^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Tentang Ketidakbertobatan Akhir - Khotbah XI St. Leonardus
KHOTBAH XI.
Untuk Hari Senin setelah Minggu Kedua Masa Prapaskah
TENTANG KETIDAKBERTOBATAN AKHIR
(DE L’IMPÉNITENCE FINALE)
Ego vado, et quaeretis me, et in peccato vestro moriemini.
Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku, dan kamu semua akan mati dalam dosa-dosamu. – YOHANES 8, 21
I. Kematian dan pendosa, dosa dan kematian, dua kemalangan besar. Dua bilah anak panah tajam yang sungguh pantas menusuk jantung pendosa tegar dan memenuhinya dengan teror mengerikan: kematian sebagai hukuman Allah atas dosa; dosa sebagai jalan telah masuknya kematian dalam dunia. Dosa yang menghancurkan manusia dalam tatanan alam; dosa yang membinasakan dalam tatanan rahmat. Kematian yang melucuti kita dari segala harta duniawi, dan mempreteli badan kita menjadi segenggam debu. Dosa yang daripada kita menghilangkan segala rahmat, segala harta rohaniah, dan mempreteli jiwa sehingga menjadi wadah penderitaan semata.
Dua kemalangan besar, itu saya akui, namun bukan kemalangan yang ekstrem. Kalau ditimbang secara terpisah, dosa tanpa kematian, dan kematian tanpa dosa terkadang memang bisa mendatangkan faedah besar, sebab kematian tanpa dosa mungkin kudus dan berharga di mata Allah, dosa tanpa kematian bisa menjadi bahan penitensi yang membuat manusia berkenan di hadirat Allah. Puncak semua kemalangan ini, adalah kematian yang berpadu dengan dosa, atau dosa yang menyertai kematian; sebab kalau demikian, kematian menjadikan dosa tak bisa diampuni, dan dosa membuat kematian menjadi bersalah untuk selama-lamanya.
Sebelum pemikiran ini saya jelaskan, sudilah mendengar diri saya meminta mata rantai Yeremia, abu Yehezkiel, air mata para nabi yang penuh semangat terbesar, supaya saya setidak-tidaknya bisa meneladani sebagian dari semangat yang dulu membakar diri mereka, ketika mereka diberi tugas memberitakan kebenaran-kebenaran abadi serta menceritakan ancaman-ancaman Allah kepada umat. Pada waktu itu mereka tampil di muka umum dengan pakaian terkoyak, rambut kusut, wajah semrawut dan air muka begitu sedih. Sedemikian rupa adanya, sehingga mulut belum terbuka, namun segala-galanya dalam diri mereka sudah berbicara, dan membangkitkan rasa ngeri serta mewartakan penitensi.
Ah! Coba saja saya bisa meliputi wajah saya dengan abu dan dibelenggu dengan rantai, dengan air mata tumpah dan dikelilingi berbagai pertanda teramat ngeri: segala sesuatu terlayak untuk menimbulkan rasa takut suci pada anda dan karena itu saya pada hari ini berlakon sebagai nabi di tengah-tengah anda.
Setidak-tidaknya, perkenankan saya mengambil kata-kata Yesus Kristus dan menyuarakannya dengan lantang:
Alangkah besar ini perkara! Ini bukan perkara kehilangan kebebasan, kehilangan harta di dunia ini. Perkaranya adalah meninggalkan dunia ini dan kehilangan Allah. Perkara mati sebagai pendosa dan masuk alam pengutukan. Perkara paling ngeri dari segala moral Kristiani. Namun saya sadari bahwa yang akan saya bahas pada pagi hari ini berlaku kepada sedikit orang saja, dan tepatnya kepada mereka yang tidak terbiasa datang mendengar khotbah, dan yang datang ke sini dalam ketegaran berdosa. Namun, kalau ada dari mereka yang dijumpai dalam hadirin yang banyak ini, hendaknya mereka gemetar; dan sesudah khotbah ini, ketika keluar dari gereja dengan kepala tunduk, semoga dalam hati mereka, mereka membawa anak panah sebanyak mungkin dari tiga kebenaran ini, yakni, bahwa pendosa tegar tidak akan mau bertobat di waktu kematian; bahwa seandainya dia mau, dia tidak akan mampu; dan bahwa seandainya dia mau dan mampu, dia sudah ditinggalkan Allah dan dengan demikian tidak akan bertobat. Mari kita mulai.
POIN PERTAMA.
II. Harapan terkutuk, yang diandalkan kebanyakan orang terkutuk. Mereka berjanji kepada diri sendiri, bahwa mereka akan mati seperti malaikat sesudah hidup seperti roh jahat. Harapan tak adil, harapan yang menyesatkan. Hari ini saya bertekad meluluhlantakkan harapan itu dengan otoritas para Bapa kudus, dan dengan terang Kitab-Kitab ilahi serta dengan kekuatan akal teramat kuasa, demi memperlihatkan kepada anda masing-masing, jalan pemandu aman menuju keselamatan. Langsung saja saya bahas.
Anda berkata kepada saya, hai pendosa tegar, bahwa akan tiba waktunya anda bertobat menjelang kematian. Itulah yang anda nyatakan. Adapun saya, saya berkata bahwa anda akan mati dalam dosa, atau justru Yesus Kristuslah yang mengatakannya kepada anda melalui mulut saya. Yang benar siapa?
Kalau yang benar anda, saya mungkin berkata bahwa semua orang kudus itu salah, sebab demi bersiap diri menyambut ajal, mereka sudah menghajar badan mereka, berpuasa begitu banyak, mencucurkan begitu banyak air mata dan mengerahkan begitu banyak penitensi, dan meski demikian, tiba di saat mengerikan itu, mereka ditembus oleh rasa takut suci akan pengadilan Allah, dan dengan demikian sedemikian takut diri mereka mati dengan tidak baik dan tak sampai pada pintu keselamatan.
