Dogma Kepausan bukan hanya adalah bahwa satu orang memiliki otoritas tertinggi di dalam Gereja, tetapi bahwa semua orang lain di dalam Gereja harus menerima otoritas tersebut. Anti-Paus Fransiskus menolak dogma itu, dan maka dari itu, ia menolak Kepausan.
Jawaban-jawaban Fransiskus, 30 November 2014 kepada pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan pada penerbangan berpulang dari Turki: Alexey Bukalov dari Rusia: “Paduka Suci, untuk berterima kasih kepada apa yang telah anda lakukan kepada dunia Ortodoks, saya ingin tahu, setelah kunjungan ini, dan setelah pertemuan yang luar biasa ini dengan Patriark Konstantinopel, apakah harapannya untuk hubungan-hubungan dengan Patriarkat Moskwa?”
Fransiskus: “Bulan lalu, [Metropolitan] Hilarion menghadiri Sinode sebagai delegasi Patriark Kirill… Persatuan adalah perjalanan yang harus kita tempuh, tapi kita harus melakukannya bersama. Inilah ekumenisme rohani: berdoa bersama, bekerja bersama. Ada begitu banyak karya kasih, begitu banyak pekerjaan… Mengajar bersama… Maju bersama. Ini adalah ekumenisme rohani. Lalu ada ekumenisme darah: ketika mereka membunuh orang Kristen, kita memiliki begitu banyak martir… dimulai dengan orang-orang di Uganda, yang dikanonisasikan 50 tahun yang lalu: separuhnya Anglikan, separuhnya Katolik, tetapi orang-orang [yang membunuh mereka] tidak mengatakan: 'Kamu Katolik… kamu Anglikan…' Tidak: 'Kamu orang Kristen', jadi darah mereka bercampur. Inilah ekumenisme darah. Para martir kita berteriak: 'Kami satu adanya! Kami sudah memiliki kesatuan, dalam roh dan darah'. Saya tidak tahu apakah saya sudah memberi tahu anda anekdot tentang Hamburg, yang saya dengar dari pastor paroki Hamburg. Apa saya sudah memberi tahu anda? Ketika saya berada di Jerman, saya pergi ke Hamburg untuk merayakan suatu pembaptisan, dan pastor parokinya sedang bekerja untuk sebab kanonisasi seorang pastor yang telah dipenggal kepalanya oleh para Nazi karena ia telah mengajarkan katekesis kepada anak-anak. Sewaktu ia bekerja untuk sebab ini, dia menemukan bahwa di antrian di belakang pastor yang bersangkutan, ada seorang pendeta Lutheran yang dihukum untuk dipenggal karena alasan yang sama. Darah keduanya bercampur. Dan pastor paroki ini pergi kepada uskup dan berkata: 'Saya tidak mengedepankan sebab ini hanya untuk sang pastor: sebab ini untuk keduanya atau tidak sama sekali!'. Ini adalah ekumenisme darah, yang sangat membantu kita, yang memberi tahu kita begitu banyak… Saya akan mengatakan sesuatu yang mungkin tidak dapat dipahami oleh beberapa orang: Gereja-Gereja Katolik Timur memiliki hak untuk berada, tetapi uniatisme adalah kata yang ketinggalan zaman. Kita tidak dapat berbicara dalam istilah-istilah ini pada hari ini. Kita perlu mencari cara lain. Sekarang, 'kami mendarat' di Moskwa. Saya memberi tahu Patriark Kirill, dan dia setuju, ada keinginan untuk bertemu. Saya mengatakan kepadanya: ‘Saya akan pergi ke mana pun anda mau, anda menelepon saya dan saya akan datang’; dan dia juga menginginkan ini… Hilarion menyarankan agar komisi, yang dipimpinnya dari pihak Ortodoks Rusia, mengadakan pertemuan studi tentang masalah Keutamaan [‘Kepausan’]. Kita harus melanjutkan jejak Yohanes Paulus II: 'Bantu saya menemukan bentuk Keutamaan yang dapat kita sepakati'. Inilah yang dapat saya beritahukan kepada anda."[1]
Anti-Paus Fransiskus menjawab suatu pertanyaan tentang para “Ortodoks” (yang menolak iman Katolik) dengan berkata bahwa kita perlu berdoa, bekerja, mengajar, dan maju bersama. Fransiskus mengajarkan bahwa kita “sudah memiliki kesatuan, dalam roh dan darah” dengan para non-Katolik. Gereja Katolik mengajarkan bahwa kesatuan hanya ada di dalam Gereja Katolik sejati. Fransiskus sekali lagi mengajarkan bahwa terdapat martir-martir non-Katolik, dan bahwa para “santo” Anglikan “dikanonisasikan 50 tahun yang lalu”. Ini sepenuhnya bidah dan dikutuk oleh ajaran infalibel dari para Paus Katolik. Ia bahkan berkata bahwa baik adanya bagi seorang “pastor paroki” untuk mendorong kanonisasi untuk seorang “pendeta” Lutheran!
