^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Ensiklik Etsi Multa Luctuosa - Paus Pius IX, 1873 - Penindasan Gereja di Italia, Swis, Jerman
ETSI MULTA LUCTUOSA
SURAT ENSIKLIK BAPA SUCI KITA
PAUS PIUS IX
Kepada semua Patriark, Primat, Uskup Agung, Uskup dan semua Ordinaris lainnya dalam rahmat dan persekutuan dengan Takhta Apostolik.
Roma, 21 November 1873.
PIUS IX, PAUS.
Saudara-Saudara Yang Terhormat,
Salam dan berkat apostolik.
Meski begitu banyak duka lara serta rasa perih nan getir yang telah Kami alami akibat berbagai macam sebab sejak awal Masa Kepausan Kami yang panjang, sudah sering kali Kami uraikan dalam surat-surat Ensiklik Kami, beban penderitaan Kami telah bertimbun sedemikian rupa pada tahun-tahun terakhir ini. Beban itu pun Kami rasa hampir akan meremukkan diri Kami, seandainya diri Kami tidak ditopang oleh Kerahiman Allah. Belum lagi, baru-baru ini, sudah terjadi peristiwa-peristiwa sedemikian rupa, sehingga kematian tampak lebih diidamkan daripada hidup yang dilanda begitu banyak prahara, dan Kami pun karena itu terpaksa berseru dengan mata terarah ke Surga: “Akan menjadi lebih baik bagi Kami untuk mati daripada menyaksikan kematian para Kudus.”[1]
Sebab, sejak Allah mengizinkan kota mulia ini, ibu kota kita, diambil alih dengan senjata dan ditundukkan kepada dominasi keturunan manusia pencemooh hukum, seteru agama, mereka yang menyetarakan perkara ilahi dengan perkara manusia, belum pernah berlalu satu hari pun yang tidak memunculkan bilur baru pada hati Kami yang sudah ditembus oleh luka-luka dan kegelisahan berbagai rupa. Bergaung pula pada telinga Kami, gema rintihan dan keluh kesah para rohaniwan dan rohaniwati yang diusir dari rumah-rumah mereka serta tiada berpunya apa-apa. Mereka ini dengan kejam dicerai-beraikan, diperlakukan seperti musuh, seperti yang biasa dilakukan di tempat-tempat merajanya fraksi-fraksi yang bertujuan mengubrakabrikkan tatanan masyarakat ini. Sebab, seturut perkataan Antonius Agung, seperti terungkap dalam kesaksian Atanasius, Iblis pada kenyataannya membenci semua orang Kristen; namun, sama sekali tidak bisa ditolerirnya kaum rohaniwan dan rohaniwati baik milik Yesus Kristus.
Kami bahkan baru-baru ini melihat peristiwa yang tidak pernah Kami duga akan terjadi. Telah Kami lihat dihapuskannya universitas Gregoriana Kami, universitas yang seturut kesaksian seorang penulis kuno yang membahas sekolahan Romawi kuno bagi bangsa Anglo-Sakson itu, telah didirikan supaya didatangi para klerus muda dari daerah-daerah jauh agar mereka bisa dididik dalam ajaran dan iman Katolik; dengan demikian, mereka mampu melindungi gereja-gereja mereka dari suatu ajaran bidah atau yang bertentangan dengan kesatuan Katolik, ketika kembali ke negeri-negeri mereka, usai diteguhkan dalam iman sejati.
Demikianlah, segala sarana dan segala alat yang membantu Kami memimpin serta memerintah Gereja diambil sedikit demi sedikit dari diri Kami ini dengan siasat jahanam. Itulah sebabnya bisa dilihat dengan jelas, kesesatan pernyataan lancang ini: bahwa di kota Kami ini, kota yang telah direnggut dari kuasa Kami, sama sekali tiada yang berkurang dari kemerdekaan Paus Roma dalam pelaksanaan pelayanan rohaninya dan dalam segala aksi yang mencakup hubungan-hubungannya dengan dunia Katolik. Justru sebaliknya, semakin hari semakin terang-benderang, bahwa diri Kami ini berbicara dengan kebenaran serta keadilan paripurna, setiap kalinya Kami telah mencela perenggutan nista kuasa Kami itu, sebagai perbuatan yang tujuan utamanya menghancurkan daya dan keampuhan dari keutamaan Kepausan dan bahwasanya, seandainya mungkin, melenyapkan agama Katolik seutuh-utuhnya.
Namun pokok pembahasan utama yang menjadi tekad diri Kami menulis kepada anda sekalian bukanlah soal kemalangan-kemalangan yang menimpa kota Kami ini dan seluruh Italia. Lebih dari itu, Kami mungkin hanya akan memendam kegelisahan-kegelisahan ini dalam hati kami di tengah-tengah kesunyian menyedihkan, seandainya kemurahan hati Allah telah memberi Kami kekuatan untuk melembutkan keperihan luar biasa yang diderita begitu banyak saudara Kami yang terhormat di negeri-negeri lain, beserta para klerus dan umat mereka.
Bahsawanya, anda sekalian sudah mengetahui, Saudara-Saudara yang Terhormat, bahwa beberapa kanton Federasi Helvetika (Swis) telah berkecamuk. Sebab utamanya bukanlah kaum heterodoks, yang beberapa anggotanya bahkan telah melawan serangan-serangan ini, namun lebih diakibatkan oleh para anggota garang sekte-sekte yang sudah mengambil kuasa. Mereka ini telah mengubrak-abrik segala tatanan dan bahwasanya menggerogoti dasar-dasar konstitusi Gereja Yesus Kristus sendiri. Ini mereka lakukan bukan hanya dengan menentang segala macam prinsip keadilan dan akal, namun dengan melanggar kepercayaan yang diberikan oleh publik; sebab, seturut pakta-pakta khidmat yang diteguhkan dengan pemungutan suara serta otoritas undang-undang Konfederasi, kebebasan beragama haruslah dijamin seutuh-utuhnya bagi orang-orang Katolik.
