^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Dasar Kitab Suci Atas Doa kepada Maria dan Ajaran-Ajaran Katolik tentang Maria
Maria Tanpa Dosa: Dokumenter Kitab Suci
Maria: Bunda Allah & Tabut Perjanjian Baru – Bukti Absolut! (Video)
Santa Perawan Maria adalah ibu Yesus Kristus. Tidak seperti yang diklaim beberapa orang, Gereja Katolik tidak mengajarkan dan sama sekali tidak pernah mengajarkan bahwa Maria adalah Allah. Pandangan seperti itu akan tergolong bidah. Maria hanya ciptaan, namun dia merupakan yang teragung dari antara semua manusia yang pernah diciptakan Allah. Harap tengok bukti alkitabiah ini yang mendukung ajaran-ajaran Katolik tentang Maria, dan mengapa perlu sekali untuk memahami peran Maria serta besar kepentingannya.
Untuk mengerti Kitab Suci dan ajarannya tentang Maria (bunda Yesus Kristus), kita harus mengerti “tipe” di dalam Kitab Suci.
Tipe = sebuah kejadian, orang, atau institusi nyata dalam Perjanjian Lama yang merupakan pertanda akan datangnya sesuatu atau memprediksikan sesuatu itu di Perjanjian Baru.
KITAB SUCI MENGAJARKAN BAHWA ADAM, MANUSIA PERTAMA, ADALAH SUATU TIPE YESUS KRISTUS
Yesus Kristus adalah Allah benar dan manusia benar. Adam hanya seorang manusia, manusia pertama. Namun, Kitab Suci berkata bahwa Adam adalah suatu tipe pertanda akan datangnya seseorang, Yesus Kristus.
Bagaimanakah Adam itu suatu tipe Yesus? Perihal ini kemungkinan terbaik dirangkum dalam ayat berikut:
Adam menenggelamkan dunia ke dalam dosa; Kristus datang untuk menebus dunia dari dosa Adam. Adam berdosa dengan ketidaktaatannya di pohon pengetahuan baik dan jahat; Kristus menebus dunia dengan ketaatan dan pengorbanan-Nya di kayu (pohon) Salib. Itulah alasan Kitab Suci berkata bahwa Kristus adalah Adam baru atau Adam kedua atau Adam terakhir. Kristus datang untuk membatalkan yang telah dilakukan Adam. Kristus menjadi kepala umat manusia baru dan yang ditebus, yakni mereka yang hidup secara adikodrati dalam Kristus, sedangkan Adam, manusia pertama, adalah kepala umat manusia yang jatuh ke dalam dosa.
KITAB SUCI MENGAJARKAN BAHWA YESUS KRISTUS ADALAH ADAM KEDUA
Ada banyak sekali tipe dalam Kitab Suci. Harap diingat bahwa semua kejadian, orang dan hal-hal ini merupakan peristiwa, orang dan hal-hal nyata, yang juga mempertandakan sesuatu yang akan datang di kemudian waktu. Berikut beberapa contohnya:
Ada banyak contoh tipe alkitabiah lain yang bisa disajikan. Penting untuk dimengerti, bahwa penggenapan tipe (yang disebut “antitipe”) lebih agung/lebih besar dari tipenya. Yesus Kristus tak terhingga lebih besarnya dari Adam; Perjanjian Baru lebih besar dari yang Lama; Kebangkitan lebih besar dari susah payah Yunus; dsb. Mengingat itu, kita sekarang harus membahas tipe-tipe Maria, ibu Yesus Kristus. Ada banyak tipe Maria. Selain bukti alkitabiah lainnya, tipe-tipe ini menyediakan bukti alkitabiah tak terpungkiri untuk ajaran-ajaran Katolik tentang Maria. Poin-poin berikut tentunya baru dan akan mengejutkan bagi banyak orang non-Katolik.
SAMA HALNYA KRISTUS ADALAH ADAM BARU, MARIA ADALAH HAWA BARU
Seperti yang sudah disebutkan, Adam adalah suatu tipe Yesus Kristus. Ada seorang wanita tertentu yang terlibat dengan Adam, lelaki pertama, dalam jatuhnya dunia ke dalam dosa. Dia itu Hawa, wanita pertama. Ketidaktaatan Adamlah yang merupakan dosa asal. Namun, peranan Hawa sangat erat dan berkelindan dengan peristiwa-peristiwa menjelang terjadinya dosa asal. Wanita itu (Hawa) berdosa dan penyebab Adam berbuat dosa.
Sama halnya “perempuan” itu (Hawa) terlibat erat dengan peristiwa-peristiwa menjelang terjadinya dosa asal, ada seorang perempuan tertentu yang terlibat erat dengan kejadian-kejadian menjelang Penebusan. Dia itu Maria, bunda Yesus Kristus. Marialah Hawa baru.
Ada banyak kesamaan jelas di dalam Kitab Suci antara Hawa dan Maria. Poin-poin berikut menunjukkan bahwa Maria adalah Hawa baru, sama halnya Kristus adalah Adam baru.
HAWA BERKOMUNIKASI DENGAN, PERCAYA, DAN MENAATI SEORANG MALAIKAT JATUH (ULAR) –
MARIA BERKOMUNIKASI DENGAN, PERCAYA, DAN MENAATI SEORANG MALAIKAT BAIK (GABRIEL)
Hawa dihampiri ular (Iblis), seorang malaikat jatuh. Hawa percaya kata-kata dusta dari ular dan tidak taat kepada Allah. Hawa berbuat dosa dan menyebabkan suaminya berdosa, menenggelamkan dunia ke dalam maut.
Maria dihampiri Gabriel, seorang malaikat baik. Maria percaya pesan keselamatannya: bahwa ia terberkati di antara wanita, penuh rahmat, dan akan melahirkan sang Juru Selamat. Maria menaati Allah. Dengan ketaatannya, Maria setuju mengandung Yesus Kristus di dalam rahimnya dan menyanggupkan-Nya datang dan menebus dunia dari dosa Adam.
Bahkan, di Gereja kuno saja, kesamaan-kesamaan alkitabiah ini diakui sebagai identifikasi Maria sebagai Hawa baru, sama halnya Kristus adalah Adam baru. St. Ireneus merupakan bapa apstolik abad kedua. Dia membuat kontras antara Hawa pertama dengan Hawa kedua (Maria)
HAWA ADALAH BUNDA SEMUA YANG HIDUP -
MARIA, SEBAGAI BUNDA YESUS, ADALAH BUNDA SEMUA YANG HIDUP DAN
BAHKAN JUGA BUNDA HIDUP ITU SENDIRI
Hawa diberi nama “ibu semua yang hidup” karena semua yang memiliki hidup merupakan keturunannya. Maria juga adalah ibu semua yang hidup, namun tentu saja dalam cara yang lebih besar. Maria adalah ibu Yesus Kristus, Dia yang merupakan Hidup itu sendiri dan yang di dalam-Nya segala kehidupan bisa ditemukan.
Yesus adalah Hidup. Dengan demikian, Maria sungguh-sungguh merupakan Bunda Hidup itu sendiri.
Maria melahirkan Yesus, Hidup itu sendiri
Kesamaan dengan Hawa, ibu semua yang hidup, jelas adanya. Bedanya, Maria adalah ibu Hidup yang tak terbatas lebih besarnya daripada keberadaan manusia. Mereka yang hidup dan mati dalam Putranya beroleh jalan menuju kehidupan kekal dalam Dia dan menjadi ciptaan baru.
Penggenapannya (Maria sebagai ibu semua yang hidup) sekali lagi lebih besar dari tipenya (Hawa sebagai ibu semua yang hidup).
HAWA DICIPTAKAN TANPA DOSA –
HAWA BARU, MARIA, JUGA HARUS DICIPTAKAN TANPA DOSA (DIKANDUNG TANPA NODA)
Sudah kita lihat bahwa Kitab Suci memberi petunjuk, bahwa Maria adalah Hawa baru. Maka timbul pertanyaan: dengan keadaan seperti apa jiwa Hawa diciptakan? Hawa diciptakan di Kejadian 2 tanpa dosa. Seluruh penciptaannya sempurna sampai jatuhnya manusia ke dalam dosa asal. Adam dan Hawa diciptakan dalam keadaan kebenaran awal. Keadaan awal yang sempurna itu, keadaan dahulu mereka bebas dari segala dosa, tidak mereka hilangkan sampai datangnya dosa asal di Kejadian 3.
Jika Allah menciptakan wanita pertama (Hawa pertama) tanpa dosa, tentu saja Ia dapat menciptakan Hawa kedua (yang lebih besar), yaitu Santa Perawan Maria, tanpa dosa. Dan itulah yang tepatnya dilakukan Allah. Itu harus Dia lakukan seturut proporsi dan kebenaran, sebab Maria akan menjadi anggoa pertama umat manusia yang ditebus.
DEFINISI DIKANDUNG TANPA NODA
Paus Pius IX menyatakan secara khidmat dogma Maria Dikandung Tanpa Noda
Beberapa orang berpikir secara salah bahwa dogma Dikandung Tanpa Noda merujuk kepada mukjizat dikandungnya Yesus dalam rahim Perawan Maria. Itu tidak benar. Yesus memang dikandung tanpa dosa dalam rahim Maria, namun dogma Dikandung Tanpa Noda itu merujuk pada pengandungan Maria dalam rahim ibunya. Sejak dari saat pertama dia diciptakan, Maria dijaga bebas dari segala noda dosa asal, yang diwarisi oleh setiap anggota umat manusia lainnya (selain Yesus).
Allah melindungi Maria dari dosa dalam pertimbangan terhadap jasa-jasa pembawa keselamatan milik Yesus Kristus. Itu dilakukan untuk Maria, karena Maria harus merupakan bejana tak dikutuk dan murni yang kelak mengusung Allah Mahakudus. Demi mengusung kekudusan tak terhingga, Maria haruslah suci sejak dari saat pertama dia diciptakan.
YESUS MENYELAMATKAN MARIA DENGAN CARA LEBIH BESAR
Lantas, kalau Maria dijaga dari noda dosa asal, bukankah itu berarti Maria tidak memiliki Juru Selamat? Tidak. Maria sendirilah yang menjawab pertanyaan itu.
Allah menyelamatkan Maria dengan mencegahnya mewarisi dosa asal. Andaikan seseorang jatuh ke lubang yang dalam di hutan, namun ditarik keluar oleh sahabatnya. Benar kalau dikata sahabatnya itu menyelamatkan orang tersebut. Sekarang, coba diandaikan ada laki-laki yang melihat seorang perempuan berjalan menuju lubang dalam itu, dan menangkap si Perempuan begitu dia akan jatuh. Laki-laki itu menghentikan perempuan tersebut sehingga tidak jatuh sejak awal ke dalam lubang, supaya dia sama sekali tidak cedera atau kotor. Apakah laki-laki itu menyelamatkan si perempuan? Tentu saja ya. Laki-laki itu menyelamatkannya dengan cara lebih besar, dengan mencegah perempuan itu jatuh ke dalam lubang dan menderita dampak-dampak berbahaya.
