^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Riwayat Hidup St. Fulgensius, Uskup Ruspe di Afrika, Seteru Bidah Arianisme
St. Fulgensius, Uskup Ruspe di Afrika
Doktor Gereja
Pesta: 1 Januari
468-533 – Paus: St. Simplisius; Yohanes II, yang disebut Merkurius. – Kaisar Timur: Leo I, Yustinianus I
Domine, da mihi modo patientiam et postea indulgentiam.
Ya Tuhan, berikanlah aku kesabaran di dunia ini dan kasihanilah aku di dunia yang akan datang. (Doa terkenal St. Fulgensius)
Riwayat hidup St. Fulgensius (Fabius Klaudius Gordianus Fulgensius), uskup Ruspe di Afrika, dan salah satu terang tergemilang dalam Gereja, ditulis dengan sangat elegan oleh salah seorang muridnya. Sesudah mengenakan jubah rohaniwan dalam biara yang telah dibangun oleh Santo Fulgensius di Sardinia dalam pembuangan, muridnya itu mendampingi orang kudus tersebut sejak dari sana untuk kembali ke Kartago dan dalam diosesnya. Rangkuman riwayat hidupnya kami akan kami tuangkan di sini.
Fulgensius berkebangsaan Afrika. Orang tuanya berdarah ningrat di mata dunia, dan menganut agama Katolik. Kakeknya bernama Gordianus, salah seorang senator mulia asal Kartago. Oleh raja bangsa Vandal bernama Geiserikus yang beragama Arian, semua harta kepunyaan Gordianus dirampas dan dia pun diusir dari kota itu.[1] Bapak Fulgensius bernama Klaudius. Gordianus bersama keluarganya dulu mengungsi di Italia. Sesudah Gordianus meninggal dunia, Klaudius pun kembali ke Afrika, didampingi salah seorang saudara laki-lakinya. Usai menemukan sebagian dari harta warisannya, Klaudius pergi ke Télepte, kota di provinsi Bizasena. Rumah bapaknya yang tadinya dia miliki di Kartago, telah diberikan kepada para imam Arian; dan Klaudius tidak dapat mendapat ganti rugi atas rumah itu. Di kota itu, Mariana, istrinya, seorang perempuan yang sangat bijak lagi bajik, melahirkan Fulgensius (468), bersama seorang anak laki-laki lain bernama Klaudius, nama yang diambil dari bapaknya. Tidak lama setelahnya, anak-anak itu kehilangan ayah mereka yang direnggut maut; namun Mariana memastikan supaya anak-anaknya itu dibesarkan dalam kebajikan dan menyuruh mereka untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang terindah. St. Fulgensius dalam waktu singkat menjadi sangat pandai berbahasa Yunani dan Latin, dan sejak dini mulai membantu ibunya dalam mengatur keluarga serta mengurusi rumah tangga. Itu dia lakukan dalam sikap hormat begitu besar terhadap ibunya, dengan penuh hikmat, kerendahan hati serta kelemahlembutan, sehingga menggembirakan perempuan saleh itu, menghibur para hambanya dan menjadi teladan bagi mereka yang bercakap-cakap dengan dia. Berkat jasanya, Fulgensius dilantik sebagai penerima umum bea cukai Bizasena. Namun baru saja menyandang tugas itu, Fulgensius merasa jijik dengan kehormatan duniawi.
Roh Allah telah memanggil Fulgensius untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar, dan mencelikkan matanya, sehingga melihat kesia-siaan dunia. Dibuka-Nya mata Fulgensius lebar-lebar terhadap perbedaan orang yang menabur dalam daging, dan hanya menuai harta duniawi, fana dan cepat menghilang, dengan mereka yang menyalibkan daging mereka serta kemaksiatan dan keinginan-keinginan daging mereka, sehingga menjadi pantas beroleh harta rohani yang tak kenal lekang, namun tetap berharga di akhirat. Terang rohani ini begitu menyulut cinta kasihnya terhadap harta terluhur, sehingga Fulgensius bertekad merangkul kehidupan membiara. Demi mengecap kerasnya kehidupan itu, Fulgensius sedikit demi sedikit menjauhi pergaulan dengan para rekan bangsawannya, dan diam-diam menyerahkan diri kepada bacaan, doa, puasa serta penitensi dan kekerasan rohani lainnya. Di situ, semangatnya sungguh menyala ketika membaca Penjabaran Santo Agustinus tentang Mazmur XXXVI. Sesudah beberapa waktu lamanya menjalani latihan-latihan ini, Fulgensius pergi menemui seorang uskup suci bernama Faustus, yang telah diusir dari takhtanya oleh Hunerikus, putra dan penerus Geiserikus. Faustus dulunya telah membangun sebuah biara di Bizasena. Kepadanya, Fulgensius memohon dengan sangat supaya menerima dirinya masuk kalangan para rohaniwan. Bapak uskup itu pertama-tama berkeberatan, sebab percaya bahwa Fulgensius yang berdarah ningrat, kaya, halus dan masih muda belia itu tidak mungkin tahan kerasnya peraturan biara.
Dengan mata terarah ke tanah, Fulgensius menjawab dengan rendah hati:
Faustus pun menuruti permohonan Fulgensius, dan setuju menerimanya. Fulgensius waktu itu berusia dua puluh dua tahun. Begitu tahu bahwa Fulgensius telah meninggakan dunia dan masuk dalam kehidupan rohaniah, orang benar bersukacita dan orang jangak kebingungan. Namun Mariana, ibunya, menyadari dirinya kehilangan seorang sahabat, tidak mampu menanggung kehilangan harta sebegitu besarnya, sehingga langsung berlari ke biara tersebut untuk menarik Fulgensius dari sana. Mariana berharap putranya yang selalu sangat perhatian dan menghormati dirinya, akan mudah takluk dengan rintihan dan air matanya. Memang benar, itu menjadi godaan besar bagi Fulgensius; namun bahaya itu dihindarinya, sebab Fulgensius menolak berjumpa dan berbicara dengan ibunya. Uskup suci Faustus menyetujui perilakunya itu dan memandang tekadnya sebagai pertanda akan sampainya Fulgensius kelak pada kekudusan yang sangat tinggi.