Dan juga, dalam alokusi Kami tertanggal 23 Desember tahun lalu, sudah Kami ratapi kekerasan yang dilakukan terhadap agama oleh pemerintahan kanton-kanton ini, “entah dengan membuat keputusan atas dogma-dogma Katolik, entah dengan memberdayakan para pemurtad, atau dengan melarang pelaksanaan kuasa keuskupan.” Namun keluhan-keluhan bajik yang diajukan atas perintah Kami kepada Dewan federal melalui diplomat Kami telah diabaikan sama sekali, dan permohonan-permohonan yang disampaikan oleh pihak Katolik dari semua ordo dan yang sering kali diulangi oleh keuskupan Swis pun tidak mendapat perhatian yang lebih baik. Terlebih, pada ketidakadilan-ketidakadilan pertama, ditambahkan pula ketidakadilan-ketidakadilan baru yang lebih parah.
Sebab, saudara terhormat Kami, Gaspar, Uskup Hebron dan vikaris apostolik Jenewa, telah diusir dengan kejam. Sesudah terjadinya pengusiran dengan korban yang begitu cantik dan mulia, namun membawa aib dan kekejian bagi mereka yang memerintahkan dan melaksanakannya ini, pemerintahan Jenewa telah mempermaklumkan dua buah undang-undang pada tanggal 23 Maret dan 27 Agustus tahun ini, undang-undang yang seluruhnya sejalan dengan rancangan undang-undang terbitan bulan Oktober tahun lalu dan yang sudah Kami kutuk dalam alokusi yang baru saja Kami bicarakan. Namun, pemerintahan tersebut telah menyematkan pada dirinya sendiri, hak untuk merombak konstitusi Gereja Katolik di kanton tersebut dan mengubah bentuknya menjadi demokratik, demi tujuan hal-hal berikut:
Selain itu, undang-undang tersebut menetapkan bahwa tanpa seizin pemerintahan (izin yang notabene selalu dapat dibatalkan), para pastor paroki dan vikaris tidak bisa melaksanakan tugas apa-apa, atau menerima jabatan lebih tinggi dari yang dianugerahkan dengan keputusan para umat; dan pada akhirnya, mereka juga ditundukkan kepada kuasa sipil oleh sumpah dengan ketentuan-ketentuan yang tergolong kemurtadan sejati. Lantas, tak ada orang yang tidak melihat bahwa undang-undang semacam itu batal demi hukum dan tidak memiliki kuasa sesedikit apa pun, karena pihak awam pembuat hukum atau bahkan heterodoks perancangnya sama sekali cacat dalam hal kuasa, namun juga akibat ketetapan-ketetapannya yang demikian itu dan yang berlawanan dengan dogma-dogma iman Katolik serta disiplin Gereja yang diteguhkan oleh Konsili Trente dan konstitusi-konstitusi Kepausan, sehingga undang-undang tersebut harus Kami kutuk dan tidak Kami setujui segenap-genapnya.
Menyedihkan dan kian mematikan, hal-hal yang baru saja Kami catat, namun sudah terjadi hal-hal yang lebih fatal lagi di lima dari tujuh kanton yang termasuk dalam dioses Basel, yakni: Solodurum, Berna, Basel-Kampania, Argovia dan Turgovia. Di sana juga telah dibuat undang-undang tentang pemilihan dan pemecatan para pastor paroki serta vikaris. Undang-undang itu meluluhlantakkan pemerintahan Gereja dan konstitusi ilahi di sana, dengan menundukkan pelayan gerejawi kepada dominasi sekuler dan murni bersifat skismatis. Dengan demikian, Kami menolak dan mengutuk undang-undang itu, yakni yang telah dibuat oleh pemerintahan Solodurum pada 23 Desember tahun 1872, dan Kami menghendaki agar undang-undang itu untuk selama-lamanya dianggap ditolak dan dikutuk. Namun, Eugenius, saudara Kami yang terhormat Uskup Basel, telah dengan amarah bajik dan ketabahan apostolik menolak beberapa pasal yang diusulkan kepadanya, sesudah diputuskan dengan pemungutan suara dalam sebuah konsili penyamun, atau konferensi diosesan, demikianlah cara mereka menyebutnya, yang di dalamnya duduk lima orang delegasi dari kanton-kanton yang disebutkan di atas. Akibatnya, saudara kami Eugenius dirampas keuskupannya, diusir dari istananya dan dengan kejam dipaksa pergi ke pembuangan. Namun, ada alasan sungguh mendesak yang mendorongnya untuk menolak pasal-pasal itu, sebab pasal-pasal tersebut menyerang otoritas keuskupan, mengubrak-abrikkan pemerintahan hierarkis dan secara terbuka memberdayakan bidah. Dengan demikian, yang telah dilakukan di kelima kanton itu hanyalah penipuan dan penindasan dengan tujuan menyeret umat serta klerus ke dalam skisma. Di saat itu juga, para klerus sama sekali dilarang berurusan dengan gembala mereka yang dibuang itu; sudah diberikan perintah kepada kapitel Basel agar berlanjut dengan pemilihan seorang vikaris kapitel atau seorang administrator, seolah-olah takhta keuskupannya benar-benar kosong; namun sang kapitel memprotes secara publik demi menolak rencana serangan yang sedemikian hinanya itu dengan gagah berani. Namun demikian, dengan putusan dan dekret para Magistrat sipil Berna, enam puluh sembilan pastor paroki Iura diperintahkan agar tidak lagi memenuhi tanggung jawab pelayanan mereka, lalu undur diri dari jabatan-jabatan mereka, dan itu hanya karena mereka sudah secara publik menyatakan diri mereka tidak akan mengakui uskup dan gembala selain Eugenius, Saudara Kami yang Terhormat, dan tidak ingin membuat aib dengan memisahkan diri dari kesatuan Gereja, demi harga apa pun. Kemudian, daerah kekuasaan yang tadinya teguh menjaga iman Katolik dan sebelumnya tergabung dengan kanton Berna, rupa-rupanya akibat keadaan ini dan meski dengan klausa yang mensyaratkan agar daerah itu tetap menjaga utuh pelaksanaan agama secara bebas, mengalami hilangnya pertemuan-pertemuan paroki, upacara-upacara pembaptisan, pernikahan serta pemakaman. Hal ini terjadi kendati protes, tuntutan serta keluhan dari banyak umat beriman, mereka yang telah dihukum oleh ketidakadilan teramat zalim entah dengan alternatif yang satu ini, atau dengan menerima para pastor bidah serta skismatis yang dipaksakan oleh otoritas politik, atau dengan kehilangan segala pertolongan dan segenap pelayanan imamat.