Demikianlah cara Allah menyelamatkan Maria. Yesus adalah Juru Selamat Maria dalam cara yang bahkan lebih besar lagi, dengan mencegah Maria pernah terjangkiti dosa asal sama sekali, dan dengan menjaga Maria bebas dari dosa di sepanjang hidupnya. Itu dilakukan-Nya untuk Maria, menimbang peranan Maria yang unik. Ketidakberdosaan Maria ada petunjuknya dalam berbagai tipe di Alkitab.
Beberapa orang mengungkapkan rasa tidak percaya terhadap ide bahwa Allah hendak menciptakan seseorang yang sama sekali bebas dosa. Mereka lupa bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan pertama tanpa dosa.
KITAB SUCI MENGAJARKAN BAHWA MARIA ADALAH TABUT PERJANJIAN BARU
Sekarang, akan kita lihat bahwa Kitab Suci benar-benar memandang Maria identik dengan Tabut Perjanjian Baru. Kitab Suci memandang Maria identik dengan padanan Tabut Perjanjian Lama di Perjanjian Baru. Maria merupakan penggenapan baru dan lebih besar dari yang dulu dipertandakan oleh Tabut Perjanjian Lama. Informasi ini merupakan salah satu perihal terpenting dan paling menyingkapkan soal peranan besar yang dimiliki Maria.
Terdapat kesamaan yang mencolok antara Tabut Perjanjian Lama dan Maria
Karena membawa dan melambangkan kehadiran Allah, Tabut Perjanjian Lama dulu adalah benda tersuci dan paling besar kuasanya di Bumi, selain dari Allah sendiri. Tabut Perjanjian adalah peti suci yang menyimpan loh-loh batu dari Sepuluh Perintah Allah (Ulangan 10 :5). Tabut Perjanjian juga membawa dan melambangkan kehadiran rohani Allah di Bumi. Tempat Allah berbicara kepada Musa adalah di antara 2 kerubim yang ada di Tabut Perjanjian.
Marilah melihat bagaimana Kitab Suci memandang Maria identik dengan Tabut Perjanjian Baru.
Tabut Perjanjian Lama
Perawan Maria
Berisi firman Allah yang tertulis (Ul. 10:5)
Berisi firman Allah yang telah menjadi daging, Yesus (Yoh 1:1)
Yesus Kristus adalah Firman Allah yang telah menjadi daging (Yohanes 1:1). Maka, sama halnya Tabut Perjanjian Lama berisi firman Allah yang tertulis, Maria (yang adalah Tabut Perjanjian Baru) berisi firman Allah yang telah menjadi daging.
Tabut Perjanjian Lama
Perawan Maria
“Dihinggapi” kuasa dan kehadiran Allah (Keluaran 40:34-35)
“Dihinggapi” kuasa dan kehadiran Yang Mahatinggi (Lukas 1:35)
Tabut Perjanjian Lama dan Perawan Maria dihinggapi Roh Allah
Tabernakel dibuat untuk menyimpan Tabut suci (Keluaran 40:2-3). Sewaktu Allah turun ke atas tabernakel dan Tabut Perjanjian untuk berbicara kepada Musa, kita membaca di Keluaran 40:34-35 bahwa awan kemuliaan Allah atau kehadiran-Nya yang kelihatan (yang disebut “Shekhinah”) “menghinggapinya/menaunginya”. Istilah langka yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana kehadiran unik Allah akan “menghinggapi/menaungi” Tabut Perjanjian ini adalah episkiasei di dalam terjemahan bahasa Yunani Perjanjian Lama.
Kata yang sama “episkiasei” digunakan di bahasa Yunani Perjanjian Baru untuk menjelaskan bagaimana kehadiran Allah akan “menghinggapi” Perawan Maria. Kitab Suci menggunakan istilah ini hanya untuk Tabut Perjanjian dan Maria saja.
Ini berimplikasi jelas bahwa kehadiran Allah menaungi Maria dan turun atasnya – karena Maria adalah Tabut Perjanjian Baru – sama halnya kehadiran-Nya itu dulu menghinggapi Tabut Perjanjian Lama. Ini menyingkapkan bahwa kendati Maria hanya ciptaan yang tak terhingga lebih kecil daripada Allah, namun dia adalah Tabut yang baru. Lantas Maria punya hubungan unik dengan Allah, kesucian, pengudusan dan kuasa unik.
BUKTI MENAKJUBKAN DARI 2 SAMUEL DAN LUKAS 1 BAHWA MARIA ADALAH TABUT PERJANJIAN BARU
Coba pertimbangkan kesamaan menakjubkan yang diberikan Kitab Suci, antara yang terjadi kepada Tabut Perjanjian Lama di 2 Samuel 6 (2 Raja-Raja 6 di Kitab Suci Katolik Vulgata), dan yang terjadi kepada Santa Perawan Maria, Tabut Perjanjian Baru, Lukas bab 1. 2 Samuel 6 adalah cerita terlengkap di dalam Kitab Suci tentang Tabut Perjanjian Lama. Sedangkan Lukas 1 adalah cerita terlengkap dalam Kitab Suci tentang Santa Perawan Maria.
Tabut Perjanjian Lama
Perawan Maria
2 Samuel 6:9- “Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?"
Lukas 1:43- “[Elisabet berkata]: Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”
Daud berkata: “Bagaimana Tabut Tuhan itu dapat sampai kepadaku?” sedangkan Elisabet bertanya bagaimanakah “ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Elisabet mengatakan hal yang sama kepada Maria seperti yang Daud katakan tentang Tabut Perjanjian Lama, karena Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Satu-satunya perbedaan antara kedua pernyataan ini sungguh bahwa bahwa “ibu” digunakan di tempat “Tabut” digunakan. Kitab Suci memberi tahu kita bahwa ibu Tuhan = Tabut Perjanjian. Ini kemudian didukung oleh cerita-cerita berikut.
Daud dan Tabut Perjanjian Lama; Elisabet dan Maria
Daud meloncat-loncat di hadapan Tabut Perjanjian
Anak Elisabet melonjak di dalam kehadiran Maria
2 Samuel 6:16- “Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN ....”
Lukas 1:41-44- “Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus … Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.”
Daud meloncat-loncat di hadapan Tabut Perjanjian, sama halnya anak di dalam rahim Elisabet melonjak di depan Maria (Tabut Perjanjian Baru).
Tabut Perjanjian tinggal selama tiga bulan
Maria tinggal dengan Elisabet selama tiga bulan
2 Samuel 6:11- “Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.”
Lukas 1:56-57- “Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki.”
Di 2 Samuel 6, kita membaca bahwa Tabut Perjanjian tinggal bersama Obed-Edom orang Gat selama tiga bulan. Demikian juga, di Lukas 1, kita membaca bahwa Maria (Tabut Perjanjian Baru) tinggal bersama Elisabet selama tiga bulan.
2 Samuel 6:11 juga menyebutkan bahwa Allah memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya selama Tabut Perjanjian hadir. “Berkat” di dalam Kitab Suci sering merujuk kepada keturunan yang berbuah.
Tuhan memberkati Elisabet dan seisi rumahnya dengan kelahiran seorang anak, Yohanes Pembaptis, selama Maria (Tabut Perjanjian Baru) tinggal di rumahnya
Pada fakta ini juga kita lihat kesamaan dengan Lukas 1 dan Maria. Karena Lukas 1:57 memberi tahu kita bahwa usai Maria tinggal bersama Elisabet, Tuhan memberkati Elisabet dan seisi rumahnya dengan kelahiran seorang anak, Yohanes Pembaptis.
Daud berjalan untuk mengangkut Tabut Perjanjian
Hal ini terjadi sewaktu Maria berangkat ke Yehuda
2 Samuel 6:2- “Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari* Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim.”
Lukas 1:39-40- “Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.”
*{Terjemahan Baru menggunakan “dari”. Terjemahan Lama, dari mana Terjemahan Baru diturunkan menggunakan “ke”. Di sini, Terjemahan Baru, seperti banyak terjemahan lain memiliki kesalahan teks di mana seharusnya “ke” digunakan karena Baale-Yehuda adalah tempat tujuan Daud untuk meletakkan Tabut Perjanjian. Baale-Yehuda adalah nama lain dari Kirjath-Jearim seperti disebutkan di Yosua 15:9 di mana Tabut Perjanjian tinggal selama dua puluh tahun lamanya seperti disebutkan di 1 Samuel 7:2.}
Seperti yang kita baca di sini, kesamaan-kesamaan luar biasa ini terjadi ketika Daud berjalan menuju kota berbukit di Yehuda (Kota Baal di Yehuda) dan sewaktu Maria, Tabut Perjanjian Baru, pergi menuju kota berbukit di Yehuda (Lukas 1:39).
Kitab Wahyu juga menunjukkan bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru
Wahyu 11:19, 12-1- “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. [12:1] Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”
Kitab Suci tidak ditulis dengan bab atau ayat sama sekali. Barulah pada abad ke-12 Kitab Suci dibagi dalam bab dan ayat. Maka, penulis Wahyu, St. Yohanes Rasul, menulis bagian awal bab 12 tanpa pemisah dari bagian akhir bab 11, dalam satu rangkaian tak terputus. Pada akhir bab 11, kita membaca bahwa Tabut Perjanjian Yesus terlihat di Surga. Ayat yang persis berikutnya adalah Wahyu 12:1. Maka, kata-kata di akhir bab 11 langsung menyambung dengan kata-kata di awal bab 12, tanpa ada pemisahan.
Tabut Perjanjian menyimpan manna dari padang pasir
Maria menyimpan manna dari Surga, Yesus
Ibrani 9:4- “…tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian.”
Yohanes 6:48-51- “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga... dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
Tidak bisa dipungkiri bahwa manna di padang pasir (Keluaran 16) merupakan pertanda Yesus sebagai Roti Hidup. Yesus menghubungkan kedua-duanya di Yohanes bab 6. Ia merujuk kepada manna di padang pasir, lalu berkata bahwa daging-Nya adalah manna sejati dari Surga.
Bangsa Israel mengumpulkan manna di padang pasir
Namun, manna dari padang pasir ditempatkan di dalam Tabut Perjanjian Lama. Fakta itu merupakan pertanda bahwa Yesus Kristus sendiri (manna sejati Perjanjian Baru) termuat dalam Maria, Bunda Yesus.
Di Ibrani 9:4, kita juga melihat bahwa tongkat Harun disimpan di dalam Tabut Perjanjian Lama. Pada Bilangan 17, kita melihat bahwa tongkat ini berbunga untuk membuktikan jabatannya sebagai imam besar yang sejati. Dengan demikian, tongkat Harus menandakan imam besar sejati. Di Perjanjian Baru, Yesus disebut sebagau imam besar sejati.
