^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Ensiklik Ad Extremas - Paus Leo XIII, 1893 - Pendirian Seminari di Hindia Timur
AD EXTREMAS
SURAT ENSIKLIK
PADUKA SUCI KITA LEO XIII
PAUS, BERKAT PENYELENGGARAAN ILAHI
Tentang Pendirian Seminari-Seminari di Hindia Timur
Kepada Saudara-Saudara Kami, Para Patriark, Primat, Uskup Agung dan Uskup serta Ordinaris Setempat Lainnya dalam Damai dan Persekutuan dengan Takhta Apostolik
LEO XIII, PAUS
Saudara-Saudara yang Terhormat, Salam dan Berkat Apostolik.
Di pikiran Kami, hadir negeri Hindia yang amat luas dan sangat Kami kasihi. Di sana, para pekerja Injil sejak berabad-abad lamanya menebarkan keringat jerih payah mereka. Benak Kami dilawat pertama-tama oleh kenangan akan Rasul Tomas Terberkati. Orang kudus ini dengan benar disebut sebagai perintis penginjilan negeri Hindia. Kemudian, Fransiskus Xaverius, yang lama sesudahnya, membaktikan diri untuk menggeluti usaha mulia tersebut. Dengan ketabahan serta kasihnya yang luar biasa, dia berhasil membimbing ratusan ribu orang Hindia agar meninggalkan dongeng-dongeng dan juga takhayul najis kaum Brahmana (a Brachmanarum fabulis atque impura superstitione traduceret), demi membawa mereka kepada agama dan iman sejati.
Mengikuti jejak para pahlawan suci itu, ada banyak imam, reguler dan sekuler, yang telah menerima otoritas serta misi dari Takhta Apostolik, untuk di kemudian harinya dengan penuh semangat meneruskan karya, pemeliharaan serta penyebarluasan misteri-misteri serta lembaga-lembaga Kristiani yang dahulu dibawakan oleh Tomas dan ditegakkan kembali oleh Fransiskus Xaverius. Namun demikian, di negeri amat luas itu, ada begitu banyak orang yang masih terasing dari kebenaran dan terpenjara dengan malang di dalam kegelapan takhayul. Alangkah sangat luas ladang yang terhampar terutama di wilayah Utaranya, wilayah yang sama sekali tidak dipersiapkan untuk menerima benih Injil!
Menimbang keadaan-keadaan itu, Kami tentu saja menaruh harapan besar pada kebaikan dan kerahiman Allah Juru Selamat kita. Hanya Dialah yang mengenal kondisi serta waktu untuk mencurahkan karunia terang-Nya. Hanya Dialah yang dengan napas surgawi tersembunyi-Nya, terbiasa mendorong benak manusia berjalan menuju jalan keselamatan. Namun pada saat itu juga, Kami ingin dan harus bekerja semampu diri agar wilayah bumi yang sedemikian luasnya itu memetik beberapa buah kewaspadaan Kami.
Demi tujuan itu, Kami sudah menyelidiki apakah kita dapat menggunakan cara tertentu untuk semakin baik lagi menata dan mendatangkan kemajuan pada hal-hal yang menyangkut agama Kristiani di negeri Hindia Timur. Dan dengan demikian, Kami telah berhasil mengambil langkah-langkah tertentu yang baik dan berguna bagi Gereja Katolik.
Kami pertama-tama telah secara sah merampungkan sebuah Konkordat yang disepakati secara timbal balik bersama Raja Amat Setia negeri Portugal dan Algarves mengenai patronasi negeri Hindia Timur di bawah bangsa Portugis. Dengan demikian, hilanglah sudah perselisihan-perselisihan parah yang sejak lama mengganggu benak orang Kristen, dan hilanglah pula penyebab timbulnya perselisihan-perselisihan itu. Kemudian, Kami menilai bahwa sudah tiba saatnya komunitas-komunitas Kristiani yang sebelumnya taat kepada para vikaris atau prefek apostolik, dibuat menjadi dioses-dioses sejati yang memiliki para uskup serta dikelola seturut hukum pada lazimnya. Itulah sebabnya, melalui surat apostolik Humanae Salutis tertanggal 1 September 1886, telah didirikan sebuah hierarki baru di negeri Hindia Timur, beserta kelembagaan yang terdiri dari delapan provinsi gerejawi, yakni: Goa, yang menyandang gelar tituler patriarkat; Agra, Bombay, Verapoli, Kalkuta, Madras, Pondichery dan Kolombo. Pada akhirnya, Kami telah berusaha dengan gigih, agar dengan perantaraan Kongregasi Suci bagi Penyebaran Iman, boleh disediakan segala sesuatu yang Kami pandang berguna untuk membina kesalehan dan iman.