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, Sesi 11, 1441, ex cathedra: “ … tidak seorang pun dapat diselamatkan, sebanyak apa pun ia telah berderma, walaupun ia telah menumpahkan darah dalam nama Kristus, kecuali jika ia telah bertekun di pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja Katolik.”[2]
Paus Pelagius II, surat (2) Dilectionis vestrae, 585:“Mereka yang tidak berkehendak untuk setuju dengan Gereja Allah, tidak dapat tetap berada bersama Allah; walaupun diserahkan kepada lidah-lidah api, mereka terbakar, ataupun dicampakkan kepada binatang-binatang liar, mereka menyerahkan hidup mereka, tidak akan terdapat untuk mereka mahkota kehidupan, melainkan hukuman untuk ketidakberimanan, bukan sebuah hasil yang mulia (dari sebuah kebajikan rohani), melainkan kehancuran akibat hilangnya harapan. Orang tersebut dapatlah dibunuh; ia tidak dapat dimahkotai.”[3]
Anti-Paus Fransiskus lalu mengajarkan bahwa “uniatisme” adalah “kata yang ketinggalan zaman”. Fransiskus menekankan bahwa “kita tidak dapat berbicara dalam istilah-istilah ini pada hari ini”. Uniatisme adalah “persatuan dari sebuah gereja Ritus Timur dengan Gereja Roma di mana otoritas Kepausan diterima”.[4] Jadi sang skismatis Fransiskus secara publik menyatakan bahwa untuk membuat gereja-gereja skismatis menerima Kepausan adalah ajaran yang ketinggalan zaman. Ini adalah penolakan secara publik terhadap Kepausan oleh Fransiskus. Fransiskus lalu berbicara tentang bagaimana ia berkata kepada sang skismatis “Patriark” Kirill: “Saya akan pergi ke mana pun anda mau”. “Paus” Fransiskus akan pergi ke mana pun sang pemimpin skismatis itu menginginkannya untuk pergi. Keinginan Fransiskus untuk menyenangkan sang pemimpin skismatis itu bagaikan seekor anjing yang patuh menanggapi panggilan dari pemiliknya. Inilah ide Fransiskus tentang bagaimana seorang “Paus” memimpin “Gereja Katolik” – yang bersesuaian secara langsung dengan keinginan-keinginan dari mereka yang memimpin sekte-sekte bidah dan skismatis. Fransiskus lalu berkata bahwa ia terbuka kepada perubahan di dalam ajaran Katolik tentang Kepausan. Fransiskus ingin menemukan “suatu bentuk Keutamaan yang dapat kita sepakati”. Fransiskus secara sukarela menyangkal Kepausan untuk menyenangkan gereja “Ortodoks” skismatis. Ini sungguh adalah suatu kekejian.
Mimmo Muolo, dari Avvenire: “Saya terkejut dengan ungkapan yang Anda gunakan pagi ini pada saat Liturgi Ilahi: 'Saya ingin meyakinkan anda masing-masing di sini bahwa, untuk mencapai tujuan kesatuan penuh yang diinginkan, Gereja Katolik tidak bermaksud untuk memaksakan syarat apa pun'. Kami ingin meminta anda untuk menjelaskan perkataan ini secara lebih lengkap, jika memungkinkan, dan apakah perkataan tersebut terkait dengan masalah Keutamaan, yang anda rujuk sebelumnya.”
Francis: “Itu bukan syarat: itu adalah kesepakatan, karena mereka juga menginginkannya; itu adalah kesepakatan untuk menemukan bentuk yang lebih sejalan dengan [bentuk Keutamaan dari] abad-abad pertama… Gereja memiliki kekurangan, kebiasaan berdosa yang terlalu berfokus pada dirinya sendiri… Dan ketika Gereja terlalu berfokus pada dirinya sendiri, perpecahan muncul. Dan itulah yang terjadi setelah milenium pertama. Di meja makan hari ini, saya dan Bartolomeus berbicara tentang momen ketika seorang kardinal - saya tidak ingat yang mana - pergi untuk menyampaikan ekskomunikasi Paus kepada Patriark: Gereja terlalu berfokus kepada dirinya sendiri pada saat itu! Dia tidak memandang Yesus Kristus. Saya percaya bahwa semua masalah yang muncul di antara kita, di antara orang-orang Kristen - setidaknya saat berbicara tentang Gereja Katolik kita - berasal dari fokus kepada diri sendiri: kita merujuk kepada diri sendiri.”[5]
Di sini Anti-Paus Fransiskus kembali berkata bahwa dia menginginkan kesepakatan (tentang arti Kepausan) dengan “Ortodoks” yang akan “lebih sejalan dengan abad-abad pertama”. Pernyataannya ini menyangkal Vatikan I, yang mengajarkan bahwa kebenaran Katolik tentang Kepausan dipercayai di dalam semua generasi dari sejarah Gereja. Pernyataan Fransiskus jelas berarti “suatu bentuk” dari “Kepausan” yang sejalan dengan ajaran “Ortodoks” skismatis tentang masalah ini. Orang-orang perlu mempertimbangkan hal ini dengan berhati-hati, karena ini adalah penolakan jabatan Kepausan yang luar biasa. Selanjutnya, Anti-Paus Fransiskus berkata bahwa Gereja Katolik yang Kudus memiliki dosa - yakni Gereja memiliki “kebiasaan berdosa”. "Dosa" ini, menurut Fransiskus, adalah ajaran Vatikan I tentang syarat agar semua orang yang mengaku Kristen menerima Keutamaan Kepausan. Francis menyebut Vatikan I sebagai "dosa".
Paus Adrianus I, Konsili Nicea II, 787: “… Kristus, Allah kita, sewaktu Ia mengambil sebagai Pengantin-Nya Gereja Katolik-Nya yang Kudus, yang tidak memiliki noda maupun keriput, berjanji bahwa Ia akan menjaganya dan meyakinkan para rasul sucinya dengan berkata, Aku menyertai kalian setiap hari sampai akhir dari dunia”.[6]
Fransiskus berkata bahwa Gereja Katolik “terlalu berfokus kepada dirinya sendiri dan harus juga berfokus kepada gereja-gereja bidah dan skismatis lainnya. Fransiskus lalu mengutuk ekskomunikasi Paus St. Leo IX terhadap Mikhael Kerularius, sang “Patriark” dari Konstantinopel. Suatu fakta yang menarik yang perlu dipertimbangkan sehubungan peristiwa ini adalah bahwa Paus Santo Leo IX menolak untuk menyebut Kerularius sebagai “Patriark Ekumenis”.[7] Tetapi, Fransiskus dan para Anti-Paus Vatikan II lainnya berulang kali merujuk kepada para pemimpin gereja “Ortodoks” dari Konstantinopel sebagai “Patriark Ekumenis”.