Dan juga, Kami memuji Allah yang mencurahkan rahmat-Nya, sehingga dahulu kala, Ia membangkitkan dan meneguhkan para martir. Rahmat ini jugalah yang sekarang dikaruniakan-Nya untuk menguatkan serta meneguhkan wilayah kawanan domba Katolik terpilih ini, yang dengan jantan turut kepada uskupnya, ketika Ia sedang menegakkan sebuah tembok untuk rumah Israel agar tidak menjadi lemah dalam pertarungan di harinya Tuhan.[3] Tak mengacuhkan rasa takut, mereka mengikuti jejak langkah kepala para martir, Yesus Kristus, ketika menggunakan kelemahlembutan anak domba untuk menghadapi ganasnya serigala-serigala dan bertarung demi imannya dengan teguh dan penuh sukacita.
Memanut ketabahan mulia para umat beriman Swis ini, para klerus dan umat beriman di Jerman dengan semangat yang sama terpujinya, turut mengikuti teladan-teladan mulia para uskup mereka. Sebab, para uskup Jerman ini telah menjadi sorotan bagi dunia, bagi para malaikat dan manusia yang melihat diri mereka, bersenjatakan baju zirah kebenaran Katolik dan ketopong keselamatan, demi bertarung penuh semangat di mana-mana dalam pertempuran-pertempuran Tuhan. Ya, di mana-mana orang semakin mengagumi kekuatan jiwa mereka serta ketabahan digdaya yang mereka punya. Dan kebajikan-kebajikan mereka pun semakin dirayakan oleh puji-pujian terbesar, seiring setiap harinya, meluas persekusi kejam yang diadakan atas mereka di kekaisaran Jerman, dan terutama di Prusia.
Setelah ditimpakannya banyak ketidakadilan berat pada tahun lalu atas Gereja Katolik, pemerintahan Prusia memberlakukan undang-undang terkeras lagi teramat durjana yang sama sekali berlawanan dengan perilakunya sebelumnya, dengan tujuan menundukkan seutuh-utuhnya institusi serta edukasi para klerus kepada kuasa sekuler. Dengan demikian, mereka merancang kuasa sekuler supaya berhak mencari tahu dan memutuskan cara harus diajar dan dibentuknya para klerus untuk kehidupan imam serta pastoral. Lebih jauh lagi, pada kuasa yang sama itu mereka sematkan hak untuk mengetahui serta menilai penganugerahan tanggung jawab serta benefisi-benefisi gerejawi, dan bahkan untuk mencabut tanggung jawab serta benefisi-benefisi tersebut dari para pastor. Dan juga, demi semakin meluluhlantakkan seutuh-utuhnya dan secepat-cepatnya pemerintahan gerejawi serta tatanan ketundukan hierarkis yang diinstitusikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus sendiri, undang-undang yang sama ini menetapkan beberapa rintangan sesuai kebutuhan, bagi para uskup untuk mengeluarkan sensura dan hukuman Katolik ketika mereka hendak melaksanakan tanggung jawab entah demi keselamatan jiwa-jiwa, atau kemurnian doktrin dalam sekolahan Katolik, atau ketaatan yang patut mereka dapatkan dari para imam. Sebab, dengan undang-undang ini, para uskup hanya diizinkan bertindak seturut keinginan otoritas sipil dan sesuai peraturan yang ditetapkan oleh otoritas sipil sendiri. Pada akhirnya, agar tidak ada satu hal pun yang kurang dalam menindas Gereja Katolik segenap-genapnya, pemerintahan Prusia telah melembagakan pengadilan raja bagi perkara-perkara gerejawi. Kepada pengadilan ini akan bisa diserahkan para uskup dan para pastor tertahbis, baik oleh orang-orang yang tunduk kepada mereka, maupun oleh para Magistrat publik, sehingga mereka bisa diadili sebagai tertuduh dan bisa dikekang dalam pelaksanaan tanggung jawab rohani mereka.
Dan juga, dengan sumpah khidmat yang diulang-ulang serta dengan traktat-traktat lazim, Gereja Kristus yang Kudus telah dijaminkan kemerdekaan utuh yang diperlukan dalam hal agama, oleh para penguasa negara. Namun pada hari ini Gereja menangis di berbagai tempat segala haknya dirampas dan dirinya dirundung serangan-serangan para musuh yang mengancamnya sampai kehancuran terakhir; sebab tujuan undang-undang baru ini adalah agar Gereja mulai sekarang tidak bisa berada lagi.
