^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Allah Tritunggal & Filioque – Agama Katolik Membantah “Ortodoksi” Timur
Filioque adalah istilah bahasa Latin yang berarti “dan Putra”. Istilah ini mengacu pada pandangan yang diajarkan oleh Gereja Katolik sebagai dogma bahwa Roh Kudus sepanjang segala keabadian berasal dari Bapa dan Putra. Posisi ini disangkal oleh kaum “Ortodoks” Timur yang berpandangan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, namun bukan dari Putra.
Ketika sedang membahas Filioque, yang kita bahas adalah misteri mendalam tentang Allah, misteri Allah Tritunggal Mahakudus dan ajaran yang disampaikan kepada kita tentang misteri tersebut dalam wahyu ilahi. Sederhananya, Allah Tritunggal merupakan kebenaran bahwa ada satu Allah dalam tiga pribadi ilahi: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Selain itu, setiap pribadi Allah Tritunggal adalah Allah, karena ketiga pribadi-Nya memiliki esensi ilahi yang sama – esensi ilahi tunggal satu-satunya.
Tritunggal atau yang juga disebut Trinitas dalam bahasa Indonesia adalah topik yang luar biasa rumit dan pembahasannya harus dilakukan dengan penuh kerendahan hati. Kata-kata yang kita gunakan tentu saja tidak bisa secara penuh atau sempurna menjelaskan atau menangkap misteri tak terhingga ini. Namun Allah mewahyukan beberapa hal tertentu tentang Tritunggal dan memerintahkan kita supaya percaya hal-hal itu. Dengan berbagai macam kata dan konsep yang kita gunakan, kita mencari tahu kaidah iman yang benar, membela kaidah iman itu, dan sejauh yang kita mampu memperoleh pemahaman pasti namun tidak sempurna tentang misteri-misteri terkait.
Video ini akan membuktikan dari Alkitab dan dari Gereja perdana bahwa posisi Katolik tentang Filioque tentunya merupakan posisi Kristen alkitabiah yang benar. Seperti yang akan kita lihat, penolakan terhadap Filioque merupakan bidah yang menyerang iman dan keyakinan Kristen akan Allah Maha Esa yang benar. Karena Ortodoksi Timur kenyataannya bukan agama Kristen ortodoks (meskipun mengaku diri demikian), kami biasanya merujuk padanya sebagai “Ortodoksi” Timur dan para penganutnya sebagai kaum “Ortodoks” Timur. Tetapi, supaya tidak diulang-ulang, pada video ini kami akan sering merujuk kepada agama itu hanya sebagai Ortodoksi Timur dan para penganutnya sebagai kaum Ortodoks Timur.
Supaya perkara ini bisa dipahami, ada baiknya kalau kita pertama-tama mencermati penjelasan teologis Katolik tentang Allah Tritunggal Mahakudus. Ini akan memberi kita introduksi tentang kelahiran abadi Putra Allah dan tentang diembuskannya Roh Kudus, yang juga disebut sebagai Spirasi Roh Kudus. Selanjutnya, akan kami bahas bukti alkitabiah dan patristik Filioque. Penjelasannya seperti ini:
Karena Allah itu Roh, seperti diajarkan dalam Yohanes 4:24, Allah memiliki kekuatan akal dan juga kekuatan kehendak. Selain itu, sejak segala keabadian, Allah memahami diri-Nya sendiri, mengenali diri-Nya sendiri, mengintelektualisasi diri-Nya sendiri. Kekuatan akal milik Allah itu tak terhingga dan sempurna secara absolut. Dengan demikian, dalam memahami diri-Nya sendiri, Allah melahirkan konsep tak terhingga diri-Nya sendiri, Firman/Sabda – Logos dalam bahasa Yunani.
Firman atau Sabda yang secara abadi dilahirkan oleh Allah ini merupakan gambar yang sungguh-sungguh sempurna dan tidak terhingga dari Allah yang melahirkan Firman itu. Itulah sebabnya, mengenai Allah Putra, Kolose 1:15 berkata demikian:
Sekiranya Firman yang dilahirkan oleh Allah dalam memahami diri-Nya sendiri tidak sama tak terbatasnya dan tak sesempurna Allah, lantas kekuatan Allah dalam memahami diri-Nya sendiri akan tidak sempurna, dan itu kemustahilan.
Itulah sebabnya mengenai kelahiran abadi Putra dari Bapa, Syahadat Nisea-Konstantinopel menyatakan bahwa Putra Allah adalah: Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa.
Yesus dalam Kitab Suci dinyatakan sebagai Logos – yaitu Firman/Sabda – itulah sebabnya misteri Kelahiran abadi Putra Allah sering dibandingkan (menggunakan analogi tak sempurna) dengan bagaimana firman/kata/pikiran tergagas dalam akal tercipta makhluk manusia. Ketika manusia memahami sesuatu, orang itu dalam akalnya menggagaskan sebuah gambar atau citra dari hal yang dia pahami. Aktivitas atau prosesi akal manusia ini, yang di dalamnya terlahir kata batin atau gambaran dari hal yang dia pahami, merupakan aktivitas yang tetap berada di dalam agennya.
Sekarang, dengan analogi ini, coba dicatat bahwa perbandingannya bukanlah dengan kata lisan atau atau ujaran manusia. Suara dari kata lisan manusia yang kita dengar merupakan sesuatu yang keluar dari orang itu. Yang kita bahas dalam analogi ini adalah kata yang tetap berada dalam manusia, perbandingannya dengan kata batin manusia – dengan kata atau konsep yang timbul dalam akal manusia sebelum kata lisan disuarakan. Boleh disebut juga kata hati. Satu-satunya alasan suara lisan memiliki makna adalah suara lisan mewakili konsep atau kata yang ada dalam batin. Suara lisan yang tidak mewakili sesuatu yang dapat dimengerti bukanlah suatu kata. Jadi, ketika kita membahas Kelahiran Abadi Sang Logos, dan membuat analogi tak sempurna dengan bagaimana manusia menggagaskan suatu kata, perbandingannya bukanlah dengan kata lisan manusia, namun dengan kata batin dalam dirinya.
Bapa Gereja Timur, St. Gregorius dari Nazianzus, berkata demikian tentang Firman/Sabda Allah:
Terlebih, meski kita bisa membuat analogi tak sempurna antara proses manusia menggagas kata batin berbanding dengan kelahiran abadi Sabda Allah, kedua-duanya tentunya tidak sama. Pada kenyataannya, ada perbedaan tak terhingga antara kedua-duanya. Berikut beberapa saja perbedaannya:
Kendati berbagai perbedaan ini, oleh para Bapa Gereja dan di dalam sejarah Kekristenan telah dibuat sebuah analogi berdasarkan Yohanes 1:1, antara proses kata batin (selaku gambaran dari hal yang dipahami) muncul dari dalam akal manusia dengan Kelahiran Sabda dari Bapa sepanjang segala keabadian. Sebagai gambaran sempurna Allah, Firman yang sejak segala keabadian dilahirkan oleh Bapa memiliki substansi, esensi atau kodrat yang persis sama dengan pihak yang melahirkan-Nya. Firman Allah setara dengan Bapa yang melahirkan-Nya.
Itulah sebabnya ada tertulis di Ibrani 1:3:
Orang Katolik juga merujuk kepada Kelahiran Abadi Putra Allah sebagai prosesi akal dalam diri Allah, atau mengalirnya akal dalam Allah. Prosesi akal kadang kala dikontraskan dengan prosesi kehendak/prosesi kasih. Ini nanti akan kami bahas.
Makna kata Prosesi dallam konteks ini adalah berasalnya sesuatu dari suatu hal lain. Prosesi bisa bersifat eksternal atau internal. Sebutannya eksternal ketika terminus atau tujuan akhir prosesi tersebut ada di luar pangkal dari mana terminus itu muncul. Sebagai contoh, Penciptaan bisa disebut sebagai prosesi yang berpangkal dari Allah menuju ke luar (ad extra). Namun prosesi dalam diri Allah yang sedang kita bahas – yaitu prosesi akal dan kehendak – bersifat imanen dan abadi. Kedua prosesi itu tetap berada dalam diri Allah dan dengan demikian sama sekali tidak melibatkan penciptaan. Aktivitas akal dan kehendak Allah beserta prosesi-prosesi terkait tetap berada di dalam diri Allah. Dan dengan demikian, aktivitas-aktivitas itu disebut sebagai opera ad intra (yaitu aktivitas-aktivitas internal). Kontrasnya dengan opera ad extra, yaitu aktivitas-aktivitas eksternal Allah, seperti ketika jiwa manusia tercipta sebagai buah kuasa Allah.
Semua opera ad extra Allah dikerjakan oleh Ketiga Pribadi Tritunggal bersama-sama, walaupun dalam Alkitab, ada beberapa aktivitas (seperti pengudusan yang dikerjakan Roh Kudus) yang kadang-kadang disematkan kepada satu pribadi saja untuk menandakan atau menyoroti ciri khas Pribadi tersebut. Pembedaan antara opera ad intra (yaitu aktivitas abadi yang tetap berada dalam diri Allah) dengan opera ad extra sangat penting sekali. Karena, dalam teologi Kristen sejati (yaitu, dalam teologi Katolik), segala sesuatu yang bukan Allah merupakan ciptaan. Demikian juga, segala sesuatu yang di luar Allah merupakan ciptaan.
Dalam setiap prosesi ad extra yang berasal dari Allah, terminus atau tujuan akhir prosesi tersebut berada di luar Allah. Dengan demikian, terminus-nya muncul dari ketiadaan sama sekali berkat penciptaan yang dikerjakan oleh Allah dan terminusnya juga punya permulaan.
Kebenaran ini, bahwa segala sesuatu yang berprosesi/berasal dari Allah secara ad extra diciptakan dari ketiadaan sama sekali, berbeda jauh dengan teologi bidah kaum “Ortodoks” Timur dan dengan paham sesat pembedaan esensi-energi yang mereka anut. Menurut ajaran bidah mereka itu, yang disebut-sebut energi-energi tak tercipta berprosesi/berasal dari esensi ilahi secara ad extra, dan berubah dalam waktu, namun tetap mereka anggap “tak tercipta”, dan karena itu tetap mereka anggap sebagai “Allah”.
Ajaran mereka itu bidah, keliru dan merupakan semacam Panteisme. Ajaran mereka mencampuradukkan tatanan tercipta dengan tatanan tak tercipta, seperti yang telah kami tunjukkan dalam video kami berjudul “Ortodoksi” Timur Terbongkar: Doktrin Sesat Mereka tentang Allah. Posisi Ortodoks Timur juga berujung politeisme, karena percaya bahwa ada banyak prosesi yang berasal secara ad extra dari esensi ilahi, yang walau demikian dengan tegas mereka anggap “tak tercipta”.
Sekarang, dalam setiap prosesi, ada perbedaan antara pangkal prosesi dan yang muncul dari pangkal tersebut. Itulah sebabnya, meski Firman Allah merupakan gambaran sempurna Allah Bapa dan juga persis sama dalam esensi/substansi/hakikat-Nya dengan Bapa, Firman Allah merupakan pribadi yang berbeda dengan Bapa. Alasan Firman berbeda dengan Bapa, adalah adanya oposisi relasi, atau relasi asal-muasal yang berlawanan. Bapa tidak berasal dari siapa pun juga dan merupakan pihak yang sepanjang kebadian melahirkan Putra. Putra sepanjang segala keabadian dilahirkan oleh Bapa. Itulah sebabnya Konsili Florence menyatakan bahwa dalam Tritunggal, semuanya satu adanya “dengan syarat hal ini tidak dimustahilkan oleh oposisi relasi”.
Esensi ilahi bersifat sederhana secara absolut. Artinya: sama sekali tidak terdiri dari bagian-bagian. Esensi ilahi yang persis sama itu disalurkan kepada Putra melalui kelahiran abadi.
Walaupun memiliki esensi ilahi yang persis sama dan karena itu kedua-duanya adalah Allah seutuh-utuhnya, Bapa dan Putra merupakan dua pribadi yang berbeda. Alasan mereka merupakan dua pribadi yang berbeda dikarenakan oposisi relasi mereka, yang kadang-kadang juga disebut sebagai relasi asal-muasal yang berlawanan. Asal-muasal dalam konteks ini berarti aktivitas abadi, bukan sesuatu yang punya permulaan. Bapa melahirkan Putra, dan Putra dilahirkan oleh Bapa. Dan juga, patut dikemukakan bahwa meski Putra berasal dari Bapa dan Bapa sepanjang segala keabadian melahirkan Putra, tidak ada ketergantungan dari pihak Putra pada Bapa, ataupun dari pihak Bapa pada Putra.
Dalam memahami diri-Nya sendiri, Bapa tidak mampu tidak melahirkan Sabda. Bapa tidak bisa berada tanpa Putra, namun demikian Bapa tidak bergantung pada Putra. Begitu juga, Putra tidak bisa berada tanpa Bapa, namun Putra tidak bergantung pada Bapa. Meskipun Bapa melahirkan Putra, Putra tidak pernah kekurangan atau tidak pernah bisa kekurangan suatu hal pun yang Dia miliki. Begitu juga dengan Bapa, yang tidak pernah kekurangan dan tidak pernah bisa kekurangan apa pun juga yang Dia punya. Itulah sebabnya tidak ada ketergantungan.
Kelahiran Firman/Sabda Allah sepanjang keabadian ini juga dibandingkan dengan bagaimana seorang bapak manusia membuahkan seorang putra, karena Yesus, Sang Firman Abadi, disamakan dengan Putra Allah dalam Kitab Suci.
Tetapi, harap diingat: meskipun bisa dibuat analogi antara kelahiran manusia (seperti seorang bapak membuahkan anak dalam citra kodrat yang sama) berbanding dengan kelahiran Allah (yakni, Allah Bapa yang melahirkan Putra), kedua peristiwa ini tentu saja tidak sama. Analoginya sekali lagi tidak sempurna. Ada perbedaan tak terhingga antara kelahiran manusia dengan kelahiran Allah. Ketika seorang anak dibuahkan dalam kelahiran manusia, keturunan manusia diperbanyak. Tetapi kodrat Allah tidak bisa diperbanyak. Dalam kelahiran Allah, kodrat ilahi tidak diperbanyak, namun kodrat Allah disalurkan kepada Putra yang dilahirkan. Dan juga, dalam kelahiran manusia, pihak yang dilahirkan punya permulaan. Dia itu mulai ada. Namun, dalam kelahiran Allah, tidak ada permulaannya. Bapa adalah Bapa dan selalu merupakan Bapa, sebab Bapa tidak pernah ada tanpa Putra, seperti yang ditegaskan oleh St. Atanasius melawan kaum Arian.