Sambutan Fransiskus, 30 November 2014 “pada penutupan Liturgi”
“Paduka Suci, Saudara Bartholomeus yang terkasih,
Sewaktu saya menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires, saya sering mengambil bagian dalam perayaan Liturgi Ilahi dari komunitas-komunitas Ortodoks di sana. Pada hari ini, Tuhan telah memberikan saya rahmat istimewa untuk hadir di dalam Gereja Patriarkal Santo Georgius untuk perayaan Pesta Rasul Kudus Andreas, rasul yang pertama dipanggil, saudara dari Santo Petrus, dan Santo Pelindung Patriarkat Ekumenis ini. Pertemuan bersama, memandang wajah satu sama lain, saling bertukar pelukan perdamaian, dan berdoa satu untuk yang lain, semuanya adalah aspek-aspek yang esensial untuk perjalanan kami menuju pemulihan persekutuan yang penuh… Saya percaya bahwa penting adanya untuk menegaskan kembali rasa hormat untuk asas ini sebagai persyaratan yang esensial, yang diterima oleh kedua belah pihak, demi pemulihan persekutuan yang penuh, yang bukan berarti tunduknya satu pihak kepada yang lain, atau asimilasi. Sebaliknya, hal itu berarti menyambut segala karunia yang telah diberikan oleh Allah kepada masing-masing…”[8]
Fransiskus berkata kepada sang pemimpin skismatis itu bahwa, sewaktu ia “menjabat sebagai Uskup Agung” Buenos Aires, ia “sering mengambil bagian dalam perayaan Liturgi Ilahi dari komunitas-komunitas Ortodoks di sana”. Gereja Katolik telah mengajarkan di sepanjang sejarah bahwa untuk mengambil bagian di dalam liturgi skismatis adalah suatu dosa berat. Misalnya, jika seseorang melihat buku panduan teologi moral mana pun sebelum Vatikan II, mereka akan melihat bahwa buku panduan itu menyatakan dengan jelas bahwa partisipasi aktif di dalam ibadat non-Katolik adalah suatu dosa berat. Fransiskus berbicara dengan bangga tentang dosa-dosa berat di mana ia “sering mengambil bagian” sewaktu ia berada di Buenos Aires. Fransiskus lalu meminta para skismatis untuk mendoakannya. Fransiskus menjelaskan arti dari “pemulihan persekutuan yang penuh” kepada para pemimpin sekte Vatikan II. Artinya adalah bahwa para skismatis tidak perlu tunduk kepada Kepausan ataupun kepada ajaran-ajaran mana pun dari Gereja Katolik yang tidak mereka setujui. Fransiskus berkata bahwa kita harus menyambut “ segala karunia yang telah diberikan oleh Allah” kepada gereja “Ortodoks” skismatis.
Deklarasi bersama, 30 November 2014, Fransiskus dengan “Patriark” Bartholomeus:
“Kami, Paus Fransiskus dan Patriark Ekumenis Bartholomeus, menyatakan rasa syukur kami yang mendalam kepada Allah atas karunia pertemuan yang baru ini, yang menyanggupkan kami, dalam hadirat para anggota Sinode Kudus ini, para imam dan para umat beriman dari Patriarkat Ekumenis, untuk merayakan bersama pesta Santo Andreas, rasul yang terpanggil pertama dan saudara dari Rasul Petrus… Untuk tujuan ini, kami memberikan jaminan dari doa kami yang penuh semangat sebagai Gembala-Gembala Gereja, dan meminta para umat beriman kami untuk bergabung bersama kami dalam doa ‘agar semua menjadi satu, agar dunia dapat percaya’ (Yohanes 17:21)… kami juga mengakui pentingnya promosi terhadap dialog yang konstruktif bersama Islam berdasarkan rasa hormat timbal balik dan persahabatan. Terilhami oleh nilai-nilai bersama dan diperkuat oleh sentimen-sentimen persaudaraan sejati, para Muslim dan Kristen terpanggil untuk bekerja bersama demi keadilan, perdamaian, dan rasa hormat untuk martabat serta hak-hak dari setiap orang… Pikiran kami tertuju kepada semua orang beriman dari Gereja-Gereja kami di seluruh dunia, yang kami salami..,.”[9]
Di dalam deklarasi “iman”-nya yang publik, Fransiskus mengajarkan bahwa seorang pemimpin yang secara terbuka skismatis adalah seorang “gembala Gereja”. Fransiskus berkata bahwa kita “terpanggil untuk bekerja bersama” dengan para Muslim dengan “rasa hormat”, “terilhami oleh nilai-nilai bersama”. Fransiskus juga menyebut para skismatis “umat beriman”, dan meminta untuk bergabung dalam doa bersama mereka.
Sambutan Fransiskus, 29 November 2014, pada “Ibadat Doa Ekumenis” bersama “pemimpin Ortodoks” skismatis Bartholomeus:
“Paduka Suci, Saudara saya yang terkasih,
Setiap sore hari membawa perasaan campur aduk antara syukur selama hari itu yang segera berakhir dan kepercayaan penuh harapan sewaktu datangnya malam hari. Pada sore hari ini, hati saya dipenuhi rasa syukur kepada Allah yang mengizinkan saya untuk berada di sini dalam doa bersama Paduka Suci dan dengan Gereja saudari ini setelah satu hari yang penting pada Kunjungan Apostolik saya… Dengan harapan penuh sukacita ini, yang penuh rasa syukur dan harapan penuh semangat, saya mengulurkan kepada Paduka Suci dan semua hadirin, serta kepada Gereja Konstantinopel, harapan baik persaudaraan saya yang hangat pada Pesta Santo Pelindung anda. Dan saya meminta bantuan anda: untuk memberkati saya dan Gereja Roma.”[10]
Fransiskus menyatakan bahwa gereja bidah dan skismatis di Konstantinopel adalah Gereja sejati Yesus Kristus di Konstantinopel. Anti-Paus Fransiskus meminta kepada “Paduka Suci”, pemimpin dari “Gereja” skismatis itu, untuk memberkatinya serta “Gereja Katolik”. Anti-Paus Fransiskus adalah seorang skismatis.