Hampirilah ranjang kematian Santa Maria Magdalena de Pazzis, jiwa ibarat serafim. Ketika masih bocah, dia sudah menjadi mempelai Allahnya. Jiwa agung yang tak pernah berbuat dosa berat, namun terus-menerus melakukan kehendak Allah dalam segala sesuatu. Dia yang dilimpahi begitu banyak ekstasi, wahyu serta mukjizat, dan ibarat kata dikanonisasi hidup-hidup di Surga; dengarkanlah bagaimana dirinya berbicara pada saat kematian. Berpaling kepada bapa rohani yang sedang membantunya, Santa Magdalena berkata kepadanya, bercucuran air mata dan penuh emosi mendalam:
Imam pengakuannya itu terkejut dan bertanya alasan keraguan yang tidak dia sangka-sangka itu. Perawan rendah hati itu menjawab dengan air mata bercucuran:
Di manakah engkau, hai pendosa, engkau yang berkhayal sampai-sampai menyatakan, bahwa di pertengahan zaman, lebih lagi, di tengah-tengah kenikmatan zaman ini, lebih jauh lagi, di tengah-tengah kekacauan zaman: menyusul kehidupan teramat jangak, orang bisa mati suci? Mungkinkah contoh ini tidak menggelisahkan anda? Apa! Orang yang sudah menjalani hidup tak berdosa, hidup dibalsami harumnya kebajikan terindah, yang selama hidupnya hanya belajar cara menyambut ajal agar baik nasibnya sehingga baik ajalnya, namun demikian tetap takut mati celaka. Sedangkan anda yang sejak bocah sampai usia tua telah berbuat segala sesuatu sehingga pantas mati celaka, anda tidak takut?
Gens absque consilio et prudentia, utinam saperent, et intelligerent ac novissima providerent![1] “Bangsa tanpa hikmat dan pengertian”, seru Roh Kudus, “Sekiranya mereka bijaksana, tentulah mereka mengerti hal ini, dan memperhatikan kesudahan mereka.” Sudah ada terlalu banyak orang yang bijak dan pandai di mata dunia, namun bodoh di mata Allah. Mereka membayangkan bahwa sesudah memuaskan segala hasrat mereka, dan selama bertahun-tahun lamanya menempa jalan menuju Neraka, mereka pada saat kematian akan mampu memperbaiki segala kerugian mereka dengan mulai berlari di jalan menuju Surga. Ah! Betapa sedikit pengetahuan mereka soal kematian, dan betapa mahal harganya bagi mereka untuk mati bajik! Utinam saperent, et intelligerent ac novissima providerent!
III. Lantas kita pada hari ini akan berusaha mengenyahkan segala ilusi itu dan membuat anda melihat kebenaran ini dengan terang-benderang, bahwa seorang pendosa tegar yang terbiasa berbuat dosa tidak akan mau ataupun mampu bertobat menjelang kematian.
Sudah pasti bahwa seorang pendosa tegar, demi meyakinkan diri bahwa ia akan mati bajik (dan perhatikan bahwa saya di sini hanya ingin menyampaikan kebenaran murni, bukan menakut-nakuti anda, dan karena itu, saya tidak sedang berbicara soal kasus kematian tak terduga atau orang yang mati kejam: kasus kematian merenggut pendosa pada saat yang buruk dan mengambil orang itu sebagaimana adanya, tanpa memberi orang itu waktu untuk kembali pulih kesadarannya; tidak, saya sedang berbicara tentang kematian terlembut, kematian yang menyisakan waktu bagi orang itu untuk menggunakan daya indranya serta waktu untuk menyambut sakramen-sakramen;), karena itulah saya berkata pendosa tegar, demi meyakinkan diri bahwa dia akan mati bajik, dia perlu berjanji kepada diri sendiri, bahwa pada saat terakhirnya, dia akan beroleh pertolongan teramat istimewa, rahmat lebih mujarab dari Allah, dan di pihaknya sendiri, akan ada kehendak yang muncul tepat waktu, kehendak lebih kuat untuk tanggap kepada pertolongan dan rahmat Allah itu. Namun, kedua hal itu tidak akan ada; lantas dia tidak akan mau ataupun mampu bertobat.
Dia tidak akan mau, karena kehendaknya sudah dipukuli oleh begitu banyak kekhawatiran, rintangan serta masalah. Kehendaknya itu akan lebih lemah dan rapuh. Dia tidak akan bisa, sebab rahmat akan lebih sedikit, lebih lemah, dan mangkat ditinggal Allah, orang itu tidak akan bertobat.
Pertama-tama, dia tidak akan mau, akibat kelemahan dan kerapuhan kehendaknya. Poin ini bisa ditelusuri sampai pada buktinya. Sebab, kehendak hanya bertindak jika akal mengusulkan suatu tujuan (atau objek) kepadanya. Akal orang yang hidup jahat sudah terbiasa mengurusi benda-benda jahat. Dan kalau orang itu mengikuti kecenderungannya, lantas akalnya tidak akan menggambarkan kepadanya benda-benda spiritual yang hanya dia pahami secara samar-samar, kecuali kalau ada suatu upaya khusus dari imajinasi; namun imajinasi yang terkena pengaruh badan, tidak akan bisa menghadirkan gambaran-gambaran layak tanpa ada usaha khusus.
Namun, coba nilai sendiri, orang sakit yang menuruti selera lahiriahnya (makan dan minum) saja hampir tak bisa, apakah dia mampu mengerahkan upaya semacam itu? Kalau kesehatan kita baik saja, namun perkara yang kita tangani ada banyak, kita terbiasa berkata: saya tidak tahu saya ada di mana, saya juga tidak bisa berkonsentrasi. Lalu bagaimana anda bisa berpendapat bahwa dalam kebingungan macam demikian, orang sakit itu bisa berbuat sesuatu berlawanan dengan kecenderungan yang sudah ditempa oleh kebiasaan berkepanjangan, sehingga dia merasa jijik dengan benda yang amat dia suka itu, merasa enggan terhadap orang yang sudah begitu dia kasihi itu, merasa cinta suatu hal lain yang sudah begitu dia bencinya itu? Akan dibutuhkan kerja imajinasi, daya roh, energi kehendak yang pada saat kematian, tidak dipunya orang yang sudah hidup jahat.
Sebaik-baiknya yang bisa dikata tentang orang itu, adalah dia tidak berbuat baik ataupun jahat, atau bahwa kalau ia berbuat sesuatu, itu dilakukannya karena kebiasaan. Dia memikirkan hal-hal yang dulu biasa dia pikirkan. Dia menginginkan yang dulu dia inginkan, dia mengasihi yang dulu dia kasihi, dan kalau demikian adanya, ketika dia berbuat suatu hal yang pada hakikatnya baik, perbuatan itu tidak sempurna, cacat dan tidak memadai. Dan seperti itulah dia dulu hidup, dan demikian pula dia mati. Lantas anda lihat dengan jelas, saudara-saudaraku, bahwa orang itu tidak mau bertobat, tidak, keinginan bertobat pun takkan dia miliki dan dia akan menutup hidup jahat dengan kematian yang putus asa.