Tongkat Harun yang berbunga di Perjanjian Lama melambangkan kekuatan Imam Agung. Tongkat tersebut disimpan di dalam Tabut Perjanjian Lama
Lihat juga Ibrani 6:20, Ibrani 9:11, dan banyak ayat lainnya untuk lebih banyak bukti bahwa Yesus adalah imam besar sejati. Kesimpulannya tak terelakkan: tongkat Harun yang ditempatkan di dalam Tabut Perjanjian merupakan pertanda Yesus Kristus, imam besar sejati, ditempatkan di dalam Maria (Tabut Perjanjian Baru).
Sama sekali tidak dapat dipungkiri bahwa Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Bukti ini tidak dapat dibantah.
KARENA MARIA ADALAH TABUT PERJANJIAN BARU, HAL INI BERARTI BAHWA IA ADALAH BENDA YANG PALING SUCI DI MUKA BUMI SELAIN TUHAN YESUS
Tabut Perjanjian adalah benda yang paling suci di muka bumi di luar kehadiran Tuhan sendiri. Tabut Perjanjian tersimpan di dalam tabernakel, di dalam ruangan mahakudus. Kehadiran Tabut Perjanjianlah yang membuat ruangan mahakudus sangat suci.
Tabut Perjanjian itu sangatlah suci sampai umat Tuhan yang mengikutinya harus menjaga jarak darinya dengan hormat.
Orang-orang yang secara tidak pantas menyentuh Tabut Perjanjian meninggal.
Allah mencabut nyawa Uza yang dengan teledor mencoba menyentuh Tabut Perjanjian Lama
Orang-orang dari Bet-Semes meninggal karena mereka dengan lancang melihat ke dalam Tabut Perjanjian.
Kita melihat bagaimana Allah memandang suci benda yang dekat dengan kehadiran rohani-Nya.
KARENA MARIA ADALAH TABUT PERJANJIAN YANG BARU, HARUSLAH IA SUCI DAN DICIPTAKAN TANPA DOSA
Allah memberikan petunjuk yang spesifik untuk pembuatan Tabut Perjanjian. Ia memerintahkan agar Tabut Perjanjian dibuat dari emas yang paling murni.
*{Bingkai dalam bahasa Ibrani di sini adalah זֵר “zer” yang juga berarti “cincin” atau “mahkota”. Kata ini digunakan kembali pada Keluaran 25:24 dan 25. Beberapa terjemahan lain menggunakan “mahkota”, termasuk King James Bible (terjemahan Protestan yang paling dihormati di negara-negara berbahasa Inggris) pada ayat 24 dan 25. Di Keluaran 25:11, Alkitab Katolik Douay-Rheims yang berbahasa Inggris dan diterjemahkan dari Alkitab Latin Vulgata menggunakan “mahkota” untuk kata ini.}
Hal yang menarik adalah Tabut Perjanjian bukan hanya harus disalut dengan emas di sekelilingnya, tetapi juga ada rujukan spesifik kepada “mahkota emas disekelilingnya”.
Tabut Perjanjian Lama bermahkotakan emas
Perawan Maria (Tabut Perjanjian yang baru) juga memiliki mahkota
Keluaran 25:11- “…di atasnya harus kaubuat bingkai** {mahkota} emas sekelilingnya.”
Wahyu 12:1- “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”
**{Lihat catatan penerjemah untuk kata Ibrani yang dipakai untuk “bingkai” di atas.}
Tabut Perjanjian Lama haruslah sempurna dan suci karena ia adalah takhta kehadiran Allah yang unik. Kesucian Allah tidak bisa dikotori oleh hubungan dengan suatu hal yang bercacat. Demikian pula, dan dalam derajat yang lebih tinggi, Perawan Maria, sebagai Tabut Perjanjian yang baru, yang membawa Yesus Kristus, harus dijadikan tanpa dosa dan dalam keadaan yang sempurna.
Bukan hanya ia menyimpan kehadiran rohani Allah, tetapi juga Yesus Kristus (Allah sendiri). Maria tidak hanya semata-mata menyimpan firman Allah, tetapi sang Firman Allah yang menjadi daging (Yohanes 1:1). Oleh karena itu, Maria haruslah sempurna. Ia haruslah bebas dari segala dosa. Ia haruslah tetap perawan dan tidak dijamah oleh lelaki.
Jika Tabut Perjanjian Lama, yang menyimpan loh batu perintah Allah dan dinaungi kehadiran rohani Allah, harus disalut dengan emas yang paling murni dan harus dibuat berdasarkan perintah yang paling spesifik dari Tuhan, betapa jauh lebih besarnya penciptaan Maria oleh Tuhan, Tabut Perjanjian Baru? Pemenuhan lebih besar dari tipenya. Maria, Tabut Perjanjian Baru haruslah dan memanglah lebih besar daripada Tabut Perjanjian Lama.
Seperti Tabut Perjanjian Lama, Maria juga harus memiliki kekuatan yang luar biasa untuk melawan Setan dan musuh-musuh Allah. Ia harus memiliki kekuatan yang unik untuk perantaraan kepada Tuhan, dengan menurunkan berkat-Nya dan dalam membantu umat Allah, seperti halnya Tabut Perjanjian Lama.
SEPERTI TABUT PERJANJIAN LAMA, MARIA MEMILIKI KEKUATAN PERANTARAAN YANG UNIK; IA MEMPUNYAI KEKUATAN YANG LUAR BIASA DALAM MELAWAN MUSUH-MUSUH ALLAH, MELAWAN SETAN DAN MEMBANTU UMAT ALLAH
Tabut Perjanjian Lama memiliki kekuatan yang luar biasa. Sewaktu Tabut Perjanjian Lama dicuri oleh orang-orang Filistin, hal-hal yang menakjubkan terjadi kepada berhala mereka, Dagon.
Kepala dan tangan dari Dagon, berhala orang Filistin, terpenggal, setelah orang-orang Filistin menyimpan Tabut Perjanjian Lama di dalam kuil Dagon
Orang-orang Filistin mulai dibinasakan karena mereka telah mengambil Tabut Perjanjian. Hal ini membuat mereka mengembalikan Tabut Perjanjian kepada musuh mereka, orang-orang Israel.
Tabut Perjanjian menyebabkan ketakutan yang luar biasa kepada musuh-musuh Tuhan.
Tabut Perjanjian bermukjizat. Tabut Perjanjian mengeringkan air sungai Yordan
Maria, Tabut Perjanjian yang baru, memiliki kekuatan ini dan terlebih lagi; karena pemenuhan lebih agung dari tipenya, dan Perjanjian Baru lebih agung daripada Perjanjian Lama. Kita sekarang harus melihat lebih banyak lagi bukti dari Kitab Suci untuk ajaran-ajaran Katolik tentang Maria.
TANAH YANG DIGUNAKAN UNTUK MENCIPTAKAN ADAM ADALAH SUATU TIPE MARIA DAN PERLINDUNGANNYA DARI DOSA (DIKANDUNGNYA TANPA NODA)
Kita telah menetapkan bahwa Yesus Kristus adalah Adam yang baru. Adam dibentuk dari tanah atau debu.
Kata Ibrani untuk “debu tanah” adalah “Adamah. Ini adalah kata benda feminin. Adam dinamakan sedemikian karena ia berasal dari Adamah; namanya berarti anak laki-laki dari tanah, anak laki-laki dari Adamah. (Poin ini dibuat oleh Gerry Matatics, Biblical Foundations International, Dunmore. PA.)
Poin ini dapat dibentuk, tetapi jelas bahwa, dalam tingkatan tertentu, tanah dari mana Adam dibentuk adalah suatu tipe Maria. Adam pertama diciptakan Tuhan dari tanah, dan Adam kedua (Yesus Kristus) dibentuk dalam daging dari Maria, ibunya. Maka, pertanyaan selanjutnya adalah: dalam keadaan seperti apakah tanah itu sewaktu ia diciptakan?
Tanah dari mana Adam dibentuk – dan memang, semua ciptaan Tuhan sebelum jatuhnya manusia dalam dosa – sama sekali tidak bernoda dan sempurna. Dosa dan kutukan tidak bertempat di dalamnya.
Maria, yang melahirkan Adam kedua dan yang lebih besar (Yesus Kristus), haruslah juga sama sekali tidak bernoda dan sempurna. Ia harus dilindungi dari semua noda dan kutukan dosa asal. Fakta akan Maria ini disebut sebagai dogma Dikandung Tanpa Noda.
HANYALAH MARIA DAN KETIDAKBERDOSAANNYA YANG MEMENUHI APA YANG DIRAMALKAN DI KEJADIAN 3 :15- “AKU AKAN MENGADAKAN PERMUSUHAN ANTARA ENGKAU [ULAR] DAN PEREMPUAN INI…“
Segera setelah jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa asal, Tuhan membuat nubuat ini.
Tuhan berkata bahwa akan ada permusuhan – pertengkaran, perpisahan, perpecahan antara Setan dan “perempuan ini.” Di dalam konteks yang sama, kita membaca tentang keturunan wanita tersebut, dan kemenangan akan diberikan lewat sang perempuan dan keturunannya. Di dalam Kitab Suci, anak-anak seorang lelaki dan keturunannya disebut sebagai benihnya. Keturunan (“benih”) dari sang perempuan, karena hal ini, adalah sesuatu yang unik. Ini merujuk kepada seorang anak yang datang dari seorang wanita sendiri. Tentu saja ini merujuk kepada kandungan perawan dan kelahiran dari rahim Perawan Maria yang Terberkati, bunda Yesus. “Benih” dari sang perempuan merujuk kepada Yesus Kristus.
Maka, perempuan ini yang dikatakan memiliki permusuhan dengan sang ular jelas-jelas adalah Maria, bunda Yesus Kristus. Perempuan tersebut bukanlah Hawa, yang menyerah kepada ular, melainkan Maria.
Allah berkata bahwa Ia akan mengadakan permusuhan antara ular dan perempuan. Hasilnya, Maria haruslah dijaga sama sekali dari dosa. Karena sewaktu seseorang berdosa, ia tidak bermusuhan dengan Setan, tetapi menyerah kepada Setan. Jalan satu-satunya bagi sang perempuan untuk memiliki permusuhan berbuyutan dengan ular adalah jika ia dilindungi dari dosa dan dari dosa Adam.
Fakta bahwa Maria adalah “perempuan” ini, dan karena itu ia bebas sama sekali dari pengaruh dosa dan Setan, adalah alasan Yesus memanggil Maria “perempuan” atau “wanita” di dalam Perjanjian Baru. Yesus tidak pernah memanggil ibu-Nya dengan panggilan lain selain “perempuan”. Banyak orang non-Katolik berpikir bahwa inilah cara Yesus untuk mengejek ibu-Nya dan mengecilkan peranannya; tidak – malah sebaliknya – Yesus mengidentifikasikan Maria sebagai “perempuan” {atau “wanita”} dari Kejadian 3:15.