Bapa sepanjang keabadian melahirkan Putra, dan Putra sepanjang keabadian dilahirkan oleh Bapa. Terbilang benar, kalau orang berkata bahwa kelahiran Putra sepanjang keabadian merupakan asal Putra dari Bapa, namun tentu saja harus dipahami bahwa tidak ada permulaan dan sama sekali tidak melibatkan penciptaan. Kelahiran abadi Putra merupakan aktivitas kodrati, vital dan imanen milik Allah sejak segala keabadian. Itulah sebabnya Yesus berkata:
Dalam segala keabadian, Bapa tidak hanya melahirkan Putra, namun juga menginginkan kebaikan Putra atau mengasihi Putra yang dilahirkan-Nya. Ini, seperti yang sudah kami sebutkan, dikarenakan di dalam setiap kodrat rohani, ada dua aktivitas imanen: aktivitas akal dan aktivitas kehendak. Sebagai gambaran sempurna Allah Bapa, Putra demikian juga sepanjang segala keabadian menginginkan kebaikan Bapa atau mengasihi Bapa yang melahirkan-Nya. Tentang saling mengasihi antara Bapa dan Putra, St. Atanasius menyatakan:
St. Atanasius juga berkata:
Kasih ini tidak terhingga dan juga sempurna, sama halnya dengan Bapa dan Putra. Dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra, muncullah, datanglah, berprosesilah Pribadi Ketiga Allah Tritunggal Mahakudus, yang kita kenal sebagai Roh Kudus. Kepada Roh Kudus ini, esensi ilahi yang persis sama disalurkan dalam prosesi-Nya. Roh Kudus adalah Allah, setara dengan Bapa dan Putra.
Sebutan untuk prosesi Roh Kudus adalah “spirasi”, karena spirasi berarti bernapas atau mengembuskan roh. Roh merupakan dorongan atau gerakan yang menuju sesuatu. Dari saling mengasihi satu sama lain, Bapa dan Putra sebagai satu pangkal menapaskan atau mengembuskan Roh Kudus. Istilah Spirasi Akftif adalah Bapa dan Putra sebagai satu pangkal mengembuskan Roh Kudus dalam satu embusan saja. Sedangkan Spirasi Pasif adalah Pribadi tak terhingga Roh Kudus diembuskan oleh Bapa dan Putra sebagai satu pangkal dan dalam satu embusan saja.
Dalam diri Allah, ada dua prosesi. Yang pertama prosesi akal: dengan prosesi ini Firman abadi Allah dilahirkan; dan yang kedua, prosesi kehendak: dengan prosesi ini, Roh Kudus diembuskan. Inilah tepatnya alasan ada tiga pribadi yang memiliki satu esensi ilahi, ketiga-tiganya sama-sama setara dan sama-sama abadi. Itulah sebabnya ada satu Allah dalam tiga pribadi ilahi.
Pertimbangan-pertimbangan ini sangat menarik, tetapi, harus dicatat bahwa Tritunggal adalah misteri sejati. Tritunggal sungguh melampaui akal kodrati, sehingga manusia tidak bisa membuktikan atau sampai pada misteri tersebut hanya dengan menggunakan akal kodrati saja. Bukan berarti Tritunggal berlawanan dengan akal, tentunya, namun misteri ini tidak bisa terungkap tanpa wahyu ilahi.
Keberadaan Allah dan kenyataan bahwa hanya ada satu Allah bisa dibuktikan dengan akal kodrati, dan dengan hal-hal tercipta, namun untuk tahu bahwa Allah memiliki tiga Pribadi, perlu adanya wahyu. Dilandasi dan dipandu oleh wahyu serta iman ilahi, kita dapat menggunakan akal untuk memperlihatkan kemungkinan adanya Tritunggal, namun kita tahu bahwa Tritunggal itu benar karena sudah diwahyukan oleh Yesus Kristus.
Sebelum kami lanjutkan, perlu kami bantah sebuah argumen menyesatkan yang diajukan oleh beberapa penganut Ortodoks Timur. Beberapa orang bidah Ortodoks Timur mengklaim bahwa penjelasan Katolik yang telah kami bahas mengenai berasalnya Roh Kudus dari aktivitas abadi dan imanen kehendak Allah adalah “argumen subordinasionis Arian”; karena kaum Arian percaya bahwa Putra dan Roh Kudus merupakan buah kehendak Allah.
Sebagai contoh, seorang bidah Ortodoks Timur berkata sebagai berikut.
Klaimnya ini omong kosong. Untuk membantahnya, cukup diketahui bahwa kaum Arian percaya bahwa Putra dan Roh Kudus diciptakan oleh Bapa. Menurut pandangan kaum Arian, Putra dan Roh Kudus diciptakan oleh kehendak Allah dari ketiadaan sama sekali. Dulu, ada juga dari kalangan Arian yang percaya bahwa Putra adalah ciptaan Bapa yang membantu atau digunakan sebagai alat dalam penciptaan Roh Kudus yang dilakukan oleh Bapa. Dengan demikian, kaum Arian percaya bahwa Putra dan Roh Kudus punya permulaan, dan bahwa ada suatu kala ketika Putra dan Roh Kudus tidak ada. Ya, itu tentu saja sama sekali berbeda dengan posisi Katolik dan dengan yang sudah kami bahas. Perbedaannya diilustrasikan oleh Santo Atanasius, yang menjelaskan posisi Arian dalam kutipan berikut:
Seperti yang bisa kita lihat, ini sama sekali berbeda dengan posisi Katolik. Orang Arian berpandangan
Posisi Katolik yang sudah kami bahas justru sebaliknya:
Bapa melahirkan Sabda yang tak terhingga, dan ini sudah kodrat Bapa, yang dengan demikian membuat Bapa niscaya melahirkan Putra. Begitu juga, Bapa dan Sabda secara kodrat mengasihi satu sama lain dan dari aksi kehendak ini, mereka mengembuskan Roh Kudus. Itulah sebabnya, prosesi Roh Kudus tidak bisa tak berlangsung. Jadi, aksi kasih abadi dalam diri Allah yang merupakan pangkal munculnya Roh Kudus, sama sekali tidak bisa dengan benar dibandingkan dengan Allah yang memilih untuk menciptakan hal-hal dari ketiadaan dan di luar diri-Nya sendiri.
Memang benar, untuk semakin mengenali kesalahan pada inti penolakan tak berdasar yang baru saja kami bantah, harap dipertimbangkan bahwa ada perbedaan antara apa yang dikehendaki Allah, secara niscaya, secara kodrat dan sehubungan diri-Nya sendiri dengan yang dikehendaki-Nya sehubungan hal-hal lain di luar diri-Nya sendiri.
Sewaktu kami berkata bahwa Allah niscaya menghendaki kebaikan-Nya sendiri, maksud kami bukan bahwa Allah terdesak oleh apa pun juga di luar diri-Nya, namun bahwa sudah kodrat Allah untuk mengasihi diri-Nya sendiri. Karena itulah Allah tidak bisa tak menghendaki kebaikan-Nya sendiri, sama seperti manusia menghendaki kebahagiannya sendiri.
Sehubungan hal-hal selain Allah sendiri/atau di luar diri-Nya sendiri, kehendak Allah tidak tentu; artinya, Allah bisa saja memilih supaya keadaan hal-hal tersebut berbeda dari yang ada atau supaya hal-hal tersebut sama sekali tidak ada. Maka, sewaktu kita berbicara tentang hal-hal lain yang muncul dari kehendak Allah, semua hal-hal yang muncul dari kehendak Allah itu diciptakan dan memiliki kodrat yang berbeda dengan Allah. Istilah hal-hal lain yang muncul dari kehendak Allah ini merupakan rujukan terumum yang digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang muncul dari kehendak Allah, dan ini merupakan cara pandang bidah kaum Arian terhadap Kristus dan Roh Kudus. Namun sehubungan diri-Nya sendiri, Allah niscaya menginginkan kebaikan-Nya sendiri dan mengasihi diri-Nya sendiri, seturut ketentuan kodrat-Nya, sama halnya manusia secara kodrati menginginkan kebahagiaannya sendiri. Aksi kodrati Allah ini, yaitu ingin mengasihi diri-Nya sendiri, adalah aksi Bapa dan Putra saling mengasihi satu sama lain, dan Roh Kudus muncul dari aksi saling mengasihi tersebut bukan sebagai sesuatu yang di luar, eksternal ataupun sebagai ciptaan, melainkan sebagai prosesi internal, tak tercipta, abadi dan dari kodrat yang sama.
Maka kembali lagi, bisa kita lihat bahwa penolakan kaum skismatis Timur pada perkara ini sama sekali salah. Alasannya, antara lain, penolakan mereka dengan salah mencampuradukkan kehendak Allah sehubungan hal-hal di luar Allah sendiri dengan kehendak Allah untuk mengasihi diri-Nya sendiri. Maka, ketika St. Atanasius membantah kaum Arian dengan membandingkan hal-hal yang tergolong kodrat Allah dan yang tergolong kehendak-Nya, konteksnya adalah tentang hal-hal yang muncul dari kehendak Allah secara eksternal dan tercipta.
Pada perikop-perikop seperti itu, St. Atanasius tidak sedang membahas posisi bahwa Allah secara kodrati berkehendak mengasihi diri-Nya sendiri, dan bahwa yang berprosesi secara internal dari aksi kodrati kehendak (maksudnya, Roh Kudus), adalah sesuatu yang abadi dan tidak tercipta. Namun kekeliruan dari penolakan yang sudah disebutkan itu jelas terang-benderang dari fakta sederhana bahwa kaum Arian percaya bahwa Putra dan Roh Kudus ada di luar Allah, tercipta, dan memiliki permulaan, sedangkan Katolik tentu saja tidak berpandangan demikian. Maka, klaim bahwa penjelasan Katolik itu Arian sama sekali omong kosong. Argumen menyesatkan macam itulah yang terus membuat orang berada dalam gelapnya bidah. Dan pada kenyataannya, seperti yang akan kita lihat, menyangkal Filioque justru membuat kaum “Ortodoks” Timur mengadopsi posisi yang menyangkal kebenaran Kristiani tentang Putra Allah & Roh Kudus.
Menarik juga untuk dicatat bahwa kalau anda membaca St. Atanasius dan anda bersikap jujur, akan anda temukan bahwa prinsip-prinsip St. Atanasius membantah teologi Ortodoksi Timur. Karena menurut St. Atanasius, Konsili Nisea dan Gereja perdana, segala sesuatu yang dapat berubah merupakan ciptaan.
St. Atanasius dengan tegas dan berulang kali menekankan ketidakberubahan Allah. Berikut salah satu dari banyak perikop yang bisa dikutip dari St. Atanasius:
St. Atanasius juga berkata:
Bagi St. Atanasius, dan bahwasanya bagi Gereja perdana, segala sesuatu yang dapat berubah itu diciptakan. Sebaliknya, Allah, Dia yang tak tercipta, sama sekali tidak dapat berubah. Ketidakberubahan Allah merupakan dogma inti Kekristenan yang diajarkan oleh Konsili Nisea dan konsili-konsili ekumenis awal. Namun seperti yang sudah kami buktikan dalam video “Ortodoksi” Timur Terbongkar: Doktrin Sesat Mereka tentang Allah, kaum Ortodoks Timur menyangkal ketidakberubahan/imutabilitas Allah, karena mereka berpandangan bahwa Allah berubah dalam “energi-energi tak tercipta”-Nya. Untuk mendokumentasikan posisi bidah Ortodoksi Timur bahwa Allah sendiri berubah dalam “energi-energi tak tercipta”-Nya, kami mengutip si bidah Gregorius Palamas dan salah seorang teolog mereka yang paling terkenal. Penolakan mereka terhadap imutabilitas Allah terkait dengan pandangan mereka yang sesat bahwa berbagai macam prosesi yang berasal dari Allah secara ad extra bersifat “tak tercipta”, padahal, seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, segala sesuatu yang berasal dari Allah secara ad extra merupakan ciptaan.
Terlebih, coba pertimbangkan teks yang sangat relevan berikut dari St. Atanasius:
Di sini, St. Atanasius kembali menggambarkan posisi sesat, menghujat dan bidah yang dianut kaum Arian. Mereka mengajarkan bahwa Putra adalah ciptaan, bahwa diri-Nya diciptakan dari ketiadaan dan bahwa ada suatu kala ketika Dia tidak ada. Hal-hal yang serupa itu juga dipercayai oleh kaum Arian sehubungan Roh Kudus. Bidah-bidah mereka itu tentu saja sama sekali berbeda dengan posisi Katolik. Tetapi, coba diperhatikan: kaum Arian juga percaya bahwa Putra bisa berubah/beralterasi sesuai kehendak Allah. Posisi Arian itu adalah bidah, dan posisi Arian itulah yang sebenarnya dipercayai kaum Ortodoks Timur, karena kaum Ortodoks Timur berpandangan bahwa dalam “energi-energi tak tercipta”, Putra Allah, serta Bapa dan Roh Kudus juga, mampu beralterasi/berubah dan pada kenyataannya memang beralterasi/berubah. Jadi, ketika kaum bidah Ortodoks Timur mengklaim bahwa posisi Katolik itu Arian, mereka tidak hanya membuat tuduhan yang benar-benar salah, namun sebetulnya posisi merekalah yang sebanding dengan Arianisme.
Namun, ketika kita sedang membahas prosesi abadi dalam diri Allah (maksudnya, Putra yang dilahirkan sepanjang keabadian atau dilahirkan oleh Bapa, atau Roh Kudus yang di sepanjang keabadian berprosesi dari Bapa dan Putra), perlu dicatat bahwa subjek prosesi dalam makna aktif dan pasifnya adalah pribadi-pribadi Allah, bukan esensi ilahi. Dalam kata lain, kita tidak berkata bahwa esensi ilahi melahirkan, atau esensi ilahi dilahirkan, atau esensi ilahi berprosesi. Namun cara pengungkapannya adalah Bapa melahirkan, Putra dilahirkan dan Roh Kudus berprosesi. Tentang poin ini, Konsili Lateran IV menyatakan:
Terlebih, sehubungan prosesi abadi akal dan kehendak dalam diri Allah, harap diperhatikan bahwa Kejadian 1:27 mengajarkan kita bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut citra-Nya.
