^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Aib Raja Louis XIV, “Raja Matahari”
Saya ingin membahas Raja Louis XIV, yang juga terkenal dengan julukan Raja Matahari. Louis XIV adalah Raja Prancis dari tahun 1643-1715 dan merupakan raja yang masa pemerintahannya paling lama dalam sejarah Eropa. Tersohor karena kemegahannya serta istananya yang mewah di Versailles serta gaya hidupnya. Ada beberapa hal yang menurut saya menarik dalam kehidupnya.
Louis XIV mengaku Katolik. Namun, dia pada dasarnya keluar-masuk keadaan skisma dengan Gereja, karena sering kali mendukung ide-ide skismatis Galikan. Ide-ide ini berupaya membatasi otoritas penuh yurisdiksi Sri Paus. Perpecahan skismatis Louis XIV dengan Roma tidak dideklarasikan dan diartikulasikan secara khidmat, tetapi raja ini kurang lebih maju-mundur mendukung ide-ide skismatis ini dan juga bolak-balik berseteru dengan Sri Paus. Tetapi, di waktu lain, dia mengaku Katolik yang taat dan bahkan sampai bekerja sama dengan Sri Paus untuk memerangi bidah-bidah Yansenisme.
Tetapi, jujur saja, yang begitu menarik dalam hidupnya adalah kemegahannya yang menjijikkan. Ini saya kira juga ada kaitannya dengan maju-mundurnya Louis XIV dalam keadaan skisma dan terkait pula dengan usaha-usahanya yang sering kali bertentangan dengan kepentingan-kepentingan Gereja. Mari kita lihat kutipan berikut dari Warren H. Carroll di sekitar bagian awal halaman 6 bukunya tentang yang terjadi di masa pemerintahan Louis XIV & istananya, ketika dia dulu merupakan raja yang paling berkuasa di Eropa. Kutipan ini dia petik dari seorang pengarang lain:
“Versailles dibangun sebagai kapitol kekaisaran dan memang merupakan pemandangan memukau bagi dunia. Versailles menjadi simbol supremasi, kekayaan, kekuatan dan kemegahan pangeran terkaya dan paling berkuasa di Eropa.” (Warren H. Carroll, The Revolution against Christendom, Vol. 5 dari The History of Christendom, mengutip seorang penulis lain)
Carroll, penulis buku ini, lalu menjelaskan cara Louis XIV memperlakukan para Adipati, Pangeran dan Bangsawan. Dia juga membahas istana Louis XIV yang merupakan simbol terpusatnya kuasa dan kendali Sri Raja.
“Atas perintah Raja Matahari [Raja Louis XIV], Versailles bermandi cahaya. Serangkaian protokol rumit dan hiburan gemerlap yang tiada hentinya, terus menyibukkan semua orang dari pagi hingga malam. Segala sesuatunya mengitari Sri Raja, sampai detail terkecil sekalipun. Kamar tidurnya terletak tepat di tengah-tengah istana. Sejak pukul 8 pagi, saat tirai tempat tidur kerajaan dibuka dan Louis terbangun mendengar seruan, ‘Paduka, sudah tiba waktunya,’ parade Sri Raja pun berjalan. Hidungnya diusap dengan air mawar dan aqua vita [alkohol]. Dicukur dan didandani, ia disaksikan oleh para rakyatnya yang paling beruntung. Para adipati membantunya melepas baju tidur dan mengenakan celana panjang. Para punggawa saling berdebat mengenai siapa yang akan membawakan kemeja bagi Raja. Orang-orang berjejalan di ruangannya saat raja berdoa bersama kapelan [imam] istananya dan ketika ia makan. Ada protokol yang menentukan siapa yang berhak duduk di hadirat Sri Raja dan apakah duduk di kursi bersandaran atau hanya di bangku kecil. Begitu mulianya raja itu sehingga bahkan ketika santapan malamnya dibawa lewat, para punggawa mengangkat topi mereka dan menyapu tanah sebagai tanda penghormatan. Pada bulan Maret 1686, sebuah patung perunggu Raja Matahari yang dimahkotai dengan lambang kemenangan diresmikan dalam upacara megah.”