Sambutan Fransiskus, 22 November 2014, kepada “Konferensi Misionaris Nasional Gereja di Italia” yang keempat:
“Di dalam Nasihat Apostolik Evangelii Gaudium, saya berbicara tentang suatu ‘Gereja yang melangkah maju’. Suatu Gereja misionaris tidak dapat mencegah diri untuk ‘melangkah maju’, tanpa rasa takut untuk bertemu, untuk menemukan hal-hal baru, untuk berbicara tentang sukacita Injil. Kepada semua orang tanpa perbedaan. Bukan untuk melakukan proselitisasi…”[11]
Di sini, Fransiskus memberi sambutan kepada suatu “konferensi misionaris”. Fransiskus berkata bahwa untuk mencoba mengonversikan orang-orang bukanlah bagian dari aktivitas misionaris. Orang-orang Katolik sejati tahu bahwa aktivitas misionaris adalah, secara definisi, upaya untuk mengonversikan para non-Katolik kepada iman Katolik. Fransiskus juga memerintahkan mereka untuk melangkah maju dan “menemukan hal-hal baru”.
Sambutan Fransiskus, 31 Oktober 2014, kepada para angota “Fraternitas Katolik dari Pembaruan Karismatik”:
“Saya sekarang hendak merenungkan beberapa tema yang saya anggap penting. Pertama-tama, kesatuan dalam kebhinekaan. Kesatuan Katolik berbeda, tetapi satu adanya: ini hal yang aneh! Sebab dari kebhinekaan juga adalah sebab dari kesatuan Roh Kudus. Roh Kudus melakukan dua hal: Ia menciptakan kesatuan dalam kebhinekaan. Kesatuan tidak menyiratkan keseragaman; kesatuan tidak secara pasti berarti melakukan segala hal bersama atau berpikir dengan cara yang sama. Tidak pun hal itu berarti kehilangan identitas. Sesungguhnya, arti dari kesatuan dalam kebhinekaan itu berlawanan: aritnya melibatkan pengakuan penuh sukacita dan penerimaan terhadap berbagai karunia yang diberikan oleh Roh Kudus kepada masing-masing orang dan penempatan karunia-karunia ini untuk melayani semua anggota Gereja. Artinya adalah untuk tahu bagaimana mendengarkan, untuk menerima perbedaan-perbedaan, dan untuk memiliki kebebasan untuk berpikir secara berbeda dan mengungkapkan diri dengan rasa hormat yang penuh terhadap orang lain yang adalah saudara atau saudari saya. Jangan takut akan perbedaan!... Pembaruan Karismatik telah mengingatkan Gereja akan keperluan dan pentingnya doa pujian. Sewaktu kita berbicara tentang doa pujian di dalam Gereja, para Karismatik terbersit di benak… Ekumenisme rohani adalah berdoa dan menyatakan bersama bahwa Yesus adalah Tuhan, dan berkumpul bersama untuk membantu orang miskin di dalam segala kemiskinan mereka. Hal ini harus dilakukan sambil selalu mengingat bahwa pada masa kita ini darah Kristus, yang tercurahkan oleh banyak martir Kristiani di berbagai belahan dunia, memanggil kita dan mendesak kita kepada tujuan dari kesatuan. Bagi para penganiaya, kita tidak terbagi-bagi, kita bukan Lutheran, Ortodoks, Evangelikal, Katolik… Tidak! Kita satu adanya di mata mereka! Bagi para penganiaya, kita orang Kristen! Mereka tidak tertarik akan hal apa pun yang lain. Inilah ekumenisme darah yang kita alami pada masa ini. Ingat: carilah kesatuan yang adalah karya dari Roh Kudus dan janganlahtakut akan kebhinekaan. Orang-orang Kristen menghirup udara baru dari Roh Kudus dan lalu mengembuskannya kepada dunia: itulah doa dari pujian serta penjangkauan misionaris. Mari berbagi pembaptisan dalam Roh Kudus dengan semua orang di dalam Gereja. Ekumenisme spiritual dan ekumenisme darah. Kesatuan dari Tubuh Kristus.”[12]
Di dalam keluhannya yang penuh bidah ini, Fransiskus mengajarkan bahwa orang-orang “Katolik” harus sepenuhnya memeluk orang-orang yang menganut posisi-posisi bidah. Ia berseru, “terimalah perbedaan!”. Ia mempromosikan “Pembaruan Karismatik” yang satanik dan non-Katolik serta apa yang mereka sebut-sebut sebagai “pembaptisan Roh Kudus”. Fransiskus menghujat Roh Kudus dengan berkata bahwa Ia adalah pencipta dari berbagai sekte serta “Gereja-Gereja” bidah dan skismatis. Itu adalah penolakan terhadap dogma Katolik bahwa hanya terdapat martir-martir Katolik. Di Konsili Florence, Paus Eugenius IV secara infalibel menyatakan bahwa orang-orang non-Katolik, yang bahkan menumpahkan darah mereka “dalam nama Kristus”, masuk Neraka.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino,” 1441, ex cathedra: “Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa ‘semua orang yang berada di luar Gereja Katolik, bukan hanya orang-orang pagan tetapi juga Yahudi atau bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal dan akan masuk ke dalam api yang kekal yang telah disiapkan untuk iblis dan para malaikatnya,’ [Matius 25, 41] kecuali jika mereka bergabung ke dalam Gereja sebelum akhir hidup mereka; bahwa kesatuan dari tubuh gerejawi ini sedemikian kuatnya sehingga hanya kepada mereka yang tetap tinggal di dalamnyalah sakramen-sakramen Gereja berdaya guna menuju keselamatan, dan hanya kepada mereka jugalah puasa, derma, dan karya-karya kesalehan serta praktik-praktik lain dari para laskar Kristiani menghasilkan upah yang abadi; dan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan, sebanyak apa pun ia telah berderma, walaupun ia telah menumpahkan darah dalam nama Kristus, kecuali jika ia telah bertekun di pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja Katolik.”