Namun demikian, masih ada satu perkara lagi yang besar dan terkait erat dengan keselamatan bangsa Hindia. Kami juga memanggil anda sekalian, Saudara-Saudara yang Terhormat, serta semua orang yang cinta kemanusiaan dan nama Kristiani, agar memusatkan perhatian kepada perkara yang satu itu: yakni, bahwa masa depan iman Kristiani tidak akan pernah terjamin di negeri Hindia dan penyebaran iman di sana tidak akan pernah menentu, selama tidak ada klerus yang dibentuk dari orang-orang pribumi, yang dibekali dengan persiapan baik untuk menunaikan tugas-tugas imamat. Haruslah mereka ini mampu, bukan hanya untuk membantu para imam yang telah datang dari luar negeri, namun mereka sendiri juga harus cukup mumpuni untuk melaksanakan tugas-tugas penggembalaan secara layak di negeri mereka.
Tradisi mengisahkan bahwa itu jugalah yang ada di pikiran Santo Fransiskus Xaverius dan bahwa dia dengan senang hati berkata pula bahwa agama Kristiani tidak akan dapat berdiri dengan kukuh di Hindia, tanpa kerja gigih dari para imam saleh dan pemberani yang terlahir di Hindia. Mudah dimengerti, betapa jitu pandangannya itu.
Memang benar bahwa karya yang dikerjakan golongan apostolik dari Eropa bertemu banyak rintangan, terutama ketidaktahuan bahasa negeri tersebut, bahasa yang sulit sekali untuk dipelajari. Kemudian, adat dan budaya yang baru; kita tidak kunjung terbiasa dengan adat dan budaya itu, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya. Itulah alasan para klerus asal Eropa harus tinggal di negeri asing tersebut. Selain itu, rakyatnya selalu sulit percaya orang asing. Karena itulah jelas adanya, bahwa pelayanan para imam pribumi akan menghasilkan buah yang jauh lebih banyak. Dari pengalaman, mereka mengenal selera, karakter dan adat-istiadat bangsa mereka; mereka tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus diam. Pada akhirnya, orang Hindialah yang mampu hidup di sana tanpa menimbulkan perlawanan sedikit pun dari sesama orang Hindia: ini adalah nilai tambah yang amat sangat penting sekali dituai faedahnya, terutama pada masa yang genting ini.
Kemudian, harus dicatat bahwa jumlah misionaris yang datang dari luar negeri sama sekali tidak memadai untuk kebutuhan-kebutuhan komunitas Kristiani yang ada di waktu ini. Statistik Misi membuktikannya dengan jelas. Ketidakcukupan ini juga semakin dikuatkan oleh fakta bahwa Misi-Misi Hindia tiada henti-hentinya meminta dan memohon Kongregasi Suci bagi Penyebaran Iman, agar kembali mengutus para pewarta Injil. Namun, kalau di saat ini, para imam asing tidak bisa memenuhi kebutuhan jiwa-jiwa, akan seperti apa jadinya nanti ketika jumlah orang Kristen bertambah? Sebab, jumlah imam yang diutus dari Eropa tidak bisa diharapkan bertambah secara proporsional. Lantas, kalau kita ingin menyediakan kebutuhan keselamatan bagi bangsa Hindia dan menegakkan agama Kristiani di tempat-tempat teramat luas ini secara berkesinambungan, kita perlu memilih orang-orang pribumi yang dipersiapkan secara saksama untuk kemudian menunaikan tugas-tugas imamat.
Ketiga, jangan lupa: semua orang berpendapat bahwa kecil kemungkinannya, namun tetap saja mungkin terjadi kondisi-kondisi di Eropa atau di Asia yang sedemikian rupa, sehingga para imam asing terpaksa harus meninggalkan Hindia. Dalam kasus itu, kalau tidak ada imam pribumi, lantas bagaimana gerangan agama bisa tetap bertahan, ketika tidak tersisa seorang pun pelayan sakramen ataupun guru pengajar doktrin?