Arti dari diciptakan menurut gambar atau citra Allah, adalah manusia dikaruniai kekuatan akal dan juga kekuatan kehendak. Manusia adalah makhluk rasional dan berkehendak. Manusia tentu saja merupakan gambar tak sempurna Allah, bukan gambar sempurna-Nya. Itulah alasan dikatakan bahwa manusia diciptakan dalam gambar Allah, atau menurut gambar-Nya. Karena diciptakan menurut gambar Allah berarti manusia terlibat dalam aksi akal dan kehendak, masuk akal bahwa dalam diri Allah sendiri, selaku patokan gambar untuk penciptaan manusia, aktivitas akal dan kehendak merupakan alasan adanya tiga pribadi. Perlu dipahami juga bahwa ketiga pribadi ilahi (Bapa, Putra dan Roh Kudus), tentu saja adalah Allah dan memiliki esensi yang sama. Karena Mereka memiliki esensi ilahi yang sama, esensi ilahi tunggal satu-satunya, mereka semua memiliki pemahaman yang satu dan sama dan kehendak yang juga satu dan sama.
Setiap pribadi-Nya adalah Allah dan setiap pribadi-Nya memahami, setiap pribadi-Nya bijak, berkehendak dan mengasihi oleh karena esensi mereka bersama: lalu, kok masing-masing pribadi tidak melahirkan Sabda tak terhingga dan mengapa, kok setiap pribad-Nyai tidak mengembuskan Roh?
Namun Sabda Abadi yang dilahirkan oleh Bapa dalam aksi pemahaman Allah, sedemikian sempurna dan tak terbatasnya mengekspresikan substansi tak terhingga Bapa, sehingga ibarat kata menghabiskan prosesi internal akal dalam diri Allah, sehingga tidak bisa ada Sabda yang lain. Dengan demikian, hanya ada satu Sabda dan hanya mungkin ada satu Sabda saja. Demikian pula, diketahui dari wahyu bahwa Roh Kudus berprosesi. Kasih timbal balik antara Bapa dan Putra, kasih yang merupakan sumber berprosesinya Roh Kudus, adalah kasih sempurna dan terhingga. Dan karena itulah, kasih tersebut ibarat kata menghabiskan prosesi internal kehendak dalam diri Allah, sehingga tidak bisa ada prosesi yang lain. Maka dari itulah, hanya ada satu Roh Kudus dan hanya mungkin ada satu Roh Kudus saja.
Sekarang, kebenaran dari penjelasan yang sudah kami bahas tentang prosesi abadi Roh Kudus dari aksi internal kehendak dalam diri Allah didukung oleh nama Roh Kudus (τὸ ἅγιον πνεῦμα). Roh adalah sesuatu yang terasosiasi dengan aktivitas, gerakan dan impuls. Roh terasosiasi dengan aktivitas kehendak. Ketika orang-orang penuh Roh Kudus, mereka sering bertindak demi Allah, seperti dengan cara bernubuat.
Kalau Roh Kudus muncul dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra (seperti yang sudah kami sebutkan), masuk akal bahwa Roh Kudus terasosiasi dengan berbagai perbuatan dan impuls suci kehendak. Inilah juga alasan tercurahnya kasih Allah dan pengudusan manusia disematkan kepada Roh Kudus di dalam Kitab Suci, meskipun semua aktivitas ad extra milik Allah dihasilkan oleh ketiga Pribadi bersama-sama. Kasih Allah dan juga pengudusan terasosiasi dengan penggunaan khas kehendak itu sendiri. Dan karena Roh Kudus berasal dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra, masuk akal bahwa Kitab Suci mengasosiasikan kasih Allah dan pengudusan manusia dengan Roh Kudus.
Penjelasan ini juga didukung oleh Perjanjian Baru yang menghubungkan “karunia” dengan Roh Kudus. Kisah Para Rasul berulang kali bercerita tentang karunia Roh Kudus.
Mengapa Roh Kudus berulang kali diasosiasikan dengan karunia?
Tetapi, meskipun Roh Kudus merupakan karunia tak terhingga, ini sama sekali tidak menyiratkan ketundukan macam apa pun, namun hanya asal abadi.
Meskipun poin-poin ini koheren, banyak atau mungkin semua penganut “Ortodoksi” Timur dengan kurang bijaknya menolak beberapa poin ini. Sekalipun demikian, penyangkalan terhadap Filioque tetap saja dibantah penuh oleh bukti dari Kitab Suci, para Bapa Gereja dan konsili-konsili, seperti yang akan kita lihat. Yang sudah kita bahas sejauh ini baru introduksi saja. Menimbang poin-poin ini, bisa dilihat mengapa masuk akal bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra layaknya berasal dari satu pangkal dan dari satu spirasi, seperti ajaran Gereja Katolik. Selaku gambar sempurna Bapa, yang meski demikian berbeda dengan Bapa karena oposisi relasi atau relasi asal-muasal yang berlawanan, Putra memiliki kodrat yang persis sama dengan Bapa dan Putra juga sepanjang keabadian mengasihi Bapa sama seperti Bapa mengasihi Putra sepanjang keabadian.
Karena itulah, Roh Kudus muncul dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra, layaknya berasal dari satu pangkal dan dari satu spirasi. Seperti dikatakan Yesus di Yohanes 16:15:
Ayat ini sangat penting pada perkara yang sedang kita bahas. Karena Bapa mengembuskan Roh Kudus, dan Putra punya segala sesuatu yang Bapa punya, Putra juga mengembuskan Roh Kudus.
Menyangkal bahwa Roh Kudus berasal dari Putra, setara menyangkal fakta bahwa Putra punya segala sesuatu yang Bapa punya, yang tentu saja tidak termasuk keberadaan Bapa sebagai Bapa sendiri, karena keberadaan-Nya sebagai Bapa tidak bisa disalurkan. Seperti yang juga dikatakan Yesus di Yohanes 5:19:
Karena Bapa sepanjang keabadian mengembuskan Roh Kudus, Putra pun juga melakukannya.
Sebelum kami lanjutkan, perlu kami catat bahwa sama sekali tidak diragukan bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang berbeda dari Bapa dan Putra, dan bahwa Roh Kudus adalah Allah, sebab Dia memiliki esensi yang persis sama dengan milik Bapa dan Putra. Roh Kudus bukan kuasa nirpribadi/impersonal, namun Dia adalah pribadi Allah. Pada video ini kami tidak akan membahas panjang lebar bukti-bukti ketuhanan Bapa dan Putra, namun berikut beberapa saja bukti kilat ketuhanan Roh Kudus.
Sekarang, kaum “Ortodoks” Timur percaya bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, namun bukan dari Putra. Posisi ini terutama mereka dasari pada dua hal: Yohanes 15:26 dan Syahadat yang dipermaklumkan di Konsili Konstantinopel pada tahun 381. Syahadat tersebut menyatakan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, namun tidak berkata “dan Putra”. Seperti yang akan kita lihat, kedua argumen mereka itu gagal total.
Jelas adanya, bahwa ayat ini tidak membuktikan posisi “Ortodoks” Timur. Ayat ini tidak berkata bahwa Roh Kudus berasal hanya dari Bapa saja, atau bahwa Roh Kudus tidak berasal dari Putra. Ayat ini tidak menyangkal Roh Kudus berasal dari Putra sepanjang keabadian. Bahkan, di sini pun, bisa dilihat bahwa Putra memiliki andil dalam mengutus Roh ke dunia. Seperti yang akan kami jelaskan kemudian, itu juga merupakan indikasi dan cerminan bahwa Roh Kudus berasal dari Putra sepanjang keabadian. Pada ayat ini, kita lihat juga bahwa Roh Kudus disebut sebagai Roh Kebenaran. Nanti akan kita lihat betapa pentingnya istilah ini. Harap diingat, ya: Yesus adalah Kebenaran. Untuk semakin membantah argumen Ortodoks Timur tentang ayat ini, harap dipertimbangkan bahwa di Matius 11:27, kita membaca hal berikut:
Apakah pernyataan ini berarti bahwa Roh Kudus tidak mengenal Bapa dan Putra? Tidak, tidak begitu. Sudah kita lihat bahwa Roh Kudus adalah Allah dan memiliki semua pengetahuan yang bahkan mencakup hal-hal tersembunyi di dalam diri Allah. Inti dari Matius 11:27, adalah hanya Allah yang sungguh-sungguh punya pengetahuan tentang cara mencapai diri-Nya, dan manusia hanya mendapat pengetahuan tentang cara mencapai Allah, kalau Putra berkenan menyatakannya kepada orang tersebut. Begitu juga, di Yohanes 15:26, yang bahkan lebih tidak eksklusif dalam pernyataannya ketimbang Matius 11:27, maknanya adalah Roh Kudus berasal dari Allah Bapa, bukan dari manusia ataupun dari sumber duniawi. Ini tidak menentang prosesi abadi Roh Kudus dari Putra, karena segala sesuatu yang Bapa punya juga dimiliki oleh Putra. Dan segala sesuatu yang dilakukan Bapa, Putra juga melakukannya. Jadi, sama sekali tidak ada bukti di Yohanes 15:26 yang mendukung posisi “Ortodoksi” Timur.
Memang benar, kita sekarang akan melihat mengapa ajaran Perjanjian Baru sama sekali membantah posisi bidah kaum “Ortodoks” Timur. Untuk tahu alasannya, coba pertama-tama pertimbangkan bahwa dalam Kitab Suci, Roh Kudus disebut sebagai Roh Bapa.
Mengapa Roh Kudus disebut sebagai Roh Bapa? Alasannya, Roh Kudus berasal dari Bapa sepanjang keabadian. Alasan Roh Kudus juga disebut sebagai Roh Bapa, dikarenakan adanya relasi asal-muasal yang berlawanan di sepanjang keabadian antara Bapa dan Roh Kudus. Roh Kudus sepanjang keabadian diembuskan oleh Bapa, dan karena itulah Dia adalah Roh Bapa. Inilah alasan di Ef. 3:14-16, Roh Kudus disebut sebagai Roh-Nya, merujuk kepada Bapa. Roh Kudus adalah Roh Bapa, karena Roh Kudus berasal dari Bapa. Karena alasan ini jugalah Roh Kudus disebut dalam Kitab Suci sebagai “Roh Allah” dan juga “Roh Tuhan”.
Alasan Roh Kudus disebut Roh Bapa, Roh Allah dan Roh Tuhan, adalah Roh Kudus berasal dari Allah Bapa sepanjang segala keabadian. Roh Kudus berprosesi secara abadi dari Allah.
Namun rupa-rupanya, Kitab Suci juga mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra, Roh Yesus dan juga Roh Kristus. Sebagai contoh:
Seperti yang bisa kita lihat, Alkitab menyamakan Roh Kudus dengan Roh Putra dan Roh Yesus Kristus, sama seperti Alkitab menyamakan-Nya dengan Roh Bapa. Ini dikarenakan Roh Kudus berasal dari Putra dan juga dari Bapa, dan dengan demikian membantah kaum “Ortodoks” Timur. Argumen ini, bahwa Roh Kudus di dalam Kitab Suci disamakan dengan Roh Putra karena Dia berasal dari Putra dan karena itu berprosesi dari Putra adalah argumen definitif.
Sebagai contoh, anda tidak akan mendapati gelar “Putra Roh Kudus” diberikan untuk Putra Allah di Perjanjian Baru, karena Putra Allah tidak berasal dari Roh Kudus di dalam Allah Tritunggal. Justru, yang akan anda temukan berulang kali di Perjanjian Baru, adalah ajaran bahwa Yesus merupakan Putra Bapa, dan ini dikarenakan Yesus berasal dari Allah Bapa di dalam Allah Tritunggal. Dengan demikian, Roh Kudus disamakan dengan Roh Putra, Roh Kristus, dan lain-lain, karena Roh Kudus sepanjang keabadian diembuskan oleh Putra dan Roh Kudus juga berasal dari Putra di dalam Trinitas (serta tentunya juga berasal dari Allah Bapa).
Sebagai balasannya, beberapa dari kaum bidah “Ortodoks” Timur berkeberatan, dengan berargumen bahwa Alkitab menyebut Roh Kudus sebagai Roh Putra hanya dalam konteks Tritunggal Ekonomis, bukan dalam konteks Tritunggal abadi yang sebetul-betulnya serta prosesi-prosesi abadi di dalam-Nya.
Para penganut “Ortodoksi” Timur pada umumnya mengakui bahwa Roh Kudus dicurahkan oleh Putra dalam waktu dan bahwa Roh Kudus diutus oleh Putra di dalam ekonomi. Itulah alasan Roh Kudus disebut Roh Putra menurut berbagai argumen yang mereka buat. Tetapi, mereka akan menyangkal bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra dalam konteks Roh Kudus diembuskan oleh Putra dalam kehidupan kekal Trinitas atau dalam teologi murni. Sebagai contoh, berikut Romo Thomas Hopko, yang dahulu merupakan Dekan dari St. Vladimir’s Orthodox Theological Seminary (Seminari Teologi Ortodoks Santo Vladimirus). Di sini dia sedang berargumen bahwa ketika St. Agustinus mengajarkan Filioque (yang memang dia ajarkan), St. Agustinus sebenarnya mencampuradukkan teologi dengan ekonomi.
Berikut perkataan seorang bidah Ortodoks Timur, yang membuat argumen yang sama.
Argumen menyesatkan itu dibantah oleh banyak hal. Pertama-tama Kitab Suci tidak mengindikasikan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra hanya dalam konteks Pengutusan Sementara atau Aktivitas Sementara saja. Justru, Kitab Suci mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra tanpa kualifikasi – sama halnya Roh Kudus adalah Roh Bapa. Kedua, pengutusan Putra dalam peristiwa Penjelmaan; dan pengutusan Roh Kudus ke dunia, yang disebut Pengutusan Sementara, mencerminkan prosesi-prosesi abadi (seperti yang akan kita lihat). Terkait poin pertamanya, 2 Petrus 1:21 berkata bahwa para nabi dahulu berbicara “oleh dorongan Roh Kudus”:
Dan di 1 Petrus 1:10-11, St. Petrus berkata bahwa para nabi yang menubuatkan rahmat dan keselamatan untuk Perjanjian Baru “meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka”
Jadi, Roh Kudus yang mengilhami para nabi di Perjanjian Lama dipandang sama dengan Roh Kristus. Soal ayat ini, St. Sirilus dari Yerusalem menyatakan:
Ini berarti Roh Kudus disebut sebagai “Roh Kristus” sehubungan kurun waktu sebelum Penjelmaan dan juga sebelum Kebangkitan. Fakta ini terutama sangat penting, karena di Yohanes 7:39, kita membaca bahwa Roh Kudus belum datang karena Yesus belum dimuliakan.
Yohanes 7:39 berbicara tentang bagaimana Roh Kudus akan diutus ke Bumi oleh Allah Bapa dan Putra pada hari Pentakosta demi tujuan pengudusan di Perjanjian Baru; namun pengutusan Roh Kudusnya terjadi setelah Kebangkitan. Tetapi, 1 Petrus 1:11 toh mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Kristus sebelum Penjelmaan dan sebelum datangnya Roh Kudus yang dibahas di Yohanes 7. Ini merupakan petunjuk bahwa Roh Kudus adalah Roh Kristus sepanjang keabadian dan tanpa kualifikasi, dan dengan demikian membantah kaum Ortodoks Timur. Roh Kudus adalah Roh Kristus bahkan sebelum Penjelmaan. Ini dikarenakan Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Putra dan juga dari Bapa.