Baru-baru masuk novisiat, Fulgensius sudah menjadi teladan dalam segala macam kebajikan. Asupan makannya begitu sedikit, sehingga tampak tidak cukup untuk memelihara hidupnya. Dia sama sekali berpantang anggur dan segala sesuatu yang dapat menggelitik indra pengecap; kekerasan lainnya yang dia jalani sepadan dengan pantang yang dilakukannya. Mati raga ini begitu memperlemah Fulgensius, sehingga badannya jatuh terkena penyakit yang sangat berbahaya. Orang percaya bahwa parahnya penyakit mendesaknya supaya memperhalus mati raga yang dilakukannya itu; namun dengan tabah, dia bertekun dalam semangatnya seperti mula-mula, seraya berkata kepada mereka yang mengeluh, bahwa penyakit-penyakit ini datangnya bukan dari kekerasan-kekerasan itu, namun dari kehendak Allah, yang membuatnya menderita demi menghiburnya, dan mematiragakannya demi menghidupkannya; dan bahwa orang tahu benar dari beribu-ribu pengalaman, bahwa hidup penuh kenikmatan tidak berarti kurang terpapar penyakit ketimbang hidup penuh penitensi. Ketika Allah memulihkan kesehatannya, Fulgenius meninggalkan segala harta kepunyaannya demi membantu ibunya. Itu dilakukannya demi meringankan kesusahan perempuan itu akibat putranya yang sudah meninggalkan dunia, dan supaya kalau-kalau saudaranya Klaudius tidak membantu ibunya (dari rasa hormat yang pantas selaku anak laki-laki), setidak-tidaknya Klaudius akan memperhatikan ibunya itu karena dia membutuhkannya dan karena ada harapan bisa mendapat warisan darinya suatu hari nanti.
Tidak lama sesudahnya, Guntamundus, penerus Hunerikus, membangkitkan persekusi penuh angkara murka terhadap Gereja di Afrika, sehingga uskup suci Faustus dan para rohaniwannya terpaksa meninggalkan biara mereka untuk mengungsi dari prahara itu di tempat lain. Mengikuti nasihat uskup suci tersebut, Santo Fulgensius tinggal di sebuah biara tetangga, yang dipimpin oleh seorang tokoh suci lain bernama Feliks, yang sudah menjadi sahabatnya di masa itu. Feliks tidak hanya menyambut Fulgensius dengan penuh sukacita, namun kendati ditolak oleh Fulgensius, memberikannya tanggung jawab sebagai abas dan menjadikannya sebagai kolega; sehingga mereka berdua memimpin jemaat suci itu bersama-sama. Namun demikian, mereka tidak tampak seperti dua orang superior, sebab persatuan mereka sebegitu eratnya dan kesepahaman mereka sebegitu sempurnanya, sehingga boleh dikata bahwa mereka satu dalam pikiran dan satu pula dalam kehendak. Feliks mengurusi hal-hal duniawi sedangkan Fulgensius hal-hal rohani.
Namun, karena provinsi itu telah diliputi begitu banyak kaum barbar dari Numidia yang menghancurkannya dan mengobarkan api serta menumpahkan darah pada segala sesuatu, kedua superior suci itu, didampingi para rohaniwan mereka, berpindah ke negeri lain yang dalam sejarah disebut sebagai wilayah Sika-Veneria, kota provinsi prokonsuler itu. Itu mereka lakukan agar boleh tinggal di sana dengan lebih tenteram. Tetapi, ke mana pun mereka pergi, mereka membawa terang. Akibatnya, seorang imam Arian[2] yang waktu itu sedang menyiarkan ajaran sesatnya di daerah bernama Gabardila dan menarik banyak orang kepada keyakinan sesatnya itu, takut kekudusan hidup dan terutama pewartaan hebat serta fasih Fulgensius akan menjadikannya kehilangan kepercayaan orang-orang. Maka dari itulah, imam Arian tersebut membuat perangkap bagi Faustus dan Fulgensius, dan dengan tipu muslihatnya, menangkap yang satu dan yang lain. Para pengaku iman mulia itu saling meneladani satu sama lain; mereka masing-masing saling mempersembahkan diri untuk disiksa demi membebaskan saudaranya. Namun imam kejam dan barbar yang juga bernama Feliks itu, tidak menyisihkan yang satu ataupun yang lainnya. Murkanya dia lampiaskan terutama kepada Fulgensius, yang mencoba melembutkan imam garang itu dengan teguran yang sangat fasih. Sesudah mematahkan tulang-belulang mereka dengan pukulan tongkat dan merobek kulit mereka dengan sabetan cambuk, dia mencukur kepala Fulgensius dan rekannya demi mempermalukan mereka dan mengoyakkan pakaian mereka serta membuangnya ke luar rumah. Mereka pun keluar dari sana seperti para Rasul dulu keluar dari mahkamah Farisi, penuh sukacita karena telah dinilai patut menderita demi mewartakan Yesus Kristus. Berita tentang peristiwa ini sampai ke Kartago, sehingga kaum Arian sendiri yang mengenal sikap serta kelemahlembutan Santo Fulgensius, menjadi marah, dan uskup mereka sampai menyatakan bahwa kalau Fulgensius ingin mengeluh soal perlakuan imam Arian yang bersangkutan terhadap dirinya, uskup Arian itu akan memastikan imamnya dijatuhi hukuman setimpal supaya jangan terjadi lagi peristiwa semacam itu. Namun meskipun Fulgensius didesak beberapa kali tentang perkara ini, dia tidak pernah mau mengeluh soal itu. Ujarnya,
Selain itu, Feliks dan Fulgensius menyadari bahwa akan lebih berguna kalau mereka hidup di tengah kaum Barbar daripada kaum Arian. Karena itu, mereka berniat kembali bersama para rohaniwan kudus yang tadinya mengikut mereka, ke provinsi Bizasena, tempat mereka pertama-tama berangkat. Setibanya di dekat kota bernama Ididi pada perbatasan Mauritania, mereka membangun rumah baru di sana, yang segera menjadi terkenal karena disiplinnya yang keras dalam hidup membiara.