Dogma Katolik secara persis bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh sang bidah Anti-Paus Fransiskus. Fransiskus berkata lebih dari satu kali bahwa kita tidak sepatutnya mengkhawatirkan orang-orang yang menolak berbagai ajaran Katolik. Fransiskus mengajarkan “janganlah takut akan kebhinekaan”, sebab kebhinekaan adalah “udara baru dari Roh Kudus”. Anti-Paus Fransiskus mengajarkan bahwa kesatuan dari Tubuh Kristus adalah suatu kesatuan antara orang-orang “Katolik” dan orang-orang “Kristiani” yang menolak ajaran-ajaran Katolik. Itu adalah suatu pengakuan yang jelas bahwa para Protestan, dsb. berada di dalam Tubuh Kristus – suatu penolakan total terhadap dogma Katolik.
Paus Pius XI, Ensiklik Mortalium Animos, #10: “…kesatuan Kristiani hanya dapat diperoleh dengan cara mendukung pemulangan kembali orang-orang yang terpisah kepada Gereja Kristus yang satu dan sejati…”
Paus Pius XI, Ensiklik Mortalium Animos, #9: “Tidak seorang pun tentunya mengabaikan bahwa Santo Yohanes sendiri, Rasul Cinta Kasih, yang di dalam Injil-Nya menyingkapkan dengan suatu cara tertentu rahasia-rahasia dari Hati Kudus Yesus, Rasul yang tidak henti-hentinya mengingatkan para umatnya akan perintah baru, yakni Kasihilah sesamamu manusia, melarang secara mutlak segala hubungan dengan orang-orang yang tidak mengakui doktrin Kristus secara utuh dan murni: Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.”
Kita kembali telah mencapai akhir dari suatu pengamatan terhadap bidah-bidah Anti-Paus Fransiskus. Pertimbangkanlah betapa parahnya penolakan Fransiskus terhadap Kepausan di dalam bidah-bidah ini. Ia secara terbuka dan berulang kali mengajarkan bahwa seorang Paus tidak perlu diakui sebagai orang yang memiliki otoritas tertinggi di dalam Gereja. Ia mengajarkan bahwa orang-orang “Ortodoks” dan Protestan tidak perlu menerima otoritas yurisdiksi St. Petrus serta para penerusnya. Itu adalah suatu penolakan terbuka terhadap dogma Kepausan. Seseorang tidak dapat meminta suatu contoh bidah yang lebih eksplisit. Untuk berkata bahwa ia bukan seorang bidah; seperti yang dilakukan oleh para tradisionalis palsu, adalah suatu penghujatan yang luar biasa.
Tetapi, saya telah dapat melihat dengan jelas bahwa kebanyakan orang “Katolik” yang telah melihat bidah-bidah Fransiskus dalam perkataan dan perbuatan, dan masih menganggapnya sebagai Katolik, tidak akan mengubah posisi mereka, bahkan jika ia mengajarkan bidah 50.000 kali. Itu disebabkan karena mereka tidak memiliki iman. Hal-hal eksternal lebih penting bagi mereka daripada ajaran Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Mereka sederhananya menolak ajaran Gereja bahwa hanya orang-orang yang mengakui iman sejatilah yang dapat dianggap berada di dalam Gereja.
Paus Pius XII, Mystici Corporis (#22), 29 Juni 1943: “Tetapi, hanya mereka yang telah menerima permandian kelahiran kembali dan mengakui iman sejatilah yang merupakan anggota dari Gereja.”[13]
Kenyataan bahwa Fransiskus jelas menolak ajaran Katolik yang telah didefinisikan tentang Kepausan – dengan mengajarkan bahwa para “Ortodoks” tidak perlu tunduk kepada Kepausan – adalah satu-satunya yang perlu dilihat seseorang. Penolakan itu membuktikan (tanpa keraguan sedikit pun) bahwa Fransiskus adalah seorang bidah dan bahwa ia tidak mengakui iman sejati. Ia tidak mengajarkan bahwa iman Roma harus dianut. Oleh karena itu, ia tidak dapat dianggap sebagai seorang Katolik di dalam Gereja.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#13), 29 Juni 1896: “Tidaklah dapat dipercayai bahwa anda menganut iman Katolik yang sejati, jika anda tidak mengajarkan bahwa iman Roma harus dianut.”
Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#23) 29 Juni 1943: “Karena tidak semua dosa, bagaimanapun beratnya dosa tersebut, memiliki kodrat tersendiri yang sedemikian rupa sehingga memotong seorang manusia dari Tubuh Gereja, layaknya skisma atau bidah atau kemurtadan.”
Patut pula untuk dicatat bahwa banyak dari para tradisionalis palsu, yang bersikeras menolak posisi sejati tentang hal ini, sangat suka menolak para politikus pro-aborsi sebagai orang yang “tidak Katolik” atau sebagai “bidah”. Tetapi Fransiskus dan para Anti-Paus Vatikan II lainnya telah mengajarkan bidah ratusan kali dalam hal-hal yang sama dogmatisnya dengan pengutukan Gereja terhadap aborsi.
Gereja juga telah selalu mengajarkan bahwa orang-orang yang adalah bidah publik berada di luar Gereja dan harus dianggap demikian. Jika tidak, tidak akan ada satu iman di dalam Gereja.
Paus Bonifasius VIII, Unam Sanctam, 18 Nov. 1302: “‘Dialah satu-satunya merpatiku, idam-idamanku ... dia melambangkan Tubuh Mistis yang satu dan tunggal ... di dalam dia, hanya ada satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan (Efesus IV, 5).”
“Dialah satu-satunya merpatiku, idam-idamanku… yang melambangkan tubuh mistis yang satu... Dan di dalamnya ini, ‘satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan’ (Efesus4:5).”
