^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Definisi Dogmatis Paus Benediktus XII tentang Surga dan Pembaptisan
Ada sebuah definisi dogmatis luar biasa penting yang semakin menguatkan posisi tidak adanya orang yang selamat tanpa Sakramen Pembaptisan. Di tahun 1336, Paus Benediktus XII mengeluarkan surat bulla terkenalnya, Benedictus Deus. Dokumen ini menyudahi kontroversi yang dahulu timbul pada masa pemerintahan Paus sebelumnya, Paus Yohanes XXII (wafat tahun 1334), tentang perlu tidaknya jiwa-jiwa dari orang-orang yang selamat (setelah mereka menjalani waktu yang diperlukan di Purgatorium/Api Penyucian) menantikan Pengadilan Umum untuk menerima Visiun Beatifis (penglihatan akan Allah).
Dalam suatu proklamasi dogmatis sangat berpresisi dan spesifik soal siapa saja yang berada di Surga, Paus Benediktus XII dengan khidmat mendefinisikan bahwa mereka yang selamat, segera setelah mati & begitu ditahirkan (jikalau perlu), menerima Visiun Beatifis. Dalam definisi dogmatisnya ini, Sri Paus dengan amat berpresisi menjabarkan kategori orang-orang yang ada di Surga atau bisa berada di Surga. Proklamasi khidmatnya ini mendeklarasikan dan menekankan bahwa mereka yang dari periode Kristiani meninggalkan dunia ini & masuk ke Surga, sudah menerima pembaptisan. Sama sekali tidak dibuat pengecualian. Kebenaran yang dituangkan dokumen ini menentang “pembaptisan darah”, sekaligus juga “pembaptisan keinginan”, serta semakin menerangkan kaidah iman sejati pada perkara krusial ini.
Tidak diragukan, surat bullanya ini bersifat dogmatis & infalibel. Dokumen ini dengan tegas membenarkan orang-orang yang menganut posisi yang benar: bahwa tidak ada orang yang selamat tanpa pembaptisan.
Ada sejumlah poin sangat penting yang perlu diperhatikan soal definisi khidmat ini.
Pertama-tama, sekiranya pernah ada kesempatan bagi Gereja Katolik/seorang Paus untuk mengajarkan bahwa ada pengecualian bagi perlunya pembaptisan & iman Katolik untuk keselamatan, atau bahwa ada martir tak dibaptis/katekumen tak dibaptis yang dapat masuk Surga, atau, bahwa yang disebut-sebut pembaptisan keinginan & darah itu ada, lantas kesempatan mengajarkan hal demikian itu adanya di sini: dalam definisi dogmatis tentang siapa saja yang menerima Visiun Beatifis. Namun, kita malah mendapati definisi dogmatis yang menyatakan bahwa siapa pun juga yang meninggal dari periode Kristiani (rasul, martir, pengaku iman, dan anggota lain dari umat beriman) yang masuk Surga, sudah menerima pembaptisan.
Gereja & kaidah iman sejati mengajarkan bahwa bahwa tidak ada orang yang masuk Surga tanpa pembaptisan. Bahkan, Sri Paus menentang ide “pembaptisan darah” dengan secara spesifik menyatakan bahwa para martir, serta pengaku iman, perawan, dll. sudah menerima (susceptum) pembaptisan: “para Rasul, martir, pengaku iman, perawan dan semua umat beriman suci lain yang mati sesudah mereka menerima pembaptisan suci Kristus.”
Semua Martir yang berada di Surga, termasuk para Martir kudus dari Nagasaki, telah menerima Sakramen Pembaptisan
Menurut definisi dogmatis ini, tidak ada yang namanya martir tak dibaptis di Surga, ataupun pengaku iman, perawan, dll. tak dibaptis di Surga. Justru, para martir, pengaku iman, perawan, dll. yang masuk Surga adalah mereka yang sudah menerima pembaptisan. Dan kalau-kalau orang mau membuat argumen menyesatkan bahwa perkataan ini, “pembaptisan suci Kristus”, mencakup yang disebut-sebut pembaptisan apa pun juga selain pembaptisan air yang esa, argumen mereka ditentang oleh fakta-fakta berikut ini.