Filioque juga ditegaskan oleh Roma 8:9:
Kembali lagi, Roh Kudus disebut Roh Kristus. Dia disebut Roh Kristus dalam konteks yang sama diri-Nya disebut Roh Allah. Alasannya, Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Coba dipertimbangkan pula: kelahiran abadi Putra diajarkan di Perjanjian Baru dan juga oleh Tuhan, dan merupakan kebenaran mendasar Kekristenan yang dinyatakan oleh Nisea serta konsili-konsili lainnya, padahal tidak dituangkan secara eksplisit dan sistematis pada banyak ayat. Justru, yang paling jelas menyatakan kelahiran abadi Putra di dalam Alkitab adalah pernyataan bahwa Yesus adalah Firman, bahwa Dia datang dari Allah, bahwa Dia adalah Putra Allah Bapa, dsb.
Poin terakhir ini, mengenai gelar Bapa dan Putra, dahulu krusial di masa Gereja perdana dalam membela kebenaran tentang kelahiran abadi Putra. Poin ini sangat diandalkan oleh St. Atanasius dalam melawan kaum Arian.
Gelar Bapa dan Putra berarti bahwa Putra dilahirkan oleh Bapa sepanjang keabadian. Dan karena itu, orang seharusnya menyadari betapa penting Alkitab menyebut Roh Kudus sebagai Roh Putra dan juga Roh Kristus. Roh Kudus adalah Roh Putra, karena Dia sepanjang keabadian berasal dari Putra, sama halnya Dia sepanjang keabadian berasal dari Bapa. Sebelum kami bahas bukti dari Alkitab yang lebih banyak lagi, mari kita mencermati beberapa bukti patristik yang kuat (yakni bukti dari para Bapa) yang mendukung Filioque.
Meskipun anda kemungkinan tidak akan mendengar hal ini dari kalangan “Ortodoks” Timur, doktrin Filioque kuat didukung oleh sumber patristik (para Bapa Gereja). Akan makan terlalu banyak waktu hanya untuk membahas bagian besarnya sekalipun. Ada banyak kutipan pendukung Filioque yang bisa dipetik dari para Bapa Latin dan Barat. Tetapi, banyak orang tampaknya tidak menyadari bahwa doktrin Filioque juga kuat didukung oleh pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh para Bapa Yunani dan Timur. Contohnya, St. Atanasius, seorang Bapa Yunani, berulang kali mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra. St. Atanasius juga membuat pernyataan-pernyataan lain yang sangat relevan pada topik kita ini. Mengenai Putra, St. Atanasius berkata:
St. Atanasius juga berkata demikian tentang Putra:
Dalam Diskursus III-nya Melawan Kaum Arian, St. Atanasius berkata:
Karena segala sesuatu milik Roh dimiliki-Nya dari Sabda, artinya Roh Kudus memiliki asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra, seperti Dia memilikinya dari Bapa. Teks semacam ini jelas mendukung Filioque. Teks selanjutnya dari St. Atanasius berkenaan dengan sebuah ayat di Yohanes 16, sebuah teks yang sangat amat penting. Maka dari itu, teks ini harus kita pertimbangkan, sebab ini merupakan bukti lain yang kuat mendukung Filioque. Seperti tercatat di Yohanes 16:13-15, Yesus menyatakan:
Di sini, kita membaca bahwa Roh Kudus akan memberitakan apa yang diterima/diambil-Nya dari Putra. Kalau Roh Kudus menerima/mengambil dari Putra, itu menyiratkan adanya sumber atau pangkal. Ini merupakan indikasi bahwa Putra, bersama dengan Bapa, merupakan pangkal/sumber abadi Roh Kudus, dan karena itu Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra dan juga dari Bapa. Ini membuktikan Filioque.
Untuk semakin paham alasannya, coba dipikirkan seperti ini: kita tahu bahwa Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Bapa melalui prosesi abadi. Dan dari prosesi abadi itu, Roh Kudus tidak kekurangan apa pun juga yang Dia punya.
Roh Kudus sama sekali tidak kekurangan kodrat ilahi, tidak kekurangan pengetahuan tentang masa depan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, kalau Roh Kudus juga menerima atau mengambil dari Putra dalam hal memberitakan masa depan, itu hanya mungkin demikian kalau Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra dan juga dari Bapa. Terkait soal ini, beberapa orang mungkin bertanya:
Fakta bahwa Kitab Suci menggambarkan Roh Kudus menerima seperti itu dari Putra, membuktikan bahwa ini merupakan rujukan kepada prosesi abadi dari Putra. Namun kala linguistik masa depan itu pantas, karena kata kerja dalam kala linguistik masa depan dapat digunakan untuk hal-hal abadi, dan Roh Kudus pada waktu itu juga akan memberitakan hal-hal kepada para Rasul di masa depan.
Dan juga, harap dipertimbangkan bahwa yang menjadi manusia hanyalah Putra Allah. Bapa dan Roh Kudus tidak menjadi manusia. Lantas, bagaimana bisa Roh Kudus, selaku pribadi ilahi yang tidak menjelma, menerima atau mengambil dari pribadi ilahi yang lain dalam memberitakan masa depan? Ini hanya mungkin berlangsung berkat prosesi abadi. Itulah sebabnya, Roh Kudus secara abadi berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Bahkan, ketika Yesus mengulangi pernyataan-Nya bahwa Roh Kudus akan menerima dari-Nya, pernyataan ini dikaitkan-Nya dengan kebenaran bahwa segala sesuatu yang Bapa punya adalah Aku punya. Karena Putra punya semua yang dipunya Bapa, dan Bapa mengembuskan Roh Kudus, lantas Putra juga mengembuskan Roh Kudus.
Harap diperhatikan juga, Yohanes 16:13 berkata bahwa Roh Kudus akan mengatakan “segala sesuatu yang didengar-Nya”. Ini merujuk kepada yang didengar Roh Kudus dari Putra; pada dasarnya serupa dengan perkataan Yesus tentang diri-Nya sendiri sehubungan Bapa.
Sewaktu Kristus berkata bahwa Dia tidak dapat melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri, kecuali apa yang Dia lihat Bapa melakukannya, Dia tidak sedang berkata bahwa diri-Nya tidak punya kuasa, namun bahwa kodrat ilahi yang Dia punya berasal dari Bapa dan satu adanya dengan Dia dalam ketuhanan. Kristus sedang menjawab orang Yahudi yang berupaya membunuh-Nya, sebab Dia pernah berkata bahwa Allah adalah Bapa-Nya; dan karena itu bahwa Dia setara dengan Allah. Maka, ketika Yesus berkata bahwa Dia tidak dapat melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri, Dia sedang memberi petunjuk bahwa Dia bukan sesosok ilah pemberontak yang mencari-cari supaya dipuja sebagai Allah, berlawanan dengan Bapa, namun bahwa diri-Nya adalah satu Allah dengan Bapa, dan apa yang Dia miliki itu Dia peroleh dari Bapa. Karena alasan inilah Yesus berkata di Yohanes 5:26:
Terkait perkara Bapa “memperlihatkan” dan Putra “mendengar” di Yohanes 5, St. Tomas Aquinas berkomentar demikian:
Perihal “mendengar” dari Bapa ini merupakan indikasi bahwa kodrat Allah disalurkan kepada Putra dari Bapa. Dan seperti yang baru saja kita baca, Roh Kudus juga mendengar dari Putra.
Maka, sama halnya Kristus mendengar dari Bapa karena kodrat ilahi disalurkan kepada Putra dari Bapa, Roh Kudus juga “mendengar” dari Putra, karena kodrat ilahi disalurkan kepada Roh Kudus melalui prosesi abadi dari Putra dan juga dari Bapa. Perhatikan juga, bahwa Yesus berkata demikian:
Karena Bapa mengembuskan Roh Kudus, Putra juga melakukannya.
Pada suratnya yang pertama kepada Serapion dan mengomentari Yohanes bab 16, St. Atanasius menyatakan:
Kalau Roh memiliki relasi kodrat yang sama terhadap Putra, dengan yang dimiliki Putra terhadap Bapa, itu hanya mungkin demikian kalau Roh Kudus beroleh asal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra, karena Putra memilikinya dari Bapa. Dengan demikian, Roh Kudus berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Teks semacam ini jelas mendukung Filioque.
Masih ada lagi yang bisa kami bahas dari St. Atanasius, namun banyak perikop dari para Bapa semacam ini dihadirkan pada berbagai perdebatan di Konsili reunifikasi Florence, sehingga meyakinkan Besarion dari Nisea dan Isidorus dari Kiev (yang dahulunya terpisah dari Gereja Katolik) untuk menerima Filioque. Mengenai perikop dari para Bapa yang mendukung Filioque, Besarion menulis:
St. Sirilus dari Aleksandria adalah salah seorang bapa Yunani lain yang karya tulisnya kuat mendukung Filioque. St. Sirilus dari Aleksandria memainkan peran kunci di Konsili Efesus, dan terkenal karena membantah si bidah Nestorius.
Di sini, St. Sirilus mengajarkan bahwa Roh berasal dari Putra seturut kodrat, dalam Tritunggal abadi. Teks semacam ini jelas mendukung Filioque. Kutipan semacam ini juga sangat signifikan karena menunjukkan bahwa ada bapa Yunani lain yang menentang argumen umum Ortodoks Timur, argumen yang mengklaim bahwa Roh Kudus berasal dari Putra bukan dalam konteks Tritunggal sendiri, namun hanya dalam konteks ekonomi. Kami sebelumnya sudah memutar klip perkataan kaum bidah Ortodoks Timur sendiri yang membuat argumen sesat semacam itu.
Bertentangan dengan pernyataan-pernyataan mereka, bisa kita lihat bahwa bapa Yunani sendiri, St. Sirilus dan St. Atanasius, mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Putra dalam Tritunggal sendiri. Sudah kita lihat pula bahwa Kitab Suci membantah klaim sesat mereka.
Mari kita lanjutkan. St. Sirilus juga menyatakan:
St. Sirilus berkata pula:
Di sini, St. Sirilus dari Aleksandria menyamakan perihal Roh Kudus mengalir secara substansi “dari Bapa dan Putra” dengan konsep mengalir “dari Bapa melalui Putra”. Ini penting, karena para Bapa Yunani lainnya, seperti Gregorius dari Nyssa dan Santo Basilius, mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa melalui Putra. Tentang frasa “melalui Putra”, Konsili Florence mengutarakan:
Di waktu sekarang ini, orang harus mengakui bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. Tetapi, yang hendak dipertahankan oleh orang-orang yang dulu menggunakan frasa “melalui Putra” adalah posisi bahwa Bapa adalah pihak Archē, atau sumber/pangkal seluruh keilahian.
Mereka juga hendak mempertahankan posisi bahwa hanya ada satu pangkal Roh Kudus. Namun seperti yang sedang kami perlihatkan, posisi alkitabiah dan Katolik sejati konsisten dengan kebenaran-kebenaran itu, sebab Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra sebagai satu pangkal, bukan dua pangkal. Dan alasan Bapa merupakan pangkal seluruh keilahian, adalah Putra beroleh keilahian-Nya dari Bapa, sehingga Roh Kudus berasal dari Putra. Seperti dideklarasikan oleh Konsili Florence:
Itulah alasan Paus Leo XIII, yang menerima Filioque, demikian pula mengajarkan seraya mengutip St. Agustinus: bahwa Bapa merupakan pangkal seluruh keilahian.
Bapa merupakan pangkal seluruh keilahian karena Dia adalah pangkal tanpa pangkal. Putra adalah pangkal dari pangkal. Bersama-sama, Bapa dan Putra adalah satu pangkal munculnya Roh Kudus.
Artikulasi berpresisi kebenaran ini dalam dogma Katolik adalah suatu contoh lain bagaimana Gereja sejati, Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas St. Petrus, dilindungi dalam ajaran resminya oleh Allah. Rumusan-rumusan dogmatis infalibel Gereja Katolik telah melestarikan doktrin alkitabiah dan ajaran apostolik sejati para Bapa. Ada banyak kutipan dari para Bapa yang mengungkapkan posisi yang benar, seperti yang sedang kami tunjukkan. Namun, karena para Bapa secara perorangan tidak infalibel, ada juga kutipan-kutipan dari mereka yang tidak 100% akurat. Ada pula kutipan-kutipan dari mereka yang pada garis besarnya memuat doktrin sejati, namun tidak mengartikulasikan doktrin itu secara sempurna. Tetapi, Gereja yang didirikan di atas St. Petrus, melestarikan dan menuangkan ajaran sejati Alkitab dan patristik dalam rumusan-rumusan dogmatisnya. Itulah sebabnya, Konsili Florence dengan benar menyatakan:
Sudah kami tunjukkan bahwa St. Sirilus mengajarkan bahwa Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Bapa dan Putra. St. Sirilus dari Aleksandria memainkan peran kunci di Konsili Efesus pada tahun 431. Efesus adalah konsili yang kaum “Ortodoks” klaim mereka terima. Di surat III Sirilus kepada Nestorius, yang dianggap telah dibaca dan disetujui di Efesus, kita membaca:
Dalam sepucuk Surat yang diterima di Efesus, Sirilus menggambarkan Roh Kudus sebagai roh milik Putra sendiri dalam konteks dirinya menyebut Putra sebagai Allah berdasarkan kodrat. Itu dikarenakan Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Bahkan, di kitab Roma 8:32, Yesus disebut sebagai Putra Allah sendiri.
Alasan Yesus disebut Putra Allah sendiri, adalah di dalam Tritunggal sendiri, Putra dilahirkan oleh Bapa. Demikian juga, di Surat III Sirilus kepada Nestorius, Roh Kudus dianggap sama dengan Roh Putra sendiri, karena di dalam Tritunggal sendiri, Roh Kudus adalah dari Putra, dan juga dari Bapa. Namun masih ada lagi: pada beberapa baris sebelum perkataan dari surat St. Sirilus itu, kita membaca hal berikut (dan harap diingat, surat ini diterima di Konsili Efesus):
Harap dicatat, ya: St. Sirilus secara khusus berkata bahwa Roh Kudus dicurahkan dari Putra, bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa. Lalu, kaum skismatis Timur mungkin mengajukan argumen tanggapannya bahwa kata-kata ini hanya membahas pencurahan Roh Kudus dari Putra sama seperti dari Allah Bapa di dalam ekonomi, karena kata-kata ini ada persis sebelum kutipan yang kami petik tentang Roh Kudus mengerjakan mukjizat setelah Kenaikan Kristus.