Kenyataannya, dogma-dogma yang telah disangkal oleh Fransiskus telah lebih sering didefinisikan daripada perlawanan Gereja terhadap aborsi. Tetapi kenyataan tersebut sama sekali tidak ada bedanya bagi para tradisionalis palsu. Hampir setiap bulan atau pekan mereka akan mengemukakan pendapat serta mengeluh atau menertawakan penghujatan Fransiskus yang terkini. Mereka akan mengeluh tanpa henti tentang bagaimana ajaran Fransiskus yang cela itu bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh para Paus sejati di sepanjang sejarah. Mereka akan mengolok-olok ajaran sesatnya dan imannya yang sesat, sembari gagal untuk menyadari bahwa mereka kanya mengolok-olok diri mereka sendiri; sebab dengan mengakui Fransiskus sebagai orang Katolik dan pemimpin umat beriman, mereka pada waktu yang bersamaan mengakui bahwa “iman”-nya (dan oleh karena itu apa yang mereka perolokkoan) itu benar. Bagaimanapun, karena mereka orang jahat, mereka akan terus mengakui bahwa sang serigala itu (Fransiskus) memiliki otoritas atas domba-domba dan bahwa ia bukan seorang bidah.
Posisi mereka fasik, bidah, dan konyol dari sudut pandang teologis, dan amat berbahaya dari sudut pandang rohani. Mereka berada dalam jalan menuju Neraka, dan mereka memimpin orang-orang lain ke dalam Neraka. Orang-orang yang menganut posisi ini (yang mempromosikan para bidah sebagai orang-orang Katolik), serta mereka yang mengikuti para pemandu yang buta macam itu, yang tidak melayani Yesus Kristus ataupun percaya akan iman-Nya, akan membayar harga tertinggi di dalam danau api yang abadi
Paus Leo XIII, Satis Cognitum, 29 Juni 1896: “…dapatkah seorang pun diizinkan untuk menolak satu pun dari kebenaran-kebenaran ini, tanpa, oleh karena fakta itu sendiri, terjerembap secara langsung ke dalam bidah? Tanpa memisahkan dirinya sendiri dari Gereja dan tanpa menolak serta-merta seluruh doktrin Kristiani?...”
Paus Leo XIII, Satis Cognitum, 29 Juni 1896: “…adalah suatu hal yang absurd untuk membayangkan bahwa seseorang yang berada di luar Gereja dapat memimpin di dalam Gereja.”
Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Anti-Paus Fransiskus Secara Terbuka Menolak Kepausan
Dogma Kepausan bukan hanya adalah bahwa satu orang memiliki otoritas tertinggi di dalam Gereja, tetapi bahwa semua orang lain di dalam Gereja harus menerima otoritas tersebut. Anti-Paus Fransiskus menolak dogma itu, dan maka dari itu, ia menolak Kepausan.
Anti-Paus Fransiskus menjawab suatu pertanyaan tentang para “Ortodoks” (yang menolak iman Katolik) dengan berkata bahwa kita perlu berdoa, bekerja, mengajar, dan maju bersama. Fransiskus mengajarkan bahwa kita “sudah memiliki kesatuan, dalam roh dan darah” dengan para non-Katolik. Gereja Katolik mengajarkan bahwa kesatuan hanya ada di dalam Gereja Katolik sejati. Fransiskus sekali lagi mengajarkan bahwa terdapat martir-martir non-Katolik, dan bahwa para “santo” Anglikan “dikanonisasikan 50 tahun yang lalu”. Ini sepenuhnya bidah dan dikutuk oleh ajaran infalibel dari para Paus Katolik. Ia bahkan berkata bahwa baik adanya bagi seorang “pastor paroki” untuk mendorong kanonisasi untuk seorang “pendeta” Lutheran!
Anti-Paus Fransiskus lalu mengajarkan bahwa “uniatisme” adalah “kata yang ketinggalan zaman”. Fransiskus menekankan bahwa “kita tidak dapat berbicara dalam istilah-istilah ini pada hari ini”. Uniatisme adalah “persatuan dari sebuah gereja Ritus Timur dengan Gereja Roma di mana otoritas Kepausan diterima”.[4] Jadi sang skismatis Fransiskus secara publik menyatakan bahwa untuk membuat gereja-gereja skismatis menerima Kepausan adalah ajaran yang ketinggalan zaman. Ini adalah penolakan secara publik terhadap Kepausan oleh Fransiskus. Fransiskus lalu berbicara tentang bagaimana ia berkata kepada sang skismatis “Patriark” Kirill: “Saya akan pergi ke mana pun anda mau”. “Paus” Fransiskus akan pergi ke mana pun sang pemimpin skismatis itu menginginkannya untuk pergi. Keinginan Fransiskus untuk menyenangkan sang pemimpin skismatis itu bagaikan seekor anjing yang patuh menanggapi panggilan dari pemiliknya. Inilah ide Fransiskus tentang bagaimana seorang “Paus” memimpin “Gereja Katolik” – yang bersesuaian secara langsung dengan keinginan-keinginan dari mereka yang memimpin sekte-sekte bidah dan skismatis. Fransiskus lalu berkata bahwa ia terbuka kepada perubahan di dalam ajaran Katolik tentang Kepausan. Fransiskus ingin menemukan “suatu bentuk Keutamaan yang dapat kita sepakati”. Fransiskus secara sukarela menyangkal Kepausan untuk menyenangkan gereja “Ortodoks” skismatis. Ini sungguh adalah suatu kekejian.
Di sini Anti-Paus Fransiskus kembali berkata bahwa dia menginginkan kesepakatan (tentang arti Kepausan) dengan “Ortodoks” yang akan “lebih sejalan dengan abad-abad pertama”. Pernyataannya ini menyangkal Vatikan I, yang mengajarkan bahwa kebenaran Katolik tentang Kepausan dipercayai di dalam semua generasi dari sejarah Gereja. Pernyataan Fransiskus jelas berarti “suatu bentuk” dari “Kepausan” yang sejalan dengan ajaran “Ortodoks” skismatis tentang masalah ini. Orang-orang perlu mempertimbangkan hal ini dengan berhati-hati, karena ini adalah penolakan jabatan Kepausan yang luar biasa. Selanjutnya, Anti-Paus Fransiskus berkata bahwa Gereja Katolik yang Kudus memiliki dosa - yakni Gereja memiliki “kebiasaan berdosa”. "Dosa" ini, menurut Fransiskus, adalah ajaran Vatikan I tentang syarat agar semua orang yang mengaku Kristen menerima Keutamaan Kepausan. Francis menyebut Vatikan I sebagai "dosa".