Soal perkara ini, sudah terbukti jelas dari sejarah bangsa Cina, Jepang dan Etiopia. Terjadi lebih dari satu kali di negeri orang Jepang dan Cina: dulu, ketika umat Kristiani menjadi korban kebencian serta pembantaian, musuh yang di kala itu mengorbankan atau mengasingkan para imam asing, menyisihkan nyawa orang-orang pribumi. Orang-orang pribumi ini kenal betul bahasa dan adat-istiadat negeri mereka, dan mendapat bantuan dari kerabat serta sahabat mereka, sehingga tidak hanya mampu tinggal di negeri mereka tanpa dijatuhi hukuman, namun juga dengan bebas melaksanakan pelayanan suci serta membimbing jiwa-jiwa di seluruh provinsi negeri mereka. Berkebalikan di Etiopia, tempat dahulu kala sudah ada dua ratus ribu orang Kristen. Namun, akibat tidak ada klerus pribumi, lantas sesudah terjadinya pembantaian atau pembuangan misionaris asal Eropa, prahara penganiayaan yang datang seketika itu pun menyapu bersih seluruh hasil jerih payah yang dikerjakan sejak lama.
Pada akhirnya, haruslah kita memalingkan perhatian kepada zaman kuno. Yang kita lihat sudah ditetapkan sejak dahulu kala, haruslah kita lestarikan dengan penuh takwa. Namun, para Rasul memiliki adat dan kebiasaan dalam menunaikan tanggung jawab mereka: yakni, pertama-tama mengajarkan banyak orang tentang asas-asas Kekristenan. Dari antara para umat, para Rasul kemudian memilih orang-orang yang mereka anugerahkan tahbisan suci dan mereka angkat untuk memangku jabatan Uskup. Mengikuti teladan para Rasul itu, para Paus Roma pun tiada henti-hentinya memberi instruksi kepada golongan apostolik untuk mengerahkan segenap upaya mereka, guna membentuk klerus pribumi di semua tempat yang di kemudian hari mungkin akan berdiri komunitas Kristiani berjumlah cukup banyak. Maka dari itu, demi menjaga dan membina agama Katolik di Hindia, harus ada orang-orang Hindia yang diangkat menjadi imam, sehingga kapan pun juga, dapat dengan mudah menunaikan tugas-tugas suci dan membimbing saudara-saudara setanah air mereka yang beragama Kristen.
Demi tujuan itu, para kepala Misi-Misi Hindia menuruti nasihat dan anjuran-anjuran Takhta Apostolik, sehingga mereka telah mendirikan kolese-kolese untuk pendidikan para klerus di semua tempat mereka mampu mendirikannya. Memang benar, pada sinode-sinode di Kolombo, Bangalore dan Allahabad yang berlangsung di awal tahun 1887, telah didekretkan bahwa setiap dioses harus memiliki seminarinya masing-masing guna membentuk para imam pribumi; sekiranya ada uskup sufragan yang menghadapi rintangan kurangnya sumber daya sehingga tidak mempunyai seminarinya sendiri, dia wajib menanggung biaya pendidikan klerus diosesannya di seminari metropolitan.
Para uskup berusaha sekeras mungkin untuk mengimplementasi dekret-dekret berfaedah ini. Namun, kehendak baik mereka dihalangi oleh kurangnya sumber daya serta kurangnya imam yang mampu memimpin pembelajaran serta melaksanakan bimbingan disiplin. Dan juga, dapat dikatakan bahwa sama sekali tidak ada seminari atau tempat pendidikan murid yang benar-benar lengkap. Ini pun terjadi ketika pemerintahan sipil dan banyak dari kalangan Protestan sama sekali tidak menyayangkan biaya sepeser pun, atau menyisihkan usaha sekecil apa pun, untuk memberikan pengajaran yang cakap dan brilian kepada kaum muda.