IV. Ah! Alur pikiran itu terlalu spekulatif. Bagi kami, gambaran-gambaran, imajinasi-imajinasi, benda-benda serta teka-teki ini tidak membantu kami. – Anda benar; lantas cobalah mengalihkan pikiran anda. Lihatlah sebuah kapal yang berlayar ke Tarsus, namun sebuah badai mengamuk dan mendorongnya menuju Niniwe. Para awak kapalnya tak lagi bisa mengandalkan sarana duniawi, dan karena itu pergi menghampiri Yunus. Mendapatinya tidur lelap, mereka berkata:
Badai Tuhan berembus, ujar sang nabi, amarah-Nya terlepas, prahara-Nya menderu, dan berdeburan pada wajah orang fasik, bagaikan samudra yang murka, hendak berbuat apa orang ketika prahara sedang bermula? Orang tidur, orang tidur berbantal harapan hari esok yang lebih baik, orang mengandalkan kehati-hatian para dokter tempat mereka berkonsultasi, orang mengandalkan pertolongan orang tua yang memeluk si sakit; dan dengan dusta durjana mereka masing-masing berusaha menyembunyikan lubang jurang tempat orang itu akan segera terjungkal.
Ah! Dokter yang tak kenal belas kasih, orang tua barbar, seperti itulah cara kalian mengkhianati orang sakit malang itu! Seandainya kalian itu adalah harimau atau macan kumbang, akan lebih tidak manusiawikah kalian itu? Lantas, supaya orang itu tidak mengalami malam bergundah gulana, kalian hendak membiarkannya jatuh dengan kepala di bawah menuju siksaan kekal?
Untuk anda sekalian, saya ini terutama sedang berbicara kepada orang kaya atau orang besar, janganlah anda andalkan orang tua anda, mereka itu pengkhianat; janganlah anda mengandalkan mereka, sebab mereka akan menyerahkan anda ke dunia lain tanpa sepengetahuan anda. Dan berpaling kepada kita semua, para hamba Tuhan, kapankah kita akan bisa memperingatkan orang sakit itu supaya memikirkan kematian?
Mendengar kabar mengerikan tentang mendekatnya bahaya, ajal dan alam baka itu, akan seperti apa pikiran yang muncul dalam benak orang sekarat? Saya serasa melihat hati setengah beku orang itu tiba-tiba diserang oleh ribuan perkara yang menghantuinya: istrinya, anak-anaknya, urusan-urusannya, utangnya, piutangnya, proses hukumnya, perjanjian-perjanjian yang sudah dibuatnya, dosa-dosa yang telah diperbuatnya, pertanggungjawaban yang harus diberikannya, hukuman berat yang harus dideritanya, alam baka di depan matanya, Neraka dalam pertimbangannya, tahun demi tahun di masa hidupnya yang penuh kekacauan, dan tak satu pun dari pengakuan dosa yang dia buat menjadikannya yakin. Ah! Betapa besarkah tumpukan perkara yang harus dihadapinya dengan kepala besi dan dalam satu tahun? Tiada satu pun yang dipunya orang itu; kegelisahannya saja cukup baginya untuk menghilangkan kehadiran akal yang masih tersisa padanya.
Namun, dalam kebingungan itu, pikiran apa yang paling mendudukinya dari antara perkara-perkara lainnya? Pikiran tentang rasa yakinkah? Tentang Pertobatankah? Tentang keselamatankah? Ah! Jangan paksa saya untuk memberi tahu anda; namun demikian, saya tidak bisa menyembunyikannya. Sayang sekali! Pikiran yang paling menduduki orang itu adalah keputusasaan. Ah! Betapa banyak orang seperti Yunus ketika menghampiri ajal, karena mereka lebih memikirkan kapal akan karam ketimbang diri mereka sampai pelabuhan; karena mereka lebih memikirkan dosa-dosa yang telah mereka perbuat sehingga menggelisahkan diri mereka, dan bukan bertobat; karena mereka lebih membayangkan Allah sebagai hakim yang adil, daripada seperti bapa yang baik; karena mereka percaya bahwa bagi mereka, sudah tidak ada obatnya lagi, dan sederhana saja berkata: Mittite in mare, “lemparkanlah aku ke laut”, kalau aku harus menjadi terkutuk, biarlah; dan karena mereka bukan hanya tidak mau bertobat, namun bertobat saja tidak terpikir di benak mereka.
V. Anda mungkin percaya bahwa itu adalah teorinya, namun praktiknya tidak akan seperti itu? Janganlah sesat! Santo Gregorius dari Nyssa berkata, bahwa dirinya mengenal seorang pria muda keturunan ningrat bernama Arkias, seorang penyembah berhala. Pemuda itu didesak agar memberikan dirinya dibaptis dan meninggalkan kesalahan-kesalahan paganisme, namun hanya menjawab desakan-desakan itu dengan janji-janji samar. Dia sudah mendapat cukup banyak pembelajaran untuk tahu betapa nahas keadaan dirinya; … dan ketika orang mengajaknya untuk berkonversi, Arkias kehilangan kesabaran dan berkata: nanti saja.
Ah! Terkutuklah nanti saja itu, terkutuklah nanti saja yang tak kunjung tiba itu, dan yang memperdayai begitu banyak pendosa malang! Menunda berkonversi hari demi hari, sampailah orang muda itu pada penghujung hidupnya yang berakhir dalam kegelapan mengerikan dan abadi. Ketika berperjalanan sendirian di tengah-tengah hutan, dia diserang oleh para musuhnya yang menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi dan meninggalkannya setengah mati, bermandikan darahnya sendiri. Orang muda malang itu sekarat! Seperti itulah! … Melihat bahwa daya hidupnya mengalir keluar dari semua luka-lukanya, pemuda malang itu mengerahkan upaya terakhirnya dan berseru:
Lalu, rasa sakit disusul amarah, dan amarah disusul keputusasaan; sesudah bertutur kata kepada pepohonan dan bebatuan, dia mulai meneriaki dirinya sendiri:
Mengembuskan napas murkanya demikian, dia pun berserah jiwa dan memejamkan matanya untuk tidak pernah lagi membukanya: Has miserabiles voces edens miseram vitam finivit.
Lihatlah cerita dari Santo Gregorius. Dahulu kala, bahwasanya ada orang pagan, dan meskipun orang itu sudah dicerahkan, mungkin lebih tidak mengejutkan kalau kekeraskepalaannya kemudian diikuti oleh keputusasaan. Namun seturut perkataan Beda Venerabilis, alangkah banyak orang Kristen yang membusuk dalam kebiasaan-kebiasaan buruk, pertemuan-pertemuan najis, kebencian-kebencian, fitnah, penipuan, ketidakadilan, sehingga sampai titik terekstrem keadaan itu dan merasakan kehendak mereka seolah-olah membatu dalam kejahatan, dan meninggal seraya menjerit: Aku binasa, aku terkutuk, tak ada lagi kerahiman bagiku.