Maka tidak mengejutkan bahwa ketenteraman beragama telah terguncang parah di kekaisaran ini akibat undang-undang serupa, dan pada saat itu juga, akibat rancangan-rancangan lain dari proyek pemerintahan Prusia melawan Gereja. Sebab, kalau orang Katolik harus dianggap berbuat kriminal karena tidak tunduk kepada undang-undang itu, (undang-undang yang tak dapat mereka terima dalam ketenteraman hati nurani) lantas haruslah para rasul Yesus Kristus dan para martir dituduh dengan alasan yang sama dan cara yang sama pula, sebab mereka lebih suka menderita siksaan-siksaan terngeri dan bahkan maut sekalipun ketimbang mengkhianati tanggung jawab mereka sendiri dan melanggar hukum-hukum agama suci mereka dengan menaati perintah-perintah fasik dari para pangeran penganiaya. Tentu saja, Saudara-Saudara yang Terhormat, seandainya tidak ada hukum selain undang-undang kuasa sipil, dan seandainya tidak ada yang lebih tinggi daripada undang-undang ini sehingga harus diakui dan tidak diperbolehkan melanggarnya; dan andaikan dengan demikian, undang-undang sipil ini tergolong peraturan tertinggi bagi hati nurani (seturut klaim absurd dan fasik beberapa orang), lantas para martir perdana dan para peneladan mereka lebih patut dipersalahkan daripada dihormati dan dipuji-puji ketika mereka dulu menumpahkan darah mereka demi iman Kristus dan kemerdekaan Gereja; terlebih lagi, akan tidak diizinkan menyebarkan dan memajukan agama Kristiani: ini akan melawan undang-undang dan para pangeran. Pada dasarnya, dilarang mendirikan Gereja. Namun demikian, seturut yang dibuktikan oleh ajaran iman dan akal manusia, ada dua tatanan perkara dan harus dibedakan juga dua kuasa yang ada di bumi: yang satu kodrati, yakni yang bertugas mengawasi ketenteraman masyarakat manusia serta perkara-perkara sekuler; yang lain, yakni yang asalnya melampaui alam, merupakan kepala bagi kota Allah, yakni Gereja Yesus Kristus, dan yang telah didirikan oleh Allah demi damai sejahtera jiwa-jiwa serta keselamatan kekal mereka. Namun, tanggung jawab kuasa berganda ini telah dengan begitu penuh hikmatnya ditata sedemikian rupa sehingga orang bisa memberikan kepada Allah, yang berhak dimiliki Allah, dan memberikan kepada Kaisar, demi Allah, yang berhak dimiliki Kaisar. Sebab, “jikalau Kaisar itu besar, itu dikarenakan dia lebih kecil dari Surga, sebab Kaisar bergantung kepada Dia yang kepada-Nya bergantung Surga dan semua ciptaan.”[4] Namun Gereja tentu saja tidak pernah menyimpang dari asas ilahi ini, Gereja yang di mana-mana dan untuk selama-lamanya berjuang meresapkan ketaatan kepada benak para umat beriman, ketaatan yang harus mereka jaga tanpa diganggu gugat terhadap para pangeran mereka serta hukum sekuler para pangeran. Bersama sang Rasul, Gereja selalu mengajarkan bahwa para pangeran adalah pangeran, bukan untuk tujuan menakut-nakuti orang yang berbuat baik, namun untuk menakut-nakuti mereka yang berbuat jahat. Dan Gereja juga memerintahkan agar para umat tunduk tidak hanya karena takut amarah pangeran, dan karena pangeran menggunakan pedang untuk menghukum orang yang berbuat jahat, namun juga karena hati nurani dan karena dalam melaksanakan tugasnya, pangeran adalah pelayan Allah.[5] Namun rasa takut akan para pangeran ini disebarkan oleh Gereja hanya bagi perbuatan-perbuatan jahat saja, dan Gereja juga telah menghalau rasa takut itu dari semua orang yang mengindahkan ketaatan terhadap hukum ilahi, sebab Gereja ingat yang diajarkan oleh Santo Petrus kepada para umat beriman: Jangan ada dari antara kamu yang menderita sebagai pembunuh, atau perampok, atau pemfitnah, atau orang yang iri dengki karena kepunyaan orang lain; namun jikalau ia dibuat menderita karena dirinya orang Kristen, janganlah ia malu, dan hendaknya ia memuliakan Allah karena namanya itu.[6]
Menimbang keadaan-keadaan ini, Saudara-Saudara yang Terhormat, anda akan dengan mudah memahami betapa besar duka yang tentunya telah memenuhi hati Kami, ketika baru-baru ini, pada sepucuk surat yang dikirim oleh Kaisar Jerman sendiri kepada Kami, Kami membaca tuduhan kejam lagi tak terduga terhadap pihak yang menurut perkataannya, adalah pihak Katolik yang tunduk kepadanya, namun juga terutama tuduhan terhadap klerus Katolik Jerman serta para uskup. Lalu apa sebab tuduhan itu? Dikarenakan mereka ini tidak takut dipenjara atau menghadapi cobaan-cobaan dan karena mereka pun tidak menganggap nyawa mereka lebih berharga daripada diri mereka sendiri[7], sehingga menolak taat kepada undang-undang yang sudah Kami peringatkan itu. Mereka telah menolaknya dengan kegigihan yang telah terbukti mereka sandang sebelumnya, ketika keluhan-keluhan mereka mencela segala ketidakadilan undang-undang itu. Kepada pangeran, para menterinya dan kepada Majelis para penguasa kerajaan, telah mereka ungkapkan ketidakadilan tersebut melalui permohonan-permohonan mendesak, bagaikan monumen yang berdiri teguh nan kukuh. Oleh sebab itulah, para klerus dan uskup Katolik Jerman ini telah beroleh sorak-sorai dari segenap dunia Katolik, dan bahkan dari beberapa tokoh di kalangan heterodoks. Akibatnya, mereka dituduh melakukan kejahatan pengkhianatan, seolah-olah mereka setuju dan bersekongkol dengan orang-orang yang berusaha mengganggu segenap tatanan masyarakat manusia. Tuduhan ini diluncurkan kepada mereka, kendati ada begitu banyak bukti jelas yang dengan terang-benderang memperlihatkan kesetiaan tak terpungkiri serta ketaatan mereka kepada pangeran, dan lagi semangat membara diri mereka bagi kepentingan-kepentingan tanah air.