Namun demikian, Santo Fulgensius tiada henti-hentinya merindukan keadaan diri yang lebih sempurna lagi. Dia sangat ingin melepas tugas superior yang tadinya sudah diembankan kepadanya oleh Feliks. Karena itu, Fulgensius berencana hidup bersama para rahib di Mesir. Fulgensius sangat mengagumi kehidupan serta pertemuan-pertemuan mereka, yang sangat gemar dia baca. Sesudah naik kapal di Kartago untuk pergi ke Aleksandria hanya didampingi seorang rohaniwan saja, Fulgensius mendarat di Sisilia. Di sana, Eulalius, uskup Sirakusa, tahu benar jasa yang dimiliki Fulgensius dan menjadi sangat sayang dengan dia, sampai menahan Fulgensius di rumahnya di sepanjang musim dingin. Eulalius memohon Fulgensius supaya tidak melanjutkan perjalanan, dan kembali menunjukkan kepadanya “bahwa negara tujuannya telah terpisah akibat skisma fasik dari persekutuan Petrus, yakni Gereja Roma[3]”. Fulgensius juga mendapat nasihat serupa dari seorang uskup suci lain bernama Rufinianus. Rufinianus ini tinggal di pulau kecil Korsika karena telah melarikan diri dari persekusi bangsa Vandal.
Fulgensius melanjutkan perjalanannya sampai ke Roma untuk mengunjungi tempat-tempat suci serta menghormati makam para rasul terberkati, Santo Petrus dan Santo Paulus. Ketika singgah di kota itu, dia pada suatu hari melawati lapangan bernama Palma Aurea. Di sana, dia melihat Teodorikus, raja Italia, diangkat pada sebuah takhta dan mengenakan pakaian mengagumkan. Sri Raja dikelilingi oleh Senat dan istana teramat cemerlang. Tiada yang disayangkan kota Roma demi menyambut penguasa itu dalam kemegahan termulia.
Demikianlah cara para Kudus memandang harta duniawi yang paling menggoda kita, sebab mereka tahu cara menggunakan barang-barang itu sebagai piranti untuk mengangkat pikiran mereka kepada hal-hal surgawi. Ini terjadinya sekitar akhir tahun 500, ketika Teodorikus, yang waktu itu bertempat tinggal di Ravena (dia memerintah di Italia sejak tahun 493) masuk untuk pertama kalinya ke Roma. Fulgensius lalu pergi pulang dan sampai ke biaranya di Afrika. Para rohaniwannya menyambut Fulgensius dengan penuh sukacita tak terperi, dan umat awam di negeri itu bahkan turut serta menyambutnya. Tiap-tiap dari mereka percaya bahwa kepulangan Fulgensius disertai keberuntungan bagi umum. Tidak lama setelahnya, seorang bangsawan bernama Silvester menawarkan dana pribadinya kepada Fulgensius untuk membangun sebuah biara lain. Itu diterimanya. Dan sejak bangunan itu rampung, beberapa rohaniwan berhimpun di sana. Fulgensius memimpin selama beberapa tahun dengan kebijaksanaan dan kasih yang luar biasa. Namun, karena dia lebih suka taat daripada memimpin, dan karena kemudahan-kemudahan di rumah baru yang disediakan dengan melimpahnya berkat kesalehan Silvester tidak sesuai dengan cinta Fulgensius terhadap kemiskinan dan penitensi, dia kembali meninggalkan rumah tersebut dan pergi ke rumah lainnya, yang dibangun di tengah-tengah lautan pada sebuah pulau karang, tempat orang sulit sekali mencari makanan. Di sana, dia menjadi panutan dalam kerendahan hati, ketaatan, bakti setia dan mati raga, menundukkan diri kepada yang paling rendah dari antara saudara-saudaranya, mematikan pancaindranya, menyiksa badannya dan hidup dalam kesunyian yang hampir tak terputus. Seperti para rohaniwan lainnya, dia membuat tikar dan payung dari daun palem. Namun demikian, hidup sunyinya itu tidak berlangsung lama, sebab Faustus, uskupnya, terdesak oleh komunitas yang telah ditiinggalkan Fulgensius, dan dia pun memerintahkan Fulgensius di bawah ancaman ketidaktaatan supaya kembali dan meneruskan tugasnya sebagai abas. Dan demi mencegah Fulgensius melarikan diri untuk ketiga kalinya, Faustus mengikat Fulgensius kepada diosesnya dengan menahbiskannya sebagai imam.