Tahukah anda alasannya? Karena, ujar Kornelius a Lapide, mereka sendiri telah memberangus kehendak mereka, seperti inilah caranya. Dosa yang sering diulang-ulang melahirkan kebiasaan; kebiasaan melahirkan keperluan moral tertentu; keperluan moral melahirkan kemustahilan moral untuk berbuat lain; kemustahilan moral melahirkan keputusasaan; keputusasaan melahirkan pengutukan.
Singkat kata, meski belum direnggut oleh kematian mendadak, tak terduga ataupun kejam (seperti yang sering terjadi), meski masih punya waktu untuk menuai faedah dari sakramen-sakramen dan pertolongan imam, pendosa tegar namun demikian menyalahgunakan segala-galanya, sebab dia terdorong oleh keputusasaan nerakawi, dan menolak bertobat karena kehendaknya tak berdaya, tak bertenaga untuk berbuat baik, tak sanggup berbuat apa-apa sendiri. Itulah sebabnya, kalau dia dahulu hidup seperti binatang, lantas dia akan mati seperti binatang. Kalau dia dulu hidup seperti orang Turki, dia akan mati lebih jahat daripada orang Turki.
POIN KEDUA.
VI. Kehendak selalu bebas; takkan ada yang saya pertanyakan lagi soal itu. Saya tahu bahwa kalau saya mau bertobat di ambang kematian, saya bisa melakukannya. Siapa gerangan berani menyangkal saya punya kemampuan itu, ketika Konsili Kolonia (Köln) meyakinkan kita bahwa Allah tidak menarik rahmat-Nya dari siapa pun, bahkan dari para penjahat terbesar sekalipun? Nemini quantumvis scelerato gratiam suam subtrahit, dan rahmat-Nya tiada pernah berkekurangan.
Kehendak selalu bebas, memang benar sekali; namun pendosa tegar akan menyalahgunakan kebebasan yang dia punya, seperti yang sudah saya buktikan. Dan akibat kelemahan, perlawanan, kegoyahan serta ketidakstabilan kehendak itu sendiri, orang itu tidak akan mau bertobat. Namun saya ajukan pula, dan saya tambahkan bahwa sekalipun orang itu mau bertobat, dia tidak akan mampu.
Oh! … Rahmat Allah tidak pernah berkekurangan. – Saya bedakan: rahmat sufisien, yang memberi pendosa tegar itu kekuatan mandul untuk bertobat dan yang bahwasanya tidak akan membuatnya bertobat, tiada pernah berkekurangan – anda benar; rahmat efisien dan lebih istimewa, yang sebegitu diperlukan oleh orang yang terbiasa berbuat dosa agar bisa mati dengan baik, tidak pernah berkekurangan – ini sangat amat salah. Tahukah anda bahwa ini adalah rahmat untuk mati berbahagia? Inilah rahmat terbesar dari segala rahmat: rahmat yang dengan benar tidak pernah diklaim dimiliki oleh para kudus teragung, sebagai harga kesetiaan diri mereka: rahmat sebegitu mulianya, sehingga seturut perkataan para teolog, Allah bisa saja menolak memberi rahmat itu kepada Santa Perawan Maria sendiri tanpa melanggar hukum apa pun, sebab itu adalah rahmat yang melampaui jasa-jasa makhluk murni apa pun. Dan anda mau mengandalkan rahmat semacam itu? Anda berharap agar di waktu ajal, Allah akan mengutus para laskar serafim untuk membawa anda ke Surga pada sayap mereka, sesudah anda menghabiskan seluruh hidup anda dalam kuasa Iblis?
Dan dari siapakah anda mengharapkan pertolongan luar biasa itu? Dari Allah yang begitu seringnya anda injak-injak, begitu seringnya anda tolak dan hinakah? Ah! Itu setara meminta kejahatan-kejahatan anda tidak dihukum, itu setara mengharap Allah mengganjar dosa-dosa anda sendiri dengan sebuah mukjizat. Adakah bisa orang membayangkan kelancangan yang lebih besar? Terlebih, anda tidak hanya mengharapkan rahmat itu, namun anda mengklaim berhak mendapat rahmat tersebut, sebab anda berkata rahmat itu tiada pernah berkekurangan.
Namun mari kita selidiki poin ini, sebab saya ingin membuat anda yakin penuh. Marilah kita lihat. Rahmat Allah tidak pernah berkekurangan, itu kata anda. Kalau memang demikian, lantas rahmat-Nya tidak berkekurangan di sepanjang hidup. Itulah konsekuensi sah dari dalil anda. Namun, kalau dengan pertolongan rahmat di sepanjang hidup saja, anda tetap hidup sedemikian jahat, apakah dengan pertolongan itu di waktu kematian, anda tidak akan mati jahat? Rahmat Allah tidak pernah berkekurangan; kalau benar, di saat ini juga, rahmat itu tidak berkekurangan: namun, kalau dengan memiliki rahmat pada sikap batin anda sekarang, pada waktu pertobatan, pada waktu para imam menanti-nanti anda di bilik pengakuan dosa, di waktu Yesus Kristus memandang anda dengan mata kerahiman, anda walau demikian tidak tersentuh, anda tidak mengubah hidup anda, anda tidak bertobat; andaikan anda masih memiliki rahmat itu di saat kematian, dalam keadaan yang jauh lebih tidak bersahabat, anda lantas mau berbuat apa? Mau tahu, anda? Anda akan binasa, hai orang nahas, anda akan terkutuk!
VII. Ah! Iblis tuli, di sinilah aku menantikanmu. Perkataan gila macam apa yang baru kudengar itu? Allah itu baik! Anda celaka, seandainya Dia tidak baik; tidak akan ada napas yang tersisa bagi anda untuk menuturkan nama suci itu. Namun kebaikan-Nya, haruskah digunakan sebagai paspor untuk kefasikan anda? Dan juga, kendati segala kemurahan hati-Nya, tak dijungkalkan-Nyakah orang kafir dan pendosa tak terhitung ke dalam lubuk jurang Neraka? … Apakah kebaikan-Nya memberi anda jaminan bahwa sesudah anda hidup seperti Sardanapalus di Babilonia, tenggelam dalam segala macam kemaksiatan sampai ubun-ubun, Surga akan terbuka bagi anda pada saat kematian sehingga anda disambut dengan tangan terbuka? Allah tidak melahirkan anda untuk mengirim anda masuk Neraka, memang benar; namun Dia tidak melahirkan anda di sana supaya anda menjadi cabul, tamak, jangak, pendendam, angkuh. Allah tidak akan mengisi Surga-Nya dengan orang Turki, memang benar sekali; namun takkan diisi-Nya juga Surga itu dengan penjahat.