Pertama-tama, dalam teks dan konteksnya, Sri Paus berbicara tentang anak-anak yang juga masuk Surga dan telah lahir kembali “dalam pembaptisan yang sama milik Kristus itu”. Jadi, pembaptisan suci Kristus, yang harus diterima oleh para martir, pengaku iman, perawan, dll. supaya bisa masuk Surga, adalah pembaptisan suci yang sama milik Kristus yang diberikan kepada anak-anak: pembaptisan air. Terlebih, istilah yang digunakan pada definisi dogmatis ini, pembaptisan suci (sacrum baptisma dalam bahasa Latin), digunakan dalam teks-teks Magisterium untuk merujuk kepada Sakramen Pembaptisan. Harap lihat surat bulla Cantate Domino (Denzinger 712) dari Konsili Florence. Surat bulla ini merujuk kepada Sakramen tersebut diberikan kepada bayi-bayi, dan kemudian menyebutnya “sacrum baptisma” (pembaptisan suci), istilah yang sama dengan yang digunakan Paus Benediktus XII. Istilah “sacrum baptisma” itu sudah digunakan berabad-abad oleh Gereja untuk menggambarkan ritus atau Sakramen Pembaptisan. Pembaptisan Suci Kristus, yang diterima oleh para rasul, pengaku iman, anak-anak, perawan, dll. adalah Sakramen Pembaptisan. Terlebih, definisinya mengidentifikasi semua orang yang ada di Surga dari periode Kristiani ini sebagai umat beriman, dan hanya orang yang sudah dibaptis airlah bagian dari umat beriman.
Selain itu, di Konsili dogmatis Vienne, Paus Klemens V menuangkan secara otoritatif ajaran resmi Gereja tentang Pembaptisan Kristus atau dibaptis ke dalam Kristus.
Seperti bisa kita lihat, Gereja mengajarkan bahwa satu pembaptisan yang esa yang meregenerasikan semua orang yang dibaptis dalam Kristus, diselenggarakan di dalam air. Kata yang diterjemahkan sebagai “satu pembaptisan yang esa” dalam bahasa Latin adalah unicum. Bisa juga diterjemahkan dengan kata “unik”. Pembaptisan unik yang meregenerasikan semua orang yang dibaptis dalam Kristus, dan harus diakui dengan setia oleh semua orang, adalah pembaptisan air. Maka dari itu, anda tidak bisa dibaptis ke dalam Kristus atau menerima pembaptisan Kristus, kalau anda tidak dibaptis dalam pembaptisan unik yang diselenggarakan dalam air.
Definisi khidmat Paus Benediktus XII bahwa para rasul, martir, pengaku iman, perawan, yang masuk Surga telah menerima pembaptisan Kristus, pembaptisan yang sama dengan yang diteriman anak-anak, menentang ide bahwa ada orang yang bisa selamat tanpa pembaptisan. Proklamasi Sri Paus bahwa semua martir di Surga telah menerima pembaptisan, melawan ide “pembaptisan darah”, gagasan bahwa martir bisa masuk Surga tanpa pembaptisan. Ajaran khidmat Sri Paus tentang pembaptisan menentang “pembaptisan darah” dan “pembaptisan keinginan” sekaligus.
Air dibutuhkan untuk Pembaptisan yang mendatangkan keselamatan
Seandainya pembaptisan keinginan & darah adalah doktrin & ajaran sejati Gereja, lantas ini merupakan kesempatan emas bagi Sri Paus untuk menyatakan bahwa ada orang yang masuk Surga tanpa pembaptisan. Namun Sri Paus mengajarkan kebalikannya. Yang dibahas oleh Sri Paus adalah kategori setiap orang: martir, pengaku iman, perawan, anggota lain para umat beriman, dan pada setiap kasus, orang yang masuk Surga dari periode Kristiani sudah menerima pembaptisan. Alasannya: tidak ada orang yang dapat masuk Surga tanpa pembaptisan.
