akibat dosa manusia pertama sendiri telah dia hilangkan bagi dirinya serta semua keturunannya. Semua kurban suci, sakramen dan upacara Perjanjian Lama dahulu mempertandakan kedatangan-Nya di kemudian hari.
TENTANG TIDAK BERLAKUNYA LAGI HUKUM MUSA
Gereja Roma Adikudus dengan teguh percaya, mengakui dan mengajarkan bahwa ketentuan-ketentuan hukum Perjanjian Lama atau Hukum Musa, yang terbagi menjadi upacara-upacara, kurban suci dan sakramen-sakramen, dahulu kala ditetapkan sebagai penanda akan datangnya sesuatu di masa depan dan layak untuk ibadat ilahi pada masa itu, namun sudah berakhir ketika yang ditandakan oleh ketentuan-ketentuan hukum itu – yakni, kedatangan Tuhan – telah terjadi. Dan ketentuan-ketentuan hukum itu pun telah digantikan dengan sakramen-sakramen Perjanjian Baru. Selain itu, sesudah Sengsara Kristus, barang siapa menaruh harapan dan tunduk pada ketentuan-ketentuan hukum tersebut dengan anggapan bahwa ketentuan-ketentuan hukum itu diperlukan untuk keselamatan, seolah-olah tanpa ketentuan-ketentuan hukum itu, iman akan Kristus tidak mampu menyelamatkan, orang itu telah berbuat dosa berat. Namun demikian, Gereja tidak menyangkal bahwa sejak Sengsara Kristus sampai waktu pewartaan Injil, ketentuan-ketentuan hukum itu boleh ditunaikan, asalkan sama sekali tidak dipercaya diperlukan untuk keselamatan. Namun Gereja menyatakan bahwa setelah pewartaan Injil, orang tidak dapat menunaikan ketentuan-ketentuan hukum itu tanpa mengalami hilangnya keselamatan kekal. Dengan demikian, Gereja menyatakan bahwa setelah masa tersebut, mereka semua yang menunaikan sunat, Sabat dan ketentuan-ketentuan lain dari Hukum Musa yang sudah disebutkan itu adalah orang-orang yang terasing dari iman akan Kristus dan sama sekali tidak dapat mengambil bagian dalam keselamatan kekal, jikalau mereka tidak berpaling dari kesalahan-kesalahan itu di kemudian waktu. Oleh sebab itulah, semua orang yang berbangga diri menyandang nama Kristen berkeperluan mutlak untuk sama sekali tidak menunaikan sunat kapan pun juga, baik sebelum maupun sesudah pembaptisan: karena sunat, entah orang menaruh harapan padanya ataupun tidak, sama sekali tidak dapat ditunaikan tanpa hilangnya keselamatan kekal.
TENTANG PEMBAPTISAN ANAK
Memang benar bahwa sehubungan anak-anak, karena bahaya maut sering kali dapat terjadi dan mereka tidak dapat ditolong dengan obat apa pun selain sakramen pembaptisan, sarana mereka direnggut dari kekuasaan Iblis dan dipungut sebagai anak-anak Allah, Gereja Roma Adikudus memperingatkan bahwa pembaptisan suci hendaknya tidak ditunda selama empat puluh atau delapan puluh hari atau dalam kurun waktu apa pun juga sesuai kebiasaan beberapa kalangan, namun hendaknya sesegera mungkin diselenggarakan ketika keadaan menyanggupkannya. Oleh sebab itulah, ketika datang bahaya maut mendesak, anak-anak hendaknya langsung dibaptis dengan formula Gereja tanpa sedikit pun ditunda, bahkan oleh orang awam atau wanita sekalipun jikalau tidak ada imam, sebagaimana termuat dengan lebih lengkap dalam dekret kepada orang-orang Armenia.