Selesai bercanda, marilah kita menyelidiki dalil yang anda ucapkan dengan begitu entengnya: Pengakuan dengan isyarat terkadang cukup untuk menerima absolusi atas segala kejahatan. Kalau itu benar, akan saya katakan bahwa baik Kaisar Oto yang pergi telanjang kaki ke bukit Garganus demi beroleh absolusi atas pembunuhan, maupun Uskup Patamius yang mengaku dosa di depan konsili supaya beroleh absolusi atas dosa cabul, ataupun Fabiola, putri Romawi yang mengumumkan kesalahannya dengan lantang di pintu gereja Lateran supaya dirinya beroleh ampun atas ketidaktaatan berat terhadap Gereja, harus dianggap sebagai orang gila.
Lalu tak bisakah mereka menanti saat kematian dan menyelamatkan diri dengan sepatah mea culpa? Kalau demikian adanya, lantas pergilah ke depan para peziarah malang yang pergi ke Roma di hadapan bukit-bukit untuk meminta absolusi dari dosa yang dikhususkan, dan katakan kepada mereka:
Marilah kita lihat hal ini pada praktiknya.
VIII. Lihatlah, ada seorang imam yang menggenggam salib. Dia sedang berada di dekat ranjang orang sekarat. Dia ini salah seorang pendosa yang mengandalkan saat kematian. Lihatlah, betapa besar semangat si imam itu dalam berjuang mendorong si pendosa agar berpikir tentang hal-hal suci.
Mengacu kepada para pendosa semacam itu, sang Pemazmur berkata bahwa akan ada suara-suara yang keluar dari bebatuan: De medio petrarum dabunt voces[11]. Dan tidakkah kaulihat, bahwa orang sekarat itu, tersiksa oleh penyakitnya, berbicara dengan imam pengakuannya. Dia bahkan menerima absolusi tanpa tahu apa yang diperbuatnya, tanpa tahu apabila dirinya itu mati atau hidup, apabila yang mengelilingi ranjangnya itu manusia atau roh-roh jahat, apabila yang sedang memangsanya itu panas dari demam ataukah dari api Neraka?
Ah! Ya Allahku, kebijaksanaan abadi tidak bisa memperdayai kita; dengarkanlah apabila Dia tak berbicara secara jelas: Venit nox quando nemo potest operari[12]; malam hari datang, seperti dijelaskan oleh Santo Agustinus, maut pun tiba, dan kala itu, kita tidak lagi bisa berbuat baik sedikit pun. Malam hari yang ngeri, kala kita berhenti beraksi, bukan karena kita sedang beristirahat, namun karena kita tersiksa. Malam hari, yang kengeriannya diperbesar oleh roh-roh jahat dan hantu yang keluar dari Neraka. Malam hari, ketika kita tak berbuat apa-apa yang lebih dari tidur.
Celakalah pendosa yang menanti-nanti malam hari yang patut diratapi ini untuk memikirkan jiwanya. Ah! Dia tidak hanya takkan bertobat di waktu itu, namun dia tentu saja tidak akan mampu: dia akan tidur pulas, dan segala kegaduhan yang akan dibuat demi membangunkannya bisa saja mengusiknya, namun tidak akan mampu membuatnya sadar. “Mereka akan mati sekejap, mereka akan dikejutkan pada tengah malam, dan mereka akan dilenyapkan”; demikianlah nubuat Ayub yang mematikan: Subito morientur, et in media nocte turbabuntur populi, et pertransibunt[13]. Di tengah malam, maksudnya ketika maut tiba; mereka akan dikejutkan: di situlah pertolongan agama diperlukan, dan mereka akan dilenyapkan. Dan pertobatan, ada di manakah dia? Sayang sekali, tidak ada pertobatan, dipertanyakan pun tidak bisa, sebab sudah tiba saatnya orang tidak lagi bisa berbuat apa-apa: Quando nemo potest operari.
IX. “Tetapi, Romo, pengalamannya justru berkebalikan: kita tahu betul bahwa ada banyak orang yang dahulu hidup jahat, namun mati dalam damai, tenteram, saleh, dan penuh semangat bagaikan para malaikat.”
Ah! Diamlah; itu semua adalah tipu daya roh jahat yang kadang kala dibuat bagi para pendosa tegar itu. Itu seperti yang dilakukan para pemburu yang mengincar burung anis. Begitu seekor burung terjerat dalam jebakan, mereka merenggut burung itu dan membantainya tanpa bersuara dengan memelintir lehernya, supaya jangan sampai jeritan si burung menakuti burung lain yang sedang terbang di udara, dan hendak turun masuk semak-semak.
Seperti itu juga, musuh jiwa-jiwa kita tidak selalu menyiksa para pendosa tegar pada saat kematian, karena sudah mencengkeram orang-orang itu dengan cakar mereka. Sebaliknya, roh-roh jahat membiarkan mereka mati dengan aman tenteram, demi memperdayai para pendosa tegar lain dan membuat mereka percaya bisa hidup jahat dan mati baik. Soal ini, bisa saya kutip banyak sekali contoh, namun cukup satu saja.
Yohanes Taulère bercerita tentang dua bersaudara, yang satu jahat seperti Kain, yang lain tak bersalah seperti Habel. Mereka berdua jatuh sakit pada waktu yang sama, dan segera sekarat. Mereka dibantu oleh imam pengakuan, yang memperlihatkan sebuah salib kepada yang satu dan yang lain.
Saudara jahat mengambil salib itu, menempelkan salib pada bibirnya, mengecupnya dengan cinta. Boleh dibilang seperti melihat Maria Magdalena bertobat. Yang lain justru sebaliknya: dia yang dulu selalu hidup seperti malaikat itu meludahi wajah salib, dan berpaling supaya tidak melihatnya. Semua orang yang melihat peristiwa itu syok. Allah berkehendak mereka berdua pulih kesembuhannya.
Yang pertama ditanya soal devosi lembut yang diperlihatkannya kepada Yesus Kristus : Devosi apa? jawabnya; berpikir tentang Yesus Kristus saja tidak, aku mengecupnya karena salib itu terbuat dari perunggu, kukira bisa menyegarkan bibirku sedikit, karena sudah panas dari demam. Yang lain ditanya mengapa diludahinya salib itu: Bukan salibnya yang kuludahi, jawabnya, jangan sampai Allah berkenan aku berbuat seperti itu! Aku meludahi roh jahat yang merintangi aku dengan salib, supaya aku tidak bisa melihat salib tersebut.
Namun sekiranya kedua bersaudara itu mati, akan seperti apa penilaian orang soal keselamatan kekal mereka? Ah! Jangan sesat, hai pendengarku yang terkasih, jangan mau diperdayai dan janganlah mengandalkan selubung devosi yang mengerudungi orang jahat pada saat kematian.