Memang benar, kita lihat penekanan pada kebenaran bahwa mereka yang masuk Surga dari periode Kristiani sudah dibaptis dalam deklarasi-deklarasi tentang anak-anak di pernyataan khidmat Paus Benediktus XII ini:
Entah anak-anak, martir, pengaku iman, atau yang lain-lainnyakah, tak ada orang dari periode Kristiani yang masuk Surga tanpa pembaptisan. Inilah doktrin sejati. Inilah ajaran infalibel Gereja Katolik. Inilah kaidah iman sejati. Definisi dogmatis ini dengan tegas menguatkan & membenarkan posisi yang sudah kami pertahankan soal perkara krusial ini.
Harap dicatat juga bahwa definisi dogmatis ini sangat berpresisi. Di dalamnya, dibuat berbagai kualifikasi dan pengecualian, kalau ada, seperti bagi mereka yang tidak perlu masuk Purgatorium (Api Penyucian) dan bagi mereka yang perlu. Contohnya, Sri Paus berkata:
Didefinisikan juga oleh Sri Paus bahwa mereka yang mati dalam dosa berat masuk Neraka. Maka dari itu, orang-orang sudah dibaptis yang masuk Surga, setelah melalui penahiran yang perlu, bukan orang-orang yang mati dalam dosa berat. Sri Paus menyertakan semua skenario demi memastikan definisinya itu betul-betul akurat. Karena pernyataan ini infalibel, lantas tidak mungkin mendeklarasikan yang salah & akan menyertakan kualifikasi-kualifikasi manakala ada. Sekiranya yang disebut-sebut pembaptisan keinginan/darah itu ada, lantas pengecualian-pengecualian atau kualifikasi-kualifikasi itu tentunya akan disertakan dalam definisi dogmatis ini. Namun kenyataannya tidak. Bahkan, kita justru mendapati ajaran yang berkebalikan: bahwa para martir, perawan, anak-anak, dan orang lain mana pun juga yang masuk Surga dari periode Kristiani sudah dibaptis.
Konsisten dengan penyelenggaraan Allah untuk setia mengawasi dan melindungi ajaran Gereja-Nya, Dia memastikan posisi sejati tentang pembaptisan dituangkan dalam definisi dogmatis yang betul-betul penting ini, definisi tentang siapa saja yang masuk Surga. Pertimbangkan saja, orang yang menyangkal ajaran dogmatis Gereja bahwa manusia harus dibaptis supaya masuk Surga (yang juga merupakan ajaran Alkitab) itu bukan kalangan bidah saja, namun banyak dari kalangan “tradisionalis” dan yang disebut-sebut imam tradisionalis, percaya bahwa mengakui ajaran Gereja pada perkara ini, adalah dosa berat. Mereka sangat salah dan betul-betul teperdaya.
Catatan kaki:
[1] Denzinger 530.
[2] Denzinger 2195; Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Volume 3 (1903-1939), hal. 274.
[3] Denzinger 2286.
[4] The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 4 (1939-1958), hal. 127.
[5] Denzinger 696; Decrees of Ecumenical Councils {Dekret-dekret Konsili-konsili Ekumenis}, Vol. 1, hal.542.
[6] Denzinger 861; Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-dekret Konsili-konsili Ekumenis}, Vol.2, hal. 685.
[7] Denzinger 858.
Artikel-Artikel Terkait
Terima kasi suda berbagi doa ini.. 🙏🙏
Magdalena binti said 6 bulanBaca lebih lanjut...Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 11 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 1 tahunBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 1 tahunBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 1 tahunBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 2 tahunBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 2 tahunBaca lebih lanjut...