TENTANG MAKANAN HARAM DAN TIDAK HARAM
Gereja Roma Adikudus percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa “segala ciptaan Allah baik adanya dan tidak ada sesuatu pun yang terlarang jika diterima dengan ucapan syukur”,[6] karena seturut firman Tuhan, “bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang”[7]; dan Gereja menyatakan bahwa pembedaan antara makanan haram dan tidak haram dalam Hukum Musa tergolong perkara-perkara keupacaraan, yang telah dihapuskan dengan datangnya Injil dan sudah tidak berlaku lagi. Gereja juga menyatakan bahwa larangan para rasul untuk menjauhkan diri “dari persembahan kurban kepada berhala, dari darah dan dari binatang yang mati dicekik”[8] itu dahulu layak berlaku bagi masa sedang munculnya Gereja tunggal yang terdiri dari orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, yaitu mereka yang sebelumnya hidup mengikuti upacara-upacara serta adat yang berbeda-beda. Dengan larangan apostolik ini, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi boleh menunaikan sesuatu bersama-sama dan timbullah bagi mereka suatu kesempatan untuk datang bersama dalam satu ibadat dan satu iman kepada Allah. Larangan itu juga meniadakan suatu sebab perselisihan, sebab darah dan binatang yang mati dicekik itu dahulu keji bagi orang Yahudi karena suatu adat kuno yang dulu mereka turuti, dan mereka mungkin mengira bahwa orang bukan Yahudi hendak kembali menyembah berhala akibat makan persembahan kurban. Namun ketika agama Kristiani telah menyebar sebegitu luasnya sehingga tak ada lagi orang Yahudi duniawi yang tampak berada di dalamnya, namun semua orang yang beralih masuk Gereja bergabung menunaikan ritus-ritus serta upacara-upacara injili yang sama karena percaya bahwa “bagi orang yang tahir segalanya tahir”[9], lantas sebab bagi adanya larangan apostolik itu pun sudah tiada lagi, dan dampak larangan itu dengan demikian sudah berakhir. Maka dari itulah, Gereja menyatakan bahwa makanan yang diterima oleh masyarakat manusia hendaknya sama sekali tidak dikutuk; dan hendaknya tidak seorang pun, baik laik-laki maupun perempuan, membuat pembedaan apa pun juga antara binatang-binatang ataupun membeda-bedakan cara binatang-binatang tersebut mungkin mati; meskipun untuk kesehatan jasmani, untuk melatih kebajikan, untuk disiplin reguler dan gerejawi, banyak hal yang tidak dilarang harus dijauhi, karena menurut sang rasul, “segala sesuatu diperkenankan, tetapi tidak semuanya berguna”[10].
TENTANG DOGMA KESELAMATAN (EXTRA ECCLESIAM NULLA SALUS)
Gereja Roma Adikudus dengan teguh percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa “semua orang yang berada di luar Gereja Katolik, bukan hanya orang-orang pagan tetapi juga Yahudi atau bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal dan akan masuk ke dalam api yang kekal yang telah disiapkan untuk iblis dan para malaikatnya,”[11] kecuali jika mereka bergabung ke dalam Gereja sebelum akhir hidup mereka; bahwa kesatuan dari tubuh gerejawi ini sedemikian kuatnya sehingga hanya kepada mereka yang tetap tinggal di dalamnyalah sakramen-sakramen Gereja berdaya guna menuju keselamatan, dan hanya kepada mereka jugalah puasa, derma, dan karya-karya kesalehan serta praktik-praktik lain dari para laskar Kristiani menghasilkan upah yang abadi; dan bahwa “tidak seorang pun dapat diselamatkan, sebanyak apa pun ia telah berderma, walaupun ia telah menumpahkan darah dalam nama Kristus, kecuali jika ia telah bertekun di pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja Katolik”.[12]
PENEGUHAN KONSILI-KONSILI SEBELUMNYA
Gereja Roma Adikudus memeluk, menyetujui dan menerima sinode suci Nisea yang dihadiri tiga ratus delapan belas orang Bapa dan berhimpun pada masa pemerintahan Pendahulu Kami yang Amat Terberkati, Silvester, serta Pangeran agung dan saleh Konstantinus. Pada sinode ini, bidah Arian yang fasik itu dikutuk beserta penciptanya juga, dan di sinode ini pula, didefinisikan bahwa Putra Allah sehakikat dan setara keabadian-Nya dengan Bapa.