Orang yang selama hidupnya tidak tahan berurusan dengan rohaniwan, pada waktu kematian meminta bersahabat dengan mereka; orang lain yang selama hidupnya selalu mencemooh praktik-praktik devosi, tidak akan mati dengan senang kalau tidak dikenakan padanya semua tali ordo St. Fransiskus, semua relikui dan semua skapulir yang digunakan di negeri itu. Orang angkuh yang berfoya-foya tak terkendali, dan mengusir orang miskin dengan arogansinya serta ancaman-ancamannya, ingin mengenakan karung rombeng yang dikenakan para peniten. Oh! Betapa indah penampilan itu! Betapa menyentuh sandiwara itu! Namun Allah tahu harganya. …
Lihatlah pengalaman yang menentang bualan besar anda itu. Jawaban terbaik yang saya punya untuk melawannya, adalah ajaran perkasa Santo Hieronimus ketika sudah tua dan sedang menyentuh batu nisan, ajaran yang dia wariskan kepada para muridnya. Dengarlah dan gemetarlah: Vix de centum millibus, quorum mala semper vita fuit, meretur in morte a Deo habere indulgentiam unus. “Dari antara seratus ribu orang yang telah hidup dalam dosa, hampir tak ada seorang pun yang beroleh ampun dari Allah pada waktu kematiannya, dan beroleh keselamatan.”
Tidak cukupkah ini untuk meyakinkan anda bahwa seorang pendosa tegar tidak hanya takkan mau bertobat pada waktu kematian, namun bahwa sekiranya dia mau, dia tidak akan mampu. Lantas, akan terjadi apa? Sayang sekali: karena ditinggalkan Allah, pendosa tegar itu akan mati terkutuk, seperti yang terjadi kepada pria muda jangak yang jatuh sakit parah, sehingga sejak hari pertama jatuh sakit, dia melihat ada tertulis pada tirai ranjangnya dengan huruf tebal, putusan Yesaya ini: Quaerite Dominum dum inveniri potest[14]; “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui.” Kilat ini hanya menjadikan orang muda itu lebih buta, dan dia tidak bergegas meminta imam pengakuan datang. Hari kedua, dilihatnya tertulis pada tempat yang sama: Quaeretis me, et non invenietis[15]. “Kalian akan mencari-Ku, tetapi kalian tidak akan dapat menemukan Aku”. Sambaran guntur itu menjadikannya tuli. Pada akhirnya, di hari ketiga, dia membaca perkataan ini: Et in peccato vestro moriemini[16]. “Dan kamu akan mati dalam dosamu.” Melihat kerlipan kilat itu, pemuda tersebut mati putus asa, seraya mengeluarkan jeritan-jeritan serta penghujatan-penghujatan. Mari kita beristirahat.
✝
POIN KETIGA.
X. “Romo, Romo perlu tahu bahwa saya ini teolog.”
“Lebih bagus lagi! Tetapi, saya tidak mau anda menjadi salah seorang dari teolog kasih, yang menugaskan diri anda untuk memperlebar jalan menuju Surga”
‘Eh! Romo, kalau begitu kaku, begitu keras, nanti tidak akan menjadi orang brilian di zaman kita; berilah kasih, berilah kasih.’”
“Seperti itulah cara mereka berbicara. Namun silakan anda berbicara, sebab saya pada hari ini sangat ingin mendapat kehormatan untuk mempertobatkan seorang teolog.”
“Anda berkata kepada saya, bahwa Allah tidak mungkin membuat diri-Nya sendiri berjanji kepada manusia atas nama keadilan ... namun Dia bisa membuat diri-Nya sendiri berjanji karena kesetiaan-Nya: karena Dia setia dalam segala sesuatu, fidelis Dominus in omnibus[17], kalau Dia membuat suatu janji, janji itu harus ditepati-Nya kalau tidak ingin berdusta. Menimbang prinsip ini, kalau dikata bahwa seorang pendosa tegar tidak akan mau bertobat di waktu ajal karena kehendaknya terganggu, itu saya terima; kalau dikata bahwa si pendosa tegar tidak akan bisa bertobat seandainya kasusnya adalah ketidakmampuan moral, seperti sudah dijelaskan dengan cermat, itu boleh juga; namun kalau dikata bahwa meski mau dan meski mampu, si pendosa tegar namun demikian tidak akan bertobat akibat telah ditinggalkan Allah, ini tidak akan saya terima sedikit pun; kalau tidak, lantas, dari kitab-kitab suci ini, haruslah dihapus janji yang dibuat begitu seringnya oleh Allah untuk merangkul pendosa setiap kalinya si pendosa berpaling menghampiri tangan Allah: In quacumque hora ingemuerit peccator, salvus erit.”
“Takkan besar mudaratnya kalau anda menghapus itu: orang tak bisa menghapus yang tidak tertulis. Selidikilah Kitab Suci dari awal sampai akhir halamannya, anda tidak akan pernah menemukan dalil itu; namun justru anda akan menemukan banyak putusan menyeramkan yang menghantar banyak teolog pada kesimpulan, bahwa sama halnya kerahiman ilahi telah meneguhkan jiwa-jiwa tertentu dalam rahmat sehingga mereka tidak pernah berdosa; demikian juga, beberapa orang fasik telah ditinggalkan Allah, sehingga mereka, kalau boleh dikata, diteguhkan dalam kejahatan, sehingga mereka tidak akan pernah bertobat. Para teolog ini menyatakan bahwa kepada jiwa-jiwa yang ditinggalkan ini, Allah tidak hanya menolak memberi pertolongan-pertolongan istimewa, namun bahkan pertolongan-pertolongan biasa sekalipun, dan mereka mendasari pandangan ini pada ayat nabi Hosea: Voe eis cum recessero ab eis[18] ‘Sungguh, celakalah juga mereka pada waktu Aku menjauh dari pada mereka!’, seturut tafsir Kepala Biara Rupertus: Postquam recessero ab eis, sequitur adhuc voe, id est judicium aeternae damnationis; ‘’Sesudah Aku menjauhi mereka,’ ujar-Nya, ‘datang lagi suatu kutukan lain, yakni hukuman pengutukan kekal.’’
Saya bukan teolog yang sekeras itu, dan saya tetap menerima bahwa jiwa yang ditinggalkan Allah tetap memiliki rahmat sufisien untuk bertobat. Namun faktanya, dengan rahmat itu saja, jiwa tidak akan bertobat, sehingga ketika jiwa sudah mengalami keadaan yang menyedihkan itu, itulah yang terus berlaku kepadanya untuk selama-lamanya; tiada tersisa apa-apa baginya selain pengutukan kekal[19]. Sayang sekali! Saya rasakan hati saya berdegup kencang karena pikiran ngeri macam itu; supaya bisa mengungkapkan duka saya ini, perlu air mata alih-alih kata-kata. Oh, jiwa malang, ada di mana engkau, supaya aku bisa menumpahkan air mataku kepadamu? Tak ada yang bisa tahu (saya setuju) kapan jiwa ditinggalkan Allah, kalau bukan Allah sendiri: Deus cujus vult miseretur, quem vult indurat[20]; ‘Allah berbelas kasih ketika Dia berkenan, Dia mengeraskan hati ketika Dia berkenan’; ...