Fransiskus berkata bahwa Gereja Katolik “terlalu berfokus kepada dirinya sendiri dan harus juga berfokus kepada gereja-gereja bidah dan skismatis lainnya. Fransiskus lalu mengutuk ekskomunikasi Paus St. Leo IX terhadap Mikhael Kerularius, sang “Patriark” dari Konstantinopel. Suatu fakta yang menarik yang perlu dipertimbangkan sehubungan peristiwa ini adalah bahwa Paus Santo Leo IX menolak untuk menyebut Kerularius sebagai “Patriark Ekumenis”.[7] Tetapi, Fransiskus dan para Anti-Paus Vatikan II lainnya berulang kali merujuk kepada para pemimpin gereja “Ortodoks” dari Konstantinopel sebagai “Patriark Ekumenis”.
Fransiskus berkata kepada sang pemimpin skismatis itu bahwa, sewaktu ia “menjabat sebagai Uskup Agung” Buenos Aires, ia “sering mengambil bagian dalam perayaan Liturgi Ilahi dari komunitas-komunitas Ortodoks di sana”. Gereja Katolik telah mengajarkan di sepanjang sejarah bahwa untuk mengambil bagian di dalam liturgi skismatis adalah suatu dosa berat. Misalnya, jika seseorang melihat buku panduan teologi moral mana pun sebelum Vatikan II, mereka akan melihat bahwa buku panduan itu menyatakan dengan jelas bahwa partisipasi aktif di dalam ibadat non-Katolik adalah suatu dosa berat. Fransiskus berbicara dengan bangga tentang dosa-dosa berat di mana ia “sering mengambil bagian” sewaktu ia berada di Buenos Aires. Fransiskus lalu meminta para skismatis untuk mendoakannya. Fransiskus menjelaskan arti dari “pemulihan persekutuan yang penuh” kepada para pemimpin sekte Vatikan II. Artinya adalah bahwa para skismatis tidak perlu tunduk kepada Kepausan ataupun kepada ajaran-ajaran mana pun dari Gereja Katolik yang tidak mereka setujui. Fransiskus berkata bahwa kita harus menyambut “ segala karunia yang telah diberikan oleh Allah” kepada gereja “Ortodoks” skismatis.
Di dalam deklarasi “iman”-nya yang publik, Fransiskus mengajarkan bahwa seorang pemimpin yang secara terbuka skismatis adalah seorang “gembala Gereja”. Fransiskus berkata bahwa kita “terpanggil untuk bekerja bersama” dengan para Muslim dengan “rasa hormat”, “terilhami oleh nilai-nilai bersama”. Fransiskus juga menyebut para skismatis “umat beriman”, dan meminta untuk bergabung dalam doa bersama mereka.
Fransiskus menyatakan bahwa gereja bidah dan skismatis di Konstantinopel adalah Gereja sejati Yesus Kristus di Konstantinopel. Anti-Paus Fransiskus meminta kepada “Paduka Suci”, pemimpin dari “Gereja” skismatis itu, untuk memberkatinya serta “Gereja Katolik”. Anti-Paus Fransiskus adalah seorang skismatis.
Di sini, Fransiskus memberi sambutan kepada suatu “konferensi misionaris”. Fransiskus berkata bahwa untuk mencoba mengonversikan orang-orang bukanlah bagian dari aktivitas misionaris. Orang-orang Katolik sejati tahu bahwa aktivitas misionaris adalah, secara definisi, upaya untuk mengonversikan para non-Katolik kepada iman Katolik. Fransiskus juga memerintahkan mereka untuk melangkah maju dan “menemukan hal-hal baru”.
Di dalam keluhannya yang penuh bidah ini, Fransiskus mengajarkan bahwa orang-orang “Katolik” harus sepenuhnya memeluk orang-orang yang menganut posisi-posisi bidah. Ia berseru, “terimalah perbedaan!”. Ia mempromosikan “Pembaruan Karismatik” yang satanik dan non-Katolik serta apa yang mereka sebut-sebut sebagai “pembaptisan Roh Kudus”. Fransiskus menghujat Roh Kudus dengan berkata bahwa Ia adalah pencipta dari berbagai sekte serta “Gereja-Gereja” bidah dan skismatis. Itu adalah penolakan terhadap dogma Katolik bahwa hanya terdapat martir-martir Katolik. Di Konsili Florence, Paus Eugenius IV secara infalibel menyatakan bahwa orang-orang non-Katolik, yang bahkan menumpahkan darah mereka “dalam nama Kristus”, masuk Neraka.
Dogma Katolik secara persis bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh sang bidah Anti-Paus Fransiskus. Fransiskus berkata lebih dari satu kali bahwa kita tidak sepatutnya mengkhawatirkan orang-orang yang menolak berbagai ajaran Katolik. Fransiskus mengajarkan “janganlah takut akan kebhinekaan”, sebab kebhinekaan adalah “udara baru dari Roh Kudus”. Anti-Paus Fransiskus mengajarkan bahwa kesatuan dari Tubuh Kristus adalah suatu kesatuan antara orang-orang “Katolik” dan orang-orang “Kristiani” yang menolak ajaran-ajaran Katolik. Itu adalah suatu pengakuan yang jelas bahwa para Protestan, dsb. berada di dalam Tubuh Kristus – suatu penolakan total terhadap dogma Katolik.