Gereja Roma Adikudus juga memeluk, menyetujui dan menerima sinode suci Konstantinopel yang dihadiri seratus lima puluh orang Bapa dan berhimpun pada masa pemerintahan Pendahulu Kami yang Amat Terberkati, Damasus, serta Teodosius Senior. Mereka menganatema kesalahan fasik Makedonius, yang menyatakan bahwa Roh Kudus bukanlah Allah, melainkan ciptaan. Gereja mengutuk semua orang yang mereka kutuk, menyetujui segala sesuatu yang mereka setujui, Gereja menginginkan agar dalam segala-galanya, segala sesuatu yang didefinisikan pada sinode tersebut tetap utuh dan murni.
Gereja Roma Adikudus juga memeluk, menyetujui dan menerima sinode suci Efesus pertama yang dihadiri dua ratus orang Bapa, dan menempati urutan ketiga dari sinode-sinode universal. Sinode ini dihimpun pada masa pemerintahan Pendahulu Kami yang Amat Terberkati, Selestinus, serta Teodosius Yunior. Pada sinode ini, penghujatan Nestorius orang fasik dikutuk, dan didefinisikan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu pribadi, Allah benar dan manusia benar, dan bahwa Maria Terberkati yang tetap perawan harus diproklamasikan oleh segenap Gereja bukan hanya sebagai Kristotokos (Bunda Kristus), namun juga sebagai Teotokos (Bunda Allah), yakni, bukan hanya sebagai ibunda manusia saja, namun juga sebagai ibunda Allah.
Namun Gereja Roma Adikudus mengutuk, menganatema dan menolak sinode fasik Efesus kedua, yang dihimpun pada masa pemerintahan Pendahulu Kami yang Amat Terberkati, Leo, serta Pangeran yang sudah disebutkan di atas. Di dalam sinode ini, Dioskorus, uskup Aleksandria, pembela pemuka bidah, Eutikes, dan penganiaya fasik Santo Flavianus (uskup Konstantinopel), dengan tipu muslihat serta ancaman-ancamannya membuat sinode keji tersebut menyetujui ketidaksalehan Eutikes.
Gereja Roma Adikudus juga memeluk, menyetujui dan menerima sinode suci Kalsedon, urutan keempat dari sinode-sinode universal. Sinode ini diselenggarakan pada masa pemerintahan Pendahulu Kami yang Amat Terberkati, Leo, dan Pangeran Marsianus, serta dihadiri enam ratus tiga puluh orang Bapa. Di dalam sinode ini, bidah Eutikian serta penciptanya, Eutikes, dan Dioskorus pembela bidah tersebut, dikutuk. Di dalam sinode ini juga didefinisikan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah benar dan manusia benar, dan bahwa dalam pribadi yang satu dan sama itu, kodrat Allah serta kodrat manusia tetap terjaga utuh, murni, tak terusakkan, tak tercampurkan dan berbeda satu sama lain; kemanusiaan-Nya mengerjakan yang layak bagi manusia, dan keilahian-Nya mengerjakan yang layak bagi Allah. Gereja mengutuk semua orang yang dikutuk oleh sinode ini, dan Gereja juga menyetujui semua orang yang disetujui sinode ini.
Gereja Roma Adikudus juga memeluk, menyetujui dan menerima sinode suci Konstantinopel kedua. Sinode suci kelima ini diselenggarakan pada masa pemerintahan Pendahulu Kami yang Amat Terberkati, Vigilius, dan Pangeran Yustinianus. Pada sinode suci ini, definisi konsili suci Kalsedon mengenai dua kodrat Kristus dan pribadi tunggal-Nya diperbarui, dan kesalahan berjumlah banyak dari Origenes serta para pengikutnya dibantah dan dikutuk, terutama kesalahan-kesalahan tentang pertobatan dan pembebasan roh-roh jahat serta entitas-entitas terkutuk lainnya.