Berikut ini suatu hal yang jelas: bagaimana orang tahu badan sudah ditinggalkan oleh jiwa? Orang mengetahuinya ketika mereka punya mata namun tidak melihat, telinga namun tak mendengar, lidah namun tak berbicara, kaki namun tak berjalan, tangan namun tak bertindak, hati namun tidak hidup; persis seperti itulah yang tiba pada seorang pendosa yang ditinggalkan Allah. Sebab karena Allah adalah sahabat jiwa-jiwa, ketika Dia meninggalkan jiwa, si pendosa tetap buta dan tidak lagi mengenali perkara-perkara akhirat. Perkara-perkara itu tidak lagi dipikirkannya, tampak baginya seperti permainan imajinasi, dan sejak itu dia mengolok-oloknya, menertawakannya layaknya dongeng hampa. Dia menjadi tuli terhadap panggilan-panggilan Allah: khotbah maupun nasihat tidak menimbulkan kesan baginya. Dimilikinya lidah nerakawi yang menjangkiti siapa saja yang mendengarnya; hatinya adalah hati orang terkutuk yang baal terhadap rahmat; dan meski sudah tenggelam dalam kebencian, percabulan dan perampokan, dia menganggap enteng pengkhotbahan dan mengaku dosa hanya demi mengejutkan imam pengakuan.
Lantas biarlah orang sesat itu berlari menuju kebinasaan, itu pantas dia dapat. Enyahlah, hai orang celaka, Bapa yang kekal tidak lagi memiliki kerahiman bagimu, darah Putra Tunggal-Nya tidak lagi berguna apa-apa bagimu, rahmat Roh Kudus tidak lagi berdaya guna; bagimu, tiada lagi sakramen dalam Gereja, tiada lagi bela rasa para Kudus; engkau telah menjadi kehinaan bagi seluruh ciptaan. Enyahlah, hai orang celaka, enyahlah engkau masuk ke jurang. Datanglah, hai roh jahat untuk membelenggu orang fasik itu, cabutlah hatinya yang keras itu dari dadanya, gerogotilah, koyakkanlah, agar menjadi mangsa murkamu untuk sepanjang segala keabadian. Itu pantas dia dapat, itu pantas dia dapat.”
XI. Masih harus berbicara apa lagi, para pendengarku yang terkasih? Saya akan hanya menyampaikan kepada anda perkataan Santo Bernardus kepada Paus Eugenius. Orang kudus itu, setelah menggambarkan lukisan hati tegar kepada Sri Paus, berkata kepadanya: Maukah anda tahu, Bapa Tersuci, lukisan siapa ini yang baru saja saya gambar? Akan saya beritahukan kepada anda, bukan untuk menghina Paduka Suci, namun karena ingin menyingkapkan kebenaran kepada anda. Hati tegar yang baru saja saya bicarakan ini adalah milik anda, Bapa Suci, jika perkataan saya tidak membuat anda gemetar ketakutan: Tuum est si non expavisti. Mendengar perkataan itu, Sri Paus menjadi gemetar dan pucat pasi.
Ah! Saudara-saudaraku yang terkasih, perkenankanlah saya berbicara kepada anda pada pagi hari ini dengan kebebasan yang dimiliki Santo Bernardus kepada Paus Eugenius. Hai, para imam terhormat, rohaniwan, kaum ningrat laki-laki dan perempuan, pengrajin, petani, laki-laki dan perempuan, dengarkanlah saya hai anda semua: tahukah anda hati tegar siapa yang baru saya ceritakan kepada anda sampai sekarang? Hati anda, kalau pada pagi ini anda tidak gemetar dari ubun-ubun sampai ujung kaki mendengar kebenaran-kebenaran besar ini. Milik anda, jika anda tidak keluar dari sini dengan mata menghadap tanah, resap dengan rasa takut menyelamatkan: bahwa nama anda sudah terdaftar di antara jiwa-jiwa yang ditinggalkan Allah. Milik anda, jika anda tidak segera berlutut di hadapan iman pengakuan, untuk menangisi dan membenci kehidupan anda yang tidak layak bagi orang Kristen, yang dengannya anda telah membuat aib bagi karakter anda.
Namun buat apa menghabiskan tenaga dan sampai bermandi keringat demi membawa pulang para pendosa tegar, ketika Injil meyakinkan kita bahwa orang berdosa semacam itu sudah berada sedemikian rupa di bawah kuasa Iblis, sehingga meski seisi Neraka ada di hadapan mereka, mereka tetap tidak mau bertobat? Neque si quis ex mortuis resurrexerit, credent[21]. Saya merasa iba dengan anda, hai para imam terhormat, anda sekalian yang oleh kasih diberi tugas membantu orang sekarat semacam ini. Cara macam apa yang anda andalkan untuk mempertobatkan mereka? Apakah anda memperlihatkan gambar Yesus disalib bersimbah darah kepada mereka? Jangan sampai Allah berkenan! Gambar seperti itu akan menjadi objek yang terlalu menakutkan bagi mereka.
Kristus yang terlihat di siang hari membakar cinta kasih dengan keelokan-Nya, namun terlihat di malam hari ketika ajal sudah dekat, mengilhamkan rasa ngeri. Para rasul dulu mengikut Yesus dengan bahagia di siang hari; namun begitu Dia tampak di malam hari, mereka mulai menjerit gemetar ketakutan: “itu hantu, itu hantu.” Phantasma est[22]. Betul-betul hantu yang ngeri bagi para pendosa tegar, kalau di ranjang kematian, mereka melihat Allah disalib!