Kehormatan ini pun disusul oleh kehormatan besar lainnya; sebab para uskup Katolik yang tetap tinggal di Afrika telah memutuskan bersama-sama untuk menempatkan prelat-prelat pada Gereja-Gereja yang belum memilikinya. Keputusan ini mereka buat kendati ada larangan dari raja bangsa Vandal. Mata para uskup itu segera tertuju kepada Fulgensius. Memang benar bahwa pengangkatannya tertunda sebentar. Fulgensius memperkirakan pilihan yang akan dibuat oleh dioses-dioses sekitar untuk dirinya, dan karena itu melarikan diri secara sembunyi-sembunyi, sehingga para uskup itu tidak dapat menemukan Fulgensius pada waktu penahbisan. Karena hendak mengakhiri persoalannya sebelum istana mendapat kabar tentang rencana mereka, para uskup pun harus melantik dan mengonsekrasi kandidat lain. Namun Fulgensius tidak dapat terus-terusan menghindari jabatan itu; karena Gereja Ruspe, salah satu gereja paling penting di daerahnya, belum diisi seorang uskup. Kekosongan ini diakibatkan oleh tuntutan-tuntutan ambisius dari seorang diakon bernama Feliks. Sekembalinya Fulgensius di biaranya (karena dia percaya bahwa dirinya tidak perlu takut apa-apa lagi), dia diculik dengan paksa untuk diangkat ke takhta keuskupan itu. Sesudah beberapa kali melawan dalam kerendahan hati, dia terpaksa membiarkan dirinya dikonsekrasi sebagai uskup kota itu, demi tidak melawan kehendak Allah. Ini terjadinya di tahun 505. Diakon yang baru saja kami bicarakan itu mengadakan rintangan sebanyak mungkin, namun sia-sia belaka, sebab Allah memperlihatkan bahwa pemilihan Fulgensius merupakan salah satu buah istimewa Penyelenggaraan-Nya bagi Gereja Afrika yang porak-poranda. Ketika sudah menduduki takhtanya, Fulgensius sama sekali tidak mengutarakan kepahitan terhadap diakon ambisius itu. Justru, Fulgensius memperlakukannya dengan segala kebaikan seperti yang dilakukannya kepada salah seorang sahabat karibnya, dan bahkan sampai mempersiapkannya dan mengangkatnya untuk ditahbiskan dalam imamat. Perlakuan murah hati itu membuat hati Feliks begitu terenyuh, sehingga dia menjadi penuh rasa sayang kepada prelatnya itu. Namun demikian, Allah, sang pembalas dendan yang berbuat adil bagi orang-orang pilihan-Nya, dan tak ingin orang mendamba-dambakan jabatan gerejawi, menghukum Feliks dengan hukuman jasmaniah, sebab dia mati di tahun itu juga; dan juga, orang kaya yang dahulu menyokong Feliks kemudian menjadi miskin papa dan hidup dalam penderitaan yang ngeri.
Beralih dari situ, umat Ruspe menghaturkan syukur tak terhingga kepada Tuhan kita karena mereka telah diberikan-Nya seorang gembala sebegitu baik. Tak ada orang yang tidak mau menyambut Komuni dari tangan Fulgensius pada Misa keuskupan khidmat yang dia selenggarakan untuk pertama kalinya. Jabatan barunya ini sama sekali tidak menggembungkan hatinya: tiada yang diubahnya dalam kebiasaan-kebiasaan sucinya; sebab dia selalu bertindak dengan lemah lembut dan penuh kasih kepada semua orang. Kekerasan dan bahkan mati raga yang sama dia berlakukan bagi dirinya; kesalehan dan devosinya tetap sama kepada Allah. Sama sekali tidak dikenakannya jubah kehormatan yang dikenakan para uskup lain, namun dia tetap hidup dalam kesederhanaan agama, dan hanya memiliki sebuah jubah sederhana serta sabuk kulit yang tidak dilepaskannya siang maupun malam. Sering kali Fulgensius berjalan dengan telanjang kaki; yang dia makan adalah sayur-sayuran, akar-akaran dan telur, tanpa ditambahkannya bumbu sesedikit apa pun, selain sedikit minyak, ketika usia tuanya memerlukannya. Anggur tidak diminumnya sama sekali kalau tidak terpaksa oleh penyakit; bahkan, anggur yang dia konsumsi sebegitu sedikitnya, sehingga kalaupun air yang dicampurkannya dengan anggur itu berubah warna menjadi warna anggur, air itu tetap tidak berubah bau ataupun rasa. Fulgensius menghabiskan sebagian besar malam harinya untuk berdoa dan belajar, dan dengan tuguran-tugurannya itu, dia menggantikan waktu yang habis karena kesibukan-kesibukan biasa dari jabatannya. Begitu besar kasihnya bagi kaum rohaniwan, sehingga dia selalu ingin didampingi beberapa dari mereka. Dan demi mewujudkannya, Fulgensius menyuruh agar dibangun sebuah biara di dekat katedralnya, di tempat yang telah diberikan kepadanya oleh Postumianus, salah seorang warga terbesar dan tersaleh kota itu. Fulgensius lalu memanggil abas Feliks, sahabat lamanya, bersama bagian terbesar komunitasnya, untuk menempati biara tersebut.