Tetapi, sama sekali tidak 100% jelas bahwa Sirilus hanya sedang membahas ekonomi ketika berkata bahwa Roh Kudus dicurahkan dari Putra bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa. Kata-kata yang sebelumnya hanya membahas Roh Kudus sebagai pribadi yang berbeda dalam Tritunggal abadi, dan tidak terpisah dari Putra. Menurut St. Sirilus, Roh Kudus tidak terpisah dari Putra, sebab Dia adalah Roh kebenaran dan Kristus adalah kebenaran, dan Roh Kudus dicurahkan dari Putra bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa. Bisa kita lihat juga bagaimana St. Sirilus di bagian lain dengan jelas mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Putra (sehubungan dengan Tritunggal abadi).
Lebih lanjut dalam konteks ini pula, ketika menyebutkan bahwa Putra adalah Allah berdasarkan kodrat, St. Sirilus juga dengan jelas mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra sendiri, dan ini menunjukkan bahwa relasi berasalnya Roh dari Putra abadi.
Terlebih, St. Sirilus berkata bahwa Yesus bekerja melalui Roh milik-Nya sendiri, dan tidak berkata bahwa Roh Kudus adalah Roh-Nya sendiri karena Yesus bekerja melalui-Nya. Ini semua menengarai bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra dalam Tritunggal sendiri, dan dengan demikian bahwa Roh Kudus berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Tetapi, sekiranya pun orang menerima klaim bahwa St. Sirilus hanya merujuk kepada ekonomi pada baris tentang Roh Kudus dicurahkan dari Putra bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa, pencurahan Roh Kudus dari Putra bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa di dalam ekonomi bertujuan mencerminkan apa yang terjadi di dalam Tritunggal abadi, seperti yang akan kita lihat.
Wahyu menggambarkan pencurahan ini terjadi demikian di dalam ekonomi, karena seperti itulah yang terjadi di dalam diri Tritunggal. Bahkan, mengapa Allah, dalam Penyelenggaraan dan hikmat-Nya, memberi kita gambaran Bapa dan Putra bersama-sama mencurahkan Roh Kudus di dalam ekonomi, kalau itu tidak mencerminkan yang terjadi di dalam Tritunggal? Dan mengapa Allah berbuat demikian, kalau seperti yang diklaim Ortodoks Timur, percaya bahwa itu terjadi demikian di dalam Tritunggal adalah bidah? Pandangan Ortodoks Timur ini konyol. Dan seperti yang akan terus kita lihat, pengutusan/pencurahan Roh Kudus oleh Bapa dan Putra di dalam ekonomi mencerminkan apa yang terjadi di dalam Tritunggal.
Memang benar, soal pencurahan Roh Kudus di dalam ekonomi, Titus 3:5-6 berkata demikian:
Kata “-Nya” pada ayat ini, yaitu pihak yang melimpahkan/mencurahkan Roh Kudus oleh Yesus Kristus, adalah Allah Bapa. Namun di Kisah Para Rasul 2:33, ayat yang merujuk pada contoh lain dicurahkannya Roh Kudus, kita mendapati kata bahasa Yunani yang persis sama untuk mencurahkan. Tetapi, di situ kita membaca bahwa yang mencurahkan Roh Kudus justru adalah Putra.
Ini mencerminkan kebenaran bahwa dalam Tritunggal abadi, Bapa dan Putra bersama-sama mengembuskan atau mencurahkan Roh Kudus. Patut dicatat pula, bahwa di ayat ini, dikatakan bahwa sesudah Yesus menerima Roh Kudus yang dijanjikan dari Bapa, lantas Yesus lalu mencurahkan Roh Kudus. Inilah cerminan bagaimana berasalnya Roh Kudus dari Putra juga, merupakan sesuatu yang dimiliki Putra dari Bapa, karena Bapa adalah pangkal tanpa pangkal dan Putra adalah pangkal dari pangkal. Bersama-sama, mereka layaknya dari satu pangkal dan satu spirasi yang esa mengembuskan Roh Kudus sepanjang keabadian. Ketika sedang mempertimbangkan kebenaran Filioque, ayat berikut ini hendaknya dicermati secara khusus.
Yesus mengembusi mereka, dan mereka menerima Roh Kudus. Meskipun peristiwa ini terjadi dalam waktu, ini mencerminkan kebenaran bahwa dalam Tritunggal abadi, Bapa dan Putra bersama-sama mengembuskan atau menspirasikan Roh Kudus. Seperti dikatakan oleh St. Agustinus:
Kaum skismatis Timur juga mengajukan penolakan lain soal perikop sebelumnya dari St. Sirilus dan petikan-petikan serupa dari para Bapa. Ujar mereka, kata kerja bahasa Yunani yang digunakan St. Sirilus ketika menulis bahwa Roh “dicurahkan” atau “mengalir” dari Putra bahwasanya sama seperti dari Bapa, bukan kata kerja yang sama dengan yang digunakan di Yohanes 15:26 dan di Syahadat Konstantinopel, pada bagian Syahadat yang berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa.
Pada petikan ini, St. Sirilus menggunakan kata
Maka προχειται, sebuah bentuk dari προχέω, berarti bahwa Roh Kudus dicurahkan atau mengalir dari Putra. Tetapi di Yohanes 15:26 dan di Syahadat Konstantinopel, pada bagian yang berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Putra, kata kerja yang digunakan adalah:
Menurut mereka, berkata bahwa Roh Kudus dicurahkan atau mengalir dari Putra (προχειται – prokheitai) atau menggunakan kata kerja yang berbeda seperti yang dilakukan para Bapa dalam berbagai kutipan, tidak sama dengan berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Putra. Argumen ini menyesatkan. Untuk membantahnya, akan kami kutip St. Sirilus dari Aleksandria sendiri.
Bisa anda lihat, yang dikatakan St. Sirilus? Untuk menggambarkan bagaimana Roh Kudus berasal dari Allah Bapa, St. Sirilus menyamakan kedua kata kerja yang sedang kita bahas.
Pada Surat 55, St. Sirilus menyamakan kedua kata kerja itu sehubungan berasalnya Roh Kudus dari Bapa. Karena itu, waktu St. Sirilus berkata bahwa Roh Kudus dicurahkan/mengalir dari Putra dengan menggunakan kata Προχειται (prokeitai), ini setara mengajarkan bahwa Roh berasal dari Putra. Bahkan, ada berbagai Bapa yang menggunakan kata kerja:
untuk merujuk kepada asal hipostatik Roh Kudus. Kata kerja ἐκπορευεμαι (ekporeuemai) bukan satu-satunya yang digunakan untuk mengungkapkan konsep ini, tidak seperti yang beberapa kaum skismatis Timur mungkin ingin anda percayai. Dengan demikian, sama sekali tidak ada alasan untuk membuat pembedaan signifikan antara berbagai kata kerja yang digunakan untuk menggambarkan asal abadi atau mengalirnya Roh Kudus dalam keabadian. Sejumlah kata kerja yang berbeda dapat di dalam konteks tertentu digunakan sebagai sinonim.
Menarik juga untuk mencatat perkataan St. Tomas Aquinas pada poin ini. St. Tomas memang membahas klaim beberapa orang di Timur yang berargumen bahwa berkata Roh Kudus dicurahkan atau mengalir dari Putra tidak berarti Roh Kudus berasal dari Putra. St. Tomas dengan benar menunjukkan bahwa klaim semacam itu bodoh. Berikut perkataannya:
Maka, argumen dari oknum skismatis itu tidak berbobot, mereka yang mengungkit-ungkit bahwa Roh Kudus dicurahkan dari Putra, namun tidak berasal dari-Nya. Argumen mereka ini omong kosong, dan dibantah oleh perkataan St. Sirilus sendiri.
Ini membawa kita pada masalah besar lainnya dalam bidah penolakan Ortodoks Timur terhadap doktrin Filioque. Masalahnya, umpamanya doktrin Filioque tidak benar, lantas Putra dan Roh Kudus tidak akan dapat dibedakan satu sama lain. Pendapat keliru kaum Ortodoks Timur berujung pada pandangan bahwa Putra dan Roh Kudus adalah pribadi yang sama. Santo Tomas Aquinas menjelaskan:
Seperti diutarakan oleh St. Tomas, penolakan terhadap Filioque berujung pada posisi bahwa Putra dan Roh Kudus adalah pribadi yang sama, dan itu bidah. Namun dalam teologi Kristen sejati, yaitu di dalam teologi Katolik, Putra dan Roh Kudus secara riil dibedakan satu dengan yang lain, karena Putra adalah dari Bapa saja, sedangkan Roh Kudus adalah dari Bapa dan Putra.
Fakta ini (yang terkait dengan kebenaran tentang pembedaan antara prosesi akal dan prosesi kehendak dalam diri Allah) adalah alasan kelahiran abadi Putra benar-benar berbeda dengan prosesi Roh Kudus. Itulah sebabnya syahadat yang disebut sebagai Syahadat Atanasius menyatakan demikian:
Perlu dicatat juga bahwa ada oknum skismatis Timur yang akan mencoba berkelit dari bukti yang mendukung Filioque, dengan membuat pembedaan antara prosesi abadi pribadi Roh Kudus, dan dengan yang mereka sebut sebagai “manifestasi abadi” Roh Kudus.
Tetapi, argumen itu juga keliru, tidak koheren, tidak berdasar dan sarat masalah. Bukti yang sudah kami sajikan dari Kitab Suci dan para Bapa memperlihatkan bahwa pribadi Roh Kudus adalah dari Putra dalam Tritunggal sendiri. Roh Kudus memiliki asal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra, sama seperti Dia juga memilikinya dari Bapa. Tidak ada yang disebut-sebut “manifestasi abadi”, dalam definisi yang kemungkinan mereka inginkan, seolah-olah ada saksi abadi selain ketiga pribadi Tritunggal Mahakudus, yang kepadanya Roh Kudus mungkin dapat “bermanifestasi secara abadi”. Soal Roh Kudus yang datang secara abadi, hanya ada prosesi abadi saja.
Seorang Bapa Timur lain yang mengajarkan Filioque adalah Epifanius dari Salamis. Dia menulis:
Dia juga berkata:
Ada banyak Bapa Latin yang juga bisa dikutip untuk mendukung Filioque, termasuk St. Hilarius, St. Ambrosius, St. Leo Agung, dsb. Beberapa individu ini diakui sebagai orang kudus oleh kaum “Ortodoks” Timur; padahal di waktu yang sama, banyak dari kaum Ortodoks Timur memandang posisi dari para Bapa itu soal Filioque sebagai bidah yang menyangkal Allah
Sekarang, mari kita membahas Pengutusan Pribadi-Pribadi Ilahi. Akan kita lihat bahwa pengutusan-pengutusan ini membuktikan Filioque.
Karena Allah ada di mana-mana dan menopang segala ciptaan dengan firman kuasa-Nya, Dia sudah aktif di dunia dengan sarana Kuasa/kemahabesaran-Nya. Tetapi, Allah itu berbeda dari ciptaan dalam realitas dan dalam esensi. Namun melalui yang disebut sebagai Pengutusan Ilahi (seperti Penjelmaan Allah Putra, kedatangan Roh Kudus di hari Pentakosta, dan kedatangan Roh Kudus untuk mendiami jiwa orang benar), Allah menjadi hadir di dunia ini dan di dalam manusia dengan suatu cara yang baru.
Sehubungan Penjelmaan/Inkarnasi, Perjanjian Baru berulang kali mengajarkan bahwa Allah Bapa mengutus Putra ke dunia.
Dengan Pengutusan Sementara ini, Bapa mengirim Putra ke dunia. Dan ini merupakan cerminan Prosesi Abadi, yang dengannya Bapa melahirkan Putra sepanjang keabadian. Harap dicatat ya: pengutusan sementara bukan kelahiran abadi, tetapi, pengutusan sementara merupakan cerminan asal-muasal Allah, dan boleh dibilang diatur oleh asal-muasal Allah. Pengutusan sementara bermula dalam waktu. Inilah alasan Galatia 4:4 berkata demikian:
Pengutusan sementara Yesus, yaitu ketika Dia diutus oleh Bapa, mencerminkan bagaimana Yesus datang dari Bapa sepanjang keabadian dalam Tritunggal. Kaum “Ortodoks” Timur menolak adanya hubungan antara pengutusan sementara dengan relasi abadi asal-muasal di dalam Tritunggal, tetapi posisi mereka keliru. Contohnya, harap pertimbangkan hal berikut.
Harap diperhatikan ya: tahu bahwa Yesus diutus oleh Bapa adalah komponen kunci pesan Injil. Ini sering kali diutarakan dengan menonjol, sama seperti perlunya pengetahuan dan kepercayaan bahwa Yesus adalah Putra Allah. Fokus Injil pada bagaimana Bapa mengutus Putra, mendukung posisi bahwa pengutusan sementara mencerminkan kebenaran bahwa Putra sepanjang keabadian berasal dari Bapa di dalam Tritunggal. Sekali lagi: pengutusan sementara – pengutusan yang dilakukan oleh Bapa – berbeda dengan kelahiran abadi, tetapi merupakan cerminannya. Hubungan erat antara kedua konsep ini kita lihat di Yohanes 8:42:
Bagian pertama dari ayat ini yang berbunyi: “daripada Allah aku datang”, sering dimengerti merujuk kepada kelahiran abadi. Seperti itulah, contohnya, cara St. Atanasius & St. Tomas Aquinas memahaminya. Namun bagian keduanya, yang berbunyi “Ialah yang mengutus Aku”, mengacu kepada pengutusan sementara. Tetapi, coba diperhatikan betapa erat kaitan kedua konsep ini dituangkan dalam Injil. Alasannya: meskipun keduanya berbeda satu sama lain, pengutusan sementara mencerminkan relasi dalam Tritunggal. Bapa tidak diutus: karena dalam Tritunggal sendiri, Bapa bukan dari siapa pun juga.
Maka dari itu, berkata seperti kaum skismatis Timur, bahwa pengutusan sementara (seperti Bapa mengutus Putra ke dunia) tidak mencerminkan/tidak berpatokan pada relasi-relasi asal-muasal abadi dalam Tritunggal, adalah perbuatan yang keliru. Jadi, Bapa mengutus Putra dalam pengutusan sementara karena Bapa sepanjang keabadian melahirkan Putra dalam Tritunggal. Nah, dalam Kitab Suci, kita mendapati pula bahwa Roh Kudus diutus ke dunia.