Gereja Roma Adikudus juga memeluk, menyetujui dan menerima sinode suci Konstantinopel ketiga yang dihadiri seratus lima puluh orang Bapa, urutan keenam dari sinode-sinode universal. Sinode suci ini berhimpun pada masa Pendahulu Kami yang Amat Terberkati, Agato, serta Pangeran dengan nama Konstantinus IV. Pada sinode suci ini, bidah yang dianut oleh Makarius dari Antiokhia dan para muridnya dikutuk, dan didefinisikan bahwa dalam Tuhan kita Yesus Kristus, ada dua kodrat sempurna dan paripurna serta dua aktivitas dan juga dua kehendak, meskipun Dia adalah pribadi yang satu dan sama. Pribadi yang satu dan sama itulah yang empunya semua aksi dari kedua kodrat tersebut: kodrat Allah mengerjakan yang layak bagi Allah, kodrat manusia mengerjakan yang layak bagi manusia.
Gereja Roma Adikudus juga memeluk, menyetujui dan menerima semua sinode universal lain yang secara sah dihimpun, diselenggarakan dan diteguhkan oleh otoritas Paus Roma, dan terutama, sinode suci Florentina (Florence) ini. Di dalam sinode suci ini, antara lain, terlaksana persatuan-persatuan teramat suci dengan kaum Yunani serta kaum Armenia. Telah dimaklumatkan pula pada sinode suci ini, banyak definisi yang sangat bermaslahat mengenai kedua persatuan ini, sebagaimana yang termuat dengan lebih lengkap dalam dekret-dekret di bawah ini, dekret-dekret yang sudah dipermaklumkan sebelumnya, yang bunyinya demikian: Laetentur caeli … Exultate Deo ….
TENTANG FORMULA KONSEKRASI TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Namun dekret kepada kaum Armenia di atas tidak menjelaskan rumusan kata-kata yang senantiasa digunakan dalam konsekrasi tubuh dan darah Tuhan oleh Gereja Roma Adikudus, Gereja yang mengandalkan doktrin dan otoritas rasul Petrus dan rasul Paulus. Karena itulah Kami telah menilai baik untuk menuangkan rumusan tersebut di sini.
Dalam konsekrasi Tubuh Tuhan, formula berikut digunakan:
Sedangkan dalam konsekrasi Darah-Nya:
Namun apabila roti gandum yang digunakan untuk penyelenggaraan sakramen itu telah dipanggang pada hari itu juga ataukah sebelum hari itu, sama sekali bukan masalah. Sebab, asalkan substansi roti tetap terjaga, sama sekali tidak diragukan bahwa sesudah imam mengucapkan kata-kata di atas untuk konsekrasi tubuh Tuhan dengan intensi untuk mengonsekrasikannya, roti itu langsung bertranssubstansiasi menjadi tubuh Kristus yang sesungguhnya.
TENTANG PERNIKAHAN SETELAH YANG KETIGA
Dilaporkan bahwa beberapa orang mengaku menolak pernikahan keempat kali sebab mereka menilai pernikahan keempat kali itu terkutuk. Semoga orang tidak menganggap ada dosa di mana dosa tidak ada, karena seturut sang Rasul, ketika seorang suami meninggal, istrinya bebas secara hukum dan merdeka dalam Tuhan untuk menikahi siapa saja yang ingin dia nikahi[14], dan tidak ada pembedaan yang dibuat antara kematian suami pertama, kedua dan ketiga. Karena alasan inilah, Kami mendeklarasikan bahwa orang tidak hanya dapat secara sah menjalin pernikahan untuk kedua dan ketiga kalinya saja, namun juga dapat secara sah menjalin pernikahan untuk keempat kali serta selanjutnya, asalkan tidak ada impedimen kanonik.[15]
Namun, Kami katakan bahwa lebih baik jika para janda itu terus pantang menikah dan terus hidup suci, sebab Kami berpandangan bahwa sama halnya keperawanan lebih disukai daripada kejandaan, demikian pula kejandaan suci lebih terpuji dan lebih berjasa daripada pernikahan.
