^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Paus St. Gregorius Agung tentang Yohanes 3:5 & Perlunya Pembaptisan
Dalam karyanya yang disebut Moralia (atau Moral tentang Kitab Ayub), Paus St. Gregorius Agung berulang kali mengajarkan bahwa tidak seorang pun diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan.
Paus St. Gregorius Agung, Moral tentang Kitab Ayub (Moralia), Buku 4, #3: “Sebab setiap orang yang tidak dilepaskan dari dosa dengan air kelahiran baru, diikat dan dibelenggu dengan kebersalahan ikatan asali … Dan bahwa dia yang tak dibasuh dalam air keselamatan, tidak kehilangan hukuman dosa asal, dinyatakan dengan sederhana oleh sang Kebenaran melalui diri-Nya sendiri dalam kata-kata berikut: Jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah [Yohanes 3:5].”
Pada perikop di bawah, Sri Paus mengutip kata-kata Tuhan kita di Yohanes 3:5 secara spesifik, untuk menekankan bahwa tak ada bayi yang diselamatkan tanpa Sakramen tersebut.
Paus St. Gregorius Agung, Moral tentang Kitab Ayub (Moralia), Buku 9, #32: “Sebab ada beberapa yang tak beroleh terang di kehidupan ini, sebelum mereka sanggup memperlihatkan patutnya diri mereka beroleh ganjaran baik atau buruk dari kehidupan aktif. Dan karena Sakramen-Sakramen keselamatan tidak membebaskan mereka dari dosa kelahiran mereka, pada saat yang sama di kehidupan ini mereka tidak pernah berbuat benar melalui tindakan mereka sendiri; di sana mereka pun dibawa kepada siksaan. Dan mereka ini memiliki satu luka, yakni terlahir dalam kebusukan, dan luka yang lain, mati dalam daging. Namun menimbang kenyataan bahwa setelah kematian, menyusul pula kematian kekal, pun dengan putusan tersembunyi dan bajik ‘pada mereka luka-luka diperbanyak tanpa alasan.’ Sebab mereka bahwasanya menerima siksaan-siksaan untuk selama-lamanya, kendati tak pernah berdosa karena kehendak mereka sendiri. Dan itulah sebabnya ada tertulis, Bahkan bayi usia satu hari pun tidak murni pada pandangan-Nya di bumi. Maka dari itulah ‘Kebenaran’ menuturkan melalui bibir-Nya sendiri, Jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah [Yohanes 3:5]. Oleh sebab itu Paulus berkata, Kita secara kodrat adalah anak-anak yang patut dimurkai, sama seperti mereka yang lain. [Efesus 2:3] Dengan demikian, barang siapa tidak menambahkan apa-apa dari pihak dirinya sendiri terikat hanya sekadar dengan kebersalahan lahir, bagaimana gerangan dari sudut pandang insani semata, orang semacam itu menghadap pada pengadilan terakhir, kalau bukan sebagai orang yang ‘terluka tanpa alasan’? Namun demikian, dalam pertanggungjawaban ketat yang ditilik Allah, sudah sepantasnya keturunan umat manusia, laksana pohon tak berbuah, dalam dahan-dahannya mempertahankan rasa pahit yang dia peroleh dari akarnya. Maka dari itulah dia berkata, Sebab Dialah yang meremukkan aku dengan angin ribut, dan memperbanyak luka-lukaku tanpa alasan. Seolah menyelidiki kemalangan umat manusia, diucapkannya dalam kata-kata terjelas; ‘Lawatan macam apa gerangan yang dilakukan oleh Hakim ketat itu dalam membantai mereka tanpa belas kasihan, mereka yang dihukum oleh kebersalahan perbuatan-perbuatan mereka sendiri, kalau mereka saja yang tak dilengserkan oleh kebersalahan akibat pilihan disengaja, dibinasakan-Nya untuk selama-lamanya?”
Harap dicatat bahwa karya Gregorius Agung, Moralia ini, tidak dipermaklumkan sebagai ajaran kepausan resmi dengan segenap otoritas jabatannya. Ini justru adalah karya dan komentar pribadi Sri Paus yang mencerminkan pandangan-pandangannya pada banyak topik. Mungkin ada beberapa orang yang menafsirkan perikop kedua yang dikutip di atas, dengan makna bahwa bayi-bayi yang mati tanpa pembaptisan disiksa dengan api Neraka. Itu merupakan kepercayaan umum di Barat pada waktu itu. Namun, dari ajaran paus di kemudian hari, kita tahu bahwa meski bayi-bayi yang mati tak dibaptis, tidak masuk ke dalam Surga, mereka tidak dihukum dengan api Neraka. Karena mereka mati hanya dengan dosa asal aja, tanpa berbuat dosa nyata berat apa-apa, mereka masuk ke dalam bagian Neraka yang tidak ada apinya. Namun demikian, pernyataan-pernyataan Gregorius mewujudkan kepercayaannya (serta iman Gereja) bahwa tak ada seorang pun yang diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan, berdasarkan Yohanes 3:5.
Karya yang memuat ajaran St. Gregorius Agung bahwa tidak seorang pun diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan, juga memuat perikop lain yang bisa dilihat pada pos ini: St. Gregorius Agung: Semua Orang Tidak Percaya & Orang di luar Sakramen Binasa
Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 5 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 9 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 10 bulanBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 11 bulanBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 11 bulanBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 11 bulanBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 11 bulanBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 1 tahunBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Halo – devosi kepada Santa Perawan Maria itu krusial untuk keselamatan dan pengudusan jiwa. Namun, dan juga yang terpenting, orang harus 1) punya iman Katolik sejati (yakni, iman Katolik tradisional),...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...