Di sini, kita melihat bahwa Roh Kudus diutus oleh Bapa. Mengapa, kok Roh Kudus diutus ke dunia oleh Bapa? Alasannya: Roh Kudus berasal dari Bapa di dalam Tritunggal. Tetapi, coba tebak apa lagi! Roh Kudus juga diutus ke dunia oleh Putra.
Ini adalah bukti lain yang kuat mendukung Filioque, sebab meskipun pengutusan Roh Kudus yang dilakukan Putra ini merujuk pada pengutusan sementara, dan bukan prosesi abadi, namun ini mencerminkan prosesi abadi. Di Yohanes 15:26, kita juga mendapati Yesus mengutus Roh Kudus. Dalam pengutusan sementara pribadi ilahi hanya diutus oleh pribadi atau pribadi-pribadi dari mana dia muncul di dalam Tritunggal abadi. Itulah sebabnya Bapa tidak diutus. Alasan Bapa serta Putra mengutus Roh Kudus, adalah di dalam Tritunggal sendiri, Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Bapa dan Putra, seperti yang sudah kami tunjukkan.
Harap dicatat pula, bahwa pengutusan pribadi ilahi kembali lagi membuktikan perbedaan riil antara pihak pengutus dan pihak diutus. Meski Bapa, Putra dan Roh Kudus persis sama di dalam esensi, namun mereka adalah Pribadi yang berbeda, tidak seperti pandangan sejumlah kaum bidah modalis yang sedang bertumbuh jumlahnya di kalangan Protestan tertentu di zaman kita ini. Mereka menganut pandangan bidah bahwa Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah Pribadi yang sama.
Untuk semakin meneguhkan bahwa pengutusan sementara mencerminkan prosesi abadi, harap dipertimbangkan bahwa karena ketiga Pribadi ilahi itu setara, pengutusan sementara Pribadi ilahi tidak mungkin berlangsung dengan perintah atau nasihat; namun justru mencerminkan prosesi asal-muasal. Pengutusan sementara Pribadi ilahi tidak mungkin berlangsung dengan perintah atau nasihat, karena mereka setara. Ini poin yang sangat signifikan untuk membantah posisi bidah kaum Ortodoks Timur.
Mereka biasanya menolak pandangan bahwa pengutusan sementara mencerminkan Tritunggal abadi. Karena itu, posisi mereka lantas adalah sebagai berikut: diutusnya Putra oleh Bapa ke dunia, dan diutusnya Roh Kudus ke dunia oleh Bapa dan Putra, tidak diatur atau tidak berpatokan pada prosesi-prosesi ilahi, namun diatur oleh sesuatu yang lain. Ya, sesuatu yang lain itu hanya mungkin merupakan perintah atau nasihat, dan dengan demikian berujung pada bidah subordinasionisme: pandangan bahwa Putra di bawah Bapa dan Roh Kudus di bawah Bapa dan Putra. Tetapi itu bertentangan dengan iman Kristiani.
Sebagai ilustrasi poin ini, St. Tomas Aquinas menyebutkan bahwa sebuah pengutusan memiliki praanggapan adanya pengaruh tertentu dari pihak pengutus kepada pihak yang diutus. Pengaruh pihak pengutus ini memiliki hakikat sebuah perintah (seperti ketika majikan mengutus hambanya), atau hakikat sebuah nasihat (seperti ketika seorang penasihat dikatakan menyuruh orang pergi ke medan perang), atau hakikat asal-muasal (seperti ketika dedaunan muncul dari pohon).
Tetapi, pribadi ilahi tidak diutus dengan perintah atau nasihat, karena perintah atau nasihat menengarai adanya superioritas dari pihak pemberi perintah/pemberi nasihat. Yang memberi perintah itu lebih besar, dan yang memberi nasihat itu lebih bijak. Dengan demikian, pengutusan pribadi ilahi berpolakan prosesi asal-muasal. Itulah sebabnya, kalau Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Putra, ini dikarenakan Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. Kalau dipertimbangkan bersama dengan banyak poin lain yang sudah kami bahas, poin-poin tentang pengutusan ini seharusnya meyakinkan siapa saja bahwa Filioque itu benar.
Meski begitu, ada berbagai oknum bidah Ortodoks Timur yang akan tetap menolak dengan berkata bahwa pengutusan sementara tidak mencerminkan Tritunggal abadi. Mereka mungkin berargumen bahwa di dalam Syahadat, Yesus dikatakan telah “menjelma atau dikandung dari Roh Kudus”, walaupun Yesus tentu saja tidak berasal dari Roh Kudus di dalam Tritunggal. Tetapi, argumen-argumen seperti itu salah karena mencampuradukkan pengutusan pribadi ilahi dengan penggenapan efek pengutusan tersebut.
Penggenapan efeknya, yaitu menjelma menjadi manusia, dimungkinkan terjadi oleh karena kuasa Roh Kudus, yang juga merupakan kuasa Bapa dan Putra. Namun, yang mengutus Putra ke dunia hanyalah Bapa sendiri. Demikian pula, yang mengutus Roh Kudus ke dunia adalah Bapa dan Putra. Jadi, gagal sudah semua argumen yang mencampuradukkan pengutusan pribadi ilahi dengan penggenapan efeknya.
Ada juga orang-orang tertentu yang menolak, dengan berkata bahwa di Yesaya 48:16, dikatakan bahwa Roh mengutus Mesias, Mesias yang adalah Putra Allah; padahal dalam Tritunggal, Roh Kudus tidak mengutus Putra.
Tetapi argumen itu gagal. Karena, yang mengucapkan kata-kata di Yesaya 48:16 ini adalah Nabi Yesaya, bukan Mesias.
Ada juga argumen serupa yang dibuat berdasarkan Lukas 4:18. Di ayat ini dan ayat selanjutnya, dikisahkan bahwa Yesus membaca kita-kita Mesias dari naskah kitab Yesaya dan memberitakan bahwa Dialah yang menggenapi nas itu.
Tetapi, argumen ini gagal, karena Lukas 4:18 mengutip Yesaya 61:1. Dan di Yesaya 61:1, subjek dari kata kerja “mengutus” bukan Roh, melainkan Tuhan.
Jadi, Tuhan yang mengutus, seperti disebutkan pada ayat ini, bisa dimengerti sebagai Allah Bapa.
Terlebih, teks Lukas 4:18 juga telah dipahami beberapa orang dengan makna bahwa Kristus, dalam kehendak manusia-Nya, diutus oleh Roh Kudus untuk tugas-tugas spesifik dan bahwa penggenapan karya-Nya berbeda dengan pengutusan-Nya ke dunia oleh Bapa. Maka gagal sudah argumen-argumen yang mencoba menyangkal bobot dari makna pengutusan sementara sehubungan Tritunggal.
Salah satu alasan Perjanjian Lama berulang kali menekankan bahwa Bapa mengutus Putra ke dunia, dan menjadikan hal ini sebagai komponen kunci wahyu Kristiani, adalah pengutusan Putra oleh Bapa ini mencerminkan kebenaran bahwa dalam Tritunggal sendiri, Putra muncul dari Bapa. Begitu juga, alasan Bapa dan Putra mengutus Roh Kudus ke dunia, adalah pengutusan Roh Kudus oleh kedua-duanya ini mencerminkan kebenaran tentang prosesi abadi Roh Kudus dari Bapa dan Putra. Inilah juga alasan Bapa tidak diutus.
Karena kami sudah membahas perbedaan riil antara pribadi-pribadi di dalam Allah Tritunggal, penting untuk memahami maknanya, ketika kami berkata bahwa ketiga pribadi itu memiliki esensi ilahi yang sama.
Ada banyak kutipan dari para Bapa, orang kudus, dsb. yang merujuk kepada esensi Bapa atau esensi Putra atau esensi Roh Kudus. Kutipan-kutipan ini benar, karena esensi/kodrat/substansi ilahi memang merupakan milik setiap pribadi. Tetapi, pernyataan-pernyataan ini tidak menentang kebenaran bahwa ketiga pribadi Tritunggal memiliki esensi ilahi yang persis sama – esensi ilahi tunggal satu-satunya. Hanya ada satu, dan hanya mungkin ada satu esensi ilahi.
Jadi, bukan berarti Bapa memiliki esensi ilahi, dan Putra memiliki esensi ilahi lain yang setara, serta Roh Kudus memiliki esensi ilahi lain yang setara pula. Bukan. Ketiga pribadi memiliki esensi ilahi yang tunggal, satu-satunya esensi ilahi yang ada. Inilah maksud perkataan bahwa esensi ilahi itu satu secara numerik, atau secara numerik sama di dalam ketiga pribadi. Karena esensi ilahinya secara numerik hanya ada satu dalam tiga pribadi, hanya ada satu Allah, bukan tiga.
Seperti dideklarasikan oleh Konsili Florence:
Demikian juga, Konsili Konstantinopel II menyatakan:
Poin lainnya yang menarik dan penting adalah meskipun ada perbedaan riil antara pribadi-pribadi itu sendiri dalam Tritunggal – seperti antara Bapa dan Putra, dan antara Putra dan Roh Kudus, dsb. – tidak ada perbedaan riil antara pribadi ilahi dengan esensi ilahi. Maka dari itu, ketika kita membandingkan Bapa dengan Putra, Putra dengan Roh Kudus, dan Bapa dengan Roh Kudus, Bapa bukanlah Putra, Putra bukanlah Roh Kudus, dsb.
Ada perbedaan riil antara pribadi-pribadi ilahi sendiri atas dasar oposisi relasi. Tetapi, ketika kita membandingkan Bapa dengan esensi ilahi, atau Putra dengan esensi ilahi, atau Roh Kudus dengan esensi ilahi, tidak ada perbedaan riil antara pribadi ilahi dengan esensi ilahi. Masing-masing pribadi, baik secara individu maupun ketiganya bersama-sama, dalam realitas identik dengan esensi ilahi. Soal perkara ini, Konsili Lateran IV menyatakan:
Bapa adalah esensi ilahi, Putra adalah esensi ilahi, Roh Kudus adalah esensi ilahi. Begitu juga, Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah esensi ilahi. Ini masuk akal sewaktu anda mempertimbangkan bahwa esensi ilahi adalah Allah, dan Bapa adalah Allah, Putra adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Meskipun ada banyak pihak otoritas dan teks terkemuka yang berbicara tentang Bapa, Putra dan Roh Kudus memiliki/mempunyai esensi atau kodrat ilahi (dan ini memang bisa dibicarakan secara benar), perlu kita akui bahwa ungkapan semacam itu tidak bermaksud menunjukkan adanya perbedaan riil antara pribadi Ilahi dengan esensi ilahi.
Memang benar: tidak mungkin ada perbedaan riil antara pribadi ilahi dengan esensi ilahi, sebab sekiranya ada, lantas akan ada suatu entitas ilahi tertinggi, yaitu esensi, yang bukan salah satu pun dari ketiga pribadi. Namun pandangan semacam itu keliru. Inilah alasan St. Tomas mengutip St. Agustinus:
Jadi, pribadi-pribadi ilahi tidak secara riil berbeda dari esensi ilahi, meskipun mereka secara riil berbeda satu sama lain akibat oposisi relasi. Terlebih, meskipun masing-masing pribadi ilahi secara riil saling berbeda satu sama lain, apa yang merupakan masing-masing pribadi itu (yaitu Allah/esensi ilahi) identik. Itulah sebabnya, setelah menunjukkan perbedaan antara pribadi-pribadi itu sendiri, Konsili Lateran IV menyatakan:
Itulah sebabnya, Bapa Timur St. Gregorius dari Nazianzus menyatakan demikian:
Tentang poin terkait dengan masing-masing pribadi identik dengan Allah, Konsili Lyon II di bawah Paus Gregorius X juga menyatakan:
Karena masing-masing pribadi secara individu sepenuhnya Allah, lantas ketiga pribadi bersama-sama tidak membentuk suatu kesempurnaan lebih besar atau lebih banyak lagi daripada masing-masing pribadi secara individu. Alasannya, esensi ilahi ada dalam setiap pribadi, dan kenyataannya memang merupakan masing-masing pribadi itu. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada Filipus, seperti tercatat di Yohanes 14:9
Putra bukanlah Bapa ataupun Roh Kudus, karena ada perbedaan riil antara pribadi-pribadi Tritunggal sendiri.
Namun apa yang merupakan Putra (yaitu, Allah/esensi ilahi) identik dengan apa yang merupakan Bapa dan Roh Kudus. Ada oknum bidah tertentu yang membuat penolakan menyesatkan, melawan kebenaran luhur bahwa setiap pribadi ilahi Tritunggal secara riil identik dengan esensi ilahi. Mereka membuat penolakan ini, karena mereka gagal untuk memahami suatu poin lain yang lebih subtil: bahwa istilah “pribadi” dan “esensi” memiliki modus pemahaman yang berbeda. Karena istilah pribadi dan esensi memiliki modus pemahaman yang berbeda, kedua istilah ini hendaknya tidak digunakan secara bergantian dalam setiap konteks.
Contohnya, ketika kita membahas misteri Penjelmaan: karena persatuan kedua kodrat terjadi dalam pribadi, bukan dalam kodrat: maksudnya, terjadi dalam diri Putra sebagai pribadi yang berbeda dengan Bapa dan Roh Kudus, apa yang dinyatakan tentang pribadi Putra di dalam kemanusiaan-Nya, tidak dinyatakan tentang esensi ilahi itu sendiri, melainkan hanya tentang pribadi Putra saja. Maka dari itu, pada banyak konteks, harus kita perbedakan istilah pribadi dengan esensi, atau pribadi dengan kodrat.
Dalam video ini, kami tidak akan menghabiskan waktu lagi untuk terus membantah berbagai argumen keliru yang sudah dibuat soal perkara itu. Namun, akan kami kutip seorang bidah “Ortodoks” Timur. Dia berpikir bahwa dogma Kristiani yang baru saja kami bahas: yaitu, berkata bahwa masing-masing pribadi adalah esensi dalam realitas, meskipun masing-masing pribadi-Nya berbeda satu sama lain, adalah pandangan yang salah. Si bidah itu menyatakan:
Dia berkata bahwa Bapa bukan hal sama dengan esensi Allah. Menarik ya, St. Atanasius justru mengajarkan kebalikannya.