Saya kira menarik kalau kita mempertimbangkan betapa memualkannya, kemegahan yang ada dalam hidup orang ini. Hidungnya diusap dengan air mawar dan alkohol. Mengenakan pakaian sendiri saja tidak bisa. Inilah contoh kehendak buruk di zaman yang dulu masih lebih Katolik. Bukan main besarnya kebutaan spiritual yang ada, ketika orang semacam ini sampai terpikir dirinya mungkin bisa selamat, sembari hidup dalam kemewahan sebegitu menjijikkan, berlebihan dan seperti dipuja-puja. Buntut dari dosa-dosa seperti itu, Louis XIV dalam ranah duniawi sering bekerja melawan kepentingan-kepentingan Gereja.
Kemegahan berlebihan itu juga menyingkap hormat manusiawi di kalangan imam dan kapelan di Prancis pada waktu ini. Ada tidak, satu orang saja yang menegur raja soal aktivitasnya yang berlebihan dan konyol itu? Sekiranya saja ada yang memberi tahu raja dengan jelas dan baik-baik (bahwa ini adalah perilaku berlebihan yang berdosa berat), mungkin raja akan mengubah dirinya, terutama kalau ada banyak imam yang memberi tahu dia soal ini. Mereka yang tidak berbuat demikian, berdosa berat karena kelalaian. Dan pada kenyataannya, kemungkinan hampir tidak ada satu orang pun yang menegurnya. Menurut beberapa pengarang, Raja Louis XIV menjadi sedikit lebih spiritual dan bertobat di akhir hidupnya; seberapa tuluskah, sulit dikata.
Singkat kata, saya kira beberapa fakta ini sekali lagi memberi kita ilustrasi lebarnya jalan yang menuju Neraka. Saya kira dari sini juga bisa didapat ilustrasi, alasan kita di zaman ini pula menyaksikan orang-orang tidak menerima rahmat untuk melihat & menerima kebenaran: karena mereka tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tidak punya dedikasi rohani secara konsisten. Di kehidupan sehari-hari, mereka sering kali bersikap sangat egois. Coba saja mereka lebih rela memberi dengan penuh kasih, dengan cara berusaha lebih demi Allah, mereka akan menerima rahmat untuk melihat kebenaran. Tetapi, akibat keegoisan hati mereka, Allah membutakan mereka. Buntutnya, mereka melawan kebenaran. Keegoisan bukan main inilah penyebab Louis XIV memaksakan otoritasnya atas Gereja di Prancis. Sikap egois itu jugalah, biang keladi terjadinya pertarungan konstan antara Sri Paus dengan Raja Prancis soal hak-hak dalam ranah-ranah tersebut.
Ada sesuatu yang menarik pula di akhir hayatnya, seperti diceritakan oleh Carroll:
“Pada tanggal 14 April 1711, anak sulung dan ahli waris utama Louis XIV, Adipati Bourgogne, meninggal karena cacar. Ini disusul dalam waktu satu pekan oleh istrinya, orang kesayangan Raja Louis yang sebelumnya telah mengidap campak. Louis juga kehilangan cucu laki-lakinya. Bertekuk lutut karena perkabungan, Louis memberi tahu para dokternya, Penderitaanku tiada bertepi. [Ujarnya:] Aku dalam hampir sepekan kehilangan seorang cucu perempuan dan seorang cucu laki-laki dan kemudian putra mereka, mereka semua pengharapan besarku, mereka semua sangat kukasihi. Allah menghukum aku, sudah sepantasnya.”
Jadi, kita melihat bahwa di penghujung hidupnya, Louis XIV sangat tidak bahagia, walaupun selama berpuluh-puluh tahun telah hidup dalam keegoisan; meski selama itu dia disanjung-sanjung dan hidup dalam kenikmatan. Kesimpulannya, saya kira ini sekali lagi menunjukkan bahwa jalan menuju Neraka sangat lebar dan kebanyakan orang masuk ke sana.
Artikel-Artikel Terkait
Terima kasi suda berbagi doa ini.. 🙏🙏
Magdalena binti said 4 bulanBaca lebih lanjut...Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 8 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 1 tahunBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 1 tahunBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 1 tahunBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 1 tahunBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...