^
^
Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Tujuh Dukacita Santa Perawan Maria
Pesta: 26 Maret
1. Dukacita Maria yang Pertama: Nubuat Santo Simeon
2. Dukacita Maria yang Kedua: Yesus Dilarikan ke Mesir
3. Dukacita Maria yang Ketiga: Hilangnya Yesus di Bait Allah
4. Dukacita Maria yang Keempat: Maria Bertemu dengan Yesus Sewaktu Ia akan Wafat
5. Dukacita Maria yang Kelima: Wafat Yesus
6. Dukacita Maria yang Keenam: Lambung Yesus Ditikam, Yesus Diturunkan dari Salib
7. Dukacita Maria yang Ketujuh: Yesus Dikuburkan
“Maria adalah Ratu para Martir, sebab kemartirannya lebih panjang dan lebih besar daripada para semua Martir.
Hati siapakah yang begitu keras sehingga tidak akan meleleh saat mendengarkan peristiwa yang begitu menyedihkan yang telah terjadi di dunia? Dahulu kala, ada seorang Ibunda yang mulia dan kudus yang hanya memiliki seorang Putra. Putra ini adalah Putra yang paling terkasih yang dapat dibayangkan – tak bersalah, bajik, rupawan, yang mencintai Ibunda-Nya dengan amat lembut ; sedemikian rupa sehingga Ia tidak pernah membuatnya tidak senang, tetapi selalu menunjukkan kepadanya segala hormat, ketaatan, dan kasih sayang: maka, sang Ibunda telah menempatkan segala kasihnya di bumi di dalam Putra ini. Dengarkanlah apa yang terjadi. Putra ini, akibat iri hati, dituduh secara salah oleh musuh-musuh-Nya ; dan walaupun sang hakim tahu, dan ia sendiri mengaku, bahwa Ia tidak bersalah, tetapi, agar ia tidak menyinggung musuh-musuh-Nya, ia menghukum-Nya untuk menderita kematian yang memalukan yang telah mereka tuntutkan. Sang Bunda yang malang ini harus menderita kepedihan untuk melihat Putranya yang terkasih dan tercinta dirampas dengan tidak adil darinya pada puncak usia-Nya oleh kematian yang barbar; sebab, oleh siksaan-siksaan, dan karena terkuras semua darah-Nya, Ia dibuat mati di atas tiang gantungan yang mengerikan di tempat penghukuman mati publik, dan ini terjadi di depan mata kepalanya sendiri.
Wahai para jiwa yang penuh bakti, apakah katamu? Bukankah peristiwa ini, dan tidakkah sang Bunda yang malang ini berhak mendapatkan rasa iba? Anda sekalian sudah mengerti tentang siapa saya berbicara. Putra yang dihukum mati dengan begitu kejam ini adalah Penebus kita yang penuh kasih, Yesus, dan Ibunda ini adalah Santa Perawan Maria ; yang, oleh cinta yang dimiliknya untuk kita, bersedia untuk melihat-Nya dikurbankan kepada Keailan Ilahi oleh kebarbaran manusia. Siksaan yang berat ini, maka dari itu, yang ditanggung oleh Maria demi kita – suatu siksaan yang lebih besar dari ribuan kematian – pantas mendapatkan rasa iba dan syukur kita. Jika kita tidak dapat membalas cinta yang begitu besar ini, setidaknya marilah menyempatkan diri pada hari ini untuk mempertimbangkan keagungan dari penderitaan-penderitaan yang olehnya Maria menjadi Ratu para martir; sebab penderitaan dari kemartirannya melebihi penderitaan semua martir…
DOA
Ya Bundaku yang menderita! Ratu para martir dan dukacita, engkau sungguh menangisi dengan begitu pahit Putramu, yang mati demi keselamatanku ; tetapi apa gunanya air matamu jika aku binasa? Maka, oleh jasa dari dukacitamu, perolehkan penyesalan sejati untuk dosa-dosaku, dan pembenahan hidup yang sejati, bersama dengan rasa iba yang terus-menerus dan yang lembut terhadap penderitaan Yesus dan dukacitamu. Dan jika Yesus dan dirimu, yang sangat tidak bersalah, telah menderita begitu banyak demi cinta akan diriku, perolehkanlah, setidaknya, agar aku yang pantas mendapatkan Neraka, dapat menderita sesuatu demi cintamu. ‘Ya Ratu,’ aku akan berkata bersama St. Bonaventura, ‘jika aku telah menyakitimu, aku akan meminta luka-luka sebagai pahalaku. Aku malu melihat Tuhanku Yesus terluka, dan dirimu terluka bersama-Nya, dan diriku sendiri tanpa sebuah luka pun.’[1] Akhirnya, ya Bundaku, oleh kepedihan yang kaualami saat melihat Putramu menundukkan kepala-Nya dan mati di salib di tengah-tengah siksaan yang begitu banyak, aku memohon kepadamu untuk memperolehkan diriku kematian yang baik. Ah, janganlah berhenti, ya pembela para pendosa, untuk membantu jiwaku yang menderita di tengah-tengah pertarungan yang harus dihadapinya dalam perjalanan dari waktu menuju keabadian. Dan karena pada waktu itu aku mungkin telah kehilangan suaraku, dan kekuatan untuk memanggil namamu dan nama Yesus, yang adalah segala harapanku, kulakukan hal itu sekarang ; kupanggi ; nama Putramu dan namamu untuk menolongku pada saat terakhir itu ; dan kuberkata, Yesus dan Maria kepada kalian berdua kuserahkan jiwaku. Amin.”
Catatan kaki:
Kata pengantar diterjemahkan dari edisi berbahasa Inggris : Santo Alfonsus de Liguori, Glories of Mary [Kemuliaan Maria], Revisi oleh Rev. Robert A. Coffin, London: Burns and Oates, 1868, hal. 403-404; Doa dari hal. 419.
[1] O domina . . . . si te offendi, pro justitia cor meum vulnera. Si tibi servivi, nunc pro mercede peto vulnera . . . Verecundum enim et opprobrio sum est mihi videre Dominum meum Jesum vulneratum et te convulneratam dominam, et me servum vilissimum pertransire illæsum. - Stim, Am. p. i. cap. 3.
Artikel-Artikel Terkait
St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 2 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 3 bulanBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 4 bulanBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 4 bulanBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 4 bulanBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 5 bulanBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 6 bulanBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 7 bulanBaca lebih lanjut...Halo – devosi kepada Santa Perawan Maria itu krusial untuk keselamatan dan pengudusan jiwa. Namun, dan juga yang terpenting, orang harus 1) punya iman Katolik sejati (yakni, iman Katolik tradisional),...
Biara Keluarga Terkudus 7 bulanBaca lebih lanjut...Since your comment is written in English, we are responding in English and including a translation in Indonesian. However, we would recommend that you write us in Indonesian instead, if...
Biara Keluarga Terkudus 7 bulanBaca lebih lanjut...