Sementara Fulgensius hanya memikirkan cara menunaikan semua tanggung jawab selaku gembala yang baik, para menteri Trasamundus (atau Trasimundus), raja bangsa Vandal & penerus Guntamundus, saudaranya, tiba di Ruspe dan mengusir mereka keluar untuk memergikan mereka ke pulau Sardinia. Di pulau tersebut, raja meninggalkan Fulgensius bersama lebih dari enam puluh orang uskup dari provinsinya. Para klerus, biarawan dan umat awam mendampingi mereka sejauh mungkin sambil menangis. Namun, Fulgensius menghibur mereka semua dengan kata-kata yang sebegitu perkasa, sehingga benar-benar memperlihatkan segenap sukacitanya dalam menanggung persekusi demi keadilan. Melewati Kartago, di sana dia melihat jelas-jelas seluruh umat menyampaikan rasa hormat dan sayang kepadanya. Tiba di Sardinia, Fulgensius ingin sekali membangun sebuah biara di sana. Namun, karena tidak punya sumber daya, dia lalu hanya menghimpun beberapa rohaniwan yang sangat saleh di dalam sebuah komunitas, beserta para biarawan yang tadinya mendampinginya. Dua orang uskup: Ilustrius dan Yanuarius, bergabung bersama Fulgensius. Rumah itu tidak lama kemudian menjadi suaka umum bagi seluruh kota Cagliari (Kaliaris), ibu kota pulau tersebut. Orang-orang yang menderita mendapat penghiburan besar di sana. Mereka yang sedang menghadapi proses hukum atau bermusuhan, segera dirukunkan dan diperdamaikan di sana. Yang lapar akan sabda Allah dikenyangkan penuh-penuh di sana dengan khotbah-khotbah serta pertemuan-pertemuan mengagumkan Santo Fulgensius. Dibereskannya perkara-perkara sulit mengenai Kitab Suci. Mengenai perkara hati nurani, dibantunya kaum papa dalam penderitaan mereka. Dia memenangkan hati pendosa dan mempertobatkan mereka, dia mengilhami para pendengarnya dengan rasa benci dunia & cinta akan kehidupan luhur yang diatur oleh wejangan-wejangan Kitab Suci. Sampai ada beberapa orang yang meninggalkan dunia ini, demi mencari dermaga aman dalam kehidupan rohaniah. Fulgensius juga membaktikan diri segenap-genapnya untuk para uskup, saudara-saudaranya. Mereka dia nasihati kalau ragu, dia semangati kalau takut, dia hibur kalau sedang susah ... dan sekiranya salah satu Gereja mereka perlu diajar atau dikoreksi melalui surat, sering kali Fulgensius yang bertugas melakukannya.
Saya notabene katakan di sini, bahwa mendengar porak-porandanya Gereja Afrika serta dibuangnya para uskup Gereja itu, Paus Santo Simakus menulis sepucuk surat yang indah. Surat itu ditemukan di antara surat-surat diakonnya bernama Enodius, yang sejak itu menjadi uskup Pavia (Papia). Ujar Sri Paus kepada mereka:
Paus suci ini tidak puas hanya menghibur para Pengaku Iman tersebut dengan menulis kepada mereka, namun beliau juga mengirimkan relikui-relikui yang telah mereka pinta: relikui-relikui para martir suci Nazarius dan Romanus. Dan karena kasih terbentang atas kebutuhan-kebutuhan jasmaniah maupun rohaniah, seturut teladan para Paus pendahulunya, beliau dari waktu ke waktu mengirimkan uang serta pakaian kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.
Namun melihat umat Katolik kehilangan pertolongan gembala mereka, Trasamundus berusaha dengan janji-janji maupun ancaman-ancaman, untuk merusak iman mereka dan menarik mereka supaya memeluk Arianisme. Tetapi, karena tidak pernah mampu menggoyahkan ketabahan mereka, dia pun menggunakan muslihat. Trasamundus menyatakan dirinya hanya menginginkan satu hal: agar mereka mencerahkan keraguannya tentang keyakinan umat Katolik. Dia yakin bahwa takkan ada yang berani berdiskusi dengannya, dan dengan demikian, karena dirinya kemudian menang, dia lantas akan berhasil mendiskreditkan agama kita dan membingkainya seolah-olah merupakan agama sesat dan lemah fondasinya. Namun, ada beberapa orang yang mencoba berdebat dengannya, sebab karena tidak tahan Goliat yang baru itu menghardik bala tentara Tuhan, dengan berkata bahwa tidak ada orang yang sanggup bertarung dengannya. Kendati demikian, karena roh bidah itu angkuh tabiatnya dan dalam perkara ini hanya bertindak dengan berpura-pura, Trasamundus selalu berkata bahwa dirinya tidak puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan kepadanya. Pada akhirnya, orang memberitahukannya bahwa dari antara para uskup yang diasingkan di Sardinia, ada satu orang bernama Fulgensius yang sangat cakap sebagai lawannya dan tidak seorang pun dari doktor yang mengabdi Trasamundus mampu mengalahkannya. Segera, Trasamundus memerintahkan didatangkannya Fulgensius ke Kartago. Itu dia lakukan bukan supaya Fulgensius mengajar dirinya, sebab, dia membual dapat menaklukkan Fulgensius, sehingga percaya bahwa faedah yang akan dituainya ketika dia menang melawan seorang pengajar yang begitu dihormati secara umum oleh mereka semua, akan menjadikan sektenya lebih kuasa lagi. Maka tibalah Fulgensius di kota kerajaan itu, namun lebih dikarenakan Penyelenggaraan tersembunyi Allah yang memanggilnya, daripada karena diperintahkan oleh penguasa itu. Fulgensius pun disambut oleh kalangan ortodoks bagaikan malaikat utusan Allah. Dan benar saja, diberikannya pelayanan bak malaikat Allah kepada mereka, sebab Fulgensius membangkitkan semangat baru bagi mereka yang sudah kuat dan tabah hatinya, meneguhkan yang lemah, mencerahkan mereka yang goyah, dan memperdamaikan mereka yang akibat kecut hati atau keegoisan telah berpisah dengan Gereja. Kepada Fulgensius, Trasamundus mengirimkan catatan keberatan-nya, yang dia nyatakan tidak bisa dijawab oleh orang-orang. Namun Santo Fulgensius menjawab dengan penuh kuasa, kejelasan dan kerendahan hati, sehingga raja terpaksa kagum dengan ajaran, kefasihan dan kerendahan hati Fulgensius.[5] Namun demikian, sekalipun siasatnya itu gagal, raja tetap tidak berkonversi. Untuk semakin menguji kepintaran uskup besar itu, atau justru untuk menaruh suatu jebakan lain baginya, Trasamundus menyuruh agar dibacakan sebuah karya tulis lain yang serupa dengan yang pertama di hadapan Fulgensius. Trasamundus tidak memberi salinan karya tulis itu kepada Fulgensius dan juga tidak memperbolehkan tulisan itu dibaca ulang supaya bisa dia cerna idenya. Kemudian, Trasamundus menyuruh Fulgensius supaya menjawab secepat mungkin tanpa jeda. Ini tentu saja sesuatu yang melampaui kemampuan manusia, namun Santo Fulgensius kembali lagi berhasil memberi jawaban melalui karya indahnya yang dia karang tentang misteri Penjelmaan, topik karya tulis itu. Roh Kudus bekerja dalam dirinya dan memberikannya terang yang diperlukan untuk membela iman Gereja melawan para pemalsu dan bidah. Raja terkejut bukan main olehnya, sehingga tidak berani membuat tantangan apa-apa lagi; di sana, dia hanya mempunyai salah seorang uskupnya bernama Pinta, yang berupaya menanggapi jawaban-jawaban yang sudah disampaikan Santo Fulgensius, namun, itu hanya memperbesar kemenangan Fulgensius. Santo Fulgensius menutup mulut Pinta dengan sebuah buku lain berjudul: Adversus Pintam (Melawan Pinta). Buku ini sudah hilang di kemudian hari dan tidak kita dapati keberadaannya di zaman ini.