Dengan membaca secara singkat Yohanes 2:3-5, beberapa orang menyimpulkan bahwa Yesus menghardik ibu-Nya pada perjamuan di Kana. Tetapi, ini sebetulnya menonjolkan kekuatan perantaraan Maria kepada Yesus. Yesus berkata bahwa saat-Nya belum tiba; artinya, belum tiba waktunya untuk Yesus untuk menunjukkan kekuatan mukjizat-Nya. Rencana-Nya adalah untuk menunggu lebih lama. Bagaimanapun, berkat permohonan ibu-Nya, yang iba akan pasangan yang baru menikah, Yesus pun melakukan mukjizat pula. Ia mengerjakan mukjizat (pertama)-Nya ini karena permohonan ibu-Nya, walaupun saat-Nya "belum tiba." Ini adalah contoh yang sangat baik tentang bagaimana rahmat diperoleh dari Yesus lewat Maria – rahmat yang mungkin Ia tidak akan mau berikan dalam situasi lain.
Atas permohonan ibunda-Nya, Yesus memberkati pernikahan di Kana dengan mukjizat perubahan air menjadi anggur, walaupun saat-Nya "belum tiba"
Banyak orang non-Katolik juga menolak dengan mengatakan bahwa jika Maria sangatlah penting, mengapa Yesus membiarkan penulis-penulis Injil memberikan kesan bahwa Ia mengecilkan peranan ibu-Nya? Mereka berkata bahwa beberapa ayat memberikan kesan tersebut, atau tidak melakukan banyak untuk menghapus kesan tersebut. Jawabannya adalah bahwa Allah tidak melemparkan mutiara kepada babi (Matius 7:6). Ia sering menyembunyikan sedikit-sedikit kebenaran-Nya, atau meletakannya hanya di permukaan, supaya upaya-upaya yang tidak benar-benar atau orang-orang yang tidak tulus akan melewatinya atau mendapatkan kesan yang salah. Tetapi, mereka yang lebih sabar dan menggali lebih dalam – atau yang hanya percaya Gereja yang Yesus telah dirikan – akan menemukan harta karun-Nya dan maknanya yang sejati.
Ini sangatlah benar dalam hal ajaran Kitab Suci tentang peran Maria yang sangat dalam. Dengan hanya membaca secara singkat dan upaya-upaya yang tidak sungguh-sungguh akan membuat orang tetap buta terhadapnya. Tetapi itu terdapat di dalam Kitab Suci. Maria adalah Hawa yang baru dan perempuan di Kejadian 3:15 seperti yang kita telah lihat. Ia juga adalah Tabut Perjanjian Baru dan lebih banyak lagi, seperti yang kita akan lihat. Itu semua terdapat di dalam tipologi Kitab Suci dan banyak sekali ayat-ayat yang harus dimengerti dengan lebih dalam, tetapi banyak sekali orang yang tidak menghiraukannya. Hal ini disebabkan oleh karena mereka tidak melihat dan tidak mendengar. Karena mereka telah gagal untuk percaya kepada satu Gereja yang Yesus telah dirikan, sayangnya mereka hanya memperoleh pengertian yang dangkal dan salah tentang ajaran Kitab Suci.
Walaupun wanita-wanita lain berada di kaki kayu salib, Yesus menyebut ibu-Nya sendiri. Yesus sekali lagi memanggilnya bukan dengan panggilan selain “wanita” karena ialah perempuan dari Kejadian 3:15: perempuan yang bermusuhan dengan pahit dengan ular, Yesus juga memanggil St. Yohanes untuk menerima ibu-Nya sebagai ibunya sendiri.
JIWA MARIA MEMULIAKAN TUHAN, DAN YANG MAHAKUASA TELAH MELAKUKAN PERBUATAN-PERBUATAN BESAR KEPADANYA
Di Lukas 1, kita melihat sekelumit dari hak istimewa yang Tuhan telah limpahkan kepada Maria.
Maria dan St. Elisabet
Kitab Suci berkata bahwa jiwa Maria memuliakan Tuhan; tetapi hal ini tidak mengecilkan-Nya. Maria tidak mengurangi Yesus, tetapi membawa orang-orang kepada Yesus. Tabut Perjanjian Lama memiliki arti kekuatan dan kehadiran Allah. Sewaktu Tabut Perjanjian Lama hadir di antara mereka, ia membuat mereka menjadi taat, memiliki harapan, dan menjadi cinta kepada Yang Maha Kuasa. Dengan cara yang mirip, tetapi lebih besar, Maria, Tabut Perjanjian yang baru membawa dan memusatkan kita dengan hebat di sekeliling Yesus Kristus. Semua yang dimiliki Maria dan segalanya akan Maria berasal dari fakta bahwa ia adalah ibu Yesus Kristus. Yesus telah melakukan hal-hal yang besar untuk Maria untuk melindungi-Nya dari dosa.
Orang juga harus memperhatikan sungguh-sungguh pada Lukas 1:48 di mana Maria bernubuat bahwa “semua keturunan akan menyebut” Maria “berbahagia” {kata Yunani untuk “berbahagia” adalah “μακαρίζω” dibaca “makarizó”, yang berarti “terberkati”}. Ini adalah nubuat tentang doa Katolik Salam Maria. Selama berabad-abad umat Katolik telah berdoa: “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah {terberkatilah} engkau di antara wanita, dan terpujilah {terberkatilah} buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.”
KITAB SUCI BERKATA BAHWA MARIA “PENUH RAHMAT”, YANG BERARTI TANPA DOSA
Maria menerima kabar baik dari St. Gabriel
Kitab Suci Protestan Modern tidak menerjemahkan Lukas 1:28 “penuh rahmat”. Mereka menggunakan “yang dilimpahi anugerah” atau istilah yang mirip. Terjemahan Protestan ini salah. Ada beberapa cara yang mudah untuk menunjukkan bahwa mereka salah. Kata dalam bahasa Yunani ini adalah kecharitomene. Kata ini menyentuh secara langsung ide tentang “rahmat” atau “karunia”. Pelajar-pelajar bahasa Yunani menyataan bahwa kecharitomene berasal dari akar kata charis, yang memiliki arti harfiah "rahmat" atau “karunia” ("grace" dalam bahasa Inggris). 150 kali charis disebutkan di Kitab Suci King James Version (Kitab Suci Protestan) dan 129 kali charis diterjemahkan sebagai "rahmat" ("grace").
Penting untuk dicatat bahwa terjemahan-terjemahan Protestan awal atas Lukas 1:28 menggunakan “penuh rahmat” atau istilah lain yang mirip. Seorang Protestan yang terkenal bernama William Tyndale (1494-1536) dianggap sebagai pahlawan di antara orang Protestan. Versi Kitab Sucinya diterjemahkan dalam bahasa Inggris modern kira-kira tahun 1525. Tyndale menerjemahkan Lukas 1:28 seperti ini: “Hayle full of grace ye Lorde is with ye: blessed arte thou amonge wemen.” {“Salam engkau yang penuh rahmat, Tuhan besertamu: terberkatilah engkau di antara para wanita.”} (http://wesley.nnu.edu/biblical_studies/tyndale/) Thomas Cranmer, seorang Protestan Inggris (1489-1556) juga menerjemahkan ayat ini dengan “penuh rahmat”.
"Ave Gratia Plena" adalah terjemahan bahasa Latin untuk salam dari St. Gabriel kepada Maria, yang berarti "Salam, engkau yang penuh rahmat".
St. Hieronimus (347-420 Masehi) adalah pelajar Kitab Suci dari Gereja kuno. Bahkan penerjemah-penerjemah Protestan untuk 1611 King James Bible menyebut St. Hieronimus “bapa yang paling terpelajar, dan ahli bahasa yang terbaik yang tidak tertandingi, dalam masanya, dan dibandingkan dengan ahli-ahli bahasa sebelum zamannya” (Dari Kata Pengantar Penerjemah 1611 KJV). St. Hieronimus menerjemahkan “kecharitomene” menjadi “gratiae plena” yang berarti “penuh rahmat yang engkau telah terima” dalam bahasa Latin Vulgata. “Rahmat” juga diterima sebagai terjemahan yang sesuai di Perjanjian Baru dalam Kitab Suci Douay-Rheims edisi 1582 (Kitab Suci Inggris dari bahasa Latin Vulgata).
Word Pictures of the New Testament, karya A.T. Robertson, seorang Protestan yang terkenal yang adalah pelajar Bahasa Yunani, mengatakan hal ini tentang Lukas 1:28:
Jika Maria “penuh rahmat,” hal ini dengan sendirinya menunjukkan dengan kuat bahwa ia sama sekali tidak berdosa. Karena rahmat berlawanan dengan dosa. Sang malaikat tidak berkata bahwa Maria akan menjadi penuh dengan rahmat, tetapi bahwa ia menemukan bahwa Maria sudah ada dalam keadaan itu. Ia dikandung dalam keadaan tersebut. Lebih lagi, Maria dinyatakan “terberkati di antara para wanita” karena posisinya unik.
MARIA SELAMANYA PERAWAN
Kita telah melihat bahwa Maria adalah Hawa yang baru dan Tabut Perjanjian Baru. Sekarang kita harus melihat bukti dari Kitab Suci bahwa Maria selamanya perawan. Kebanyakan Protestan pada masa kini menolak bahwa Maria selamanya perawan; mereka berpikir bahwa hal itu melawan Kitab Suci. Banyak dari mereka akan terkejut sewaktu mereka menyadari bahwa orang-orang Protestan, termasuk Martin Luther, John Calvin, Huldrych Zwingli dsb. percaya bahwa Maria selamanya perawan. Ide bahwa Maria tidaklah lagi perawan dan memiliki anak-anak lain selain Yesus dibuat lama setelah “reformasi” Protestan awal. Maka, posisi Protestan dalam hal ini bukan hanya saja melawan tradisi Katolik kuno dan Kitab Suci (seperti yang kita akan lihat), tetapi juga “tradisi” Protestan mereka sendiri.
MATIUS 1:25 TIDAK MENENTANG BAHWA MARIA SELAMANYA PERAWAN
Hal pertama yang biasanya dikutip oleh orang-orang Protestan untuk membantah bahwa Maria selamanya perawan adalah Matius 1:25:
Menurut orang-orang Protestan, ayat ini membuktikan bahwa Maria tidak lagi perawan setelah kelahiran Yesus. Ini sangatlah salah. Kata Yunani “sampai” (heos) tidak berarti bahwa Yosef melakukan hubungan jasmani dengan Maria setelah kelahiran Yesus Kristus. Ini hanya berarti bahwa mereka tidak berhubungan sampai titik itu, tanpa berkata apa pun tentang apa yang terjadi setelah titik tersebut. Hal ini dibuktikan oleh banyak ayat-ayat. Kita juga harus mengingat bahwa Kitab Suci ditulis beberapa ribu tahun lalu. Kitab Suci ditulis dalam waktu dan bahasa-bahasa yang tidak mengungkapkan dan memberi arti kepada hal-hal dengan cara yang sama dengan bahasa Indonesia modern.