Kita kembali telah mencapai akhir dari suatu pengamatan terhadap bidah-bidah Anti-Paus Fransiskus. Pertimbangkanlah betapa parahnya penolakan Fransiskus terhadap Kepausan di dalam bidah-bidah ini. Ia secara terbuka dan berulang kali mengajarkan bahwa seorang Paus tidak perlu diakui sebagai orang yang memiliki otoritas tertinggi di dalam Gereja. Ia mengajarkan bahwa orang-orang “Ortodoks” dan Protestan tidak perlu menerima otoritas yurisdiksi St. Petrus serta para penerusnya. Itu adalah suatu penolakan terbuka terhadap dogma Kepausan. Seseorang tidak dapat meminta suatu contoh bidah yang lebih eksplisit. Untuk berkata bahwa ia bukan seorang bidah; seperti yang dilakukan oleh para tradisionalis palsu, adalah suatu penghujatan yang luar biasa.
Tetapi, saya telah dapat melihat dengan jelas bahwa kebanyakan orang “Katolik” yang telah melihat bidah-bidah Fransiskus dalam perkataan dan perbuatan, dan masih menganggapnya sebagai Katolik, tidak akan mengubah posisi mereka, bahkan jika ia mengajarkan bidah 50.000 kali. Itu disebabkan karena mereka tidak memiliki iman. Hal-hal eksternal lebih penting bagi mereka daripada ajaran Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Mereka sederhananya menolak ajaran Gereja bahwa hanya orang-orang yang mengakui iman sejatilah yang dapat dianggap berada di dalam Gereja.
Kenyataan bahwa Fransiskus jelas menolak ajaran Katolik yang telah didefinisikan tentang Kepausan – dengan mengajarkan bahwa para “Ortodoks” tidak perlu tunduk kepada Kepausan – adalah satu-satunya yang perlu dilihat seseorang. Penolakan itu membuktikan (tanpa keraguan sedikit pun) bahwa Fransiskus adalah seorang bidah dan bahwa ia tidak mengakui iman sejati. Ia tidak mengajarkan bahwa iman Roma harus dianut. Oleh karena itu, ia tidak dapat dianggap sebagai seorang Katolik di dalam Gereja.
Patut pula untuk dicatat bahwa banyak dari para tradisionalis palsu, yang bersikeras menolak posisi sejati tentang hal ini, sangat suka menolak para politikus pro-aborsi sebagai orang yang “tidak Katolik” atau sebagai “bidah”. Tetapi Fransiskus dan para Anti-Paus Vatikan II lainnya telah mengajarkan bidah ratusan kali dalam hal-hal yang sama dogmatisnya dengan pengutukan Gereja terhadap aborsi.
Gereja juga telah selalu mengajarkan bahwa orang-orang yang adalah bidah publik berada di luar Gereja dan harus dianggap demikian. Jika tidak, tidak akan ada satu iman di dalam Gereja.
Kenyataannya, dogma-dogma yang telah disangkal oleh Fransiskus telah lebih sering didefinisikan daripada perlawanan Gereja terhadap aborsi. Tetapi kenyataan tersebut sama sekali tidak ada bedanya bagi para tradisionalis palsu. Hampir setiap bulan atau pekan mereka akan mengemukakan pendapat serta mengeluh atau menertawakan penghujatan Fransiskus yang terkini. Mereka akan mengeluh tanpa henti tentang bagaimana ajaran Fransiskus yang cela itu bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh para Paus sejati di sepanjang sejarah. Mereka akan mengolok-olok ajaran sesatnya dan imannya yang sesat, sembari gagal untuk menyadari bahwa mereka kanya mengolok-olok diri mereka sendiri; sebab dengan mengakui Fransiskus sebagai orang Katolik dan pemimpin umat beriman, mereka pada waktu yang bersamaan mengakui bahwa “iman”-nya (dan oleh karena itu apa yang mereka perolokkoan) itu benar. Bagaimanapun, karena mereka orang jahat, mereka akan terus mengakui bahwa sang serigala itu (Fransiskus) memiliki otoritas atas domba-domba dan bahwa ia bukan seorang bidah.
Posisi mereka fasik, bidah, dan konyol dari sudut pandang teologis, dan amat berbahaya dari sudut pandang rohani. Mereka berada dalam jalan menuju Neraka, dan mereka memimpin orang-orang lain ke dalam Neraka. Orang-orang yang menganut posisi ini (yang mempromosikan para bidah sebagai orang-orang Katolik), serta mereka yang mengikuti para pemandu yang buta macam itu, yang tidak melayani Yesus Kristus ataupun percaya akan iman-Nya, akan membayar harga tertinggi di dalam danau api yang abadi
Anti-Paus Fransiskus Mendukung Islam, Al-Quran, Doa-Doa Muslim, dsb
Catatan kaki:
[1] L’Osservatore Romano, 5 Desember 2014, hal. 12-13. Versi Bahasa Inggris.
[2] Denzinger 714.
[3] Denzinger 247.
[4] http://www.thefreedictionary.com/Uniatism
[5] L’Osservatore Romano, 5 Desember 2014, hal. 13. Versi Bahasa Inggris.
[6] Decrees of the Ecumenical Councils [Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis], Sheed & Ward and Georgetown University Press, 1990, Vol. 1, hal. 133.
[7] https://en.wikipedia.org/wiki/East%E2%80%93West_Schism
[8] L’Osservatore Romano, 5 Desember 2014, hal. 10. Versi Bahasa Inggris.
[9] L’Osservatore Romano, 5 Desember 2014, hal. 11. Versi Bahasa Inggris.
[10] L’Osservatore Romano, 5 Desember 2014, hal. 8. Versi Bahasa Inggris.
[11] L’Osservatore Romano, 5 Desember 2014, hal. 21. Versi Bahasa Inggris.
[12] L’Osservatore Romano, 7 November 2014, hal. 7. Versi Bahasa Inggris.
[13] https://w2.vatican.va/content/pius-xii/en/encyclicals/documents/hf_p-xii_enc_29061943_mystici-corporis-christi.html
Artikel-Artikel Terkait
Terima kasi suda berbagi doa ini.. 🙏🙏
Magdalena binti said 4 bulanBaca lebih lanjut...Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 9 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 1 tahunBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 1 tahunBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 1 tahunBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 1 tahunBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...