^
^
| Extra Ecclesiam nulla salus (EENS) | Sekte Vatikan II | Bukti dari Kitab Suci untuk Katolisisme | Padre Pio | Berita | Langkah-Langkah untuk Berkonversi | Kemurtadan Besar & Gereja Palsu | Isu Rohani | Kitab Suci & Santo-santa |
| Misa Baru Tidak Valid dan Tidak Boleh Dihadiri | Martin Luther & Protestantisme | Bunda Maria & Kitab Suci | Penampakan Fatima | Rosario Suci | Doa-Doa Katolik | Ritus Imamat Baru | Sakramen Pembaptisan | ![]() |
Sesi telah kadaluarsa
Silakan masuk log lagi. Laman login akan dibuka di jendela baru. Setelah berhasil login, Anda dapat menutupnya dan kembali ke laman ini.
Acara Doa Lintas Agama Menghujat Yohanes Paulus II tahun 1993 di Assisi, Italia
Tersingkap dari studi tentang Anti-Paus Yohanes Paulus II bahwa dia terobsesi dengan topik perdamaian. Ini bukan kebetulan. Yohanes Paulus II di waktu lalu sedang memenuhi peranan antikristusnya untuk menyebarkan ide sesat tentang perdamaian. Dia juga sengaja menghujat Yesus, yang seturut Perjanjian Baru, merupakan damai sejahtera kita dan dalam Dia sajalah damai sejahtera ditemukan. “Sebab Dia [Yesus] sendirilah damai sejahtera kita ....” (Efesus 2:14).
Bertolak belakang dengan iman Kristiani, Yohanes Paulus II berulang kali mengajarkan bahwa orang-orang pagan, kafir dan bidah memiliki damai sejahtera, dan bahwa damai sejahtera datang dari doa-doa agama-agama sesat. Sejalan dengan itu, pada tanggal 9–10 Januari 1993, Anti-Paus Yohanes Paulus II menyelenggarakan acara doa lintas agama lainnya “untuk perdamaian” di Assisi. Acara tersebut dihadiri oleh para pemimpin Muslim, Yahudi, Protestan, dan “Ortodoks” Timur. Pidato Yohanes Paulus II pada kesempatan itu menanamkan gagasan sesatnya tentang perdamaian. Itu merupakan manifestasi lain dari bidah dan kemurtadan. Komentarnya mengenai Eropa juga cukup mengungkap banyak hal.
Yohanes Paulus II, Kepada Para Perwakilan Berbagai Agama dalam Doa untuk Perdamaian di Eropa, Assisi, 9 Januari 1993: “Damai sejahtera bagi anda sekalian, damai dari Allah Abraham … Anda semua telah dengan sukarela menanggapi panggilan, yang bersama para presiden konferensi-konferensi Waligereja Eropa, telah saya buat kepada para uskup Eropa, kepada gereja-gereja Kristen dan komunitas-komunitas gerejani benua itu, serta kepada para pemuka komunitas Yahudi dan Muslimnya, dengan tujuan bertemu bersama di kota terberkati Assisi ini agar dapat merenungkan perdamaian di Eropa, terutama di wilayah Balkan, dan untuk berdoa … Kita berkumpul di sini untuk memanjatkan doa-doa kita bagi Tuhan penguasa sejarah, tiap-tiap dari kita dengan caranya masing-masing dan sesuai tradisi agamanya, memohon karunia mulia perdamaian dari Dia, satu-satunya yang dapat menjamin hal itu. Kami orang Kristen akan berdoa bersama dalam tahap kedua tuguran ini di tingkat atas Basilika St. Fransiskus. Saudara-saudari kami umat Yahudi dan Muslim akan disediakan tempat-tempat yang layak bagi doa mereka di Sacro Convento yang sama ini juga, dan karena itu di bawah atap yang sama …
Kita masing-masing telah datang di sini karena tergerak oleh kesetiaan terhadap tradisi agama kita, namun pada saat itu juga tetap menghormati tradisi-tradisi orang lain … Damai sejahtera meraja di tengah-tengah kita … Demikianlah poin dan makna esensial dari perkumpulan ini dan dari doa-doa yang akan dipanjatkan kemudian: membuat setiap orang melihat bahwa hanya dalam saling menerima satu sama lain dan dalam rasa hormat timbal balik yang dihasilkan dari saling menerima itu (yang semakin diperdalam oleh kasih), berdiamlah rahasia umat manusia yang kelak akan berdamai, Eropa yang patut menerima panggilan sejatinya … Semoga dalam hal ini, saya diperkenankan mengutip ayat pertama dari Mazmur 133: ‘Lihatlah, alangkah baiknya dan indahnya, apabila umat Allah hidup bersama dalam kesatuan!’
Saudara-saudari terkasih! Kenangan akan hari besar untuk perdamaian yang bertempat di sini, di Assisi pada Oktober 1986, secara spontan timbul dalam pikiran … Di hari ini, tatapan mata kita tertuju kepada Eropa. Karena itu, telah disampaikan undangan kepada para perwakilan ketiga tradisi agama besar yang hadir selama berabad-abad di benua ini. Bagi pembentukan benua ini, pembentukan yang berlangsung perlahan-lahan seiring dengan berjalannya waktu, ketiga-tiganya telah memberi kontribusi dan masih terus berkontribusi: Yahudi, Kristen dan Muslim.