Misalnya, pada 2 Samuel 6:23 (2 Raja-Raja 6:23 di Kitab Suci Katolik Douay-Rheims), kita membaca bahwa Tuhan mengutuk Mikhal, istri Daud. Tuhan mengutuk Mikhal karena ia mengolok-olok cara Daud bersukacita di depan Tabut Perjanjian. Hasilnya, Mikhal tidak memiliki anak-anak “sampai” hari kematiannya.
Apakah hal ini berarti bahwa Mikhal mulai memiliki anak-anak setelah ia meninggal? Tentunya tidak. Ayat ini menunjukkan bahwa sewaktu Kitab Suci menggambarkan sesuatu sebagai benar “sampai” atau “sebelum” titik tertentu, tidak berarti hal tersebut tidak lagi benar setelah titik tersebut. Berikut adalah beberapa contoh dari hal ini:
Ayat ini merujuk kepada Putra Allah. Apakah ini berarti bahwa Ia akan berhenti duduk di sisi kanan Bapa setelah musuh-musuh Tuhan dijadikan tumpuan kaki-Nya? Tentunya tidak. Ia akan tetap ada di sebelah kanan Allah Bapa.
Apakah ini berarti bahwa mereka harus berhenti membaca Kitab Suci dan doktrin setelah Ia datang? Tentunya tidak.
Apakah ini berarti bahwa Paulus semata-mata tidak lagi memiliki hati nurani yang murni setelah hari itu? Tentunya tidak.
Preposisi “sebelum” bisa digunakan dengan cara yang sama.
Di sini kita melihat bahwa kata “sebelum” dapat digunakan dengan cara yang sama dengan kata “sampai”. Anak ini tidak mati; Yesus telah menyembuhkan mereka (Yohanes 4:50). Maka, pernyataan di Matius 1:18, yang dikutip di bawah, bahwa Maria memiliki anak “sebelum” ia dan Yosef hidup sebagai suami istri, tidak berarti bahwa mereka hidup sebagai suami isteri setelah ia memiliki anak. Hal ini hanya menyatakan bahwa ia mengandung tanpa hubungan badan.
Pertunangan St. Yosef dan St. Perawan Maria
Sangat jelas, tentunya, bahwa Matius 1:25 dan Matius 1:18 tidak menentang fakta bahwa Maria selamanya perawan. Orang-orang Protestan tidak dapat menggugat dengan benar bahwa ayat-ayat ini adalah bukti bahwa Maria tidak lagi perawan. Ayat-ayat ini tidak pula membuktikan bahwa ia selamanya perawan. Bukti bahwa Maria selamanya perawan ditunjukkan oleh hal-hal lain di dalam Kitab Suci.
BAGAIMANA DENGAN “ANAK SULUNG” – BUKANKAH ITU BERARTI TERDAPAT ANAK-ANAK LAIN?
“Anak sulung” adalah gelar yang diberikan kepada anak laki-laki pertama yang lahir dalam keluarga Yahudi: dalam kata lain, gelar yang diberikan kepada anak laki-laki yang juga anak sulung.
Allah secara spesifik memerintahkan kepada orang-orang Israel untuk menguduskan (atau memisahkan) anak-anak laki-laki sulung mereka untuk penyucian yang khusus dan pelayanan kepada Allah. Gelar “anak laki-laki sulung” memiliki kepentingan yang lain karena dengan gelar ini, anak tersebut diberikan dua kali lipat bagian dari warisan (Ulangan 21:17). Gelar “anak laki-laki sulung” diberikan kepada anak tersebut tanpa peduli apakah wanita tersebut memiliki anak-anak lain setelah anak pertama tersebut. Sebagai contoh: “kita dapat melihat ini dari tulisan di nisan Yunani di Tel el Yaoudieh (bandingkan "Biblica" 11, 1930 369-90) untuk seorang ibu yang meninggal saat melahirkan anak: "Dalam kesakitan melahirkan anak laki-laki sulungku, takdir telah membawaku kepada akhir hayat.” (Dikutip dalam “Brothers and Sisters of Jesus,” {Saudara-Saudari Yesus} oleh William Most)
Di dalam Keluaran 13 dan 34, kita membaca tentang perintah Allah agar para anak sulung dikuduskan kepada-Nya. Diselenggarakanlah upacara untuk “penyucian anak-anak sulung” (Keluaran 13 dan 34:20). Bukannya mereka menunda upacara “anak laki-laki sulung” sampai sang wanita memiliki anak kedua.
Maka, pernyataan bahwa Yesus adalah “anak laki-laki sulung” dari Maria (Lukas 2:7) sama sekali tidak menentang bahwa Maria selamanya perawan. Ini hanya berarti bahwa Ia adalah anak pertama dan anak laki-laki Maria. Tidak ada pernyataan tentang apakah terdapat anak lain yang lahir setelahnya.
BAGAIMANA DENGAN “SAUDARA-SAUDARA” YESUS
Orang-orang non-Katolik sering menyebut-nyebut ayat-ayat di mana terdapat “saudara-saudari” Yesus. Pertama-tama, harus disebutkan bahwa Kitab Suci tidak pernah menyebutkan bahwa “saudara-saudara” Yesus ini adalah anak-anak dari Maria, bunda Yesus.
Di dalam bahasa Yunani, kata-kata yang digunakan adalah adelphoi (“saudara-saudara”) dan adelphe (“saudari-saudari”). Kata adelphoi dan adelphe dapat merujuk kepada saudara-saudara sekandung (dari satu ibu). Bagaimanapun, Kitab Suci juga menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan orang-orang yang bukanlah saudara-saudara seibu, tetapi sepupu, atau orang-orang yang memiliki hubungan darah, atau saudara-saudara angkat atau teman-teman dekat.
KITAB SUCI BERKATA BAHWA ABRAHAM ADALAH SAUDARA LOT, TETAPI IA BUKAN BENAR-BENAR SAUDARANYA
Lot adalah keponakan Abraham. Abraham adalah pamannya (bandingkan Kejadian 11:31; 14:12). Tetapi, Kitab Suci menjelaskan dua kali bahwa Lot adalah “saudara” Abraham. Hal ini disebabkan kata “saudara” bukan berarti adik atau kakak. Seperti yang dikatakan di atas, ini dapat berarti sepupu atau orang yang memiliki hubungan darah, atau adik/kakak angkat, atau teman dekat.
Lot adalah keponakan Abraham
Kitab Suci juga menyebutnya sebagai “saudara” Abraham
Kejadian 11:27- “Inilah keturunan Terah. Terah memperanakkan Abram, Nahor dan Haran, dan Haran memperanakkan Lot.”
Kejadian 12:5- “…Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.”
Kejadian 14:12- “Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi--sebab Lot itu diam di Sodom.”
TB, TL, dan MILT menggunakan “anak saudara” pada Kejadian 12:5 dan Kejadian 14:12.
Kejadian 14:14- “Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan {TL- saudaranya; MILT – saudaranya ; ini merujuk kepada Lot}…”
Kejadian 14:16- “Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya {TL- Lut, saudaranya; MILT- Lot, saudaranya} itu…”
Beberapa orang Protestan mencoba menjawab ini dengan mengajukan bahwa Perjanjian Lama bukan ditulis dalam bahasa Yunani, melainkan Ibrani. Maka, mereka berkata, bahwa dalam kasus Lot, adelphos tidak bisa digunakan untuk kasus orang yang bukan saudara seibu. Ini dibantah dengan menjawab bahwa walaupun naskah orisinal Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, naskah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh tujuh puluh pelajar beberapa abad sebelum kedatangan Kristus. Terjemahan yang terkenal ini dinamakan Septuaginta {Septuaginta berarti tujuh puluh, merujuk kepada jumlah penerjemah naskah orisinal Ibrani}.
Lot dan Abraham berpisah. Walaupun Lot adalah keponakan Abraham, terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani menyebut Lot sebagai saudara Abraham
Terjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama, atau Septuaginta, dikutip kira-kira 300 kali oleh penulis-penulis Perjanjian Baru yang diinspirasikan Tuhan. Ini berarti penulis-penulis Perjanjian Baru menerima Septuaginta. Di dalam Septuaginta, kata Yunani adelphos digunakan untuk menggambarkan Lot sebagai saudara Abraham. Adelphos adalah bentuk tunggal dari adelphoi, kata yang digunakan di dalam Perjanjian Baru untuk “saudara-saudara” Yesus. Maka, Perjanjian lama memang menggunakan adelphos untuk menggambarkan seseorang yang bukan secara harfiah adalah saudara seibu.
Tetapi poin ini juga dapat dibuktikan dari Perjanjian Baru. Di dalam Kisah Para Rasul 3:17 dan Roma 9:3, kita melihat bahwa adelphoi (saudara-saudara) juga digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang memiliki kebangsaan yang sama, yang bukanlah saudara seibu. Ayat-ayat ini mematikan argumen orang Protestan dalam kasus ini.
Terlebih lagi, di Lukas 10:29, Matius 5 :22 dan Matius 7:3, kita melihat bahwa adelphos ("saudara laki-laki”) digunakan untuk "sesama", dan bukan saudara seibu.
TETAPI TERDAPAT KATA DALAM BAHASA YUNANI UNTUK SEPUPU, ANEPSIOS ; JIKA SAUDARA-SAUDARA YESUS ADALAH SEPUPU, BUKANNYA SAUDARA-SAUDARA SEIBU, MENGAPA ANEPSIOS TIDAK DIGUNAKAN?
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria selamanya perawan dan tidak mempunyai anak-anak lain. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa semua “saudara-saudara” Yesus adalah sepupu-sepupu-Nya. Mereka mungkin adalah saudara jauh atau teman-teman dekat, atau orang-orang yang dianggap bagian keluarganya lewat pernikahan atau hukum atau negara asal. Sebagai contoh, dalam 2 Samuel 1:26, Raja Daud memanggil Yonatan “saudaranya”. Yonatan dan Daud bukanlah saudara ataupun sepupu. Daud telah menikahi saudara perempuan Yohatan, Mikhal, anak perempuan Raja Saul. Maka Pernikahan Daud membuatnya masuk ke dalam keluarga Yonatan.
Walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, Daud dan Yonatan disebut oleh Kitab Suci sebagai "saudara"
Jumlah “saudara-saudara” (adelphoi) yang disebutkan di dalam Kitab Suci mengindikasikan bahwa beberapa dari antara mereka bukanlah juga saudara-saudara jauh, melainkan dianggap bagian dari keluarga dalam hal-hal lain. Bahkan bila salah satu atau beberapa dari mereka bukanlah sepupu, tetapi lebih ke saudara-saudara jauh atau tetangga atau teman karib dari keluarga, kata adelphoi akan digunakan pula. Inilah mengapa fakta bahwa kata untuk sepupu tidak digunakan sama sekali tidak membuktikan bahwa Maria memiliki anak-anak lain.
BUKTI DARI MATIUS 27:56 MENUNJUKKAN BAHWA “SAUDARA-SAUDARA” YESUS BUKANLAH KAKAK ATAU ADIKNYA
Yakobus dan Yusuf adalah dua dari nama panggilan "saudara-saudara" Yesus. Dapat ditunjukkan, lewat poin-poin berikut bahwa mereka adalah anak-anak dari wanita lain dan bukan saudara Yesus. Mohon perhatikan hal ini secara saksama.