Seperti yang bisa kita lihat, yang diajarkan St. Atanasius justru 180 derajat berkebalikan dengan si bidah itu. St. Atanasius mengajarkan kebalikan dari pandangan si bidah itu, karena St. Atanasius orang Kristen, dan si bidah Ortodoks Timur bukan. Harap dicatat pula, bahwa St. Atanasius berkata, bahwa ketika kita berkata Allah, kita tidak sedang menyebut sesuatu di sekeliling Allah. Ini hanyalah salah satu dari banyak kutipan dari St. Atanasius yang menentang posisi bidah “Ortodoks” Timur tentang “energi-energi tak tercipta”, yang mereka klaim berada di sekeliling esensi ilahi, namun bukan esensi ilahi itu. Bahkan, pada konteks yang sama, St. Atanasius juga menyatakan:
Ini jelas berkontradiksi dengan ajaran bidah “Ortodoks” Timur, dan si orang bidah yang sudah dikutip sebelumnya. St. Atanasius mengutarakan poin bahwa esensi Allah tak terselami. Maka, tidak ada kata-kata yang kita punya yang dapat menangkap esensi-Nya dengan sempurna. Namun, St. Atanasius mengajarkan bahwa ketika kita menyebut Allah atau nama Bapa, maksud yang hendak kita sampaikan, sejauh yang kita bisa, adalah esensi tak terselami itu sendiri – justru berlawanan dengan pendapat si bidah.
Tetapi, meski seperti yang sudah kami sebutkan, pribadi Bapa identik dengan esensi ilahi ketika kedua-duanya dibandingkan, namun pribadi Bapa benar-benar merupakan pribadi yang berbeda dengan Putra dan Roh Kudus. Pada perikop ini, St. Atanasius juga mengajarkan bahwa kalau orang berkata bahwa Allah atau Bapa mungkin merupakan sesuatu yang ada di sekeliling esensi ilahi, orang itu menghujat dua kali lipat. Namun inilah yang justru yang persisnya dilakukan kaum Ortodoks Timur, ketika mereka menganut posisi keliru bahwa dalam Allah sendiri, ada perbedaan riil antara esensi ilahi dengan “energi-energi tak tercipta”. Mereka mengklaim bahwa “energi-energi tak tercipta” sepenuhnya Allah dan ada di sekeliling esensi ilahi serta dapat dilihat secara terpisah dari esensi ilahi.
Itu adalah bidah, seperti yang sudah kami tunjukkan pada video kami berjudul “Ortodoksi” Timur Terbongkar: Doktrin Sesat Mereka tentang Allah. Seperti yang bisa kita lihat di sini, prinsip-prinsip St. Atanasius juga membuktikan bahwa posisi mereka bidah. Untuk semakin membuktikan secara dogmatis bahwa Gereja Katolik benar dalam menyatakan bahwa Bapa identik dengan Esensi Ilahi ketika kedua-duanya dibandingkan, mari kita mengutip Konsili Nisea sendiri. Kebenaran ini notabene juga berlaku kepada Putra dan Roh Kudus, ketika mereka dibandingkan dengan Esensi Ilahi. Sekali lagi, Konsili Nisea adalah konsili yang kaum “Ortodoks” klaim mereka terima. Konsili Nisea menyatakan:
Harap perhatikan rumusannya ya: Konsili Nisea secara dogmatis menyatakan bahwa Putra adalah Putra tunggal yang dilahirkan dari Bapa, lalu menambahkan, “yakni τοὐτέστιν (tutestin), dari esensi Bapa”. Konsili Nisea dapat benar-benar berkata “dilahirkan dari Bapa” – yakni, dari esensi Bapa, karena Bapa identik dengan esensi ilahi ketika kedua-duanya dibandingkan. Tetapi, sewaktu Bapa dibandingkan dengan Putra, jati diri Bapa benar-benar berbeda dengan Putra akibat oposisi relasi. Karena kelahiran abadi melibatkan relasi Bapa dengan Putra, lantas pribadinya, yaitu Bapa, adalah yang melahirkan. Esensi ilahi tidak melahirkan. Namun esensi ilahi disalurkan kepada pribadi Putra dalam kelahiran abadi-Nya.
Inilah alasan kita tidak berkata bahwa esensi ilahi melahirkan, atau bahwa esensi ilahi dilahirkan, atau bahwa esensi ilahi berprosesi. Namun yang kita katakan adalah bahwa Bapa melahirkan, Putra dilahirkan dan Roh Kudus berprosesi, sehingga perbedaan-perbedaannya ada dalam pribadi dan kesatuannya ada dalam kodrat.
Menarik pula untuk dicatat bahwa orang bidah Ortodoks Timur yang sudah disebutkan itu juga mengklaim bahwa menurut agamanya, sewaktu Allah berkata kepada Musa di Keluaran 3:14, “AKU ADALAH AKU”, ini bukan pernyataan tentang keberadaan Allah atau esensi-Nya.
Menurut si bidah, konyol kalau berkata bahwa Keluaran 3:14 adalah pernyataan tentang esensi Allah. Tetapi, St. Atanasius ternyata sekali lagi justru mengajarkan yang berkebalikan dengan pernyataan si bidah itu.
Menurut St. Atanasius, ketika Allah berkata “Aku adalah Aku” atau “Aku adalah Aku yang ada”, maksud perkataan ini tidak lain dari esensi-Nya yang terselami itu sendiri. Namun menurut si bidah Ortodoks Timur, berkata demikian itu konyol.
Bapa Gereja Timur St. Gregorius dari Nazianzus juga mengajarkan kebalikan dari pandangan si bidah itu pada poin ini.
Pada video ini, sudah kami tunjukkan bahwa Filioque adalah ajaran sejati Kekristenan. Namun, bagaimana dengan argumen bahwa Syahadat Konstantinopel tidak boleh diubah dan karena itu, penambahan klausa “dan Putra” pada syahadat itu adalah kekeliruan?
Orang-orang mengutarakan bahwa Konsili Efesus telah mendeklarasikan larangan untuk menulis atau menyusun iman yang lain dari Syahadat, dan bahwa Konsili Kalsedon menyatakan terlarang perihal menyampaikan simbol/syahadat yang lain kepada orang-orang yang ingin bertobat kepada pengakuan akan kebenaran. Argumen ini tidak berbobot. Pernyataan Efesus mengacu pada Syahadat Nisea tahun 325, yang lebih singkat daripada versi Syahadat yang terbit di Konstantinopel pada tahun 381.
Filioque tidak mengubah iman yang diungkapkan di Nisea.
Tambahan-tambahan itu sah karena isinya memang benar dan disetujui oleh otoritas Gereja. Kalau pernyataan Efesus melarang Gereja menambahkan kata-kata benar macam apa pun juga pada Syahadat Nisea (yang sebetulnya tidak demikian), lantas Syahadat Konstantinopel sampai hari ini melanggar larangan itu:
Terlebih, di Syahadat Konstantinopel tahun 381 (yang dengan salah dianggap oleh kaum skismatis sama sekali tidak boleh disentuh):
Justru, keilahian Roh Kudus ditengarai dengan berbagai cara yang lain, seperti ketika Dia disebut “Tuhan”, “yang menghidupkan”, dsb. Dan tentu saja sekarang kita tahu, bahwa seperti yang dideklarasikan secara eksplisit dalam pernyataan-pernyataan Gereja, Roh Kudus adalah Allah dan sehakikat dengan Bapa dan Putra. Maka, dulu ada tambahan-tambahan yang dibuat untuk Syahadat Nisea tahun 325, namun dibuat secara sah, karena memang benar dan sudah disetujui Gereja.
Dan juga, ada orang yang bertanya:
Jawabannya, penyangkalan terhadap Filioque bukan kontroversi pada waktu itu. Problem utamanya di waktu itu adalah penyangkalan terhadap keilahian Kristus dan Roh Kudus. Itulah sebabnya, demi menekankan keilahian Roh Kudus, Konsili Konstantinopel pada tahun 381 hanya mengutip ulang pernyataan Alkitab bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa. Konsili itu tidak membahas rinci prosesi Roh Kudus dari Bapa dan Putra, yang, seperti sudah kami tunjukkan, merupakan posisi sejati yang terbukti dari Kitab Suci dan diteguhkan oleh pernyataan-pernyataan para Bapa Timur dan Barat. Adapun pernyataan Kalsedon yang melarang menyampaikan simbol atau syahadat yang lain, itu merupakan Syahadat disiplin yang bertujuan melarang simbol-simbol lain yang tidak disetujui agar jangan sampai digunakan untuk mengonversikan orang-orang.
Konsili-konsili di kemudian hari, termasuk konsili berikutnya, Konsili Konstantinopel II di tahun 553, tidak terhentikan oleh larangan Kalsedon ini untuk mempermaklumkan kanon-kanon dogmatis lain yang menjadi kaidah iman dan harus diterima oleh para konvert baru serta orang-orang lainnya. Gereja, melalui Paus yang menggunakan otoritas tertinggi atas Gereja Kristus, memiliki otoritas untuk menambahkan pernyataan yang benar pada Syahadat demi membela iman atau untuk semakin mengklarifikasi suatu poin.
Maka, sama sekali tidak ada bobot pada argumen bahwa Gereja tidak dapat menambahkan kata-kata “dan Putra” (yaitu, Filioque) pada Syahadat demi membela doktrin sejati dan demi mengungkapkannya. Itulah sebabnya Konsili Florence di bawah Paus Eugenius IV dengan benar mendeklarasikan:
Keabsahan ditambahkannya Filioque pada Syahadat diakui oleh para perwakilan dari kelima Takhta Patriarkal di Konsili Florence, dan juga oleh Metropolitan Rusia dan delegasi besar dari Yunani, yang mencakup orang-orang yang dahulunya pernah menentang Filioque. Setelah berlangsungnya berbagai perdebatan dan presentasi di Florence, orang-orang itu ujung-ujungnya menerima Filioque serta keabsahan ditambahkannya Filioque di dalam Syahadat.
Pada video ini sudah kami tunjukkan bahwa Filioque adalah doktrin sejati. Menyangkal doktrin tersebut, kendati sudah mendapat fakta-fakta ini, setara menyangkal iman sejati. Penolakan kaum skismatis Timur terhadap Filioque dahulu sering menjadi faktor penggerak mereka untuk menolak keutamaan yurisdiksi Paus. Berikut perkataan teolog Ortodoks Timur Vladimir Lossky. Dia menyebut Filioque sebagai “satu-satunya landasan dogmatis perpisahan Timur dan Barat.” (Vladimir Lossky, In The Image and Likeness of God, St. Vladimir’s Seminary Press, 1985, hal. 71)
Karena rangkaian sekte yang menyusun Ortodoksi Timur telah berkomitmen menyangkal Filioque, fakta-fakta yang sudah kami bahas dan yang membuktikan Filioque juga membuktikan bahwa Ortodoksi Timur adalah agama sesat, dan Gereja Katolik adalah Gereja Kristus yang satu dan sejati, di luar mana tidak terdapat keselamatan.
Sangat menarik juga untuk dicatat bahwa karena kaum Ortodoks Timur menolak Kepausan, mereka beranggapan bahwa semua uskup memiliki otoritas yang setara. Mereka percaya bahwa beberapa orang uskup memiliki suatu posisi atau kehormatan yang khusus sehubungan dengan organisasi gerejawi, tetapi mereka berpendapat bahwa semua uskup pada dasarnya setara dalam hal otoritas dan “hak ilahi”. Seperti yang dikatakan oleh Uskup Metropolitan Ortodoks Timur, Timothy Ware, di dalam bukunya The Orthodox Church, yang terkadang digunakan sebagai katekismus “Ortodoks”:
Ia juga menyatakan:
Posisi mereka menentang fakta bahwa Kristus telah mendirikan Kepausan di atas St. Petrus, di mana Kristus memberikan kepada St. Petrus dan para penerusnya suatu Keutamaan Yurisdiksi atas segenap kawanan domba Kristus, sebagaimana yang dibuktikan dengan jelas oleh Alkitab. Lihatlah Matius 16:18-19 dan Yohanes 21:15-17.
Eklesiologi “Ortodoks” Timur yang tidak konsisten menjadi suatu bantahan lain terhadap agama mereka. Ketidakkonsistenan ini membuat mereka tidak mampu membereskan perkara di mana daerah kekuasaan atau yurisdiksi seorang uskup bermula dan di mana daerah kekuasaan atau yurisdiksi seorang uskup yang lain berakhir. Masalah ini terlihat pada tahun 2018 pada perpecahan akbar dan bersejarah dari persekutuan antara sekte “Ortodoks” Rusia dan sekte “Ortodoks” Yunani. Mereka tidak memiliki jalan yang konsisten untuk membereskan sengketa atas para “klerus” Ukraina karena mereka berpendapat bahwa semua uskup memiliki otoritas yang setara.
Eklesiologi mereka yang sesat dan tidak alkitabiah juga membuat mereka tidak mampu untuk secara konsisten membedakan konsili ekumenis sejati dan mengikat dari konsili yang sesat – karena terdapat banyak konsili sesat di dalam sejarah Gereja yang disetujui oleh banyak uskup. Jika semua uskup memiliki otoritas yang setara, mengapa konsili-konsili tertentu yang disetujui oleh para uskup dianggap infalibel dan mengikat, sedangkan yang lain tidak? Mereka tidak memiliki jawaban yang konsisten untuk menanggapi pertanyaan tersebut. Kenyataannya, berikut penjelasan dari Uskup “Ortodoks” Timur, Timothy Ware tentang mengapa mereka tidak dapat menentukan bilamana suatu konsili bersifat ekumenis berdasarkan jumlah uskup.
Bagaimanapun, sehubungan dengan konsili-konsili ekumenis, banyak orang Ortodoks Timur akan menyebutkan bahwa partisipasi di dalam – dan/atau, penerimaan terhadap suatu konsili – oleh kelima takhta Patriarkal – yakni, Roma, Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem – adalah suatu kriteria yang penting untuk mempertimbangkan bilamana suatu konsili bersifat ekumenis dan oleh karena itu bersifat mengikat dan infalibel dalam dekret-dekretnya tentang iman. Pandangan ini diasosiasikan dengan apa yang disebut sebagai Doktrin Pentarki. Seperti yang dicatat oleh teolog Ortodoks Timur, John Meyendorff tentang Pentarki:
Nah, coba pertimbangkan hal ini. Konsili Florence pada abad ke-15 adalah Konsili reunifikasi akbar yang merekonsiliasikan banyak orang dari Timur kepada Gereja. Surat Bulla Persatuan dari tanggal 6 Juli 1439 dengan orang-orang Yunani di Konsili Florence, yang mengajarkan dogma Filioque dan Keutamaan Yurisdiksi Kepausan, didukung dan diterima oleh para perwakilan dari kelima Takhta Patriarkal.
Patriark Konstantinopel yang bernama Yosef II hadir pada Konsili Florence. Ia mendukung persatuan dengan Sri Paus dan Gereja Katolik, dan ia meninggal pada saat Konsili tersebut. Sebelum kematiannya, ia menulis suatu pernyataan yang menegaskan bahwa ia tunduk kepada ajaran Sri Paus dan Gereja Katolik.