Lantas, bisa dilihat betapa perkara mendirikan kolese-kolese di Hindia Timur itu datang tepat waktu dan selaras dengan kebaikan umat. Kolese-kolese itulah tempat anak-anak muda bangsa boleh dibesarkan dalam pengharapan akan Gereja dan diajar dalam segala mata pelajaran sains. Di situ jugalah mereka boleh dibentuk dalam kebajikan-kebajikan, yang tanpanya tugas-tugas suci tidak bisa dilaksanakan baik secara kudus maupun efektif. Kami sudah menyingkirkan sebab-sebab perselisihan dengan sebuah konkordat; Kami juga sudah mengatur administrasi dioses-dioses dengan hierarki gerejawi; dan jerih payah Kami ini pun akan meraih pucuk kegemilangannya, sekiranya Kami diperkenankan mewujudkan angan-angan Kami untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi para imam. Sebab, sekalinya seminari-seminari itu didirikan, Kami (seperti yang sudah Kami katakan), akan mendapat jaminan boleh melihat munculnya imam-imam cakap dalam jumlah banyak. Mereka ini pun akan menyebarkan terang kesalehan dan doktrin ke tempat jauh, serta dengan cerdas menggunakan sumber daya semangat mereka untuk menyebarkan kebenaran injili.
Demi karya sedemikian mulia yang mendatangkan keselamatan bagi begitu banyak orang, patut bagi orang-orang Eropa memberi bantuan, terutama karena biaya yang sebegitu besarnya tidak dapat Kami tanggung sendiri. Orang-orang Kristen berkewajiban … memandang setiap orang asing dengan penuh kasih, terutama ketika perkaranya adalah keselamatan kekal sesama manusia.
Itulah sebabnya, Saudara-Saudara yang Terhormat, Kami meminta anda sekalian dengan penuh kesegeraan, agar mengerahkan segenap tenaga anda untuk membantu maksud-maksud dan usaha-usaha Kami. Kabarkanlah tentang situasi agama Katolik di negeri jauh tersebut; jadikanlah para umat paham, bahwa harus dilakukan sesuatu untuk rakyat Hindia. Semoga keyakinan ini meresap terutama kepada mereka yang berpendapat bahwa tiada cara yang lebih baik untuk menggunakan uang, selain demi tujuan karya-karya amal.
Kami yakin bahwa anda sekalian tidak akan memohon kemurahan hati para umat anda dengan sia-sia. Sekiranya kemurahan hati mereka melampaui biaya-biaya yang diperlukan untuk kolese-kolese yang bersangkutan itu, akan Kami pastikan bahwa surplus dana yang diterima akan digunakan untuk karya-karya berfaedah dan saleh lainnya.
Sebagai tanda curahan karunia surgawi dan sebagai bukti niat baik kebapaan Kami, dengan penuh rasa sayang Kami anugerahkan berkat apostolik kepada anda sekalian, Saudara-Saudara yang Terhormat, kepada para klerus dan umat anda.
Diberikan di Roma, di Gereja Santo Petrus, tanggal 24 Juni 1893, tahun keenam belas Masa Kepausan Kami.
LEO XIII, PAUS
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari sumber berikut:
Sumber berbahasa Prancis:
Études religieuses, philosophiques, historiques et littéraires [Kajian-Kajian Agama, Filsafat, Sejarah dan Literatur], Jurnal bulanan terbitan para Bapa Serikat Yesuit, Tahun XXX, Vol. LIX, Bulan Mei-Agustus 1893, Paris, Victor Retaux et Fils, Libraires-Éditeurs, hal. 345-350.
Dibantu sumber berbahasa Latin:
Collectio epistolarum pastoralium, decretorum, aliorumque documentorum ab eminentissimo ac reverendissimo Petro Lamberto Cardinali Goossens, Archiepiscopo Mechliniensi, Primate Belgii, Tomus II, Mechliniae, H. Dessain, Summi Pontificis, S. Congregationis de Propaganda Fide et Archiep. Mechl. Typographus, MDCCCXCIV, hal. 763-766.
Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 2 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 6 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 8 bulanBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 9 bulanBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 9 bulanBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 9 bulanBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 9 bulanBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 10 bulanBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 12 bulanBaca lebih lanjut...Halo – devosi kepada Santa Perawan Maria itu krusial untuk keselamatan dan pengudusan jiwa. Namun, dan juga yang terpenting, orang harus 1) punya iman Katolik sejati (yakni, iman Katolik tradisional),...
Biara Keluarga Terkudus 12 bulanBaca lebih lanjut...