Kaum Arian tidak sanggup menanggung penghinaan kepada sekte mereka dalam perdebatan dengan Santo Fulgensius itu maupun ketidakpercayaan yang tambah hari tambah besar pada sekte mereka. Pencerahan dari ajaran-ajaran Fulgensius dan kekudusan teladan-teladannyalah biang keladinya. Karena itu, mereka menyarankan kepada raja agar mengirim Fulgensius kembali ke tanah pengasingannya. Trasamundus pun pada akhirnya setuju, meskipun dengan menyesal (di tahun 520). Karena takut umat Kartago memberontak demi mencegah dilakukannya hal itu, Trasamundus menyuruh supaya Fulgensius diculik di malam hari dan diam-diam dibawa dalam sebuah tempayan untuk memergikannya sebelum ada orang yang bisa tahu soal itu. Namun rencana Allah berbeda; sebab berembuslah angin ke arah berlawanan sehingga para pelautnya tidak mampu meninggalkan pelabuhan. Karena itu, Santo Fulgensius tinggal di sana selama beberapa hari, dikunjungi oleh hampir semua umat Katolik. Santo Fulgensius pun mengambil kesempatan itu untuk kembali meneguhkan mereka dalam iman akan Allah Maha Esa dalam tiga pribadi, dan memberi Komuni kepada sebagian besar umat dari tangannya sendiri. Diprediksikannya juga kepada seorang Kudus bernama Yuliatus, yang sangat merana akibat kepergian Fulgensius, bahwa persekusi tidak lama lagi akan berhenti, dan bahwa mereka akan segera saling berjumpa ketika damai sejahtera dan kemerdekaan kembali kepada Gereja. Namun pada saat bersamaan, Fulgensius juga meminta Yuliatus supaya tidak menceritakan hal ini kepada siapa-siapa, dan meyakinkannya bahwa rahasia ini dia beberkan kepadanya karena iba akan dukalaranya. Tak diragukan bahwa kerendahan hati Fulgensius adalah sebab dirinya membuat permohonan itu kepada Yuliatus, sama seperti dirinya sering kali tidak membuat mukjizat-mukjizat, atau membuat mukjizat namun dengan lebih tidak menakjubkan; dia tidak ingin mukjizat-mukjizat itu tampak datang dari dirinya, supaya jangan ditinggikan oleh orang-orang dan menerima puji-pujian hampa. Dan juga, ketika orang-orang memohon Fulgensius agar mendoakan orang sakit atau orang-orang lain yang menderita, dia hanya berkata demikian kepada Allah:
Dan kalau sampai doa syafaatnya itu dikabulkan, terkabulnya doa itu dia katakan merupakan buah iman mereka, bukan karena semangat doanya sendiri. Kembalinya Fulgensius ke Sardinia mendatangkan sukacita tak terperi bagi para saudaranya. Karena ada banyak rohaniwan yang dia pimpin di sana, dia ingin membangun sebuah biara. Ini dilakukannya dengan seizin Primasius atau Brumasius, uskup Cagliari (Kaliaris). Bangunannya didirikan di tempat yang layak, di luar tembok kota itu dan dekat gereja Santo Saturninus. Komunitasnya menjadi besar dalam waktu singkat, dan mencakup lebih dari empat puluh biarawan. Tidak dibiarkannya para biarawan memiliki harta kepunyaan masing-masing, karena perihal itu sangat dilarang oleh peraturan biara. Namun, Fulgensius berusaha keras membagi-bagikan barang-barang bersama sesuai berbagai kebutuhan mereka. Dan dia ingin supaya yang menerima lebih banyak, akibat penyakit, membalas keberlimpahan itu dengan kerendahan hati besar. Fulgensius tidak begitu menganggap tinggi kerja fisik, kalau tidak disertai dengan semangat devosi; dan sebaliknya, dia sangat menghargai para rohaniwan yang berdevosi batin dan bermati raga, meskipun kerapuhan badan menjadikan mereka tidak mampu melakukan latihan-latihan jasmani. Kepada mereka, dia sering berkata bahwa satu-satunya yang pantas menyandang nama rohaniwan, adalah orang yang benar-benar menolak kehendaknya sendiri, sehingga tidak mengacuhkan apa pun juga dan tidak punya kehendak selain kehendak superiornya. Permintaan-permintaan para biarawan itu tidak pernah menggusarkan Fulgensius, meski yang kurang masuk akal sekalipun, sesulit apa pun permintaan itu dikabulkan; namun dengan kelemahlembutan dan keterbukaan hati menakjubkan, dia usahakan agar terpenuhi. Pada akhirnya, Fulgensius tahu benar cara mempersatukan kerahiman dengan keadilan, sehingga kelembutan hatinya tak disertai kekecutan hati, dan ketegasannya tak disertai kemurkaan.