Terlebih, Kami juga diminta agar secara pribadi mendorong umat Katolik dan para Gembala suci ini supaya mereka menaati undang-undang tersebut. Ini setara mengusulkan diri Kami agar secara pribadi menindas dan mencerai-beraikan kawanan domba Yesus Kristus. Namun bersandar pada pertolongan Allah, Kami berkeyakinan bahwa Baginda Kaisar akan dengan lebih baik memahami dan menimbang-nimbang perkara ini, sehingga membuang kecurigaan luar biasa dan begitu tak berdasar terhadap para rakyatnya yang paling setia itu. Kami juga yakini bahwa beliau tidak akan lama-lama membiarkan harkat mereka dibenturkan dengan serangan-serangan kian memalukan ataupun mengiakan semakin diperpanjangnya persekusi yang tak layak mereka dapatkan. Selebihnya, surat beliau ini takkan Kami ungkap sama sekali, kalau bukan karena sudah diterbitkannya surat tersebut tanpa sepengetahuan Kami dan dengan amat tidak lazim oleh surat kabar resmi Berlin, pada saat yang sama diterbitkan pula surat lain yang Kami tulis berisi permintaan keadilan kepada pihak Baginda Kaisar agar membantu Gereja Katolik di Prusia.
Semua serangan yang baru saja Kami uraikan ini sudah ada di depan mata semua orang. Begitu pula, ketika kebebasan yang berlaku umum bagi seluruh masyarakat dirampas dari kaum senobit dan para perawan yang berkaul kepada Allah; ketika mereka diusir dengan kebrutalan nirmanusiawi; ketika sekolah-sekolah negara tempat pendidikan kaum muda Katolik, ditarik hari demi hari menjauh dari bimbingan berfaedah dan pengawasan Gereja; ketika novisiat-novisiat yang telah ditetapkan untuk membangkitkan kesalehan, dan ketika seminari-seminari sendiri ditutup; ketika kebebasan mewartakan injil dilarang; ketika di beberapa bagian kerajaan, dilarang menyampaikan unsur-unsur pengajaran agama dalam bahasa ibu; ketika dari paroki-paroki, ditarik para pastor paroki yang sudah sebelumnya ditempatkan di sana oleh para uskup; ketika pendapatan para uskup sendiri ditiadakan; ketika mereka dikenakan denda dan diancam masuk penjara; ketika umat Katolik dianiaya dengan berbagi macam perundungan, adakah mungkin hati Kami memendam segala sesuatu yang telah disodorkan kepada Kami ini, tanpa merenungkan dampaknya bagi agama Yesus Kristus dan kebenaran?
Namun Kami pun belum sampai di penghujung ketidakadilan yang telah ditimpakan pada Gereja Katolik. Sebab, selain itu, pemerintahan Prusia dan pemerintahan-pemerintahan lain dari Kekaisaran Jerman telah secara terbuka memberi sokongan kepada kaum bidah baru yang menyebut diri Katolik Lama. Penyelewengan nama ini mungkin patut ditertawakan, namun sebenarnya justru patut diratapi dengan air mata berderai, akibat begitu banyaknya kesalahan mengerikan sekte itu, kesalahan yang makin lama, makin bertambah melawan iman Katolik. Patut diratapi pula, akibat begitu banyaknya sakrilegi yang mereka lakukan dalam praktik hal-hal ilahi serta penyelenggaraan sakramen, belum lagi skandal-skandal menyeramkan yang sedemikian banyaknya, dan akhirnya, binasanya begitu banyak jiwa yang tadinya sudah ditebus oleh darah Yesus Kristus.
Meski demikian, yang diupayakan dan menjadi tujuan anak-anak kebinasan ini terungkap dengan begitu jelas dari beberapa karya tulis mereka, terutama karya tulis lancang dan fasik yang belum lama lalu telah diterbitkan oleh pihak yang mereka jadikan uskup palsu bagi diri mereka sendiri. Ketika mereka menyerang dan mengubrakabrikkan kuasa yurisdiksi sejati yang dimiliki Paus serta para uskup penerus rasul-rasul; ketika mereka memindahtangankan kuasa itu kepada umat, atau kepada komunitas (demikianlah istilah yang mereka gunakan), mereka menolak dan berseteru dengan Magisterium infalibel yang dimiliki oleh Paus Roma maupun segenap Gereja mengajar. Bersikap melawan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus Kristus kepada Gereja bahwa Dia akan senantiasa menyertainya, dengan kelancangan bukan kepalang mereka menegaskan bahwa Paus Roma, bersama semua uskup, imam dan umat yang bersatu dengannya dalam kesatuan iman dan persekutuan, telah jatuh dalam bidah ketika mereka menyetujui dan mengakui definisi-definisi konsili ekumenis Vatikan. Itulah sebabnya mereka sampai menyangkal indefektibilitas Gereja, dan mengutarakan penghujatan bahwa Gereja ini telah binasa di seluruh dunia dan bahwa kepala kasatmatanya serta para uskupnya telah gagal. Dari situlah mereka menarik kesimpulan, bahwa merekalah yang empunya tanggung jawab merestorasi keuskupan sah dalam pribadi uskup palsu mereka: seseorang yang tidak masuk melalui pintu, namun melalui jalan lainnya seperti perampok dan penyamun, sehingga menurunkan hukuman Yesus Kristus pada kepalanya sendiri.