Terdapa tiga wanita di bawah kayu salib: 1) Perawan Maria yang Terberkati (bunda Yesus) 2) Maria istri Klopas (yang disebut saudari Perawan Maria yang Terberkati); dan 3) Maria Magdalena.
Maria, istri Klopas, juga digambarkan sebagai “Maria yang lain” di Matius 28:1. Kitab Suci juga memberi tahu kita bahwa Yakobus dan Yusuf adalah anak-anak Maria ini:
Maka, Yakobus dan Yusuf (yang dikatakan “saudara-saudara” Yesus) bukanlah saudara-saudara-Nya dari Perawan Maria, tetapi paling tidak sepupu-sepupunya. Mereka malah mungkin bukan sepupu pertama. Karena Maria istri Klopas (ibu Yakobus dan Yusuf), yang dikatakan adalah “saudara” ibunda Yesus (Yohanes 19:25) juga dinamakan Maria. Bukanlah hal yang wajar bahwa dua kakak beradik di dalam keluarga Ibrani diberi nama yang sama. Kemungkinan besar, mereka pun bukan kakak beradik, melainkan anggota dari suku yang sama, yang disebut “saudara” dalam cara yang sama Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas disebut “saudara-saudara” Yesus. Semua ini membuktikan bahwa tidak satu pun dari pernyataan Kitab Suci tentang saudara-saudari Yesus menentang, dari sisi mana pun, bahwa Perawan Maria yang Terberkati selamanya perawan. Kita sekarang harus melihat bukti bahwa Maria tidak memiliki anak-anak lain dan bahwa ia selamanya perawan.
YOHANES 19:26 MEMBUKTIKAN BAHWA MARIA TIDAK MEMILIKI ANAK LAIN SELAIN YESUS
Sewaktu ia meninggal di kayu Salib, Yesus memercayakan ibu-Nya kepada St. Yohanes Rasul.
Di kayu salib, Tuhan memercayakan ibunda-Nya kepada St. Yohanes dan juga sebaliknya
Para pelajar menunjukkan bahwa ini adalah suatu tindakan pemercayaan (entrustment) yang formal. (Gerry Matatics, Op. cit.). Yesus memercayakan ibu-Nya kepada St. Yohanes supaya ia menjaga Maria. Jika Maria memiliki anak-anak yang lain, seperti apa yang para Protestan ajukan, Yesus tidak akan memberikan Bunda Maria kepada St. Yohanes sebagai ibundanya. Maria akan diberikan kepada salah satu dari sekian banyak “saudara-saudara-Nya.” Fakta bahwa Yesus memercayakan Maria kepada St. Yohanes membuktikan bahwa ia tidak memiliki anak-anak lain.
Orang-orang Protestan mencoba menjawab ini dengan berargumentasi bahwa “saudara-saudara” Yesus tidak beriman dan itulah mengapa Yesus memercayakan ibu-Nya kepada St. Yohanes. Tetapi hal ini dibantah oleh Kisah Para Rasul 1:14. Hal ini menunjukkan bahwa “saudara-saudara” Yesus adalah orang –orang beriman. Tentu saja Yesus tahu bahwa mereka adalah, atau akan menjadi orang-orang beriman, dan oleh karenanya, Ia tidak akan memercayakan Bunda Maria kepada St. Yohanes jika mereka adalah saudara-saudara kandungnya.
Adalah sesuatu yang penting, bahwa ketika Yesus ditemukan di Bait Suci pada saat Ia berumur 12 tahun, tidak ada indikasi sama sekali bahwa Maria dan Yosef memiliki anak-anak lain (Lukas 2:41-51). Indikasinya adalah bahwa Ia adalah anak tunggal. Ia juga disebut sebagai anak Maria (Markus 6:3), bukan salah satu anak dari Maria. Tidak pernah dikatakan bahwa Maria memiliki anak-anak lain.
Tidak terdapat indikasi sama sekali bahwa Maria memiliki anak lain selain Yesus, terutama sewaktu Yesus ditemukan di Bait Allah
JAWABAN MARIA KEPADA MALAIKAT DI LUKAS 1 MENANDAKAN BAHWA IA TELAH MENGAMBIL SUMPAH KEPERAWANAN
Malaikat muncul kepada Maria dan berkata bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak. Maria menjawab ini dengan berkata: “Bagaimana hal ini akan terjadi, karena aku belum mengenal laki-laki? Arti sesungguhnya adalah: bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku adalah perawan. Bagaimana itu bisa terjadi? Maria mengerti bagaimana anak-anak dikandung. Jawabannya hanyalah masuk akal bila ia telah mengambil sumpah keperawanan. Ia bertanya bagaimana ia bisa mengandung sebagai perawan.
Maria tertegun akan pesan St. Gabriel bahwa ia akan mengandung seorang anak sebab ia telah mengambil sumpah keperawanan
Harus ditunjukkan bahwa pertunangan Maria kepada Yosef tidak berlawanan dengan ide bawa ia telah mengambil sumpah tersebut. Tindakan moral pada saat itu mendiktekan bahwa wanita yang telah berkomitmen menjadi perawan memiliki pelindung laki-laki yang akan menjaga dan menghormati sumpah tersebut. Itu adalah peran Yosef.
TIDAK DAPAT DIBAYANGKAN BAHWA TABUT PERJANJIAN BARU MENJALANKAN HUBUNGAN BADANIAH
Kita telah melihat bahwa Kitab Suci dengan jelas mengajarkan bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Sebagai makhluk paling suci di Bumi, dan sebagai bahtera yang menampung Yang Maha Tinggi, sangatlah tidak pantas – berlawanan dengan menjaga martabat sang Tabut dan peranannya – untuk berpikir bahwa ia menjalankan hubungan badaniah apa pun. Untuk menyiapkan umat-umat Allah untuk kedatangan-Nya di Gunung Sinai, Musa berkata:
Sewaktu Daud melarikan diri dan memerlukan roti dari seorang imam, kita membaca:
Tabut Perjanjian telah diciptakan untuk alasan yang lebih mengagumkan dan suci, dan tidak akan melakukan hubungan badaniah. Uza dibunuh hanya karena ia menyentuh Tabut Perjanjian sewaktu ia tidak seharusnya melakukannya (2 Samuel 6:6-8).
YEHEZKIEL 44 DAN NUBUAT TENTANG PINTU GERBANG YANG TERTUTUP ADALAH TENTANG BAGAIMANA MARIA SELAMANYA PERAWAN
Di sini kita melihat bahwa Tuhan akan melewati pintu gerbang ini, dan tiada orang lain yang bisa melewatinya.
Nabi Yehezkiel menubuatkan bagaimana Maria selamanya perawan dalam bentuk pintu gerbang yang tertutup
Ini adalah nubuat tentang keperawanan kekal Maria. Ia adalah pintu gerbang yang tertutup, yang Tuhan lewati. Itulah salah satu alasan bahwa Maria telah disebut “Pintu Gerbang Surga” di dalam tulisan-tulisan Katolik tradisional.
GEREJA KATOLIK KUNO SANGAT PERCAYA BAHWA MARIA SELAMANYA PERAWAN
Beberapa orang-orang Protestan dan kebanyakan anggota Gereja “Ortodoks” menyatakan bahwa mereka menghormati Konsili Konstantinopel Kedua. Ini adalah konsili ekumenis yang kelima. Seperti yang kita lihat di sini, konsili ini benar-benar mengajarkan keperawanan kekal Maria.
Di Konsili Lateran, Paus St. Martinus telah menyatakan secara khidmat doktrin Maria selamanya perawan
Gereja Katolik kuno percaya bahwa Maria selamanya perawan. Pada abad keempat, St. Hieronimus, bapa pelajar Kitab Suci, yang menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin, melindungi kebenaran ini melawan Helvetikus, seorang bidah yang membantahnya. Seperti telah disebut sebelumnya, bahkan orang-orang Protestan pertama, termasuk Luther, Calvin, dan Zwingli, percaya bahwa Maria selamanya perawan.
BUKTI DARI KITAB SUCI TENTANG DIANGKATNYA RAGA MARIA KE DALAM SURGA DAN KERATUANNYA DI SURGA
Gereja Katolik mengajarkan bahwa, setelah perjalanan hidupnya di dunia, Perawan Maria yang Terberkati diangkat jiwa dan raganya ke dalam Surga. Badannya tidak tetap berada di dalam kubur dan menderita pembusukan daging; karena ini adalah hukuman untuk dosa asal, sesuatu yang tidak ia punyai. Karena ia bebas dari semua dosa asal dan karena ia adalah Tabut Perjanjian yang terberkati, Maria langsung diangkat ke dalam Surga, badan dan jiwanya. Dogma ini dinamakan Diangkatnya Tubuh Maria.
Para non-Katolik menggugat bahwa tidak ada bukti di dalam Kitab Suci untuk Diangkatnya Maria. Bertentangan dengan hal ini, kami menemukan gambaran tentang hal ini di kitab Wahyu bab 12
Wanita di kitab Wahyu 12:1 diartikan dalam beberapa makna. Bapa-bapa Gereja mengartikannya sebagai Bunda Yesus, dan pada tingkatan tertentu, Gereja. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah Maria, karena Anak dari wanita ini adalah Ia yang akan memerintah semua bangsa dengan gada besi (Wahyu 12:5). Ia tentunya adalah Yesus, dan ibu-Nya haruslah Perawan Maria. Karena hal ini, Wahyu 12 memberi kita gambaran yang jelas tentang Maria Diangkat ke Surga dan ditempatkan sebagai Ratu Surgawi.
Kitab Suci juga menceritakan sedikit tentang Diangkatnya Maria di Mazmur 132:8 (Mazmur 131:8 di Kitab Suci Katolik Douay-Rheims {Kitab Suci Douay-Rheims diterjemahkan dari Alkitab Latin Vulgata ke Bahasa Inggris}).
Mazmur yang menarik ini berbicara tentang Tuhan dan Tabut Perjanjian yang berpergian atau dibawa ke tempat perhentian {peristirahatan} yang tetap. Ini adalah gambaran dari Diangkatnya Maria; karena Yesus adalah Allah dan Maria adalah Tabut Perjanjian yang baru, seperti kami telah tunjukkan. Keduanya diangkat ke Surga, badan dan jiwa. Yesus naik dengan cara-Nya sendiri; Maria diangkat oleh Yesus.
Jika dikatakan bahwa Tabut Perjanjian Lama dibawa ke suatu tempat perhentian, terlebih lagi Tabut Perjanjian yang baru dan kekal. Kita juga melihat bahwa Tabut ini adalah Tabut kekuatan Allah. dan kekal. Kita juga melihat bahwa Tabut ini adalah Tabut kekuatan Tuhan.