Kita sekarang sedang diminta untuk berkontribusi secara spesifik dengan doa-doa serta persembahan puasa kita, demi membangun kembali Eropa, dan mungkin agar Eropa bisa bertahan. Ini kita lakukan dengan melanjutkan semangat yang sama, yang dulu membimbing pada hari doa di Oktober 1986.”
Harap diperhatikan bahwa Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa semua partisipan, termasuk kaum Yahudi, Muslim & bidah, memiliki damai sejahtera Allah. Ujarnya, damai sejahtera meraja di tengah-tengah mereka. Tetapi itu bohong, karena orang kafir & bidah tidak mungkin memiliki damai sejahtera sejati tanpa iman Kristiani dan Gereja sejati Yesus Kristus. Yohanes Paulus II juga mendukung doa-doa semua orang dalam “kesetiaan terhadap tradisi agama kita”. Pernyataan Yohanes Paulus II ini termasuk ibadat sesat orang Muslim & Yahudi yang dikutuk oleh Gereja sebagai perbuatan dosa berat & keji. Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa damai sejahtera adalam karunia Allah dan bahwa ibadat semua agama yang berbeda-beda itu mendapat karunia tersebut. Pada kesempatan itu, Yohanes Paulus II juga berdosa berat dengan berdoa secara langsung bersama kaum bidah & skismatis. Gereja Katolik selalu melarang kegiatan semacam itu.
Yohanes Paulus II juga menekankan bahwa tujuan dia melangsungkan acara doa lintas agama (dengan Yahudi, Muslim dan bidah) ini terkhusus agar Eropa menggenapi “panggilan”-nya. Kata Yohanes Paulus II, doa-doa Yahudi dan Muslim berkontribusi untuk “memangun kembali Eropa”. Penekanannya pada membangun kembali Eropa dalam konteks ibadat bukan Kristen bukan suatu kebetulan. Seperti dijelaskan materi kami, nubuat-nubuat apokaliptik tentang kembalinya Binatang akhir zaman (yang digenapi oleh Anti-Paus Yohanes Paulus II) adalah tentang Eropa yang telah meninggalkan panggilan Kristianinya dan kembali kepada paganisme serta ketidakberimanan. Iblis, berbicara melalui Anti-Paus Yohanes Paulus II, paham betul hal ini. Maka dari itu, Yohanes Paulus II sekali lagi menghujat Tuhan kita dengan mengajarkan bahwa panggilan sejati Eropa digenapi melalui ibadat sesat bukan Kristen dari Yudaisme & Islam.
Artikel-Artikel Terkait
Terima kasi suda berbagi doa ini.. 🙏🙏
Magdalena binti said 5 bulanBaca lebih lanjut...Terima kasih sudah terbagi doa litani yg I dah ini. ❤️🙏✝️🙏
Hildebrand Avun. Bith 10 bulanBaca lebih lanjut...St Aloysius Gonzaga doakanlah kami. Bantulah kami maju dalam mengutamakan kerendahan hati setiap hari. 🙏
Kita 1 tahunBaca lebih lanjut...Pengamatan menarik. Lebih relevan lagi karena banyak dari materi kami membahas bidah-bidah & kemurtadan Vatikan II, yang melibatkan orang-orang yang mengaku Katolik, padahal sebenarnya tidak, karena banyak dari mereka telah...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Berarti anda tidak paham ttg arti katholik, jadi anda belajar yg tekun lagi spy cerdas dlm komen
Orang kudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Anda bahkan tidak percaya bahwa Yesus mendirikan Gereja Katolik, dan anda menyebut diri Katolik. Sungguh sebuah aib. Yesus jelas-jelas mendirikan Gereja di atas Santo Petrus (Mat. 16:18-19), yakni Gereja Katolik,...
Biara Keluarga Terkudus 1 tahunBaca lebih lanjut...Membaca artikel-artikel di Website ini, aku ingat satu ayat di Kitab Amsal. "Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati."...
St. Paul 1 tahunBaca lebih lanjut...Saya katolik, tetapi hanya perkataan Yesus yang saya hormati, yaitu tentang cinta kasih. Yesus tidak mendirikan gereja katolik. Anda paham arti cinta kasih? Cinta kasih tidak memandang. Tuhan meminta kita...
Kapten.80 1 tahunBaca lebih lanjut...Terimakasih atas artikelnya, saya semakin mengerti perjalanan kerajaan raja salomo
Novriadi 1 tahunBaca lebih lanjut...Justru karena kami punya kasih Kristiani sejati kepada sesama kamilah, materi-materi kami ini kami terbitkan. St. Paulus mengajarkan, bahwa kita harus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan (Ef. 5:11). Gereja Katolik, satu-satunya lembaga...
Biara Keluarga Terkudus 2 tahunBaca lebih lanjut...