Bagaimanapun, meski orang-orang malang ini merongrong fondasi agama Katolik, menyerang semua ciri dan kekhasan agama itu, mengemukakan kesalahan-kesalahan memalukan yang begitu banyaknya, atau justru telah menimba kesalahan-kesalahan itu dari kaum bidah lama untuk kemudian mereka himpun dan tanamkan pada umat, mereka tidak malu menyatakan diri Katolik dan Katolik Lama, padahal, dengan doktrin, kebaruan dan jumlah mereka, mereka sejauh mungkin menolak ciri khas berganda itu: lama dan Katolik. Tentu saja bagaikan Agustinus dulu melawan kaum Donatis, jauh lebih pantas lagi Gereja bangkit melawan sekte “Katolik Lama” itu. Ini dikarenakan Gereja tersebar di segala bangsa, dan telah didirikan di atas batu karang oleh Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup, dan karena pintu-pintu gerbang Neraka tidak akan pernah berjaya melawan Gereja. Demikian juga, Dia yang telah diberikan segala kuasa di Surga dan di bumi telah berkata bahwa diri-Nya akan menyertai Gereja setiap hari sampai akhir zaman. “Gereja berseru kepada Mempelai kekalnya: Apakah ini, sehingga aku tidak tahu siapa saja orang yang sudah menjauhi aku dan bergumam melawanku? Apakah ini, sehingga orang-orang yang sesat berkata bahwa aku sudah binasa? Beri tahukan aku berapa singkatkah hari-hariku. Sampai berapa lama lagi aku harus berada di zaman ini? Kabarkanlah itu kepadaku, sebab mereka berkata: Dia dulu ada, dan sekarang sudah tiada; sebab mereka berkata: Genap sudah nas-nas itu, segala bangsa telah percaya; namun, di segala bangsa, Gereja sudah murtad dan binasa. Mempelainya itu pun memberitahukannya, dan firman-Nya tidak sia-sia. Namun bagaimana gerangan cara Dia mengabarkan hal itu? Lihatlah, ujar-Nya, Aku menyertaimu sampai akhir zaman. Tergerak oleh diskursus-diskursusmu dan opini-opini kelirumu, Gereja meminta kepada Allah agar diberikan-Nya tanda betapa singkatkah hari-harinya; dan Gereja mendapati Tuhan berkata: Lihatlah, Aku menyertaimu sampai akhir zaman. Di sini, engkau tentunya akan berkata: Namun Dia berfirman demikian tentang kami. Kami sekarang ada dan akan terus ada sampai akhir zaman. Lantas bertanyalah kepada Yesus Kristus sendiri: Dan injil ini, ujar-Nya, akan diwartakan ke seluruh dunia, bersaksi kepada segala bangsa dan kemudian selesai sudah. Maka sampai akhir zaman, Gereja akan ada di segala bangsa. Biarlah kaum bidah binasa, biarlah mereka binasa dengan tidak lagi menjadi diri mereka, dan semoga mereka didapati kembali di kemudian waktu, supaya mereka menjadi apa yang bukan diri mereka sekarang.”[8]
Namun, orang-orang ini sudah melangkah kian jauh dan bertindak dengan kelancangan sebegitu besar pada jalan kefasikan dan kebinasaan, sebagaimana umumnya terjadi kepada sekte-sekte bidah yang dijatuhi hukuman adil dari Allah. Karena itu, mereka juga ingin mendirikan sebuah hierarki. Dengan demikian, telah mereka pilih Yosef Hubertus Reinkens, yang juga mereka jadikan sebagai uskup palsu. Dia adalah seorang pemurtad notorius dari agama Katolik. Lalu, agar tiada yang kurang pada panji kekurangajaran mereka, mereka meminta kepada kaum Yansenis dari Utrecht agar mengonsekrasi Yosef Hubertus itu, meskipun sebelum meninggalkan Gereja, mereka pun juga seperti orang Katolik lainya memandang kaum Yansenis sebagai bidah dan skismatis. Namun demikian, Yosef Hubertus itu berani menyatakan dirinya sendiri uskup. Dan yang luar biasa, dengan sebuah dekret publik, dia diakui sebagai uskup Katolik oleh Baginda Kaisar Jerman, yang mengusulkan agar Yosef Hubertus diharuskan mengambil tempat uskup sejati dan harus ditaati oleh semua umatnya. Bagaimanapun, prinsip-prinsip paling mendasar doktrin Katolik menetapkan bahwa tidak seorang pun boleh dianggap sebagai uskup sah, jikalau dia tidak bersatu dalam kesatuan iman dan kasih dengan batu karang yang di atasnya Gereja Kristus telah didirikan; jikalau dia tidak terhubung dengan Gembala tertinggi yang telah diserahkan seluruh kawanan domba Yesus Kristus agar digembalakannya; jikalau dia tidak bersatu dengan sang peneguh persaudaraan yang ada di dunia. Dan bahwasanya, “kepada Petruslah Tuhan telah berfirman, hanya kepada dia seorang diri, agar dibina-Nya kesatuan melalui satu orang saja.[9]” Kepada Petruslah kedaulatan ilahi telah menganugerahkan bagian luhur dan mengagumkan dari kuasa-Nya, dan sekiranya Ia menginginkan para kepala lainnya memiliki sesuatu bersama-sama dengan Petrus, takkan pernah diberikan apa pun juga yang tidak Dia tolak diberikan-Nya kepada kepala-kepala lain itu kalau tidak melalui Petrus.[10] Oleh sebab itulah dari takhta apostolik ini, tempat Petrus hidup, memerintah dan memberi kebenaran hukum Allah kepada semua orang yang memintanya,[11] mengalirlah semua hak atas persekutuan terhormat kepada semua anggotanya,[12] dan sudah pasti bahwa “bagi gereja-gereja yang tersebar di seluruh dunia, takhta ini bagaikan kepada atas anggota-anggotanya, sehingga barang siapa memisahkan diri dari takhta ini, dia menjadi terasing dari agama Kristiani, karena dia berhenti berada dalam tubuh yang sama.[13]”