Sri Paus, yaitu Uskup Roma, tentunya menerima surat bulla tersebut. Surat Bulla itu juga diterima oleh Isidorus dari Kiev, Uskup Metropolitan Rusia yang juga melayani sebagai prokurator dari Patriark Antiokhia. Isidorus menerima dogma Filioque dan Kepausan pada Konsili Florence, dan ia menjadi seorang pendukung yang kuat untuk persatuan itu. Dari antara banyak orang lain, surat Bulla itu juga diterima oleh Kaisar Bizantina pada saat itu, Yohanes VIII, serupa dengan bagaimana para Kaisar memainkan suatu peran untuk mengorganisir konsili-konsili awal.
Faktanya, surat bulla persatuan dengan orang-orang Yunani ditandatangani oleh segenap delegasi Yunani dengan pengecualian Markus dari Efesus. Penolakan dari uskup yang satu itu untuk menerima suatu konsili ekumenis sama sekali tidak berbobot terhadap bilamana konsili tersebut bersifat ekumenis. Andaikata penolakannya itu berbobot terhadap bilamana Konsili Florence bersifat ekumenis, maka ketujuh konsili pertama – yang dianggap bersifat ekumenis oleh orang-orang Ortodoks Timur– kenyataannya sama sekali tidak akan bersifat ekumenis, sebab semua konsili itu tidak diterima oleh semua uskup. Sebagai contoh, dua uskup yang hadir di Konsili Nisea menolak menerima dan menandatangani dekret konsili tersebut.
Jadi, dengan menerapkan kriteria mereka sendiri, para Ortodoks Timur sama sekali tidak memiliki dasar untuk menolak surat bulla persatuan Florence dari bulan Juli 1439 dengan orang-orang Yunani sebagai suatu akta dari konsili ekumenis yang sejati. Untuk menolak Florence sebagai konsili ekumenis akan secara logis memaksa mereka untuk percaya bahwa tidak pernah ada suatu konsili ekumenis sejati pun di dalam sejarah Gereja. Seperti yang dinyatakan oleh seorang sejarawan non-Katolik Sergey Dezhnyuk tentang Konsili Florence:
Kaisar Bizantina pada waktu itu, Yohanes VIII, juga berkata:
Bahkan Markus dari Efesus, si bidah yang berkeras kepala dan satu-satunya anggota delegasi Yunani yang menolak menandatangani surat bulla persatuan itu, mengakui, sewaktu berada di Florence, bahwa Konsili tersebut sungguh ekumenis.
Joseph Gill mungkin dikatakan sebagai sejarawan Konsili Florence yang paling terkemuka. Dia menunjukkan bahwa pada suatu pertemuan dengan Sri Paus dan beberapa orang lain di Florence:
Maka, menurut standar-standar mereka sendiri, para “Ortodoks” Timur akan harus menerima surat bulla persatuan Florence dari bulan Juli 1439 dengan orang-orang Yunani sebagai akta yang infalibel dari suatu konsili ekumenis serta menerima ajaran surat bulla itu sebagai suara dari Gereja Kristus yang sejati.
Di dalam surat bulla dari bulan Juli 1439 itu, dogma Filioque dan yurisdiksi tertinggi dari Sri Paus di atas Gereja diproklamasikan sebagai kebenaran-kebenaran iman. Jadi, jika anda seorang “Ortodoks” Timur, dan anda berpikir bahwa Filioque dan keutamaan yurisdiksi dari Kepausan adalah doktrin-doktrin sesat, maka secara logis, menurut prinsip-prinsip anda, anda akan harus menyimpulkan bahwa “Gereja” anda membelot dari iman sejati pada Konsili Florence di tahun 1439 dengan menerima dogma Filioque serta Keutamaan Kepausan.
Berikut apa yang diakui oleh Uskup Metropolitan “Ortodoks” Timur, Timothy Ware, di dalam bukunya:
Di dalam Penyelenggaraan-Nya, Allah mengizinkan agar Konsili Florence dihadiri oleh begitu banyak pihak – dan agar surat bulla dari bulan Juli 1439 itu memenuhi kriteria para Ortodoks Timur sendiri tentang apa yang harus dianggap sebagai konsili ekumenis. Allah melakukannya untuk memberikan kepada orang-orang di Timur suatu kesempatan lain, atau mungkin kesempatan terakhir, untuk mengakui iman sejati akan Kristus dan tunduk kepada otoritas Gereja sejati. Konsili Florence sungguh merupakan konsili ekumenis sejati dari Gereja Kristus. Di Florence, kelima Takhta – dari apa yang para Ortodoks anggap sebagai Pentarki – menerima iman sejati, sebagaimana yang diatur oleh Penyelenggaraan Ilahi. Setelah Konsili itu, bahkan berlangsung perayaan-perayaan untuk persatuan itu di sejumlah daerah.
Tetapi, sewaktu banyak dari mereka pulang, setelah dekret Konsili Florence ditandatangani, mereka menghadapi perlawanan yang ganas di berbagai tempat, dan persatuan itu tidak mencapai hasil-hasil yang bertahan lama yang diharapkan. Kenyataan bahwa surat bulla persatuan Florence dengan orang-orang Yunani, yang mengajarkan dogma Filioque dan meneguhkan Keutamaan Yurisdiksi seorang Paus, memenuhi kriteria Ortodoks Timur sendiri untuk suatu konsili ekumenis, sekali lagi membuktikan bahwa “Ortodoksi Timur” adalah suatu agama sesat dan bahwa Katolisisme adalah iman sejati akan Kristus. Penolakan kaum Ortodoks terhadap surat bulla Florence adalah penolakan terhadap ajaran dari suatu konsili ekumenis, yang mereka klaim percayai bersifat infalibel. Mereka dibantah oleh prinsip-prinsip mereka sendiri.
Di hadapan fakta-fakta semacam itu, beberapa orang yang menganut Ortodoksi Timur mungkin mengandalkan “teori resepsi”. Ini adalah pandangan tentang konsili ekumenis yang dipromosikan oleh seorang teolog Ortodoks Timur pada abad ke-19.
Karena mereka menyadari bahwa mereka tidak mampu menentukan bilamana suatu konsili bersifat ekumenis atas dasar suatu standar objektif mana pun yang hendak mereka terima – seperti jumlah uskup, atau distribusi geografis para uskup, dan lain sebagainya – para penganut teori resepsi mengklaim bahwa suatu konsili hanya dapat dianggap ekumenis jika konsili itu “diterima” oleh kesadaran dari para umat beriman atau oleh tubuh segenap Gereja. Tentunya, mereka tidak mampu mendefinisikan arti dari diterima oleh kesadaran dari para umat beriman atau oleh tubuh segenap Gereja. Hal ini seharusnya jelas – teori resepsi itu sesat dan bidah. Pertama, ketujuh konsili pertama, yang mereka anggap ekumenis, tidak diterima oleh semua orang yang mengaku diri sebagai bagian dari Gereja. Kenyataan itu sendiri membantah teori resepsi.
Kedua, hasil dari teori resepsi adalah penyangkalan terhadap otoritas yang Kristus berikan kepada Gereja untuk mengajar di dalam nama-Nya dengan suatu cara yang mengikat dan infalibel pada waktu-waktu yang spesifik, dengan suatu cara yang akan menuntut persetujuan dari para umat beriman. Karena, menurut “teori resepsi”, sewaktu suatu konsili memproklamasikan suatu hal, bahkan dengan suatu kutukan, konsili itu tidak boleh dianggap mengikat atau secara pasti benar sampai suatu waktu kemudian – mungkin berpuluh-puluh tahun atau satu abad setelahnya – suatu kelompok orang yang tidak terdefinisikan memilih untuk menerimanya.
Maka, teori resepsi akan secara praktik, membuat ketetapan-ketetapan dari setiap konsili tunduk kepada suatu kelompok orang yang tidak terdefinisikan, termasuk orang awam. Teori semacam itu akan meniadakan dan membuat tidak bermakna otoritas yang Kristus berikan kepada petinggi-petinggi Gereja untuk mengajar para umat beriman dengan suatu cara yang menuntut persetujuan mereka. Jelas bahwa teori resepsi itu bidah. Di samping kesalahan-kesalahan fatal yang jelas di dalam teori resepsi yang telah kami bahas, juga tidak terdapat dukungan terhadap gagasan tersebut di dalam ajaran suatu konsili ekumenis mana pun.
Maka, haruslah ada, dan memang ada, suatu standar yang objektif, yang dengannya para umat beriman untuk mengenali bahwa Gereja sedang mengajar dengan otoritas Kristus. Orang-orang Katolik tahu bahwa standar ini berhubungan dengan jabatan Kepausan, tetapi tidak peduli bagaimana para Ortodoks Timur mencoba untuk menjelaskannya sehubungan dengan konsili-konsili ekumenis – seperti bilamana mereka membawa-bawa Pentarki atau hal yang lain – mereka tidak dapat bertindak secara konsisten dan menolak bahwa Konsili Florence adalah konsili ekumenis.
Memang benar, suatu contoh lain bagaimana Timur setuju dengan dekret Konsili Florence adalah peristiwa di tanggal 12 Desember 1452. Pada hari itu, dekret persatuan Florence, yang telah ditandatangani sebelumnya, diproklamasikan pada suatu liturgi di gereja utama Konstantinopel, Ayia Sofia, di hadirat sang Kaisar, banyak imam, dan banyak orang. Pada saat liturgi itu, Sri Paus dan Patriark Konstantinopel yang mendukung persatuan tersebut didoakan.
Bagaimanapun, walaupun persatuan itu ditandatangani dan difinalisasikan di Florence, terjadi suatu perlawanan di sepanjang periode ini di kalangan banyak orang di Konstantinopel serta tempat-tempat lain di Timur. Perlawanan itu menjadi begitu intens, sehingga terkadang para patriark Konstantinopel yang mendukung persatuan itu, harus mengungsi dari gereja negeri mereka sendiri, Ἁγία Σοφία (Ayia Sofia).
Banyak orang di Timur dan di Konstantinopel memberontak terhadap apa yang telah diproklamasikan secara resmi oleh Gereja universal di bawah Sri Paus, di Florence. Pemberontakan orang-orang ini, perlawanan mereka terhadap akta Gereja Allah – adalah mengapa Allah membiarkan Konstantinopel untuk jatuh ke dalam kegelapan dominasi Islam tidak lama setelah perlawanan ini terwujud. Maka, bukanlah semata-mata suatu kebetulan, menurut kami, bahwa setelah begitu banyak orang di Timur memberontak terhadap persatuan yang telah dicapai dan diproklamasikan di Florence – suatu persatuan yang secara resmi didukung oleh para perwakilan dari kelima takhta Patriarkal dari apa yang mereka anggap sebagai Pentarki – tidak lama setelahnya Allah membiarkan pusat kekuatan gerejawi utama di Timur, yakni Konstantinopel, untuk jatuh kepada orang-orang Muslim dan di bawah dominasi Islam.
Setelah jatuhnya Konstantinopel pada abad ke-15, sang Sultan Muslim yang satanik memberlakukan pembatasan-pembatasan berat bagi para skismatis Yunani di daerah tersebut.
Itu adalah hukuman untuk pemberontakan mereka. Kaum skismatis Yunani sekarang adalah suatu sekte yang dikendalikan oleh orang-orang kafir, seperti bagaimana Gereja Ortodoks Rusia yang skismatis sering dikendalikan oleh Komunis pada abad ke-20. Sangat menarik juga, bahwa setelah orang-orang Muslim mengambil alih Konstantinopel, merekalah yang memutuskan siapa yang dapat melayani sebagai “patriark Konstantinopel” untuk sekte skismatis di sana. Orang-orang Muslim itu memilih Georgius Skolarius.
Skolarius adalah salah satu dari perwakilan yang paling penting dari delegasi Yunani di Konsili Florence. Di Konsili Florence, Skolarius menjadi yakin akan posisi Katolik tentang dogma Filioque dan keutamaan yurisdiksi Kepausan. Ia menandatangani surat bulla persatuan, dan ia mengakui bahwa Konsili Florence adalah suatu konsili ekumenis yang sejati.
Tetapi, beberapa waktu setelah Konsili itu, akibat termangsa oleh permohonan Markus dari Efesus di ranjang kematiannya, Skolarius pun jatuh ke dalam bidah. Maka, pantas adanya bahwa setelah para Muslim mengambil alih Konstantinopel, orang-orang kafir itu memilih orang tak beriman yang jahanam seperti Skolarius sebagai “Patriark Konstantinopel” yang palsu untuk sekte skismatis Yunani di daerah tersebut.
Di dalam sejarah Kristiani, semua Takhta Patriarkal paling terkemuka yang dianggap oleh kaum Ortodoks Timur sebagai bagian dari Pentarki tetapi yang memberontak terhadap Kepausan – yakni, Aleksandria, Antiokhia, Yerusalem, dan Konstantinopel – pada akhirnya jatuh ke dalam belenggu Islam. Apakah ini hanya suatu kebetulan? Tidak, ini adalah suatu hukuman untuk perpisahan mereka dari Gereja sejati dan untuk penolakan mereka terhadap Kepausan, yang didirikan oleh Kristus di atas St. Petrus.
Di dalam Penyelenggaraan-Nya, Allah membiarkan keempat kota lainnya untuk jatuh ke dalam Islam, dengan kota Roma yang dijaga-Nya setidaknya sampai pada akhir zaman, untuk mewujudkan bahwa Takhta Petrus di Roma, di sepanjang sejarah Gereja, menikmati suatu otoritas yang unik dan perlindungan yang khusus yang tidak dimiliki oleh takhta-takhta lainnya.
Memang menarik adanya, bahwa jatuhnya Konstantinopel ke dalam tangan orang Muslim terjadi pada tanggal 29 Mei 1453, pada pesta Pentakosta, pesta yang secara khusus dimaksudkan untuk merayakan datangnya Roh Kudus. Apakah anda berpikir bahwa itu hanya suatu kebetulan? Kenyataannya, itu bukanlah suatu kebetulan. Allah membiarkan Konstantinopel untuk jatuh ke dalam tangan orang Muslim pada pesta Roh Kudus, sebagai suatu tanda yang menentang, dan sebagai suatu hukuman atas, perlawanan orang-orang terhadap dogma Filioque – doktrin sejati Gereja Kristus tentang Roh Kudus – serta perlawanan mereka terhadap kebenaran-kebenaran lain yang secara resmi diproklamasikan di suatu konsili yang harus dianggap sebagai ekumenis, bahkan menurut standar-standar mereka sendiri.
Terima kasi suda berbagi doa ini.. 🙏🙏
Magdalena binti said 3 bulanBaca lebih lanjut...Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 7 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 11 bulanBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 1 tahunBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 1 tahunBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 1 tahunBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...