Ketika Santo Fulgensius sedang mengawasi tindak-tanduk biara itu, nubuat yang sudah dibuatnya ketika meninggalkan Kartago pun tergenapi. Sebab, Trasamundus meninggal dunia di tahun 523, dan penerusnya, yakni putranya bernama Hilderikus, tidak mengikut agama sesat Trasamundus dan mengembalikan gereja-gereja kepada umat Katolik. Hilderikus juga memanggil para uskup di pembuangan supaya pulang. Karena itu, Santo Fulgensius, sesudah delapan belas tahun di pembuangan, mulai berperjalanan bersama para saudaranya untuk kembali ke Afrika. Begitu orang-orang melihatnya, membahanalah sorak-sorai dan seruan sukacita, dan setiap orang bergegas datang supaya bisa mendapat kehormatan berbicara dengannya atau menyentuh jubahnya atau diberkati oleh tangannya. Baru saja berlabuh, para Pengaku iman itu, diikuti oleh khalayak tak terhitung, pergi mengucap syukur kepada Allah di gereja Santo Agileus[6]. Begitu besar kerumunan orangnya, sehingga harus dibuat sebuah antrian supaya orang tidak terimpit. Meskipun diguyur hujan deras, tak ada orang yang meninggalkan Fulgensius; justru, beberapa orang terkemuka menanggalkan mantel mereka dan membuat semacam kanopi untuk menaunginya. Fulgensius masuk kota dengan kemeriahan itu. Di sana, oleh Bonifasius yang telah terpilih uskup, Fulgensius disambut sebagai penakluk yang jaya atas bidah. Sesudah singgah beberapa lama untuk menghibur para umat beriman, Fulgensius pun pergi ke diosesnya. Semua kota yang dia lewati menyambutnya seperti uskup mereka sendiri, atau bahkan seperti Agustinus baru. Sebab, semakin orang meninggikannya, semakin dia merendahkan dirinya sendiri. Tiba di Ruspe, Fulgensius tidak menginginkan istana selain biara miskin yang telah dibangunnya. Kembali lagi, kepemimpinan biara itu tidak diserahkan kepada dirinya sendiri, namun dia percayakan seutuh-utuhnya kepada abas Feliks. Fulgensius bahkan secara tertulis meninggalkan segala hak kepemilikan rumah itu, dan berkata bahwa rumah itu dia jadikan tempat tinggalnya atas dasar persahabatan, bukan otoritas. Sungguh besar usahanya untuk mereformasi para klerus. Tidak dibiarkannya para rohaniwan mengenakan pakaian halus; dia juga tidak mengizinkan mereka mengurusi perkara-perkara duniawi dan profan. Fulgensius tidak memperbolehkan mereka bermalas-malas, atau terutama alpa dalam ofisi-ifisi ilahi. Dan demi melenyapkan segala alasan, dia membuat mereka tinggal di dekat gereja. Fulgensius sering mewartakan sabda Allah kepada para umatnya, dan itu dilakukannya dengan begitu bersemangat dan penuh urapan ilahi, sehingga khotbah-khotbahnya menghasilkan buah-buah teramat berbahagia, dan terutama mendatangkan perubahan bagi moral para pendengarnya. Mendengar Fulgensius berkhotbah, Bonifasius, uskup Kartago, mencurahkan air mata yang berlinang-linang serta bersyukur kepada Allah karena telah memberikan pastor seperti itu kepada Gerejanya. Penghargaan kepada Fulgensius menyebar sebegitu luas, sehingga orang asing sendiri memandang Fulgensius sebagai penentu dalam perbedaan pendapat. Pada sinode-sinode yang dia hadiri, Fulgensius selalu dianggap oleh para uskup lain sebagai guru atas segala sesuatu; namun tentu saja dia tidak menyalahgunakan penghormatan ini, tetapi dia justru mencari barisan terakhir untuk dia tempati. Pada salah satu sinode (sinode Yunka/dalam bahasa Prancis Junque di tahun 524), Fulgensius diberi senioritas atas salah seorang rekan uskupnya bernama Quodvultdeus, suatu pengaturan yang menimbulkan kekhawatiran bagi rekan uskupnya itu. Melhat hal ini terjadi, Santo Fulgensius menolak haknya pada sinode selanjutnya (sinode Sufeta/Suffète dalam bahasa Prancis, yang dilangsungkan pada tahun yang sama) dan memohon para uskup supaya berkenan menempatkannya pada posisi setelah prelat tersebut.