Itulah sebabnya, berbicara tentang uskup palsu skismatis Novasianus, Martir suci Siprianus bahkan menolak menganggapnya menyandang nama Kristen, karena Novasianus telah terpisah dan terpenggal dari Gereja Yesus Kristus: “Barang siapa”, ujarnya, “dan siapa pun itu juga, dia tidak Kristen kalau tidak berada dalam Gereja Yesus Kristus. Meskipun berbual dan dengan kata-kata megah meninggikan pengetahuan dan kefasihannya berbicara, barang siapa tidak menjaga kasih persaudaraan dan kesatuan gerejani, telah kehilangan jati diri yang dia miliki sebelumnya. Sebab, berkat kuasa Kristus, hanya ada satu Gereja yang terbagi menjadi banyak anggota di seantero dunia, hanya ada satu keuskupan yang tersebar dalam kemajemukan uskup-uskup lain, yang bersatu oleh karena kerukunan dengan uskup yang terutama. Namun orang itu (pengikut Donatus) melawan tradisi Allah, dan dia juga melawan tradisi Gereja Katolik yang tersusun dan terikat rapi, sebab dia berupaya menciptakan suatu Gereja yang bersifat manusia. Namun siapa saja tidak menaati kesatuan pikiran, ataupun kesatuan damai sejahtera, dan memisahkan diri dari ikatan Gereja dan dewan para imam, orang itu tidak dapat memiliki kuasa ataupun kehormatan uskup, sebab dirinya tidak ingin menaati kesatuan ataupun damai sejahtera keuskupan.[14]
Maka dari itu, Kami, yang meski tidak pantas ini telah ditempatkan pada takhta tertinggi Petrus demi menjaga iman Katolik, melestarikan dan membela kesatuan Gereja universal, mengikuti teladan para pendahulu Kami serta peraturan-peraturan hukum suci, dengan kuasa yang telah diberikan kepada Kami dari Surga:
Dengan semua fakta yang sudah Kami bahas lebih supaya bisa Kami ratapi daripada Kami ceritakan, sudah cukup dibuktikan kepada anda sekalian, Saudara-Saudara yang Terhormat, betapa menyedihkan dan sarat bahayanya situasi umat Katolik di negeri-negeri Eropa yang sudah Kami indikasikan. Namun, di Amerika, perkara-perkaranya juga tidak lebih baik dan keadaannya pun tidak lebih tenteram. Beberapa wilayah di sana begitu memusuhi orang Katolik, sehingga pemerintahan mereka tampak dengan perbuatan-perbuatan mereka, seperti menyangkal iman Katolik yang mereka akui. Bahwasanya sejak beberapa tahun lamanya di sana, sudah bangkit peperangan mengerikan melawan Gereja, institusi-institusinya serta hak-hak yang dimiliki Takhta Suci ini. Sekiranya Kami harus membahas Negara itu, tentu saja Kami takkan kekurangan bahan pembicaraan tentangnya; namun karena beratnya perkara-perkara ini, pembahasannya akan harus dilakukan secara sambil lalu dan kita akan menguraikannya dengan lebih panjang lain kali.
Beberapa dari anda sekalian, Saudara-Saudara yang Terhormat, mungkin terkejut ketika melihat begitu luasnya perang yang di masa kita ini telah dinyatakan melawan Gereja Katolik. Namun barang siapa mengenali tabiat, hasrat serta rencana sekte-sekte tertentu – sekte-sekte yang disebut Mason atau dengan segala nama lainnya – dan membandingkan ciri-ciri mereka itu dengan tabiat, rancangan serta luasnya konspirasi yang sedang menyerang Gereja dari segala penjuru, orang itu tidak akan ragu sesaat pun, bahwa bencana yang terjadi di kala ini haruslah dihubungkan dengan tipu daya serta muslihat-muslihat sekte-sekte ini. Sebab di dalam sekte-sekte inilah sinagoga Setan beroleh kekuatannya, lembaga yang mempersenjatai para laskarnya melawan Gereja Yesus Kristus, mengibarkan bendera-benderanya dan bertarung di medan perang. Sejak awal, para Pendahulu Kami, selaku pandu Israel yang penuh kewaspadaan, telah mencela sekte-sekte keji ini kepada para Raja dan umat; mereka lalu telah menghantam sekte-sekte itu dengan kutukan demi kutukan. Kami sendiri pun tidak gagal melaksanakan tanggung jawab itu. Coba saja Allah berkenan para Gembala tertinggi Gereja dulu lebih didengarkan oleh mereka yang seharusnya mampu mengusir hama sebegitu berbahayanya! Namun hama itu menyelundupkan diri masuk berbagai celah berliku-liku dan tanpa beristirahat berusaha menyesatkan orang dalam jumlah besar dengan siasat-siasat durjana, dan dengan demikian telah tiba pada titik dirinya melompat keluar liang serta tampil di siang bolong bagaikan dirinya adikuasa nan adidaya. Jumlah orang yang diperdaya sedemikian rupa sudah menjadi begitu banyak, sehingga lembaga-lembaga ini berpikir bahwa angan-angan mereka akan segera tercapai, dan bahwa diri mereka akan segera meraih tujuan yang mereka tekadkan dan belum bisa mereka wujudkan. Karena pada akhirnya telah beroleh apa yang sejak lama mereka harapkan, yakni, pada beberapa titik tertentu, menjadi kepala pemerintahan, mereka pun telah datang untuk dengan sebegitu gegabahnya menghimpun tenaga serta seluruh sarana yang mungkin disediakan kepada mereka oleh otoritas, demi memperhamba Gereja sehina-hinanya dan sekejam-kejamnya, demi meluluhlantakkan landasan-landasan bertumpunya Gereja dan demi merusak ciri-ciri ilahi yang dengan kemilaunya Gereja perlihatkan terang-benderang. Lalu apa lagi? Sesudah menggoyahkan Gereja dengan serangan bertubi-tubi ini, sesudah menumbangkan dan menjatuhkan Gereja, mereka hendak memusnahkan Gereja, sekiranya mungkin, di seluruh muka bumi. Menimbang keadaan-keadaan yang demikian, Saudara-Saudara yang Terhormat, pusatkanlah segenap perhatian anda untuk melindungi para umat beriman yang diserahkan kepada penjagaan anda dari jerat-jerat serta wabah berjangkit sekte-sekte ini dan menarik mereka dari kebinasaan, mereka yang dengan nahas telah menuliskan nama mereka dalam daftar sekte-sekte ini. Namun terutama, buatlah para korban tipu daya mereka paham dan perangilah kesalahan mereka yang hendak menyebarkan kesalahan tersebut sampai-sampai tidak takut menyatakan bahwa lembaga-lembaga gelap itu hanya bertujuan menghadirkan faedah sosial dan memajukan kebaikan bersama. Sering-seringlah anda menjabarkan kepada mereka dan pasanglah tinggi-tinggi di depan mata mereka, konstitusi-konstitusi Kepausan yang membahas tentang malapetaka itu, dan ajarlah mereka bahwa yang telah dikutuk oleh konstitusi-konstitusi tersebut bukan hanya lembaga-lembaga Mason yang didirikan di Eropa saja, namun semua yang berada di Amerika dan di semua negara di dunia.