PENUTUP
Sesudah semua hal ini dijelaskan, Kepala Biara Andreas yang sudah disebutkan itu, atas nama Patriark yang sudah disebutkan dan atas namanya sendiri serta atas nama segenap kaum Yakobit, dengan segenap bakti dan ketakziman menyambut dan menerima dekret sinodal pembawa maslahat teramat besar ini beserta semua bab, deklarasi, definisi, tradisi, asas serta statutanya, dan semua doktrin yang tertuang di dalamnya, serta segala sesuatu yang dipercayai dan diajarkan oleh Takhta Suci Apostolik dan Gereja Roma. Andreas juga dengan takzim menerima semua doktor dan bapa kudus yang disetujui oleh Gereja Roma; namun siapa saja dan apa pun juga yang dikutuk dan ditolak oleh Gereja Roma, dipandangnya pula ditolak dan dikutuk, seraya berjanji sebagai putra yang sungguh taat, atas nama para pihak yang disebutkan di atas, bahwa dirinya akan senantiasa dengan setia menaati ketetapan-ketetapan dan perintah-perintah Takhta Apostolik yang sama itu.
Diberikan di Florence (Firenze) pada sesi publik sinodal, yang dengan khidmat diselenggarakan di Gereja tarekat Santa Maria Novella, tempat Kami sekarang tinggal, pada tahun Penjelmaan Tuhan kita, tahun 1441, di hari sebelum nones bulan Februari, tahun kesebelas Masa Kepausan Kami.
(Disusul tanda tangan Sri Paus, Paus Eugenius IV, beserta para bapa konsili).
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari sumber berbahasa Latin dan Inggris sebagai berikut:
[1] Yesaya 12: 5-6.
[2] Bdk. Yohanes 21:16-18.
[3] Bdk. St. Fulgensius, De fide bab 4 (Migne, PL 65, 674 A-B).
[4] Bdk. constitutiones Nicosienses (1340) (Mansi 26, 373 D.)
[5] Bdk. St. Fulgensius, De fide, bab 26 (Migne, PL 65, 701 A.); 1 Timotius 2:5.
[6] Bdk. St. Fulgensius, De fide, bab 42 (Migne, PL 65, 704 C-D); 1 Timotius 4:4.
[7] Matius 15:11.
[8] Kisah Para Rasul 15:29.
[9] Titus 1:15.
[10] 1 Korintus 6:12; 10:22.
[11] Bdk. St. Fulgensius, De fide, bab 38 (Migne, PL 65, 704 B.); Matius 25:41.
[12] Bdk. St. Fulgensius, De fide, bab 39 (Migne, PL 65, 704 B).
[13] Missale Romanum; bdk. Matius 26:28; Markus 14:18; Lukas 22:20; 1 Korintus 11:25.
[14] Bdk. Roma 7:3; 1 Korintus 7:39.
[15] Bdk. professio fidei Michaelis Palaeologi (Mansi 24, 71).
Artikel-Artikel Terkait
Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 2 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 6 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 8 bulanBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 8 bulanBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 9 bulanBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 9 bulanBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 9 bulanBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 10 bulanBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 11 bulanBaca lebih lanjut...Halo – devosi kepada Santa Perawan Maria itu krusial untuk keselamatan dan pengudusan jiwa. Namun, dan juga yang terpenting, orang harus 1) punya iman Katolik sejati (yakni, iman Katolik tradisional),...
Biara Keluarga Terkudus 11 bulanBaca lebih lanjut...