Demikianlah yang kita lihat dialami seorang bangsawan Spanyol ketika Santo Fransiskus de Borgia sedang berkhotbah kepadanya. Orang kudus itu pergi mengunjungi si bangsawan di ranjang kematiannya, dan karena bangsawan yang sedang sakit itu dengan tegar menolak menyambut sakramen-sakramen terakhir Gereja, Santo Fransiskus mulai mendesak orang tersebut dalam semangat suci, agar menggunakan saat-saat yang masih diberikan kepadanya oleh Allah untuk menjamin hidupnya di akhirat. Namun, karena hanya mendapat jawaban berisi keputusasaan, Santo Fransiskus menarik sebuah salib dari dadanya. Ujarnya kepada bangsawan Spanyol itu: Setidak-tidaknya, sudilah memberi hormat kepada Juru Selamat ini dengan menatap-Nya, Dia yang dengan begitu murah hati berserah nyawa demi anda. Lalu, orang sekarat tegar itu mengalami rasa ngeri sesaat, dan tiba-tiba menjawab:
Orang kudus itu membisu melihat ketegaran sebegitu sataniknya; namun sang Juru Selamat sendirilah yang sekarang melanjutkan kata-katanya, dan berfirman kepada orang tegar itu:
Usai perkataan ini terucap, terlihat darah mengalir deras dari kaki dan tangan salib. Batu karang macam apa yang takkan terbelah ketika melihat Darah mulia itu, ketika mendengar sabda lembut nian dan kian penuh rasa sayang dari Yesus? Namun demikian, si penjahat berpaling wajah dengan gusar, menepis undangan yang menyentuh itu, seraya berkata:
Lalu, seturut kisahnya, Kristus melepas satu tangan-Nya dari salib dan mendekatkan tangan itu ke lambung-Nya yang ditikam. Diambil-Nya segenggam darah. Kemudian, mengangkat tangan-Nya, Dia lemparkan darah-Nya kepada wajah bangsawan itu, seraya berkata:
Orang celaka itu langsung berteriak dan menghujat, dan di tengah-tengah serangan amarahnya, dia menyerahkan jiwa ke dalam tangan roh jahat.
XII. Di sini, saudara-saudaraku yang terkasih, bersimpuhlah di lutut anda, dan berilah saya sebatang salib, namun bukan dengan kepala terangkat untuk memohon kerahiman; sebab bagi para pendosa tegar, tidak ada lagi kerahiman; namun salib dengan kepala menunduk, badan suci-Nya berwujud seperti busur serta salib-Nya sendiri seperti anak panah, guna menembus hati para pendosa tegar dari satu sisi ke sisi lain.
Lihatlah, hai pendosa tegar, lihatlah Allah tersalib yang telah mengubah belas kasih-Nya menjadi amarah, dan yang berseru dari atas salib itu: Ego vado, “Aku akan pergi”. Lihatlah, hai pendosa, lihatlah Allah meninggalkanmu: Ego vado. Adakah kemungkinan anda takkan bangun mendengar sambaran guntur ini? Aku akan pergi, Dia mengulangi, ego vado, dan anda tetap keras dalam ketegaran anda?
Ah! Lihatlah, sebagai penutup, Dia bersabda kepada saya, agar pada salib-Nya, saya tuliskan putusan kekal: ditinggalkan Allah. Demikianlah putusan pengutukan anda untuk selama-lamanya. Sayang sekali! Mendengar itu, saya gemetar ketakutan. Lalu, saya ini, pelayan Yang Mahatinggi, di hadirat Surga dan bumi, di hadirat Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putra dan Roh Kudus, saya serahkan jiwa pendosa tegar itu ke genggaman tangan roh jahat, dan saya tinggalkan dia seutuh-utuhnya ... Ah! Saya merasa mau pingsan, dan tak berani saya mengujarkan perkataan mengerikan itu.
Namun seperti apa gerangan pendosa paling tegar yang hadir di sini? Mau tahukah anda, saudara-saudaraku yang terkasih? Sayalah orang itu, sayalah yang patut ditinggalkan Allah. Dan kalau pertobatan sejati adalah satu-satunya jalan menghindari kemalangan sedemikian besarnya itu, biarlah saya mengamalkannya dengan sungguh-sungguh pada pagi hari ini: maka bertobatlah, bertobatlah! Yang harus diutamakan adalah menjamin keselamatan diri! …
Saudara-saudaraku pendosa, Allah menyatakan kepada kita bahwa di saat kematian, Dia akan menolak mendengar diri kita: Quaeretis me, et in peccato vestro moriemini; tak dikatakan-Nya bahwa anda tidak akan mencari Dia, justru, Dia berkata secara positif bahwa anda akan mencari-Nya: Quaeretis me; namun sebagai hukuman diri anda menunda-nunda, anda tidak akan menemukan-Nya.
Karena itu, kalau anda beroleh berkat boleh mendengar suara-Nya pada hari ini, janganlah keraskan hati anda: Hodie si vocem ejus audieritis, nolite obdurare corda vestra[24]. Biarlah hari ini anda masing-masing pergi bersimpuh menemui imam pengakuan, biarlah hari ini kita masing-masing mengubah hidup kita; hendaknya ketika tiba di rumah, kita masing-masing mengecup kaki salib dan menyatakan kita ingin menjadi milik Yesus dan milik-Nya seutuh-utuhnya. Atau, kalau tidak bisa berbuat sebaik itu, semoga dengan air mata dan desahan-desahan, kalau kita sampai sekarang hidup sebagai pendosa, jangan sampai kita mati sebagai pendosa tak bertobat. Semoga Allah menjaga kita dari perihal itu. Amin.
Catatan kaki:
Œuvres du bienheureux Léonard de Port-Maurice [Karya-Karya Beato Leonardus dari Porto Mauritio], terjemahan F.-I.-J. Labis, T. III, Paris, H. Casterman, Éditeur, 1859, hal. 287-316.
[1] Deut. 32, 28-29.
[2] Jonae 1, 6.
[3] Jerem. 30, 23.
[4] Psal. 15, 4.
[5] Psal. 58, 7.
[6] Psal. 139, 12.
[7] Eccli. 3, 27.
[8] Prov. 1, 26.
[9] Prov. 1, 26.
[10] Ps. 67, 22.
[11] Psalm. 103, 12.
[12] Joan. 9, 4.
[13] Job. 34, 20.
[14] Is. 55, 6.
[15] Joan. 7, 34.
[16] Jo. 8, 21.
[17] Psal. 144, 13.
[18] Ose. 9, 12.
[19] Contoh mengerikan dari pengutukan macam ini bisa ditemukan pada Riwayat Hidup Beato Leonardus sendiri, Œuvres, vol. I, hal. 169 dan 160.
[20] Rom. 9, 18.
[21] Luc. 16, 31.
[22] Matth. 14, 26.
[23] Ezech. 33, 11.
[24] Ps. 94, 8.
Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 3 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 7 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 8 bulanBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 9 bulanBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 9 bulanBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 9 bulanBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 9 bulanBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 10 bulanBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 12 bulanBaca lebih lanjut...Halo – devosi kepada Santa Perawan Maria itu krusial untuk keselamatan dan pengudusan jiwa. Namun, dan juga yang terpenting, orang harus 1) punya iman Katolik sejati (yakni, iman Katolik tradisional),...
Biara Keluarga Terkudus 12 bulanBaca lebih lanjut...