Selebihnya, Saudara-Saudara yang Terhormat, karena kita hidup di masa-masa yang memberi kita banyak penyebab duka derita sehingga juga menyediakan kita kesempatan untuk banyak berbuat jasa, marilah kita memastikan terutama sebagai laskar Kristus agar kita tidak patah semangat. Sebaliknya, dalam prahara yang mengombang-ambingkan diri kita ini juga, marilah kita memegang harapan kuat akan ketenteraman di masa depan serta ketenangan terparipurna bagi Gereja, dengan membangunkan diri kita serta mengangkat para klerus serta umat bersama diri kita juga, seraya berpasrah kepada pertolongan Allah dan mencari sumber semangat kita dalam komentar mulia Krisostomus. Ujarnya: Dari segala penjuru, gelombang meninggi, badai berkecamuk, tetapi kita tidak takut tenggelam, sebab kita berdiri di atas batu karang itu. Biarkan lautan mengamuk, ia tidak akan pernah dapat menghancurkan batu karang itu, biarkan gelombang menerpa; ia tidak dapat menelan biduk Yesus. Tiada suatu hal pun yang lebih kuasa daripada Gereja. Gereja lebih kuasa daripada Langit sendiri. Langit dan bumi akan berlalu, ujar Yesus Kristus, tetapi perkataan-Ku tidak akan lenyap. Perkataan yang mana? Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan pintu-pintu gerbang Neraka tidak akan berjaya melawannya. Jika kalian tidak percaya akan perkataan itu, percayalah akan perbuatan-perbuatan-Nya. Betapa banyaknya pezalim yang telah mencoba menindas Gereja! Betapa banyaknya kayu api, tungku, taring binatang buas, pedang besi! Dan mereka sama sekali tidak berdaya! Di manakah para musuh itu? Mereka telah menjadi bungkam dan dilupakan. Dan Gereja, di manakah dia? Ia bersinar dengan cahaya yang lebih terang daripada matahari. Karya-karya yang hendak dicapai oleh orang-orang itu mati sudah. Sedangkan karya-karya yang telah dikuduskan oleh Gereja tidak kenal maut. Bagaimanapun, jika umat Kristiani, sewaktu jumlah mereka begitu sedikit, tidak dapat ditaklukkan, bagaimanakah anda akan dapat menaklukkan mereka sewaktu seluruh dunia dipenuhi dengan agama mereka? Langit dan bumi akan berlalu; tetapi perkataan-Ku tidak akan lenyap.[16] Itulah sebabnya, tanpa membiarkan diri kita terpengaruh oleh bahaya apa pun dan tanpa ragu untuk satu saat pun, marilah kita bertekun dalam doa dan berjuang supaya kita semua mengerahkan upaya meredakan murka surgawi yang tergelegak akibat kejahatan-kejahatan umat manusia; agar Allah bangkit tergerak dalam kerahiman-Nya, sehingga Ia berfirman kepada angin dan menghadirkan ketenteraman.
Sementara itu, Saudara-Saudara yang Terhormat, sebagai bukti niat baik istimewa Kami, Kami berikan berkat apostolik dari lubuk hati Kami kepada anda sekalian dan kepada semua umat yang diserahkan kepada penjagaan anda masing-masing.
Diberikan di Roma, di Gereja Santo Petrus, pada tanggal 21 November, tahun Tuhan MDCCCLXXIII, tahun kedua puluh delapan masa kepausan Kami.
PIUS IX, PAUS
Catatan kaki:
Surat ensiklik Etsi multa luctuosa diterjemahkan dari sumber berbahasa Prancis:
Archives diplomatiques 1875, Vol. III, Juli, Agustus, September 1875, Paris, Librairie diplomatique d’Amyot, Éditeur, hal. 55-69.
Catatan kaki diperoleh dari:
The Irish Ecclesiastical Record, Vol. X., Dublin, William B. Kelly, Grafton-Street, Imprimatur tanggal 1 Oktober 1873, oleh Paulus Cardinalis Cullen, hal. 127-138.
[1] I Machab. iii. 59.
[2] Ioan. x., 5, 10.
[3] Ezech. xiii, 5.
[4] Tertull. apolog. cap. 30.
[5] Rom. xiii., 3. seqq.
[6] I Petr. iv., 14, 15.
[7] Act. xx, 24.
[8] August. in Psalm., 101. enarrat. 2, num. 8, 9.
[9] Pacianus ad Sympron. ep. 3 n. II. Cyprian. de unitat. Eccles. Optat. contra Parmen. lib. 7. n. 3. Siricius, ep. 5, ad Episcopos Afr. Innoc. I, epp. ad. Victric. ad. conc. Carthag. et Milev.
[10] Leo M. serm. 3. in sua assumpt. Optat. lib. 2, n. 2.
[11] Petr. Chrys. ep. ad Eutich.
[12] Concil. Aquil. inter. epp. Ambros. ep. II num. 4. Hieron. epp. 14 et 16 ad Damas.
[13] Bonif. I, ep. ad Episcopos Thesal.
[14] Cyprian. contra Novatian. ep. 52 ad Antonium.
[15] II Joan., v. 10
[16] Hom, ante exil, n. 1 et 2.
Terima kasi suda berbagi doa ini.. 🙏🙏
Magdalena binti said 5 bulanBaca lebih lanjut...Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 9 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 1 tahunBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 1 tahunBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 1 tahunBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 1 tahunBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 2 tahunBaca lebih lanjut...