Pada akhirnya, setelah tujuh tahun melaksanakan tugas-tugasnya sampai pada tahun 532, memperkirakan bahwa penghujung hidupnya sudah dekat, Fulgensius ingin bersiap menyambut ajal dengan kehidupan yang lebih terisolir. Maka dia menjauhi para klerus dan umatnya, dan pindah ke pulau Sirsina (Kerkennah), di atas batu karang yang disebut Chulmi. Di sana, bersama beberapa orang rohaniwan, Fulgensius semakin menggeluti bacaan, doa dan praktik mati raga serta penitensi, menyertai semua latihan itu dengan air mata tumpah-ruah karena devosinya. Sungguh ingin dirinya dibiarkan mati di tempat peristirahatan itu, namun desakan anak-anaknya yang tidak mampu menderita kehilangan dirinya dan memohon agar dia kembali pulang, begitu kuat, sehingga Fulgensius terpaksa kembali di tengah-tengah mereka. Tidak lama setelahnya, Fulgensius jatuh sakit dan selama tujuh puluh hari, menderita rasa nyeri kian menusuk, sehingga dirinya merasa iba kepada semua orang yang melihatnya. Namun dia menghibur diri dan sering-sering berkata kepada Allah:
Para dokter menasihatinya supaya mandi di pemandian untuk melegakan penyakitnya, namun obat itu ditolaknya. Jawabnya:
Saat terakhirnya pun mendekat. Fulgensius menyuruh para klerus dan rohaniwannya menghadap, dan sesudah meminta maaf dan memberi mereka berkat, dia ingin mereka mendapat seorang gembala penggantinya. Ujarnya:
Dipastikannya agar sedekah dibagikan kepada para janda, anak yatim piatu, peziarah dan orang papa lainnya, baik rohaniwan maupun awam, yang dia sebut nama pribadinya sendiri; dan ini dibagikan dari sisa-sisa hartanya, sampai keping uang terakhir. Dengan demikian, tak memiliki apa-apa lagi di dunia ini, namun senantiasa dalam pikiran yang sehat, tenteram dan terangkat ke Surga, Fulgensius mati dengan damai dalam kecupan Tuhan pada tanggal 1 Januari, tahun keselamatan kita tahun 533, di usia 65 tahun, dan 25 tahun masa keuskupannya, seperti yang dikatakannya sendiri beberapa waktu sebelum meninggal. Keesokan hari, Fulgensius dimakamkan dengan meriah di kota yang sama, di dalam sebuah gereja bernama Sekundus yang telah dianugerahinya dengan relikui-relikui para Rasul. Di sana, tidak pernah ada orang yang dikuburkan sebelumnya.
Kalau, seperti yang orang percayai, dulu ada kebiasaan menguburkan orang di gereja-gereja, di sana kita memiliki tanda besar penghormatan universal bagi kebajikan-kebajikan Santo Fulgensius. Kita membaca dalam riwayat hidupnya, bahwa Ponsianus, uskup tetangganya, mendapat kabar dari suatu penglihatan bahwa Fulgensius sudah menikmati bahagianya kehidupan kekal.
Karena Santo Fulgensius menerima keuskupan dengan syarat dapat menyatukan kehidupan membiara dengan kehidupan uskup, dia dilukis dengan pakaian petapa. Untuk mengingatkan tentang pembuangannya serta pelarian dirinya berkali-kali, dia digambarkan berada di tepi laut, di dekat tempayan, hendak pergi; dalam sebuah gua, sedang bersiap merayakan Misa.
Sudah merupakan pendapat umum bahwa Ordo tempat dia membuat kaulnya adalah ordo Santo Agustinus, sebab, orang tahu bahwa Doktor agung itu telah menyebarkan ordonya sedemikian luas di seluruh Afrika.
Dahulu kala di Bourges, dirayakan pada tanggal 6 Mei, pemindahan relikui-relikui Santo Fulgensius ke sebuah gereja yang menyandang namanya.
Relikui-relikui suci ini menghilang pada tahun 1793, dinista oleh para revolusioner setelah mereka mengadakan pesta pora. Pesta Santo Fulgensius dilestarikan di Gereja seminari keuskupan agung, yang dahulu merupakan biara yang disebut Moutermoyen. Salah satu relikuinya ada di konven Davenescourt (Somme).
Catatan kaki:
Disadur dari sumber berbahasa Prancis berikut:
Mons. Paul Guérin, Les petits bollandistes, vies des saints de l’Ancien et du Nouveau Testament, Vol. I, 1-26 Januari, Paris, Bloud et Barral, Libraires-Éditeurs, 1882, hal. 13-22.
[1] Ketika St. Fulgensius lahir, bangsa Vandal sudah menguasai Afrika selama hampir tiga puluh tahun. Bangsa barbar dari Utara itu telah menginvasi perbatasan kekaisaran Romawi di Jerman, kemudian Galia. Lalu setelah menginvasi Spanyol, di situ mereka menetap di tahun 409, terutama di daerah Baetika yang menyandang nama mereka, Vandalusia (Andalusia). Sesudahnya, mereka masuk ke Afrika di tahun 428, di bawah kepemimpinan Geiserikus, raja mereka, yang dipanggil oleh Bonifasius, gubernur provinsi tersebut. Di Afrika, mereka pertama-tama menetap di Mauritania, lalu menaklukkan dioses Afrika, termasuk Kartago yang mereka ambil alih di tahun 439 dan mereka jadikan ibu kota. Kebarbaran mereka sungguh tersiar terutama di daerah pesisir itu, dan bahkan di Roma (selama empat belas hari di tahun 455), dan paling terlihat terhadap umat Katolik, sebab bangsa Vandal menganut Arianisme, sehingga nama mereka pada hari ini digunakan untuk mengungkapkan kehancuran yang ngeri. Para raja mereka di Afrika adalah: Geiserikus, 427; Hunerikus, 477; Guntamundus, 484; Trasamundus. 496; Hilderikus, 523; Gelimerus, 530-534. Belisarius, jenderal kaisar Yunani Yustinianus, mengakhiri kekuasaan mereka pada tahun 534.
[2] Kaum Arian adalah kaum bidah yang menyangkal keilahian Yesus Kristus.
[3] A communione Petri perfida dissensione separavit. Vit. S. Fulg., c. XII.
[4] Harap lihat Anastase le Bibl., en sa vie; Baron., an. 504, no. 41 dst. (edisi Bar-le-Duc).
[5] Dipercayai berasal dari volume I buku yang berjudul: Jawaban untuk sepuluh keberatan (Prancis: Réponse aux dix objections).
[6] Santo Agileus, martir asal Kartago, dihormati pada tanggal 25 Januari dan 15 Oktober. Gerejanya ada di tepi laut. Santo Agustinus berkhotbah di sana pada hari pestanya.t-
Terima kasi suda berbagi doa ini.. 🙏🙏
Magdalena binti said 4 bulanBaca lebih lanjut...Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 8 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 1 tahunBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 1 tahunBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 1 tahunBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 1 tahunBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...