DIANGKATNYA MARIA KE DALAM SURGA MENGALIR SECARA LOGIS DARI TERLINDUNGINYA MARIA DARI DOSA
Diangkatnya Badan Maria mengalir secara logis dari terlindunginya Maria dari segala dosa asal dan dosa sejati. Kebusukan daging di dalam kubur adalah akibat dari dosa asal (Kejadian 3:19). Kebanyakan orang Protestan setuju akan hal ini. Sebagai Tabut Perjanjian Baru, Maria tidak memiliki dosa asal. Karena ini, ia bebas dari akibat-akibatnya. Bisa disimpulkan dari hal ini bahwa Tuhan tidak membiarkan badannya membusuk.
{King James Version mengatakan: “For thou wilt not leave my soul in hell; neither wilt thou suffer thine Holy One to see corruption.”}
Mazmur ini, yang berbicara tentang Tuhan yang tidak membiarkan orang-orang Kudus-Nya mengalami pembusukan/kebinasaan (corruption) dikutip di Perjanjian Baru di Kisah Para Rasul bab 2, yang merujuk kepada Yesus.
Seperti itu pula karena Maria diciptakan bebas dari segala dosa, ia tidak mengalami kebinasaan daging di dalam kubur dan diangkat badan dan jiwanya ke dalam Surga.
TABUT PERJANJIAN DIBUAT DARI KAYU YANG TAHAN BUSUK
Tabut Perjanjian Lama dibuat dari kayu penaga (akasia) yang tahan busuk.
Kayu penaga sangatlah tahan lama sehingga Septuaginta, Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menerjemahkan kayu ini secara harfiah sebagai “tahan busuk” atau “yang tidak lapuk” (incorruptible). Jika Tabut Perjanjian Lama tahan lapuk dan tahan busuk, terlebih lagi Tabut Perjanjian Baru haruslah tahan busuk (incorruptible). Alah memerintahkan secara spesifik bahwa Tabut Perjanjian harus dibuat dengan kayu yang tahan busuk karena ini menggambarkan datangnya badan yang tahan busuk dan jiwa dari Tabut Perjanjian yang baru, yaitu Perawan yang Terberkati.
DIANGKATNYA TUBUH MARIA TIDAK MENENTANG KENYATAAN-KENYATAAN ALKITABIAH
Beberapa orang menganggap bahwa adalah hal yang konyol, bahwa Maria dapat diangkat secara mukjizat ke dalam Surga, jiwa dan raganya. Tetapi, Kitab Suci menceritakan bahwa Elia dibawa lewat mukjizat ke dalam Surga (2 Raja-raja 1,11). Kita juga membaca bahwa Henokh dibawa dalam mukjizat untuk berjalan bersama Tuhan (Ibr 11:5; Kej 5:24). Kitab Suci juga mengajarkan dengan sangat jelas – dan hal ini juga adalah artikel dari iman Kristiani kuno – bahwa semua orang, baik maupun jahat, akan secara mukjizat dipersatukan dengan badan mereka pada saat pengadilan terakhir, untuk menuju kepada kebangkitan orang-orang saleh dan berdosa (1 Kor. 15). Maka, untuk percaya bahwa Maria diangkat ke Surga karena ia adalah Tabut Allah yang tidak berdosa sama sekali tidak bertentangan dengan kenyataan alkitabiah tetapi malah berhubungan secara tepat dengan kenyataan alkitabiah tersebut.
KITAB SUCI MENUNJUKKAN BAHWA MARIA ADALAH “IBUNDA RATU” DI KERAJAAN YESUS
Allah telah menetapkan sebuah perjanjian dengan Daud untuk mendirikan sebuah Kerajaan. Kerajaan Daud yang adalah Kerajaan Allah di bumi, adalah prototipe (pendahulu) Kerajaan rohani Allah yang akan didirikan oleh Tuhan Yesus. Itulah mengapa Yesus disebut putra Daud di Kitab Suci. Itulah mengapa Petrus sendiri berkata di Kisah Para Rasul 2:30 bahwa Yesus duduk di atas takhta Daud. Lukas 1:32 berkata demikian tentang Yesus:
Di dalam kerajaan Ibrani, wanita yang paling berkuasa, dihormati, dan penting di dalam Kerajaan adalah ibunda sang Raja. Ia dikenal sebagai “Ibunda Ratu”. Di dalam bahasa Ibrani, ia disebut “Gebirah”. Gebirah, Ibunda Ratu memiliki sebuah kekuatan unik dalam bentuk pengaruhnya kepada sang Raja. Pengaruh, kekuatan, dan kedudukannya melebihi istri sang Raja. Kita melihat pengaruh dan kekuatan unik dari sang “Ibunda Ratu” di 1 Raja-raja 1 dan 2 (3 Raja-raja 1 dan 2 di Kitab Suci Katolik Douay-Rheims).
Ibunda Raja Salomo adalah Batsyeba. Kekuatan dan pengaruh Batsyeba sebagai Ibunda Ratu sangatlah besar sampai Adonia berkata demikian kepadanya:
Adonia telah mengerti kedudukan dan kekuatan sang Ibunda Ratu. Tetapi, permintaan Adonia keterlaluan. Adonia ingin menikahi Abisag, yang adalah istri terakhir Raja Daud. Dengan mengambilnya sebagai istri, Adonia mungkin dapat meraih takhta Salomo. Inilah mengapa Raja tidak dapat mengabulkan permohonan ini.
Walaupun permintaan Adonia keterlaluan dan tidak akan dapat dikabulkan oleh Raja, ini menunjukkan bahwa diakuinya kekuatan dan pengaruh yang unik dan besar dari Ibunda Ratu dengan Raja. Pengaruh ini sangatlah besar sampai Adonia berkata “ia tidak akan menolak permintaanmu”.
Beberapa ayat berikutnya bahkan memberikan kejelasan atas kebenaran ini. Pada 1 Raja-raja 2:19, kita membaca bahwa Batsyeba (sang Ibunda Ratu) berbicara kepada Raja Salomo untuk meminta tolong kepadanya. Sewaktu ia masuk, sang Raja sendiri menunduk kepadanya dan memberikannya sebuah takhta di sampingnya.
KITAB SUCI MENUNJUKKAN BAHWA SANG IBUNDA RATU MEMILIKI SEBUAH TAKHTA DAN KEHORMATAN YANG UNIK
Seperti yang kita bisa lihat, Kitab Suci mengajarkan bahwa Ibunda Ratu dihormati di atas takhta dengan sang Raja. Ia tidak menyamai sang Raja, tentu saja, tetapi ia dihormati bersamanya sebagai Ratu dari Kerajaan. Di sini kita bisa melihat gambaran yang sempurna dari Keratuan Perawan Maria yang Terberkati dan pengaruhnya atas sang Raja. Ia adalah Ibunda Ratu di Kerajaan Yesus. Maria secara tidak terbatas lebih kecil daripada Putranya sang Allah. Tetapi, ia adalah Tabut Perjanjian yang sempurna, Ratu Surga dan Bumi.
Inilah mengapa Maria memiliki kekuatan yang besar di Surga di bawah Putranya sang Allah – kekuatan dalam bentuk pengaruh yang lebih besar dari yang dimiliki Ibunda Ratu dari Perjanjian Lama kepada Raja. Itulah mengapa sangatlah mujarab untuk meminta bantuan darinya, agar ia dapat memohonkannya dari Yesus. Maria ditempatkan di dalam Kerajaan Yesus di sisi-Nya sebagai Ratu Surga dan Bumi.
Pada Mazmur 45 (Mazmur 44 di Kitab Suci Katolik Douay-Rheims), kita juga melihat rujukan kepada takhta Allah dan sang Ratu bersama-Nya.
APAKAH DOA SALAM MARIA DAN ROSARIO “DOA YANG BERTELE-TELE” YANG DILARANG OLEH TUHAN YESUS?
Beberapa non-Katolik menggugat bahwa doa-doa Katolik seperti Salam Maria dan Rosario dikutuk oleh Yesus.
Seperti bantahan-bantahan lain yang kita telah jelaskan, bantahan ini disangkal oleh pertimbangan yang lebih dalam di dalam Kitab Suci. Mungkin ini adalah contoh terbaik untuk melawan bantahan Protestan untuk hal ini: Wahyu 4:8.
Malaikat-malaikat di Surga mengulang-ulang tanpa henti “Kudus, kudus, kudus.” Ini membantah ide bahwa doa yang berulang-ulang adalah dari orang yang “tidak mengenal Allah”. Pernyataan ini tidak bisa lebih salah lagi.
Pada Matius 6:7, Yesus tidak melarang doa-doa yang berisi kata-kata yang diulangi; tidak pun Ia melarang beberapa ulangan dari doa yang sama (misalkan, berdoa Bapa Kami atau Salam Maria lima kali berturut-turut). Tidak, Ia melarang praktik orang-orang kafir. Orang-orang kafir berpikir bahwa mereka bisa menyenangkan dewa-dewa sesat mereka lewat kata-kata mereka yang mengalir dan rumit. Mereka berpikir bahwa mereka harus selalu mengatakan hal-hal dan nama-nama dengan benar pada hari-hari tertentu karena takut bahwa berhala-berhala mereka tidak dapat mendengar mereka atau mengingat kebutuhan mereka. Yesus mengutuk kekafiran mereka. Ia mengajarkan bahwa Allah yang benar mengetahui segala hal.
Bunda Maria dan Rosario. Doa Rosario diucapkan dengan pengulangan doa Bapa Kami dan Salam Maria
Ada hal-hal lain yang menghancurkan bantahan Protestan tentang hal ini. Pada Mazmur 136 (Mazmur 135 di Kitab Suci Douay-Rheims), kita diberikan doa pujian dan syukur yang mengulangi kalimat yang sama – “bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” – yang berjumlah 26 kali berturut-turut!
Yesus mengulangi doa yang sama tiga kali berturut-turut, sewaktu Ia berdoa kepada Bapa-Nya di Taman Gethsemani. Hal ini bisa dibaca di Matius 26:39, Matius 26:42, dan Matius 26:44. Di Matius 20:29-33, Yesus menjawab doa yang berulang-ulang dari orang-orang buta yang memohon belas kasihan-Nya.
Pada waktu sengsara-Nya di taman zaitun, Yesus mengulang-ulangi doa-Nya kepada Allah Bapa
Seperti yang kita lihat, Kitab Suci memiliki banyak contoh di mana doa-doa kepada Allah yang benar diulang-ulang. Hal ini bukanlah doa yang “bertele-tele” dari orang kafir atau mereka yang tidak mengenal Allah. Faktanya, doa-doa Gereja Katolik kepada Maria di dalam Salam Maria dan Rosario dinubuatkan oleh Maria sendiri pada Lukas 1:
Doa Salam Maria: “Salam Maria, penuh rahmat; Tuhan sertamu. Terpujilah {terberkatilah} engkau di antara wanita, dan terpujilah {terberkatilah} buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”
Tentu saja, hanya Gereja Katolik yang memenuhi nubuat ini, yang adalah tentang seluruh keturunan dari Gereja yang benar.
HATI MARIA YANG UNIK DAN TIDAK BERNODA MENERIMA PERHATIAN YANG KHUSUS DI DALAM KITAB SUCI
Gereja Katolik menghormati dan menyebarkan devosi kepada hati Maria yang tak bernoda. Ia memiliki hati yang paling murni dari semua umat manusia yang telah hidup. Seperti halnya Tabut Perjanjian Lama, devosi kepada hati tak bernoda Maria kuat bersama Tuhan. Beberapa non-Katolik melarang devosi ini karena mereka menganggap bahwa hal ini tidak berdasarkan Kitab Suci. Berlawanan dengan gugatan mereka, hanya hati Marialah yang secara spesifik disebut di dalam Perjanjian baru. Tidak ada hati orang yang baik atau kudus lain yang menerima perhatian yang diberikan kepada hati Maria di dalam Kitab Suci. Hatinya unik dari antara segala umat manusia karena Maria tidak pernah dinodai dosa.
Jiwa Maria yang unik disebut secara khusus oleh Kitab Suci.
Hati Maria mendapat perhatian khusus di dalam Kitab Suci
MARIA ADALAH BUNDA ALLAH
Adalah hal yang mengagetkan bahwa banyak non-Katolik memperdebatkan gelar “Maria, Bunda Allah”. Mereka mengakui bahwa Maria adalah bunda Yesus, tetapi mengedepankan bahwa ia tidak boleh dianggap “Bunda Allah”. Orang-orang Protestan yang percaya bahwa Maria bukanlah bunda Allah sepertinya tidak menyadari bahwa hal tersebut tidaklah konsisten secara logika: untuk percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi untuk menolak bahwa Maria adalah bunda Allah. Posisi ini sebetulnya menolak keilahian Yesus Kristus, yang adalah satu pribadi Allah dengan dua kodrat.
Fakta: Yesus Kristus adalah Allah. Kitab Suci mengajarkan hal ini di banyak tempat (Yohanes 1:1; Yohanes 20:28; Yohanes 8:58; Yesaya 9:6; dsb.)
Fakta: Maria adalah bunda Yesus. Kitab Suci mengajarkan hal ini di banyak tempat (Lukas 1:31; Matius 1:25, dsb.)
Kesimpulan tak terbantahkan: Maria adalah bunda Allah.
Kitab Suci mengindikasikan bahwa Maria adalah bunda dari Immanuel (yang berarti “Tuhan bersama kita”).
Elisabet juga secara terang-terangan berkata bahwa Maria adalah bunda Allah. Yakni, satu Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Allah.
Ini harusnya sangat sederhana. Sayangnya hal ini tidak cukup untuk orang-orang tertentu. Kesalahan orang Protestan dalam hal ini perlu diatasi dengan lebih lengkap dan dibantah.
Orang-orang Protestan mengedepankan bahwa keilahian Allah itu kekal dan tidak memiliki awal. Hal ini tentunya benar. Karena kodrat Allah itu kekal dan tentu saja tidak berasal dari Maria, mereka menggugat, bahwa Maria tidak bisa disebut “bunda” Allah. Inilah argumen Protestan atas hal ini. Ini adalah argumen yang cacat.
Kesalahan Protestan atas hal ini berakar dari fakta bahwa mereka mencirikan/mengatribusikan kepada pribadi Putra Allah hanya hal yang dipunyai oleh kodrat ilahi-Nya. Mereka gagal untuk mencirikan/mengatribusikan kepada pribadi Putra Allah hal yang juga dipunyai atau berkaitan dengan kodrat manusiawi-Nya.
Karena Putra Allah telah benar-benar menjadi manusia, kegagalan untuk mencirikan/mengatribusikan kepada-Nya sesuatu yang juga dipunyai oleh kodrat manusiawi-Nya, membuat mereka menolak bahwa Yesus Kristus dalam waktu yang bersamaan adalah Allah sejati dan manusia sejati.
Putra Allah, Yesus Kristus, adalah satu pribadi Allah (pribadi kedua dalam Allah Tritunggal Mahakudus) yang memiliki dua kodrat. Ia adalah Allah sejati dan manusia sejati. Yesus Kristus bukanlah seorang manusia yang bersatu atau diilhami oleh Allah. Tidak, Ia adalah Allah benar yang benar-benar menjadi manusia.
Yesus bukan hanya seorang manusia yang khusus, yang memiliki inspirasi yang unik dan hubungan kepada Firman Allah (Putra Allah). Tidak, Ia adalah Firman Allah yang telah menjadi manusia. Maka, dengan hanya mengatribusikan kepada Putra Allah sesuatu yang secara spesifik dimiliki oleh kodat ilahi-Nya, dan yang tidak dimiliki oleh kodrat manusiawi-Nya – seperti yang orang-orang Protestan lakukan sewaktu mereka menolak bahwa Maria adalah bunda Allah – hal ini menyebabkan pembagian Yesus menjadi dua pribadi yang berbeda.
Pada abad kelima, ada seorang bidah yang bernama Nestorius. Ia berargumentasi seperti orang-orang Protestan zaman sekarang tentang hal ini. Ia berargumentasi bahwa Maria tidak seharusnya disebut Theotokos (bunda/yang mengandung Allah), tetapi hanya Christotokos (yang mengandung Kristus). Gereja langsung mengenali bidah Nestorius dan mengutuk/melarang ajaran tersebut pada tahun 431 pada Konsili Efesus. Pandangan sesat Nestorius diakui oleh Gereja sebagai bidah yang dikutuk Kitab Suci karena ia “melarutkan” Yesus dan yang adalah “antikristus”. Ide sesat ini “melarutkan” Kristus dengan cara memisahkan dari satu pribadi-Nya hal yang berkaitan dengan kodrat manusiawi-Nya. Hal ini menyebabkan pembagian pribadi Yesus menjadi dua pribadi, dan menghasilkan posisi bahwa Yesus hanyalah seorang manusia yang membawa (atau terinspirasi) oleh satu pribadi Allah, dan bukan pribadi Allah yang benar-benar menjadi manusia.
Akibat penolakannya terhadap fakta bahwa Maria adalah Bunda Allah, Nestorius mengajarkan doktrin Antikristus, yang menyebabkan pembagian pribadi Kristus menjadi dua. Hal ini menyebabkan penyembahan dua Kristus.
Bidah ini menyebabkan pemujaan seorang manusia dan pemujaan dua putra. Gereja secara jelas melihat ini terang-terangan dan melarangnya.
Yesus bukanlah dua orang yang berbeda. Ia adalah SATU PRIBADI ALLAH dengan dua kodrat. Dengan demikian, sesuatu yang terjadi kepada kodrat manusiawi-Nya benar-benar terjadi kepada satu pribadi tersebut. Pribadi-Nya dikandung dan dilahirkan dalam kemanusiaan-Nya dari Maria. Maka Maria benar-benar adalah bunda-Nya, dan bunda Allah.
Konsili Efesus pada tahun 431 mengutuk ajaran sesat bahwa Yesus Kristus membawa Allah dan bukan Allah sendiri, yang berasal dari penolakan terhadap fakta bahwa Maria adalah Bunda Allah
Arti yang tersimpan dari kebenaran ini sangatlah mengagetkan. Seperti yang Gereja telah selalu ajarkan, Putra Allah, yang kekal dan setara dengan Allah Bapa, memiliki dua kelahiran. Ia telah dilahirkan sebelum waktu diciptakan, dan dari segala zaman, dari Allah Bapa (Yohanes 16:28; Yohanes 8:42). Ia dilahirkan di bawah suatu kurun waktu sebagai manusia dari Maria, ibunda-Nya. Hanyalah Maria yang memiliki hubungan yang unik dengan Allah, kepada satu pribadi Allah Tritunggal. Dari kebenaran inilah Maria benar-benar adalah Bunda Allah, yang memberikan kepadanya semua hak dan kehormatan istimewa.
KESIMPULAN DARI AJARAN KITAB SUCI TENTANG MARIA
Ini adalah alasan-alasan dari Kitab Suci mengapa Gereja Katolik selalu mengakui pentingnya dan perlunya devosi kepada Perawan Maria yang Terberkati. Ia adalah Hawa yang baru, Tabut Perjanjian yang baru, bejana yang murni, pintu gerbang yang tertutup, dan Bunda Allah. Orang yang tidak berdevosi kepadanya sama seperti seseorang di Perjanjian Lama yang menolak untuk menghormati Tabut Perjanjian atau yang menolak berjalan di belakang Tabut Perjanjian dalam sebuah perang. Orang tersebut akan jatuh sebagai mangsa musuh-musuh Tuhan dan akan terpisahkan dari kemah umat-umat Allah.
Catatan kaki:
[1] {…antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya* akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya**. Di dalam bahasa Inggris, terdapat perbedaan terjemahan antara terjemahan Katolik dan Protestan. Terjemahan Katolik bahasa Inggris untuk keturunannya* adalah “she“ (kata ganti orang ketiga tunggal perempuan) di mana di sini sang wanita (Maria) adalah yang akan meremukkan kepala ular ; dan “her heel“ untuk tumitnya** ("her" adalah kata sifat kepunyaan seorang perempuan) di mana ular akan meremukkan tumit sang perempuan (Maria). Dalam terjemahan-terjemahan Protestan dalam bahasa Inggris, salah satunya 1611 King James Version, keturunannya* dibahasakan dengan "he" (kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki) di mana di sini Kristus adalah yang akan meremukkan kepala ular ; dan "his heel" ("his" adalah kata sifat kepunyaan oleh seorang laki-laki) untuk tumitnya** yang berarti tumit Kristus-lah yang ular akan remukkan.} Perbedaan terjemahan Katolik dan Protestan ini disebabkan oleh ketidakjelasan di naskah-naskah Ibrani Perjanjian Lama yang menjadi perdebatan di antara pelajar-pelajar. Bagaimanapun, kebanyakan bapa-bapa gereja setuju dengan ajaran Katolik tradisional yang menyebut bahwa Marialah yang akan meremukkan kepala ular. Tetapi, jikapun seseorang mencoba memberikan kelonggaran untuk argumen dengan mengemukakan bahwa argumen Protestan benar, poin tentang Maria yang adalah “perempuan” yang bermusuhan dengan ular tetaplah berdiri dengan tegak; karena orang-orang Protestan menerjemahkan bagian pertama dari ayat ini dalam pandangan yang sama dengan umat Katolik.
Artikel-Artikel Terkait
Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 4 mingguBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 5 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 7 bulanBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 7 bulanBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 7 bulanBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 7 bulanBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 8 bulanBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 9 bulanBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 10 bulanBaca lebih lanjut...Halo – devosi kepada Santa Perawan Maria itu krusial untuk keselamatan dan pengudusan jiwa. Namun, dan juga yang terpenting, orang harus 1) punya iman Katolik sejati (yakni, iman Katolik tradisional),...
Biara Keluarga Terkudus 10 bulanBaca lebih lanjut...